Tuesday, August 28, 2007

Rasa Oriental dalam Kemasan Barat


Dragon Fly berarti capung, serangga kecil yang beterbangan ke sana kemari. Tapi ketika ketika nama itu dilekatkan pada sebuah bar & restaurant, yang terlihat adalah sebuah kemegahan. Venue yang baru melakukan soft opening September 2005, menambah alternatif baru tempat makan dan hiburan di Jakarta. Tidak hanya restoran yang menyediakan makanan dengan konsep fine dining, venue ini juga berfungsi sebagai music lounge dengan konsep hiburan yang kental.

Sejak di pintu masuk pengunjung sudah disuguhi pemandangan interior yang menakjubkan. Desainnya semi minimalis modern dengan sentuhan etnik Asia, yang dominan berbahan kayu, yang diwujudkan dalam bentuk bangku, balok memanjang di atas meja untu lampu, serta wine cellar yang menempel di dinding. Mejanya onyx, sementara dindingnya gypsum yang berukir dan diperindah dengan sorot lampu dari dalam yang atraktif. Hiasan kaca besar di music lounge mempertegas ciri modern yang cenderung avant guard. Sementara dinding di ruangan resto dirancang seperti tebing dengan tekstur abstrak, yang konon diimajinasikan sebagai tempat hinggapnya si serangga terbang – yang di venue tersebut tidak tergambar, baik sebagai simbol maupun logo di ruang tersebut.

Ruangnya yang luas – 700 meter persegi dan langit-langit setinggi 7,5 meter – dirancang dengan fleksibel, yang bisa diubah-ubah sesuai dengan yang diinginkan, bahkan kalau diperlukan panggung untuk live band. Ada rotating door jumbo yang bisa dibuka atau ditutup untuk membatasi antara ruang resto dan lounge. Dragon Fly buka untuk makan siang mulai jam 11.30 sampai 15.00 WIB. Sedangkan untuk dinner mulai jam 18.30 hingga 23.00 WIB. Lounge sendiri aktif pada malam hari, sejak jam makan malam hingga jam 24.00 pada hari biasa dan jam 02.00 WIB pada Rabu, Jumat dan Sabtu.

Lalu, apa menu yang disajikan resto yang terletak di bilangan di Wisma BIP, Jl. Jend. Gatot Subroto itu? “Kami menggabungkan menu Oriental, khususnya makanan ala Thailand, Vietnam, dan Kamboja, tapi penyajiannya ala Barat,” ujar Kiki Utara, Head of Public Relations Dragon Fly.

Untuk siang hari mungkin sedikit light, sebutlah bebek panggang andalannya yang disebut Juicy Roast Duck with Tamarind Dressing atau ikan goreng ala Bangkok yang disebut Deep Fried Bangkok Garoupa in Three-Flavoured Sauce.

Sedangkan pada malam hari boleh coba menu-menu yang unik ini – hasil kreasi tiga chef yang berasal dari Bangkok, Singapura, dan Jakarta. Untuk appetizer, mulailah dengan sup tom yum seafood ala Thailand yang terkenal itu, tapi di sini disajikan lebih creamy, karena ditambah santan. Masih di starter cobalah Fresh Komegrpwn Betel Leaves with Foie Grass, ikan salmon yang dibungkus dengan daun betel yang didatangkan dari Thailand, dan siap dimakan.

Menu utamanya, ada beberapa yang diunggulkan. Yang doyan makanan rasa Indonesia, cobalah sup buntut dengan saus karamel serta chilli vinegar, sehingga rasanya asam-asam manis. Yang suka seafood, sebaiknya pesan Fragrant Coconut Colossal Tiger Prawn, yakni udang gala yang dimasak dengan kelapa, mirip serundeng.

Di golongan ikan-ikanan, salmon menjadi pilihan yang tepat. Dragon Fly mengunggulkan Crispy Pink Norwegian Salmon with Ginger Citrus Vinaigrette. Ikan laut dalam itu dimasak hingga sedikit kering, disajikan dengan kentang rebus yang dicampur lemon segar yang menghilangkan aroma amisnya. Sementara Thinly-Sliced Crispy Duck over Sea Asparagus Stack adalah bebek panggang yang dimasak dengan asparagus dan saus plum. Potongan bebeknya yang renyah, dengan bumbu kecap dan bawang putihnya yang meresap, mampu menggoyang lidah. Hmm…

Habis makan mungkin bisa diteruskan ke lounge. Di sini banyak pilihan minuman, terbanyak wine – eks Prancis, Australia, Italia, dan lain-lain. Ada juga stick drink, yakni cocktail yang terdiri dari minumal beralkohol dan jus buah segar. Yang tidak suka minuman beralkohol bisa memilih jus atau soft drink.

Dragon Fly yang berkapasitas duduk 200 orang, di luar dua private room yang masing-masing menampung 10 orang, itu memang diperuntukkan eksekutif muda 25 tahun ke atas. Kaum yuppies Jakarta yang dinamis dan gemar ber-networking alias gaul. (Burhanuddin Abe)

Sumber: Platinum Society No. 07

No comments:

Post a Comment