Thursday, September 27, 2007

Kebebasan atau Kebablasan



Banyak eksekutif muda yang menjalani hidupnya secara bebas. Mereka sangat lekat dengan kehidupan yang glamour dan akrab dengan dunia malam. Bukan sekedar dugem dan alkohol, keseharian mereka pun lekat dengan para perempuan, mulai dari one night stand hingga menjalin hubungan yang lebih serius yang bukan sekadar TTM. Modernisasi atau salah mengartikan kebebasan?

Inilah salah satu ritme dari kehidupan malam Jakarta. Di sebuah klub di bilangan Jakarta Pusat menawarkan suasana cozy untuk melepas penat para eksekutif. Venue yang baru dibuka tahun ini bisa menjadi alternatif yang cool. Begitu masuk ke sana hawa pesta segera menyambut Anda. Hentakan musik dari' DJ sepertinya sesuai uai dengan suasana malam para kaum yuppies Ibu Kota.

Setelah seharian bekerja, clubbing dan bersenang-senang adalah pilihan yang masuk akal untuk melepaskan penat. Dengan menenggak beberapa gelas alkohol badan terasa lebih rileks. Lampu-lampu disko pun secara dinamis bergantian menyapu tubuh-tubuh mereka. Sebagai bagian dari gaya hidup, para eksekutif mode melarutkan diri di klub dengan musik ingar bingar yang beritme cepat.

Di situlah Hengky, sebutlah demikian, menghabiskan malam-malamnya. Tidak hanya di akhir pekan, bahkan di hari biasa pun, ketika tuntutan mencari hiburan tinggi, tak segan-segan ia menyatroni klub-klub Jakarta. Maklum, pria 33 tahun yang terkenal sebagai pekerja keras ini ingin mengimbangi ketegangannya dengan suasana rileks.

Hengky tercatat sebagai direktur di beberapa perusahaan milik sang ayah. Garis keturunan sulung dari empat bersaudara ini memang cukup beruntung. Pasalnya, pria satu-satunya di keluarganya itu dipercaya sang ayah mengurus beberapa perusahaannya. "Tapi tetap saja ayah yang monitor, saya dan tim yang jalankan roda perusahaan," katanya.

Hengky mengaku menjalani hidupnya secara bebas. Kehidupannya yang glamour dan akrab dengan dunia malam seakan melekat di nadinya. Bukan sekadar dugem dan alkohol, keseharian bapak seorang anak ini pun lekat dengan perempuan. Mulai dari sekadar berkencan semalam hingga menjalin hubungan yang lebih serius dengan perempuan lain di luar pernikahan. "Pernikahan saya cukup baik, saya punya isteri yang nyaris sempurna dan telah dianugerahi keturunan. Tapi saya juga butuh variasi dalam hidup saya. Toh saya tetap bertanggung jawab penuh terhadap keluarga saya," tandasnya.

Mendengarkan lagu, menikmati makanan dan minuman memang berfungsi untuk melepaskan stres. Di satu sisi, sebagai eksekutif yang mobilitasnya tinggi, tempat- tempat hiburan malam itu sangat cocok untuk bersantai, bergaul, dan bersosialisasi. Boleh jadi, bertemu relasi untuk prospek bisnis atau menambah teman. Tapi, lebih dari itu, sosialisasi, globalisasi atau entah apa namanya tersebut, di suatu kalangan, telah menjurus pada hubungan yang mengabaikan tatanan nilai dan etika yang bukan hanya salah menurut norma lama, tapi juga mengejutkan untuk ukuran awam.

Dugem bagi sejumlah para eksekutif muda memang biasa. Merebaknya kafe, pub, dan klub di Jakarta dan kota-kota besar lain, juga seperti menjelaskan bahwa masyarakat kita memang sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam arus globalisasi dunia. Tapi yang istimewa (atau justru masih tergolong biasa?) adalah sebagian di antara mereka sengaja mengumbar perilaku purba sebagai bagian dari pergaulan modern. Proyek atau peluang bisnis pun dibarter dengan kenikmatan `surga dunia'.

Clubbing memang sudah menjadi gaya hidup yang sedang in. Seorang yang ingin disebut `gaul' dianggap ketinggalan zaman jika tidak pernah berkunjung ke tempat-tempat perdugeman. Bahwa kemudian mereka mencari hiburan dimiringkan artinya sebagai mencari teman kencan, melampiaskan nafsu syahwati, tampaknya soal lain. Kita juga tidak menutup mata bahwa ada diskotek tertentu yang menyediakan tempat kamar-kamar khusus di ruangan yang lain untuk menampung ketika nafsu sahwati tak terbendung. Bahkan sejumlah karaoke mewah di Jakarta, mempunyai fasilitas kamar mandi sekaligus kamar tidur mewah.

Tapi yang jelas, Hengky tidak sendiri. Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, orang yang memilih jalan hidup seperti Hengky tidak sedikit. Nilai-nilai yang kehidupan sosial yang dulu ketat, kini mulai melonggar. Hubungan seksual, misalnya, tidak lagi dipandang kesakralannya yang hanya boleh dilakukan oleh dua orang yang berlainan jenis dalam ikatan perkawinan. Hubungan seksual kini menjadi aktivitas rekreasi, yang bisa dilakukan kapan saja diinginkan seperti halnya kebutuhan makan dan minum. Bahkan perselingkuhan yang dulu dianggap sebagai perbuatan zinah, menjadi tema yang biasa dalam pergaulan modern.

Nilai-nilai memang telah bergeser suka atau tidak suka. Hubungan seks bukan lagi urusan moral, tapi mengupayakannya sebagai perbuatan yang sehat dan bertanggung jawab. Artinya, orang tua perlu membekali anak-anak gadisnya pil anti hamil, sementara para pria pun perlu melengkapi diri dengan kondom. Bukan rahasia, berbagai alat kontrasepsi dan pil KB itu kini bisa didapatkan di mana-mana secara mudah. Bahkan di Jakarta, Papua, Surabaya, Semarang, Bandung, Mataram dan beberapa daerah lainnya telah tersedia mesin vending kondom (semacam ATM khusus). Baik di beberapa lokasi seperti rumah sakit, klinik, maupun kantor-kantor kelurahan.

Gaya Hidup Manusia Modern
"Fenomena hidup bebas tanpa nilai merupakan gaya hidup manusia modern," ujar pengamat sosial Axis Munandar, Msi. Pengajar Pasca Sarjana Universitas Nasional Jakarta ini juga mengakui bahwa hasrat manusia terhadap lawan jenis bersifat universal, terutama lelaki pada perempuan. Dari nilai agama lelaki mempunyai hak lebih untuk berinteraksi dengan perempuan. Agama Islam mengakui lelaki mempunyai peluang untuk menikah lebih dari satu perempuan. Dalam masyarakat modern nilai-nilai seperti ini ditolak, tapi realitanya masyarakat modern memberikan peluang lelaki untuk berinteraksi bebas dengan banyak perempuan.

Ciri masyarakat modern adalah permisif terhadap nilai kebebasan. Menyebabkan masyarakat menjadi liar, hidup tanpa nilai. Pada dasarnya modernisasi lebih berorientasi pada ilmu pengetahuan yang bebas nilai, yang secara tidak langsung berdampak pada gaya hidup manusia. Itu karena gaya hidup yang tidak bisa lepas dari keberadaan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ciri lain masyarakat modern adalah relativitas nilai. Mereka berpandangan bahwa nilai bukan suatu yang absolut. Nilai sosial berkembang sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman.

"Nilai agama dan budaya tradisional dipandang sebagai nilai yang tidak berkembang dan mengantarkan manusia pada ketertinggalan, nilai yang benar adalah nilai sekarang, bukan nilai lama," jelasnya.

Longgarnya nilai-nilai moral lama ini, nyatanya tidak hanya diyakini sebagian masyarakat kita, tapi bahkan dilegitimasi oleh pemerintah. Bila membaca salah satu poin tips dalam menjaga kesehatan reproduksi yang tertera dalam situs BKKBN, misalnya, memberikan alternatif cara melakukan seksual di luar nikah yang aman, padahal perbuatan tersebut jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai lama baca agama, etika, dan moral. Tips itu antara lain berbunyi: "Gunakan kondom, terutama jika berhubungan dengan kelompok berisiko tinggi, misalnya pekerja seks komersial."

Apa boleh buat, perilaku individu untuk boleh berbuat apapun, mendapat dukungan yang kondusif di negeri ini. Gaya hidup serba boleh (permisif) ini merupakan perwujudan dari kebebasan berperilaku yang merupakan salah satu pilar pemikiran liberal yang diagung-agungkan masyarakat Barat sudah menjalar ke sini.

Memang kenyataan bahwa kebebasan komunikasi dan informasi serta arus globalisasi secara kasat mata telah berefek (sebagian orang menyebut negatif) terhadap nilai-nilai luhur bangsa dan dikuatirkan akan semakin kebablasan. Kehidupan ekonomi yang menghimpit, stres dan frustrasi masyarakat yang disebabkan oleh berbagai faktor eksternal, telah mengantarkan masyarakat pada sikap yang makin permisif. Akhirnya, semuanya memang terpulang kepada pribadi masing-masing. Pilihan sepenuhnya ada di tangan Anda! (Burhanuddin Abe)

Sumber: Male Emporium
http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cyberman/detail.aspx?x=Hot+Topic&y=cyberman00442


No comments:

Post a Comment