Thursday, September 27, 2007

Cinta Sejenis Merasuki Rumah Tangga


Mempunyai rumah tangga yang harmonis, tapi mempunyai selingkuhan – sesama jenis lagi. Aha, ternyata ini bukan isapan jempol belaka. Fenomena ini ada di antara kita, pelakunya beragam, mulai dari eksekutif hingga pemain sinetron. Aha…..


Badan tegap dan wajahnya gantengnya sering mewarnai layar televisi Indonesia. Maklum, Ramon (38 tahun), sebutlah demikian, adalah bintang sinetron, yang sering memainkan peran-peran protagonis. Ia memerankan bapak-bapak yang baik, bahkan tokoh dai dalam sinetron sejenis “Hidayah”.

Di luar layar kaca, mantan peragawan itu juga dikenal sebagai public figure yang juga baik-baik. Kalau pun muncul di infotainmen, yang disorot adalah soal kehidupan keluarganya, tentang istrinya, serta dua anak balitanya yang lucu. Pokoknya jauh dari gosip serta rumor miring.

Tapi jangan salah, di luar yang baik-baik itu, Ramon yang menjadi idola masyarakat itu ternyata menyimpan rahasia yang cuma dia dan beberapa teman dekat saja yang tahu. Di luar isterinya, ternyata ada cinta yang lain, orang menyebut “selingkuhan”. Kata sebagian orang hubungan extra marital seperti ini adalah sesuatu yang jamak dalam kehidupan modern. Yang tidak jamak, selingkuhan Ramon adalah seorang lelaki muda, 19 tahun, yang juga artis sinetron pendatang baru. Ya, ia telibat cinta dengan sesama jenis. “It’s my secret identity,” katanya.

Dua tahun ia ketemu dengan “brondong” tersebut di lokasi syuting dalam sebuah produksi sinetron. Dari pertemuan-pertemuan yang intens itulah Ramon menjadi merasa dekat, dan virus-virus asmara pun merasuk. Semula Ramon merasa aneh dengan perasaannya, tapi lama-kelamaan ia membiarkan perasaan tersebut, dan terjadilah affair yang mengasyikkan! Kehidupan seksual dengan sang isteri relatif tidak terganggu, tapi kini Ramon mempunyai alternatif yang lain, “Ibaratnya, selain ada makanan rumah, saya juga berpetualang dengan menu yang lain,” ungkapnya.

Aha, cinta sesama jenis alias homoseksual, memang bukan fenomena baru. Biseksual, menyukai lain jenis sekaligus sesama jenis, juga cerita lama. Ramon tentu tidak sendirian. Dengar juga keluhan seorang pasien, sebutlah Alvin, dalam konsultasi seks di media yang diasuh Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp. And, Dokter Ahli Andrologi dan Seksologi.

“Saya seorang suami berumur 33 tahun, menikah empat tahun lalu, dan telah dikaruniai seorang anak. Walaupun sudah menikah, saya punya kebiasaan yang menyimpang, yaitu senang berselingkuh dengan sesama jenis. Sebelum menikah, sejak berumur 23 tahun, saya sering melakukan hubungan seks dengan seorang pria. Tanpa sepengetahuan istri, saya sering melakukan perbuatan yang menyimpang itu sampai sekarang.

Bagaimana caranya menghilangkan keinginan untuk melakukan perbuatan yang menyimpang dengan dia? Saya tahu apa yang saya lakukan itu dosa, apalagi saya sudah berkeluarga. Selama ini hubungan dengan istri saya lakukan seperti biasa, seminggu 1-2 kali. Saya bisa merasa puas, istri juga puas. Lalu, mengapa kalau tidak melakukan dengan pria itu, saya seperti kurang bahagia? Setelah melakukan dengan dia, saya seperti mendapat semangat baru… “

Jeruk kok Makan Jeruk?
Menurut Wimpie Pangkahila, perilaku seksual di atas tergolong perilaku biseksual, yaitu tertarik dan terangsang kepada sesama jenis, selain kepada lawan jenis.

Ada dua kemungkinan mengapa Ramon dan Alvin berperilaku biseksual. Pertama, pada dasarnya mereka memang seorang biseksual. Kedua, mereka sebenarnya seorang heteroseksual, tetapi karena mempunyai pengalaman homoseksual sejak masa pranikah sperti Alvin, atau pengalaman erotik yang mengasyikkan dengan sesama jenis seperti Ramon, maka mereka pun terseret ke perilaku biseksual.

Psikolog Sawitri Supardi-Sadarjoen mempunyai penjelasan lebih lengkap, bahwa orientasi dalam perilaku psikoseksual manusia pada dasarnya bisa dikelompokkan dalam tiga kategori: heteroseksual, homoseksual, dan biseksual.

Perilaku heteroseksual adalah perilaku psikoseksual dengan orientasi psikoseksual yang optimal. Artinya, minat seksual tertuju pada pasangan lain jenis dewasa. Perkembangan heteroseksual yang wajar ini sangat dipengaruhi oleh aspek genetik, pola asuh, pergaulan serta kemulusan perkembangan tahapan psikoseksual terdahulu.

Sementara itu, perkembangan perilaku homoseksual dan biseksual dapat terjadi oleh berbagai sebab. Yang pertama adalah faktor biologik-konstitusional, yaitu bila ternyata hormon perempuan mendominasi peran hormon laki-laki. Padahal orang tersebut karakteristik fisiknya ditandai oleh seks biologik laki-laki.

Lalu faktor internal yang bersifat sadar, sangat terkait dengan iklim relasi yang terbina dengan ayah dan ibu sebagai figur otoritas lain jenis atau sejenis dengan anaknya. Misalnya, figur ayah yang dominan dan otoriter bisa membuka peluang anak laki-laki justru mengambil alih peran keperempuanan dari figur ibu dan proses identifikasi dalam pembentukan identitas seksual, sehingga berkembanglah identitas psikoseksual keperempuanan yang manifest dalam bentuk perilaku homoseksual.

Ada lagi karena faktor “kecelakaan” sehingga orang menjadi homoseksual. Pria yang berwajah imut-imut, misalnya, sering menjadi sasaran obyek pemuas dorongan erotik yang muncul pada sesama remaja. Dari iseng-iseng atau mereka melakukan eksperimen dalam hubungan sesama jenis, kemudian pada masa dewasa mereka menjadi ketagihan – akibat pengalaman erotik yang menyenangkan tersebut. Istilah masa kini “jeruk makan jeruk”.

Pertanyaannya, apa perbedaan hakiki antara perilaku homoseksual dan biseksual? Biseksual adalah suatu perilaku psikoseksual yang menempatkan dua jenis kelamin sebagai obyek seksual dalam valensi yang seolah berimbang. Penderita biseksual dapat mengalami perangsangan erotik baik dari laki-laki maupun perempuan, sehingga penderita ini dapat melakukan hubungan intim dengan pasangan laki-laki dan juga dengan pasangan perempuan.

Namun dari pengalaman praktik psikologi selama ini, demikian Sawitri, diperoleh kenyataan bahwa pada dasarnya penderita biseksual analog dengan penderita homoseksual, hanya pada penderita biseksual oleh karena berbagai sebab mampu menempatkan pertimbangan status sosial sebagai pengendali dorongan homoseksualnya.

Jadi, seorang selebriti, misalnya, akan mempertahankan kehidupan rumah tangganya yang “normal”, sambil di luar tali pernikahannya, ia pun menyalurkan dorongan perilaku homoseksualnya dengan sesama pria. Boleh jadi, pernikahan yang dlakukan selama ini hanya topeng belaka untuk menutupi perilaku seksualya yang menyimpang.

Tapi yang jelas, perilaku homoseksual atau biseksual, meski tdak bisa diterima sepenuhnya, sudah menjadi wacana yang terbuka di Indonesia. Kalau film bisa menjadi gambaran riil masyarakat, maka “Arisan” yang mengungkap kehidupan gay, yang banyak digemari bahkan menyabet beberapa penghargaan, seperti menggarisbawahi fenomena tersebut.

Di luar Indonesia film-film yang bercerita tentang kehidupam kaum homoseksual atau yang menyerempet tema tersebut, lebih banyak lagi. "Interview With The Vampire" atau “Brokeback Mountain", untuk menyebut beberapa.

Yang menarik, film-film bertema percintaan sesama pria tidak saja menarik perhatian dan menyedot banyak penonton, tapi juga banyak yang memenangkan piala penghargaan. Itu sebabnya, aktor seperti Brad Pitt, misalnya, menyukai peran seperti itu. “Saya ingin peran yang tidak biasa, seperti menjadi gay,” ujar aktor ganteng yang menjadi idola para wanita itu. Apakah berarti kekasih Angelina Jolie dan mantan suami Jennifer Aniston ini biseksual? Mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang… (Burhanuddin Abe)

ME 2007

1 comment:

  1. Galau krn mslh cinta asmara? Solusi atasi mslh percintaan dg doa2 khusus: 0815 6766 2467

    ReplyDelete