Wednesday, September 26, 2007

Berobat sambil Berwisata di Penang



Penang, Malaysia, diam-diam telah menjelma menjadi medical destination di Asia. Rumah sakit-rumah sakit di sana mempunyai servis seperti hotel. Sebagian besar pasiennya ternyata orang Indonesia. Pengalaman apa yang mereka tawarkan? (Burhan Abe)

Singapura sering disebut sebagai medical destination dunia, paling tidak Asia. Memang tidak salah, orang Indonesia pun banyak yang berobat ke sana – tepatnya berobat sambil berwisata. Tapi tidak banyak yang tahu, Malaysia juga menawarkan pengalaman yang tak kalah menariknya dengan Negeri Singa.


Pertengahan Februari 2006 lalu saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Malaysia, tepatnya Penang. Pulau yang eksotis namun infrastrukturnya terbangun rapi ini terdapat beberapa rumah sakit kelas dunia. Island Hospital, Adventist Hospital, Mount Miriam Hospital, Lam Wah Ee Hospital, Gleneagles Medical Centre, atau Loh Guan Lye Specialists Centre, untuk menyebut beberapa.

Sebagaimana layaknya RS yang profesional, mereka menawarkan layanan medis yang lengkap, mutakhir, dan berorientasi pada pasien. Mulai dari sekadar pelayanan general check up, operasi penyakit serius seperti jantung, kanker, dan penyakit dalam lainnya, hingga pelayanan yang berurusan dengan penampilan, mulai dari sedot lemak, lasik (operasi mata dengan memakai teknologi laser), bahkan bedah kosmetik.

Saya sendiri melakukan general check up dengan paket executive screening programme di Island Hospital. Dokter ahli mewawancarai saya untuk mengetahui riwayat penyakit, memeriksa, dan mengetesnya dengan peralatan paling mutakhir. Ada Chest X-Ray dan Ultrasound Examination of Upper Abdomen yang memeriksa paru-paru dan rongga tubuh, ada tes jantung dengan memakai treadmil dan peralatan lainnya, serta pemeriksaan urine dan darah. Hasil check up seharga RM 600 (1 RM setara dengan Rp 2.500) itu bisa diketahui hari itu juga, tepatnya memakan waktu total 5,5 jam.

Alhamdulillah, tidak terdeteksi penyakit yang serius dalam tubuh saya. Hanya saja, kandungan kolesterol saya cukup tinggi. Kandungan kolestrol dalam darah orang normal berkisar 50.26 – 201.03 mg/dl, tapi saya 243.94 mg/dl. Huh! “Tidak usah risau, orang kota penyakitnya rata-rata memang begitu. Kelebihan kolesterol. Sebenarnya, kolestreol tinggi bisa diturunkan asal pola makan kita benar, menghindari makanan berlemak dan banyak mengonsumsi sayur serta buah-buahan. Jangan lupa, rajin berolah raga,” ujar DR. Chong Keat Foong, Consultant Physician yang menangani saya, menghibur.

Selain berobat medis, biasanya orang yang memilih berobat ke luar negeri akan memanfaatkan kesempatan untuk berbelanja atau berwisata. Penang sebagai salah satu tujuan berobat mungkin belum begitu banyak diketahui orang Indonesia, khususnya Jakarta. Tapi bagi orang Medan, Penang sebagai twin city begitu dekat, baik secara psikis maupun fisik – hanya 40 menit dicapai dengan pesawat terbang. Yang menarik, jika Anda ber-KTP atau paspor Medan, tidak perlu lagi membayar fiskal jika ke Malaysia. So, lebih murah ke Penang ketimbang ke Jakarta, misalnya. Bahkan sebuah masakapai penerbangan asal Malaysia yang kini sedang gencar-gencarnya berpromosi menawarkan tiket hemat Medan – Penang hanya Rp 29.999.

Orang yang belum pernah mengunjungi Malaysia, khususnya Penang, dalam lima tahun terakhir mungkin tidak akan menyangka bahwa negara bagian ini sudah sedemikian maju di segala bidang, termasuk dunia pelayanan kesehatan. Island Hospital, misalnya, yang didirikan pada 1996, melayani berbagai pelayanan kesehatan. Menurut DR. Chan Kok Ewe, Chief Executive Officer Island Hospital, rumah sakit yang berlokasi di George Town dan mampu menampung kunjungan 400 pasien dan 140 pasien tinggal ini, memiliki kapasitas untuk pembedahan jantung dengan dokter yang berkompeten. Jenis pembedahan yang dapat dilakukan adalah operasi pembuatan by pass jantung (CABG-Coronary Artery By-Pass Graft) dan perbaikan penggantian katup (off pumps and valve replacement).

Selain pelayanan untuk pasien penyakit jantung, rumah sakit yang memiliki 40 dokter spesialis ini juga melayani penderita kanker (oncology centre), pembuatan bayi tabung (fertility centre), unit layanan bedah tangan dan microsurgery (hand dan microsurgery unit), klinik insomnia (sleep laboratory), unit pelayanan general chek up, pelayanan wanita dan anak-anak, dan lain-lain. “Seperti shopping centre, semuanya ada,” ujar DR. Chan Kok Ewe, sambil tertawa.

Dengan konsep seperti itu tidak aneh kalau Island Hospital menjadi pilihan banyak pasien, termasuk pasien asing – jangan kaget, mayoritas pengunjung asing (72%) berasal dari Indonesia. Selain pelayannya yang prima, unsur kemewahan juga mewarnai rumah sakit ini. Ketika memasuki salah satu kamar rawat inap, langsung tersingkir gambaran ruang perawatan yang penuh dengan aksen peralatan medis. Tidak ada bau rumah sakitnya, bahkan boleh dibilang mirip hotel berbintang. Memang, harga sewa ruangnya juga tidak murah, untuk ruangan super deluxe, yang paling mewah, pasien harus merogoh kocek RM 6.000 per orang per malam, di bawahnya ada kelas single deluxe RM 3.500. Tapi ada juga yang murah, dalam satu ruangan dipakai berempat, sekitar RM 150 per orang per malam – mirip di rumah sakit umum, meski fasilitas dan pelayanan hotelnya tetap dipertahankan.

Mengingat pasien internasional rumah sakit ini berasal dari Indonesia, Island Hospital yang menyasar segmen atas ini menyiapkan personel yang bisa berbahasa Melayu. Di guest relation, seperti layaknya di hotel, ada petugas khusus yang melayani orang Indonesia. Menurut Nora Hamid, Head of PR/Marketing Department Island Hospital, tujuan pelayanan seperti ini agar pasien merasa nyaman selama tinggal di sana, senyaman di negara sendiri, bahkan di rumah sendiri. “Pasien tidak perlu merasa sakit, tapi sebaliknya, termotivasi untuk sembuh,”tukas manta konsultan PR sebuah hotel itu.

Rumah sakit ini juga menyediakan pelayanan di luar urusan utama kesehatan, misalnya penjemputan pasien di bandara, bahkan mencarikan hotel untuk keluarga pasien. Pilihannya dari yang murah hingga hotel berbintang. Begitulah, di Penang, berobat pada akhirnya bukan lagi perkara yang menakutkan. Dan yang menarik, selain berobat pasien bisa menikmati keindahan alam sekitar layaknya berlibur saja!

Sebagaimana pasien yang lain saya juga tidak menyia-nyiakan kesempatan menyusuri kota pantai yang luasnya 285 km2 dengan penduduk 1,2 juta jiwa itu. Dikenal dengan sebutan Pearl of the Orient, Penang ternyata menyimpan keindahan alam yang luar biasa.

Sebagai pulau penghasil rempah dan terkenal dengan palemnya (pinang), Penang banyak dijejaki bangsa-bangsa di dunia sejak duku. Pada 1786 Sultan Kedah menyerahkan proteksi Penang kepada Captain Francis Light, Inggris. Penang sekarang adalah paduan antara peninggalan lama – bangunan-bangunan khas peninggalan kolonial Inggris masih tetap dipertahankan, dan modernitas. Banyak gedung pencakar langit berdiri di sini, termasuk sejumlah hotel berbintang, sebutlah Shangri-La Hotel, Copthorne Orchid Hotel, Berjaya George Town Hotel, Paradise Sandy Beach Resort, dan lain-lain.

Kebudayaan yang turun temurun di negara multirasial ini – China 59%, Melayu 32%, India 7%, dan ras lainnya 2% – , tidak hanya melekat sebagai way of life warganya, tapi juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan manca negara. Saya beruntung dapat menyaksikan Thaipusam, yang tahun ini jatuh pada 11 Februari, salah satu dari tiga perayaan besar orang Hindu. Ritual ini adalah persembahan kepada Dewa, untuk memerangi kekuatan jahat. Umat Hindu berjalan berarakan menuju kuil, membawa persembahan dengan berbagai hiasan, beberapa di antara mereka menghias dirinya dengan menusukkan benda-benda tajam ke beberapa bagian tubuhnya.

Memang, bagi orang awam, ritual tersebut agak mengerikan. Menurut Eddy Virgo, pengusaha asal Medan yang menjadikan Penang sebagai “rumah kedua”, pada perayaan Imlek justru kesan pestanya terasa. Pada tahun baru China itu Penang, tidak hanya etnis Tionghoa saja yang menantikannya, karena hampir semua warga merayakannya. “Tidak hanya PDI-P, Penang pun jadi ‘metal’ alias jadi merah total,” ujarnya suatu malam di Starbucks di Gurney, kawasan yang paling ramai di tepi pantai.

Sore sebelumnya, Eddy dan beberapa dokter dari Island Hospital mengajak saya, menikmati makan malam di sebuah restoran Thailand. Makanannya tidak berbeda jauh dengan makanan ala Thailand yang ada di Jakarta memang, hanya saja lebih pedas dan lebih spicy. Kami memesan sup tom yam, ayam goreng mentega, ikap kakap dengan saus khas Bangkok. Hmm…

Di Penang sebetulnya banyak pilihan makanan, baik makanan Barat yang populer maupun makanan Timur yang eksotik. Ada ba kut teh Johor, ayam Ipoh, atau laksa Kedah. Penang cuisine memang terkenal dengan karakternya yang multikultural: makanan Nyonya, Chinese food, vegetarian, India, Melayu, Hakka-styled Western, atau seafood. Semuanya ada. Tapi saya lebih memilih nasi kandar, makanan ala India Muslim yang dihidangkan seperti nasi Padang, serba berkuah dan bersantan. Dilengkapi dengan roti tandoori, nan, dan capati. Soal kolesterol? Lupakan sejenak kali ye....

Majalah ME 2006