Tuesday, August 28, 2007

Sensasi Rusia di Jakarta


Kalau ingin tahu “lapangan merah” tidak perlu ke Rusia. Nuansa itu kini dihadirkan di Red Square, tempat hang out baru di bilangan selatan, Jakarta. Tidak hanya makanan tersedia khas Rusia, tapi juga berbagai jenis vodka, minuman yang sangat lekat dengan negeri itu.

Please join us for New Wave Retro Tuesdays @ Red Square! It’s a blast from de past. Corona Beer just Rp 20.000 net. Come party with us! Cheers!

Pesan pendek (SMS) itu datang Paul Counihan. Tokoh yang tidak asing di dunia gemerlap malam. Maklum, ia adalah hospitality consultant yang telah melahirkan beberapa kafe terkenal di Jakarta dan Bali, di antaranya Jalan-Jalan yang berlokasi di Menara Imperium, Jakarta. Kini, melalui Ellite Concept, ia menawarkan Red Square.

Red Square dirancang sangat cozy, berdesain minimalis, dengan dominasi warna merah. Lukisan dekoratif di tembok bar menggambarkan pemandangan lapangan merah di Rusia. Bar seluas 191 meter persegi itu mempunyai dua sisi, dengan sisi terluar menghadap taman. Pemandangan outdoor yang asri tertangkap mata, tapi tetap dibatasi dengan kaca yang memungkinkan setiap pengunjung mendapat hawa dingin dari AC – hal yang mutlak diperlukan untuk udara Jakarta yang panas.

Berlokasi di lantai dasar Plaza Senayan Arcadia, Red Square memposisikan sebagai satu-satunya venue yang menyediakan makanan Rusia di Jakarta. Mau tahu yang dihidangkan di sini? Untuk appetizers ada Mushroom Chicken Caviar, Eggplant Beef Caviar, Red Caviar, dan Black Caviar, yang dari namanya saja sudah mengingatkan kelezatan telur ikan laut dalam, makanan paling prestisius di dunia. Sementara menu utamanya bisa dipilih Beef Stroganov, Buntut Borscht, Chicken Kiev, atau Sauteet Salmon. Bahan utamanya memang dari ayam, daging sapi, dan ikan salmon, tapi cara memasaknya serta rasanya tentu saja, pasti berbeda dengan makanan Barat, misalnya.

Makanan sesungguhnya bukan suguhan utama, sebab tempat yang melakukan soft opening 20 Mei lalu itu justru menyebut sebagai bar yang mempunyai koleksi vodka – minuman spirit khas Rusia – terlengkap di Jakarta, yang sudah pasti di Indonesia. Tidak kurang dari 25 merek vodka di sini, tidak hanya Absolut yang berasal dari Swedia, tapi ada Skyy, Goose, Chopin, Belvedere, Smirnoff, dan lain-lain.

Minuman tersebut tidak hanya disajikan murni sebagai vodka on ice, tapi juga dalam bentuk flavoured vodkas, seperti infused vodkas, vodka martinis, dan vodka stick cocktails. Vodka memang banyak digunakan sebagai campuran cocktail, tapi yang disajikan Red Square adalah kreasi sendiri para bartendernya. “Kami membuat cocktail internasional dengan tidak meniru cocktail yang lain. Cocktail-cocktail itu menjadi minuman yang pertama dan hanya bisa didapatkan di Red Square saja, dengan presentasi dalam gelas-gelas eksklusif,” ujar M. Djukrunurdin, Club Manager Red Square.

Maka, jangan heran kalau nama-nama cocktail di Red Square tidak terdapat di bar lain. White Chocolate Martini, Vodka Tonic Fruit, Splashes, Dip, Suck & Bite Shots, Hypnotic Illusion, Red Island Iced Tea. Merasakan sensasi ala Rusia tidak berhenti di sini, sambil membuat minuman dan atraksi api, show bartender bisa membuat tamu tercengang. Wow! Tidak hanya pengalaman mewah, rasa minuman yang luar biasa membawa Anda melayang….

Menurut Paul, filsafat dan tujuan dari Red Square sendiri adalah memperkenalkan keroyalan minumannya. Juga didukung oleh staf yang ramah dan profesional. “Training staff difokuskan pada kepribadian, serta pengetahuan tentang minuman yang sesuai dengan standar pelayanan hotel bintang lima,”ujar mantan direktur After Dark, Hong Kong, serta managing partner dua kafe terkenal di Bali, Kafe Luna dan Q Bar itu.

Selain Paul, ide Red Square juga digagas bersama Eddy Cordisco dari Ellite Concept Indonesia, dan Yos Malelak, pemilik Behind Bar di Bali. Mereka berpengalaman sebagai konsultan di bisnis resto dan bar, bahkan Eddy adalah Chef Executive yang berpengalaman selama 25 tahun di dunia hospitality industry.

Karena konsep utamanya bar, mereka sadar bahwa event-event unik harus selalu digelar untuk menarik perhatian pengunjung. Apalagi Red Square adalah pendatang baru. Tak kurang dari acara dengan berbagai tema yang digelar bar ini dalam seminggu. Selain New Wave Retro, seperti dalam undangan via SMS di atas, Red Square juga mempunyai Secret Garden. Event yang dihadirkan setiap Kamis ini menghadirkan lingerie show yang diperagakan oleh model-model cantik dan seksi dari Posture Model Management.

Banyak venue di Jakarta, tapi Red Square yang bisa menampung 250 – 400 orang itu yakin mempunyai penggemar tersendiri. Mereka adalah para profesional muda yang suka gaul, “Educated, fashionable, and cosmopolitan,” tukas Paul. Jika Anda termasuk kategori tersebut, dan tergolong partygoers yang suka mencoba hal-hal baru termasuk tempat hiburan serta minuman baru, tidak ada salahnya melangkah ke Red Square. (Burhanuddin Abe)

Sumber: Platinum Society, 2005

Rasa Oriental dalam Kemasan Barat


Dragon Fly berarti capung, serangga kecil yang beterbangan ke sana kemari. Tapi ketika ketika nama itu dilekatkan pada sebuah bar & restaurant, yang terlihat adalah sebuah kemegahan. Venue yang baru melakukan soft opening September 2005, menambah alternatif baru tempat makan dan hiburan di Jakarta. Tidak hanya restoran yang menyediakan makanan dengan konsep fine dining, venue ini juga berfungsi sebagai music lounge dengan konsep hiburan yang kental.

Sejak di pintu masuk pengunjung sudah disuguhi pemandangan interior yang menakjubkan. Desainnya semi minimalis modern dengan sentuhan etnik Asia, yang dominan berbahan kayu, yang diwujudkan dalam bentuk bangku, balok memanjang di atas meja untu lampu, serta wine cellar yang menempel di dinding. Mejanya onyx, sementara dindingnya gypsum yang berukir dan diperindah dengan sorot lampu dari dalam yang atraktif. Hiasan kaca besar di music lounge mempertegas ciri modern yang cenderung avant guard. Sementara dinding di ruangan resto dirancang seperti tebing dengan tekstur abstrak, yang konon diimajinasikan sebagai tempat hinggapnya si serangga terbang – yang di venue tersebut tidak tergambar, baik sebagai simbol maupun logo di ruang tersebut.

Ruangnya yang luas – 700 meter persegi dan langit-langit setinggi 7,5 meter – dirancang dengan fleksibel, yang bisa diubah-ubah sesuai dengan yang diinginkan, bahkan kalau diperlukan panggung untuk live band. Ada rotating door jumbo yang bisa dibuka atau ditutup untuk membatasi antara ruang resto dan lounge. Dragon Fly buka untuk makan siang mulai jam 11.30 sampai 15.00 WIB. Sedangkan untuk dinner mulai jam 18.30 hingga 23.00 WIB. Lounge sendiri aktif pada malam hari, sejak jam makan malam hingga jam 24.00 pada hari biasa dan jam 02.00 WIB pada Rabu, Jumat dan Sabtu.

Lalu, apa menu yang disajikan resto yang terletak di bilangan di Wisma BIP, Jl. Jend. Gatot Subroto itu? “Kami menggabungkan menu Oriental, khususnya makanan ala Thailand, Vietnam, dan Kamboja, tapi penyajiannya ala Barat,” ujar Kiki Utara, Head of Public Relations Dragon Fly.

Untuk siang hari mungkin sedikit light, sebutlah bebek panggang andalannya yang disebut Juicy Roast Duck with Tamarind Dressing atau ikan goreng ala Bangkok yang disebut Deep Fried Bangkok Garoupa in Three-Flavoured Sauce.

Sedangkan pada malam hari boleh coba menu-menu yang unik ini – hasil kreasi tiga chef yang berasal dari Bangkok, Singapura, dan Jakarta. Untuk appetizer, mulailah dengan sup tom yum seafood ala Thailand yang terkenal itu, tapi di sini disajikan lebih creamy, karena ditambah santan. Masih di starter cobalah Fresh Komegrpwn Betel Leaves with Foie Grass, ikan salmon yang dibungkus dengan daun betel yang didatangkan dari Thailand, dan siap dimakan.

Menu utamanya, ada beberapa yang diunggulkan. Yang doyan makanan rasa Indonesia, cobalah sup buntut dengan saus karamel serta chilli vinegar, sehingga rasanya asam-asam manis. Yang suka seafood, sebaiknya pesan Fragrant Coconut Colossal Tiger Prawn, yakni udang gala yang dimasak dengan kelapa, mirip serundeng.

Di golongan ikan-ikanan, salmon menjadi pilihan yang tepat. Dragon Fly mengunggulkan Crispy Pink Norwegian Salmon with Ginger Citrus Vinaigrette. Ikan laut dalam itu dimasak hingga sedikit kering, disajikan dengan kentang rebus yang dicampur lemon segar yang menghilangkan aroma amisnya. Sementara Thinly-Sliced Crispy Duck over Sea Asparagus Stack adalah bebek panggang yang dimasak dengan asparagus dan saus plum. Potongan bebeknya yang renyah, dengan bumbu kecap dan bawang putihnya yang meresap, mampu menggoyang lidah. Hmm…

Habis makan mungkin bisa diteruskan ke lounge. Di sini banyak pilihan minuman, terbanyak wine – eks Prancis, Australia, Italia, dan lain-lain. Ada juga stick drink, yakni cocktail yang terdiri dari minumal beralkohol dan jus buah segar. Yang tidak suka minuman beralkohol bisa memilih jus atau soft drink.

Dragon Fly yang berkapasitas duduk 200 orang, di luar dua private room yang masing-masing menampung 10 orang, itu memang diperuntukkan eksekutif muda 25 tahun ke atas. Kaum yuppies Jakarta yang dinamis dan gemar ber-networking alias gaul. (Burhanuddin Abe)

Sumber: Platinum Society No. 07

Dari Espresso hingga Cappucino



Banyak orang yang menganggap belum semangat sebelum menghirup secangkir kopi di pagi hari. Tapi tahukah Anda bahwa kopi ternyata tidak selalu hitam pekat, tapi bisa juga disajikan ala cocktail atau bahkan dicampur dengan alkohol.

Berikut ini beberapa variasi kopi yang terkenal :

Decaffeinated biasa disebut decaf, kopi tanpa kafein.

Disajikan dalam gelas atau cangkir (shot)

Espresso: Memiliki konsentrasi tinggi, rasanya pahit agak asam. Dimnium dalam jumlah sedikit dan diberi pemanis (gula).
Affogatto: Single espresso dengan krim.
Short Macchiato: Single espresso dengan susu.

Disajikan dalam cangkir

Cappucino : Terdiri dari tiga bagian. Sepertiga bagian espresso, sepertiga susu panas, dan sepertiganya lagi foam (whipped cream). Ditaburi dengan bubuk coklat pahit, kayu manis atau pala, disajikan dengan gula. Russian Coffee
Flat White (biasa disebut kopi susu) : Single espresso dengan susu.
Long Black : Single espresso dengan air panas.

Disajikan dalam gelas tinggi

Caffe Latte : Terdiri dari dua bagian. Setengah bagian espresso dan setangah bagian susu. Rasa susu yang lembut meredam rasa kopi yang kuat.
Coffee Mocca : Terdiri dari tiga bagian. Sirup coklat di bagian paling bawah, espresso, dan susu yang diberi foam dan ditaburi coklat.
Long Macchiato : Double espresso dengan susu.

Disajikan dengan alkohol

Irish Coffee: Espresso dengan Irish whiskey.
Italian Coffee: Espresso dengan Italian amaretto.
Jamaican Coffee: Espresso denganJamaican rum.
Russian Coffee: Espresso dengan Russian vodka.
Mexican Coffee: Espresso dengan Mexican tequila.

Source: Platinum Society

Inspirasi di Warung Kopi


Melting pot itu bernama plaza, dan tempat mangkal favorit adalah coffee shop. Ngopi tidak sekadar minuman penambah semangat, tapi sebuah gaya hidup.

Plaza kini sudah menjadi semacam melting pot. Maklum, untuk kota-kota besar di Indonesia, plaza yang ber-AC ibarat oase di belantara kota yang beriklim tropis alias berhawa panas yang menyengat.

Tidak sekadar gerai busana atau department store, salon, gedung bioskop, arena bowling, bahkan kafe yang oke pun berlokasi di dalam plaza. Apa pun bisa dilakukan di sini, mulai dari belanja, jalan-jalan, creambath, nonton film, atau sekadar ketemu teman.

Suka atau tidak, banyak eksekutif muda muda yang punya ketergantungan besar kepada plaza. Bukan sok trendy, tapi tempat yang paling masuk akal untuk dating saat ini ya di plaza, entah dengan teman, bahkan rapat informal dengan rekan bisnis. Tempat favorit saat ini adalah di coffe shop, karena tidak harus makan berat tapi bisa atmosfernya yang nyaman merangsang lahirnya ide-ide segar. Pemikiran-pemikiran penting para filosof konon lahir dari warung kopi.

Di Plaza Senayan, misalnya, tidak sudah menyebut gerai coffee shop karena keberadaannya makin dibutuhkan. Coffee Club, Tator, Starbucks, Tea Leaf & Coffee Bean, dan lain-lain, belum termasuk gerai yang tidak menyediakan kopi secara khusus tapi menjual kopi.

Kopi? Ya, kosa kata ini tidak asing. Bahkan minum kopi sudah menjadi gaya hidup yang melanda seluruh dunia. Tidak ada angka statisik di Indonesia, tapi di AS, untuk menyebut contoh, konsumsi kopi per kapita sudah mencapai tiga gelas per hari. Kini hampir semua kota-kota besar mempunyai tempat nongkrong untuk ngopi, bahkan tonggak yang bisa dicatat oleh sejarah manakala Starbucks berhasil membuka outlet yang ke 2000 di Amerika pada tahun 1998. Ekspansi jaringan coffee shop terbesar di dunia ini tentu tidak berhenti di sini, guritanya sudah meluas ke seluruh dunia, Eropa, Asia, termasuk Indonesia.

Asal Muasal
Kopi adalah salah satu penemuan penting dalam sejarah peradaban manusia. Tapi siapa nyanya, penemuannya terjadi secara tidak sengaja. Alkisah seorang Ethiopia beranama Kaldi melihat kambing peliharannya berkelakuan aneh setelah memakan buah kecil yang berwarna merah dari semak-semak. Kaldi pun ingin mencobanya, dan betapa terkejutnya setelah makan biji yang kini disebut kopi itu ia merasa segar, dan letihnya pun sirna.

Kisah tersebut bukan rekaan, tapi memang terjadi pada sekitar abad 9. Pada saat itu kopi kemudian sempat menjadi monopoli bangsa Arab. Pada tahun 1616 seorang Belanda berhasil menyelinap ke komunitas pedagang Arab tersebut, mencuri, dan membudidayakan sendiri di Pulau Jawa.

Pada tahun 1650, Universitas Oxford membuka toko kopi pertama di Inggris. Toko ini kemudian menjadi terkenal dan menjadi tempat favorit para mahasiswa. Kini, tradisi rendez-vous di warung kopi tidak hanya monopoli Inggris, tapi sudah merebak ke seluruh dunia. Yang diujual pun tidkahanya kopi panas, tapi ada juga yang dimodifikasi dalam bentuk minuman dingin. Pun tidak harus kopi murni, ada yang dicampur dengan susu, krim, coklat bahkan alkohol.

Indonesia saat ini dikenal sebagai salah produsen biji kopi terbesar di dunia. Dari seluruh tanaman kopi, 90% adalah jenis Robusta. Sementara jenis Arabica, jenis kopi yang lebih eksklusif, berasal dari Pulau Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Selain jenisnya, struktur tanah dan iklim ikut memberi rasa yang berbeda. Hanya lidah yang terlatih saja yang bisa membedakannya. (Burhanuddin Abe)

Sumber: Platinum Society

Aussie Wine


Australia mempunyai banyak sisi. Berbagai tema bisa dijual sebagai komoditi wisata. Menjajal makanan enak, dan mencicipi wine terbaik merupakan pengalaman yang mempunyai kesan tersendiri.

Australia dikenal sebagai salah satu negara penting yang menghasilkan buah anggur dan minuman anggur (wine). Jika Anda penggemar wine tidak ada salahnya pergi ke Sunshine Coast, salah satu wilayah penting di Queensland yang memproduksi wine, sekitar 112 km dari Brisbane. Wilayah pantai sekaligus pegunungan dengan iklim yang sejuk, sangat cocok bagi tumbuhnya tanaman anggur. Ada 10 perkebunan anggur sekaligus tempat produksi wine. Settlers Rise Vineyard & Winery yang berlokasi di Montville, adalah salah satu di antaranya.

Perkebunan dan pembuatan anggur ini dikelola seperti perusahaan keluarga. Pemiliknya adalah Peter Scudamore-Smith, ahli wine yang pandai mencampur berbagai jenis anggur sehingga bisa menghasilkan blended wines premium. Sebelum mendirikan perusahaan sendiri dan malang melintang di dunia wine selama 23 tahun, Peter adalah seorang Bachelor of Wine Science dan juga Master of Wine pada Institute of Masters of Wine di Inggris.

Di situlah pengunjung bisa mencicipi wine seperti yang dilakukan para sommelier (ahli wine). Untuk acara wine testing, ada pemandunya khusus. Beberapa jenis wine disiapkan, mulai dari yang ringan (sparkling wine, white wine, sweet wine) hingga yang berat (red wine). Tidak seperti cara minum biasa, karena hanya sedikit saja wine yang semestinya dicicipi. Cium terlebih dahulu aromanya melalui bibir gelasnya. Sedikit dikumur-kumur lalu dibuang ke tempat yang telah disediakan.

Ini memang pengalaman unik. Rupanya wine testing juga dijual sebagai paket wisata di wilayah ini, dengan harga 10 hingga 15 dolar Australia per kepala, tergantung dari jenis tur serta sedikit banyaknya jenis wine yang dicicipi.

Yang baru pertama kali mencoba mungkin tidak bisa membedakan rasa antara satu wine dengan wine yang lain. Tapi yang sudah terbiasa akan bisa menikmati wine yang masing-masing memiliki rasa dan aroma yang unik itu. Misalnya Verdelho, jenis white wine tahun 2001 mempunyai aroma seperti pisang. Sedangkan jenis merah Lake Baroon Cabernet/Merlot tahun 2000 terasa lebih pekat dengan rasa yang rada sepet. Yang terkesan dengan jenis wine tertentu bisa membelinya, dengan harga antara 11,5 hingga 26,50 dolar Australia per botol.

Selain wine di pegunungan, wilayah ini lautnya juga terkenal sebagai penghasil ikan, mulai dari salmon hingga baramundi. Coba menikmati “seafood extragavanza” di Terrace Seafood Restaurant, restoran yang berlokasi di tepi pantai sekaligus pegunungan ini sering memperoleh berbagai penghargaan, mulai dari The Best Torism Restaurant in Queensland & Sunshine Coast Award (1998, 1999, dan 2000), hingga The Best Torism Restaurant in Australia Award (2000).

Pilihan entre-nya bermacam-macam, mulai dari salad, sup tom yum, hingga fresh oyster (tiram segar). Yang terakhir ini disajikan dalam piring besar, sementara tiramnya ditaruh dalam rangka yang berbentuk seperti miniatur tangga memutar. Untuk menu utamanya saya memilih The Terrace Platters, yang terdiri dari Moreton Bay bugs (sejenis udang), prawns (udang besar), kepiting, cumi, dan oyster, dimasak dengan santan dan cabai, disajikan dengan buah-buahan tropis. Hm... (Burhanuddin Abe)

Settlers Rise Vineyard
249 Western Ave, Montville
Phone : 07 5478 5558
Email : http://www.settlersrise.com.au/

Terrace Seafood Restaurant
Cairncross Corner, Mountain View Rd, Maleny
Phone : 07 5494 3700
Email : http://www.terraceseafood.com.au/

Play with Champagne!

Minuman ini tidak bisa dipisahkan dengan pesta. Champagne adalah hasil fermentasi buah anggur oleh ragi, yang berfungsi mengubah kandungan gula menjadi alkohol (12%-13%) tapi apa yang membedakannya dengan wine?

Arena balap mobil Formula 1 mana mungkin melupakan minuman yang satu. Setiap kali ada penobatan pemenangnya selalu ada semprotan champagne. Tidak hanya F1, minuman asal Prancis ini selalu hadir di sela-sela pesta, entah itu sekadar seremoni pembukaan gerai, launching produk, atau perayaan di hotel-hotel berbintang.

Champagne adalah salah satu jenis wine yang memercik dan terdapat gelembung udara di dalamnya. Bahkan tim peneliti Prancis mengatakan rasa champagne terletak pada buihnya ini. Makin halus buihnya, makin enak nikmat rasanya, begitu menurut peneliti dari University of Reims Champagne-Ardenne.

Sama seperti wine, minuman ini dibuat dari anggur pilihan yang difermentasi, yang berasal dari Champagne. Hanya saja, dengan propses tertentu, terciptalah bubble (gelembung) pada champagne hingga memiliki rasa yang unik. Di luar Champagne, wilayah Prancis itu, minuman sejenis walaupun proses fermentasinya sama tidak berhak memakai nama champagne. Kata yang tepat untuk wine dengan taste yang sama tapi diproduksi di luar Champagne -- sebutlah Australia, Brasil, Afrika Selatan atau Spanyol – adalah sparkling wine.

Tapi apa pun namanya, kedua minuman tersebut bisa dihidangkan kapan saja, untuk menemani hindangan apa – sebelum, sesudah atau selama acara makan berlangsung. Berbeda dengan jenis wine yang lain, sebutlah white wine yang cocok sebagai teman bersantap dengan daging putih (ayam, unggas, atau ikan), dan red wine dengan daging merah (sapi atau steak), champagne lebih fleksibel, bahkan lebih fleksibel dibandingkan dengan rose wine yang meski fleksibel tapi syaratnya harus bernuansa romantis.

Champagne terbagi menjadi dua jenis, berdasarkan kandungan gulanya. Brut adalah jenis yang paling sedikit mengandung gula (hampri tidak ada gula), hingga extra sec, yang dikenal juga dengan sebutan extra dry, memiliki sedikit rasa manis.

Sec berarti kering, dalam bahasa Prancis, sebenarnya mengacu kepada wine yang agak manis. Demi sec dan doux, keduanya sangat manis dan merupakan pilihan yang sangat tepat untuk dihidangkan sebagai pencuci mulut.

Berikut ini beberapa merek champagne yang terkenal; Piper Heidsieck, Brut, Cuvee Diplomatic, Dom Perignon, Moet et Chandon, Pommery & Greno Demi Sec, Pommery Greno Brut, G.H. Mumm & Co, Cordon Rounge Brut, dan Vueve Cliqot Ponsardin.

Cara Menyajikan
Ada gelas yang diperuntukkan untuk semua jenis anggur. Gelas ini sebaiknya dapat menampung sekitar 10 oz, transparan agar kita bisa melihat warna wine dengan baik, serta memiliki badan gelas yang menciut ke atas. Tapi akan lebih cocok kalau champagne atau sparkling wine disajikan dalam gelas bertipe flute, yang memungkinkan untuk memandangnya secara seksama gelembung yang bermunculan dan keharuman aromanya dapat tercium secara bertahap.

Kelihatannya sepele, tapi jika Anda tuan rumah sebuah pesta, harus tahu cara menyajikan minuman ini dengan baik, bahkan bisa menunjukkan “kelas” Anda. Champagne atau sparkling wine sebaiknya disajikan pada suhu 5-8 derajat C, dan biasanya disajikan dalam keranjang es agar tetap dingin.

Jika Anda ingin mmberi kesan sebagai tuan rumah yang bercita rasa tinggi sebaiknya mempelajari cara menghindagkan champagne yang baik dan benar. Pertama-tama perlihatkan botol atau label kepada tamu. Pada lapisan logam penutup gabus tutup botol (foil). Dengan memegang gabus tutup botol, hati-hati lepaskan kawat penyangga tutup botol. Buka botol, dan pegang botol dengan kemiringan 45 derajat menjauh dari wajah Anda dan tamu, karena pada saat dibuka, gabus tutup botol bisa melejit secepat peluru. Seka botol dengan serbet bersih. Baru kemudian menuangkan ke gelas-gelas para tamu. Bila masih ada yang tersisa di botol.letakkanlah botol kembali ke tempatnya.

Pekerjaan seperti itu biasanya dilakukan oleh pramusaji, tapi sekali-kali Andalah yang melakukannya. Apalagi kalau tamu-tamu tersebut Anda angap penting, sehingga kesannya lebih akrab dan personal. (Burhanuddin Abe)

Sumber: Platinum Society

The Magic of Wine

Anggur tentu bukan sekadar minuman, melainkan gaya hidup. Menjualnya pun konon bukan perkara mudah, tapi harus memahami karakter social drink ini, serta komunitas peminumnya yang sangat eksklusif.

Pakar anggur asal Prancis, Bruno Baudry, datang ke Jakarta beberapa waktu lalu. Ia yang mewakili salah satu perusahaan anggur terbesar di dunia, Castel, ingin membagi ilmunya seputar minuman gaul itu di Kyoya, restoran ala Jepang di kawasan Sudirman yang sejak Desember tahun lalu mempunyai wine club.

Dalam acara icip-icip anggur itu, Baudry juga membawa beberapa botol anggur Virginia yang diproduksi Castel tahun 2003 -- konon merupakan tahun terbaik, karena memiliki musim panas terpanjang selama 500 tahun terakhir. Namun yang jelas, menghadirkan sommelier merupakan salah satu cara mengenalkan anggur ke calon konsumennya secara tepat. Sebelumnya, beberapa klub penggemar anggur di Jakarta juga mengadakan acara serupa, yang biasanya disponsori oleh merek anggur tertentu atau distributornya di sini.

Memang, kebiasaan minum anggur di Indonesia tergolong baru dan komunitasnya masih kecil, apalagi dibandingkan dengan biangnya di Prancis sana. The Wine Room pernah mendeteksi bahwa dalam setahun setiap orang Prancis saat ini minum sekitar 120 liter, meningkat dari 80 liter anggur per tahun pada 1960-an. Bandingkan dengan Indonesia yang konsumsinya diperkirakan hanya 0,2 liter anggur per kapita per tahun.

Kecil memang, tapi Reimer A. Simorangkir meyakini bahwa penggemar anggur di Indonesia terus bertambah meski tergolong masih eksklusif. Itu pula yang menjadi pertimbangan ketika bersama empat koleganya ia mendirikan Vin+, wine shop yang berlokasi di bilangan Kemang, Jakarta, akhir Oktober tahun lalu.

Reimer mengaku sudah terjun di bisnis anggur sejak 15 tahun yang lalu. Menurut mantan Direktur Kemang Duty Free, yang konsentrasi penjualannya juga di anggur untuk kalangan ekspatriat itu, di era globalisasi ini banyak orang Indonesia yang telah atau sedang belajar ke luar negeri. Banyak orang Indonesia yang berhubungan dengan orang bule. Artinya, budaya Eropa atau Barat, sebutlah kebiasaan minum anggur, sudah bukan hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. "Kami melihat ada peluang pasarnya di sini. Kami hanya memberi sarana di mana orang bisa datang dan memilih anggur ke wine shop kami," katanya.

Reimer yang Direktur Utama Vin+ menegaskan, sebenarnya konsep bisnisnya bukan hanya menjual anggur, tapi juga menjual gaya hidup. Pasarnya pun, untuk anggur premium yang berbeda dari yang dijual di pasar swalayan, misalnya, termasuk unik. "Potensinya lumayan besar. Apalagi kalau perekonomian membaik, kalangan menengah akan tumbuh dan gaya hidupnya pun mulai berstandar internasional," tuturnya.

Dengan investasi Rp 2 miliar, Reimer optimistis bisnisnya bisa mencapai breakevent point dalam waktu dua tahun. Keyakinan ini bukan tanpa alasan, karena ia bukanlah orang baru di bisnis anggur, dan mempunyai jejaring yang bisa diandalkan. Menurutnya, ada beberapa komunitas peminum anggur di Jakarta dan di luar Jakarta. Misalnya, Wine Spirit Circle, yang beranggotakan sekitar 1.000 orang, 30% anggotanya adalah orang Indonesia. Ada juga International Wine Food Society. “Di luar itu, ada beberapa klub kecil atau grup-grup informal yang beranggotakan 20-an orang. Mereka sering bertemu sebulan sekali untuk makan bersama sambil minum anggur," ia menjelaskan.

Vin+ sendiri sering mengadakan wine testing, minimal sebulan sekali. Setiap Sabtu, komunitas penggemar anggur bisa mencicipi anggur gratis. Dalam acara tersebut, rata-rata Vin+ mengeluarkan 6 botol anggur untuk dicoba tamu. Menurut Reimer, wine testing bukan cara Vin+ mendapatkan keuntungan. "Tujuan kami agar mereka bisa mencoba, kemudian membeli koleksi kami," katanya. Cara ini memang ampuh. Sehingga, sejak grand opening November 2004, pendapatan tiap bulan terus naik, 10%-20%.

Dengan luas toko sekitar 350 m2, Vin+ menyediakan sekitar 700 jenis anggur dengan harga US$ 6-1.600. Vin+ merupakan ritel terlengkap dan terbesar, koleksi anggurnya dari Kalifornia, Cile, Afrika Selatan, Argentina, Australia, Selandia Baru, Italia, Spanyol, Jerman serta Prancis. Kebanyakan anggur yang dijual adalah anggur dengan kategori fast moving, yang gampang dijual di pasaran. Namun, Vin + juga menyediakan anggur dengan harga sampai US$ 1.600 yang bisa disimpan selama 30 tahun.

"Dalam bisnis ini, risikonya hanya dalam hal pengadaan barang, ada kuota impor dari Deperindag, pengawasan dari bea cukai dan pengawasan lain, karena anggur dianggap sebagai barang mewah yang harus diawasi," ujar Reimer yang juga menyediakan wiski dan beberapa minuman beralkohol lain sebagai tambahan, tapi kontribusi terbesarnya tetap anggur.

Di Indonesia, menurut Reimer, harga anggur tergolong mahal, apalagi ditambah dengan pajak seperti bea masuk, pajak barang mewah atau PPN. Jangan heran, anggur yang termasuk jenis koleksi, seperti Romane Conte tahun 1996, harganya bisa Rp 80 juta/botol. "Bisa dimaklumi kan, kalau pemain di bisnis anggur tidak banyak," kata Reimer yang akhir tahun ini akan menyediakan wine lounge. "Ini bukan profit center, tapi fasilitas bagi pelanggan," katanya.

Itu pula yang dilakukan Paprika Wine Lounge & Restaurant ketika didirikan tahun 2000. Restoran fine dining di Jakarta yang bertaraf internasional sudah banyak, tapi yang khusus anggur atau wine lounge bisa dihitung dengan jari, ujar Mury Susanto, salah satu dari empat pemilik resto yang berlokasi di Jl. Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, itu.

Hanya saja, karena persaingan bisnis anggur semakin ketat, terutama dengan semakin banyaknya para penjual anggur, baik melalui pasar swalayan atau wine shop khusus, maka Februari tahun ini Paprika, yang kelemahannya tidak terletak di hotel berbintang, lebih memaksimalkan dining area ketimbang wine lounge-nya.

Memang, kebanyakan resto memasukkan anggur sebagai menu tambahan. Apalagi, resto yang berlokasi di hotel berbintang, ketersediaan anggur adalah keniscayaan. Namun, tentu tidak tepat kalau ada yang berpendapat bahwa anggur tidak bisa dipertanggungjawabkan secara bisnis, apalagi sekadar gengsi. Meski kuantitasnya relatif kecil, margin laba anggur tergolong tebal, 30%-40%.

Anggur sangat banyak variasi dan jenisnya, bisa berdasarkan warna karena dari bahan dan proses produksinya (merah, putih dan rose), ada juga yang berdasarkan asal daerah penghasilnya, serta tahun panen anggur tersebut. Tidak ada satu merek yang lebih dominan ketimbang yang lain, kecuali kategorinya berdasarkan kualitasnya: premium dan nonpremium. Tidak seperti minuman beralkohol lain yang secara berkala melakukan promosi -- sebutlah Chivas Regal atau Remy Martin untuk wiski, Martel atau Bols untuk cognac, Absolut atau Skyy untuk vodka, dan Bintang atau Anker untuk bir -- kebanyakan pemasyarakatan anggur di sini pendanaannya tidak didukung prinsipalnya.

Itu sebabnya, pihak distributorlah di sini yang melakukan kegiatan khusus, seperti mengadakan event untuk menggaet atau mengikat pelanggan. Itu pula yang dilakukan Paprika yang masih mempertahankan acara wine dinner. Menyangkut masalah koleksi anggurnya, Paprika masih tergolong lengkap, sama dengan sebelum berubah. "Kami selalu mencari anggur yang terbaik dan paling bagus dari wine producer asal Prancis, Australia, Amerika, Afrika Selatan dan Cile," kata Mury.

Untuk mengurangi risiko, menurut Mury, sejak berubah konsep, Paprika tidak pernah menyimpan anggur dalam jumlah besar atau sampai ribuan botol atas ongkos sendiri. "Karena kalau tidak terjual, mau dikemanakan," ungkapnya. Memang diakuinya, anggur kualitas bagus yang dimiliki Paprika bisa berumur panjang, tapi kalau terlalu banyak, penyimpanannya menimbulkan persoalan tersendiri. "Dulu kami menyimpan di wine cellar sampai 500-an anggur, sekarang hanya 200-an,” tambahnya.

Kontribusi pendapatan dari anggur di Paprika memang sebesar 20% - 25%. Namun, Mury masih percaya bahwa anggur yang sudah menjadi komoditas global mempunyai penggemarnya sendiri di Indonesia. Itu pula yang diyakini Billy B. Pria ini terjun ke bisnis anggur sejak tiga tahun lalu, dan sudah menjadi penikmat sejak di masa sekolah dulu, di California State University. Awalnya, ia membuka bisnis penjualan anggur melalui Internet yang pertama di Indonesia dengan alamat www.the-cellars.com. Akan tetapi, karena masih ada hambatan soal pembayaran via Internet, ia mengalihkannya ke bisnis wine shop -- saat ini gerainya ada di D'Best Supermarket, Kelapa Gading dan Hotel Alila, Jakarta.

Di gerai yang pertama, anggurnya ditujukan untuk kelas menengah. Sementara di Hotel Alila, yang diberi nama The Cellars, untuk konsumen yang lebih atas. Billy belum mau mendirikan wine shop sendiri, tapi masih bekerja sama dengan pihak lain. Kerja sama dengan Hotel Alila, misalnya, adalah dalam bentuk profit sharing, dengan pembagian 60% untuk Billy, dan 40% untuk hotel.

Kunci sukses menjual anggur, menurut Billy, adalah melayani dengan baik serta mengenali komunitas penggemarnya dengan baik. Dalam soal pelayanan, The Cellars, misalnya, menyediakan jasa pengantaran. Pembeli yang memesan 2-3 botol sudah mendapatkan fasilitas pengantaran gratis untuk alamat Jakarta. Di luar Jakarta, dikenai tambahan biaya kirim. Sementara menyangkut komunitas, Billy mengaku aktif mendukung atau mensponsori kegiatan klub-klub penggemar anggur. Ia mengadakan wine testing dengan kelompok-kelompok yang lebih kecil, sekitar 30 orang, setiap minggu. Di acara tersebut, ia harus menyediakan 4-5 botol anggur. “Sebenarnya bisnis ini unik, karena masih dibutuhkan edukasi. Tidak semua orang bisa menikmati anggur, maka perlu kami ajari pelan-pelan,” katanya.

Menikmati anggur memang tidak sekadar memasukkan cairan ke mulut. Minum anggur ada ritualnya, para penggemarnya lebih suka berkumpul bersama ketimbang menikmati sendirian. Namanya juga social drink, menikmatinya juga tidak bisa sambil lalu, harus ada waktu untuk merenung, serta merasakan tetes demi tetesnya. Inilah the magic of wine! Cheers! (Burhanuddin Abe)

SWA, 26 Mei 2005
URL: http://swa.co.id/swamajalah/artikellain/details.php?cid=1&id=2732