Thursday, September 27, 2007

Duh Ibu Kartini, Maafkan Kami!



Ketika perempuan Indonesia merayakan Hari Kartini tahun ini, saya teringat tulisan di halaman muka harian nasional beberapa waktu yang lalu. Tulisan itu sebenarnya mengulas acara drama reality show yang sedang ditayangkan di RCTI, Joe Millionaire, tapi meluas ke aspek gender. Keprihatinan terhadap sebuah acara televisi, yang kalau dilihat dari sisi feminitas, katanya sangat “merendahkan” perempuan, karena para aktris (20 orang) yang memerankan diri sendiri dalam tontonan tersebut harus memperebutkan cinta Marlon Gerber – seorang peselancar yang “disulap” menjadi seorang miliarder. Pada akhir tulisan itu sang wartawan (tepatnya wartawati) memasukkan opininya; Duh Ibu Kartini, Maafkan Kami!

Saya bisa memahami, di tengah dunia yang katanya masih didominasi pria (male chauvinism domination), gerakan feminisme adalah sebuah keniscayaan. Gerakan persamaan hak antara pria dan wanita tidak hanya diperjuangkan Kartini seabad yang lalu yang idenya relevan sampai hari ini, tapi juga pemikir perempuan yang lahir sesudahnya. Jujur saya sangat mengagumi mereka, para perempuan pejuang emansipasi. Saya mengagumi pemikiran Kartini yang tercermin dari surat-suratnya, saya mengagumi Rohana Koedoes melalui esei jurnalistiknya, saya mengagumi Maria Hartiningsih, wartawati senior yang selalu menyuarakan keperempuanan dalam artikel-artikel yang ditulisnya, saya juga mengagumi Karlina Leksono yang tidak hanya filosofis eseinya tapi juga seorang praktisi yang ikut turun ke jalan dalam memperjuangkan hak-haknya dalam “Suara Ibu Peduli”. Tidak hanya mereka, masih banyak lagi tokoh feminis yang saya kagumi.

Saya jelas sejalan dengan pemikiran feminisme, yang saya pahami bukanlah perang melawan laki-laki tapi memperjuangkan kemanusiaan itu sendiri. Hanya saja, saya tetap saja tidak mengerti ketika tayangan Joe Millionaire dikritik atas nama feminisme. Buntut-buntutnya tayangan ini dianggap tidak berbudaya Indonesia, melecehkan harkat wanita, terlalu mengumbar kekayaan, tidak edukatif, dan seterusnya. Bahkan sebuah forum menggelar diskusi tentang kontroversi reality show ala Fox International yang sudah didaptasi di 13 negara ini dari layak ditayangkan di Indonesia. Sebagai salah seorang penulis skenario acara ini saya tidak pernah menyangka bahwa Joe Millionaire akan menjadi kontroversi. Ini bukan pembelaan, tapi saya hanya ingin mengatakan bahwa cerita Joe mirip dengan cerita rakyat Indonesia yang sangat populer Ande Ande Lumut, tapi dalam kemasan moderrn. Dalam versi Barat juga ada kisah Cinderella yang terpilih menjadi kekasih seorang pangeran tajir, setelah mengalahkan para pesaingnya.

Dalam Joe saya hanya menuangkan cerita – tanpa mengubah pakem dari Fox International sebagai pemilik program ini – dengan setting masa kini, dan khas Indonesia. Tidak seperti Naratama Rukmananda, yang sempat ragu-ragu menerima tawaran menyutradarai Joe, saya langsung tancap saja ketika dihubungi production house yang mendapatkan hak dari Fox International yang awal tahun ini, dan mengajak syuting ke Bali. Bersama tim penulis saya mendiskusikan ide, mengembangkan alur cerita, membuat plot, dan membayangkan dating yang akan dilakukan Marlon dan para kandidat di tempat-tempat eksklusif dan classy di Bali, serta menampilkan eksotisme lengkap dengan heritage culture Pulau Dewata tersebut. Sejumlah selebriti dan pakar berbagai bidang didatangkan dari Jakarta untuk mengisi baterei para kandidat – di antaranya adalah Ibu Sari Narulita, Pemimpin Redaksi Her World.

Para profesional yang terlibat dalam acara ini bukan orang-orang sembarangan, ada Dewi Alibasyah yang menjadi penyunting terbaik dalam film Arisan, fotografer kawakan Darwis Triadi, penata rambut Rudy Hadisuwarno, aktris kawakan Rima Melati, dan lain-lain. Juga, yang membahagiakan adalah beberapa pihak bersedia mendukung acara ini, mulai dari Martha Tilaar (make up), Metro Department Store dan Sebastian Gunawan (wardrobe), Gold Mart (perhiasan), dan lain-lain – penyebutan nama-nama sponsor ini sekadar untuk menunjukkan bahwa acara ini dipikirkan secara serius sebagai acara yang prestisius, baik dari sisi sinematografis maupun lifestyle-nya.

Sejak awal Joe tidak diproduksi dengan main-main, apalagi dimaksudkan untuk melecehkan kaum perempuan. Tayangan ini justru mempunyai pesan moral, mempertanyakan kembali, mana yang lebih berperan dalam hidup ini, cinta ataukah harta.

Kalau pun hasilnya, secara kreatif maupun filmis, tidak sesuai dengan yang diharapkan, itu persoalan lain. Para kritikus dan pengamat bisa mempunyai alasan, sedangkan para profesional di balik pembuatan Joe bisa mempunyai argumen tersendiri pula. Masih bisa menjadi perdebatan. Tapi kalau eksesnya ternyata menyinggung sebagian masyarakat kita, saya hanya bisa minta maaf setulus-tulusnya. Duh, maafkan daku! It's just a game to entertain viewers and TV has never been a first reality. It's just a second reality! (Burhanuddin Abe)

Jakarta, 21 April 2005
Her World Magazine

No comments:

Post a Comment