Tuesday, August 28, 2007

The Magic of Wine

Anggur tentu bukan sekadar minuman, melainkan gaya hidup. Menjualnya pun konon bukan perkara mudah, tapi harus memahami karakter social drink ini, serta komunitas peminumnya yang sangat eksklusif.

Pakar anggur asal Prancis, Bruno Baudry, datang ke Jakarta beberapa waktu lalu. Ia yang mewakili salah satu perusahaan anggur terbesar di dunia, Castel, ingin membagi ilmunya seputar minuman gaul itu di Kyoya, restoran ala Jepang di kawasan Sudirman yang sejak Desember tahun lalu mempunyai wine club.

Dalam acara icip-icip anggur itu, Baudry juga membawa beberapa botol anggur Virginia yang diproduksi Castel tahun 2003 -- konon merupakan tahun terbaik, karena memiliki musim panas terpanjang selama 500 tahun terakhir. Namun yang jelas, menghadirkan sommelier merupakan salah satu cara mengenalkan anggur ke calon konsumennya secara tepat. Sebelumnya, beberapa klub penggemar anggur di Jakarta juga mengadakan acara serupa, yang biasanya disponsori oleh merek anggur tertentu atau distributornya di sini.

Memang, kebiasaan minum anggur di Indonesia tergolong baru dan komunitasnya masih kecil, apalagi dibandingkan dengan biangnya di Prancis sana. The Wine Room pernah mendeteksi bahwa dalam setahun setiap orang Prancis saat ini minum sekitar 120 liter, meningkat dari 80 liter anggur per tahun pada 1960-an. Bandingkan dengan Indonesia yang konsumsinya diperkirakan hanya 0,2 liter anggur per kapita per tahun.

Kecil memang, tapi Reimer A. Simorangkir meyakini bahwa penggemar anggur di Indonesia terus bertambah meski tergolong masih eksklusif. Itu pula yang menjadi pertimbangan ketika bersama empat koleganya ia mendirikan Vin+, wine shop yang berlokasi di bilangan Kemang, Jakarta, akhir Oktober tahun lalu.

Reimer mengaku sudah terjun di bisnis anggur sejak 15 tahun yang lalu. Menurut mantan Direktur Kemang Duty Free, yang konsentrasi penjualannya juga di anggur untuk kalangan ekspatriat itu, di era globalisasi ini banyak orang Indonesia yang telah atau sedang belajar ke luar negeri. Banyak orang Indonesia yang berhubungan dengan orang bule. Artinya, budaya Eropa atau Barat, sebutlah kebiasaan minum anggur, sudah bukan hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. "Kami melihat ada peluang pasarnya di sini. Kami hanya memberi sarana di mana orang bisa datang dan memilih anggur ke wine shop kami," katanya.

Reimer yang Direktur Utama Vin+ menegaskan, sebenarnya konsep bisnisnya bukan hanya menjual anggur, tapi juga menjual gaya hidup. Pasarnya pun, untuk anggur premium yang berbeda dari yang dijual di pasar swalayan, misalnya, termasuk unik. "Potensinya lumayan besar. Apalagi kalau perekonomian membaik, kalangan menengah akan tumbuh dan gaya hidupnya pun mulai berstandar internasional," tuturnya.

Dengan investasi Rp 2 miliar, Reimer optimistis bisnisnya bisa mencapai breakevent point dalam waktu dua tahun. Keyakinan ini bukan tanpa alasan, karena ia bukanlah orang baru di bisnis anggur, dan mempunyai jejaring yang bisa diandalkan. Menurutnya, ada beberapa komunitas peminum anggur di Jakarta dan di luar Jakarta. Misalnya, Wine Spirit Circle, yang beranggotakan sekitar 1.000 orang, 30% anggotanya adalah orang Indonesia. Ada juga International Wine Food Society. “Di luar itu, ada beberapa klub kecil atau grup-grup informal yang beranggotakan 20-an orang. Mereka sering bertemu sebulan sekali untuk makan bersama sambil minum anggur," ia menjelaskan.

Vin+ sendiri sering mengadakan wine testing, minimal sebulan sekali. Setiap Sabtu, komunitas penggemar anggur bisa mencicipi anggur gratis. Dalam acara tersebut, rata-rata Vin+ mengeluarkan 6 botol anggur untuk dicoba tamu. Menurut Reimer, wine testing bukan cara Vin+ mendapatkan keuntungan. "Tujuan kami agar mereka bisa mencoba, kemudian membeli koleksi kami," katanya. Cara ini memang ampuh. Sehingga, sejak grand opening November 2004, pendapatan tiap bulan terus naik, 10%-20%.

Dengan luas toko sekitar 350 m2, Vin+ menyediakan sekitar 700 jenis anggur dengan harga US$ 6-1.600. Vin+ merupakan ritel terlengkap dan terbesar, koleksi anggurnya dari Kalifornia, Cile, Afrika Selatan, Argentina, Australia, Selandia Baru, Italia, Spanyol, Jerman serta Prancis. Kebanyakan anggur yang dijual adalah anggur dengan kategori fast moving, yang gampang dijual di pasaran. Namun, Vin + juga menyediakan anggur dengan harga sampai US$ 1.600 yang bisa disimpan selama 30 tahun.

"Dalam bisnis ini, risikonya hanya dalam hal pengadaan barang, ada kuota impor dari Deperindag, pengawasan dari bea cukai dan pengawasan lain, karena anggur dianggap sebagai barang mewah yang harus diawasi," ujar Reimer yang juga menyediakan wiski dan beberapa minuman beralkohol lain sebagai tambahan, tapi kontribusi terbesarnya tetap anggur.

Di Indonesia, menurut Reimer, harga anggur tergolong mahal, apalagi ditambah dengan pajak seperti bea masuk, pajak barang mewah atau PPN. Jangan heran, anggur yang termasuk jenis koleksi, seperti Romane Conte tahun 1996, harganya bisa Rp 80 juta/botol. "Bisa dimaklumi kan, kalau pemain di bisnis anggur tidak banyak," kata Reimer yang akhir tahun ini akan menyediakan wine lounge. "Ini bukan profit center, tapi fasilitas bagi pelanggan," katanya.

Itu pula yang dilakukan Paprika Wine Lounge & Restaurant ketika didirikan tahun 2000. Restoran fine dining di Jakarta yang bertaraf internasional sudah banyak, tapi yang khusus anggur atau wine lounge bisa dihitung dengan jari, ujar Mury Susanto, salah satu dari empat pemilik resto yang berlokasi di Jl. Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, itu.

Hanya saja, karena persaingan bisnis anggur semakin ketat, terutama dengan semakin banyaknya para penjual anggur, baik melalui pasar swalayan atau wine shop khusus, maka Februari tahun ini Paprika, yang kelemahannya tidak terletak di hotel berbintang, lebih memaksimalkan dining area ketimbang wine lounge-nya.

Memang, kebanyakan resto memasukkan anggur sebagai menu tambahan. Apalagi, resto yang berlokasi di hotel berbintang, ketersediaan anggur adalah keniscayaan. Namun, tentu tidak tepat kalau ada yang berpendapat bahwa anggur tidak bisa dipertanggungjawabkan secara bisnis, apalagi sekadar gengsi. Meski kuantitasnya relatif kecil, margin laba anggur tergolong tebal, 30%-40%.

Anggur sangat banyak variasi dan jenisnya, bisa berdasarkan warna karena dari bahan dan proses produksinya (merah, putih dan rose), ada juga yang berdasarkan asal daerah penghasilnya, serta tahun panen anggur tersebut. Tidak ada satu merek yang lebih dominan ketimbang yang lain, kecuali kategorinya berdasarkan kualitasnya: premium dan nonpremium. Tidak seperti minuman beralkohol lain yang secara berkala melakukan promosi -- sebutlah Chivas Regal atau Remy Martin untuk wiski, Martel atau Bols untuk cognac, Absolut atau Skyy untuk vodka, dan Bintang atau Anker untuk bir -- kebanyakan pemasyarakatan anggur di sini pendanaannya tidak didukung prinsipalnya.

Itu sebabnya, pihak distributorlah di sini yang melakukan kegiatan khusus, seperti mengadakan event untuk menggaet atau mengikat pelanggan. Itu pula yang dilakukan Paprika yang masih mempertahankan acara wine dinner. Menyangkut masalah koleksi anggurnya, Paprika masih tergolong lengkap, sama dengan sebelum berubah. "Kami selalu mencari anggur yang terbaik dan paling bagus dari wine producer asal Prancis, Australia, Amerika, Afrika Selatan dan Cile," kata Mury.

Untuk mengurangi risiko, menurut Mury, sejak berubah konsep, Paprika tidak pernah menyimpan anggur dalam jumlah besar atau sampai ribuan botol atas ongkos sendiri. "Karena kalau tidak terjual, mau dikemanakan," ungkapnya. Memang diakuinya, anggur kualitas bagus yang dimiliki Paprika bisa berumur panjang, tapi kalau terlalu banyak, penyimpanannya menimbulkan persoalan tersendiri. "Dulu kami menyimpan di wine cellar sampai 500-an anggur, sekarang hanya 200-an,” tambahnya.

Kontribusi pendapatan dari anggur di Paprika memang sebesar 20% - 25%. Namun, Mury masih percaya bahwa anggur yang sudah menjadi komoditas global mempunyai penggemarnya sendiri di Indonesia. Itu pula yang diyakini Billy B. Pria ini terjun ke bisnis anggur sejak tiga tahun lalu, dan sudah menjadi penikmat sejak di masa sekolah dulu, di California State University. Awalnya, ia membuka bisnis penjualan anggur melalui Internet yang pertama di Indonesia dengan alamat www.the-cellars.com. Akan tetapi, karena masih ada hambatan soal pembayaran via Internet, ia mengalihkannya ke bisnis wine shop -- saat ini gerainya ada di D'Best Supermarket, Kelapa Gading dan Hotel Alila, Jakarta.

Di gerai yang pertama, anggurnya ditujukan untuk kelas menengah. Sementara di Hotel Alila, yang diberi nama The Cellars, untuk konsumen yang lebih atas. Billy belum mau mendirikan wine shop sendiri, tapi masih bekerja sama dengan pihak lain. Kerja sama dengan Hotel Alila, misalnya, adalah dalam bentuk profit sharing, dengan pembagian 60% untuk Billy, dan 40% untuk hotel.

Kunci sukses menjual anggur, menurut Billy, adalah melayani dengan baik serta mengenali komunitas penggemarnya dengan baik. Dalam soal pelayanan, The Cellars, misalnya, menyediakan jasa pengantaran. Pembeli yang memesan 2-3 botol sudah mendapatkan fasilitas pengantaran gratis untuk alamat Jakarta. Di luar Jakarta, dikenai tambahan biaya kirim. Sementara menyangkut komunitas, Billy mengaku aktif mendukung atau mensponsori kegiatan klub-klub penggemar anggur. Ia mengadakan wine testing dengan kelompok-kelompok yang lebih kecil, sekitar 30 orang, setiap minggu. Di acara tersebut, ia harus menyediakan 4-5 botol anggur. “Sebenarnya bisnis ini unik, karena masih dibutuhkan edukasi. Tidak semua orang bisa menikmati anggur, maka perlu kami ajari pelan-pelan,” katanya.

Menikmati anggur memang tidak sekadar memasukkan cairan ke mulut. Minum anggur ada ritualnya, para penggemarnya lebih suka berkumpul bersama ketimbang menikmati sendirian. Namanya juga social drink, menikmatinya juga tidak bisa sambil lalu, harus ada waktu untuk merenung, serta merasakan tetes demi tetesnya. Inilah the magic of wine! Cheers! (Burhanuddin Abe)

SWA, 26 Mei 2005
URL: http://swa.co.id/swamajalah/artikellain/details.php?cid=1&id=2732


1 comment:

  1. promosikan artikel anda di infoGue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, game online & kamus untuk para netter Indonesia. Salam!http://www.infogue.com
    http://kuliner.infogue.com/the_magic_of_wine

    ReplyDelete