Friday, September 28, 2007

Memanfaatkan Gaya Hidup Menjadi Ladang Bisnis


Mengikuti gaya hidup tertentu kata orang identik dengan menghambur-hamburkan uang. Bisa jadi, karena kebiasaan merawat diri di salon, nongkrong di kafe, serta berburu fashion dan aksesoris bermerek, misalnya, tentu harus mempunyai kecukupan finansial. Tapi jangan salah, justru dari gaya hidup ada yang bisa menjadikannya sebagai ladang bisnis yang menguntungkan. (Burhanuddin Abe)

Tidak selamanya Olga Lydia berjalan di catwalk. Model cantik berkulit terang ini ternyata tertarik terjun ke dunia bisnis. Bersama teman-temannya ia menanamkan uangnya untuk mendirikan La Forca, Pool & Lounge, yang mulai beroperasi sejak November 2004. Music lounge seluas 700 meter persegi yang dilengkapi 19 meja biliar itu berlokasi di Setia Budi Building, Kuningan Jakarta. “Sejak lama sebenarnya saya ingin berbisnis, tapi belum menemukan bidang yang cocok. Dari banyak pilihan, kayaknya saya cocok dengan yang sekarang ini,” ujarnya.

Olga menggagas bisnisnya dalam naungan PT Lima Perintis. Kebetulan para pendidi perrusahaan ini tahu banget soal biliar, bahkan tergolong maniak. Sedangkan Olga sendiri mengaku tidak asing dengan yang namanya kafe, klub, music lounge, dan sejenisnya. “Basic-nya adalah life style, dan saya memang dekat dengan itu,”ujar pemain sinetron dan film itu – film terbarunya berjudul 12 am saat ini sedang diputar di bioskop-bioskop di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia.

Lajang 29 tahun ini mengaku sangat menikmati peran barunya sebagai promotion manager. Yang aneh, katanya, tanpa bujet promosi ia berhasil menggaet banyak pengunjung ke tempatnya. Itu antara lain karena networking yang ia bina selama ini. Klub yang menyasar kalangan eksekutif itu pada Jumat dan Sabtu bahkan bisa menggaet sekitar 200 orang. Pertama, karena lokasinya yang strategis. Kedua, orang-orang yang suntuk seharian bekerja, sambil menunggu macet reda, butuh santai sejenak, dan La Forca adalah tempat yang cocok untuk itu, kata Olga memberikan analisis.

Olga bukannya tidak percaya dengan dunia entertaimen yang membesarkan namanya, lulusan teknik arsitektur ini tidak ingin selamanya menjadi “pegawai”meski sejatinya kata tersebut tidak tepat diterapkan dalam industri hiburan, tapi ia ingin juga merintis jalan sebagai entrepreneur. Presenter beberapa acara TV itu enggan mengungkapkan sisi-sisi bisnis La Forca, seperti besarnya besarnya investasi serta pendapatannya setiap bulan, tapi melihat animo masyarakat yang demikian besar terhadap La Forca, ia berharap bahwa break event point akan lebih cepat dari yang diperkirakan. Tidak lebih dari dua tahun.

Menjadikan gaya hidup sebagai ladang bisnis memang bukan cerita baru. Sebelumnya, langkah serupa juga ditempuh Sonia Wibisono, 27 tahun, dokter yang lebih banyak berkecimpung di industri hiburan. Model, presenter, dan bintang iklan ini membuka restoran Thailand, Sup Sip di kawasan Dharmawangsa Square dan butik Shanghai Tang di Plaza Senayan Jakarta. “Saya seorang dokter, dan dokter itu adalah profesi yang tujuannya membantu sesama, bukan mencari uang. Nah, seperti yang sering diingatkan kedua orang tua saya yang juga dokter, kalau ingin mengumpulkan uang, lebih baik dari bidang lain,” ujar pemilik tinggi 165 cm dan berat 44 kg yang hobi menari, teater, dan mendesain itu.

Kalau toh yang dipilihnya adalah kafe dan butik, Sonia mengaku karena ia tertarik dengan dua bidang yang sangat dekat dengan gaya hidup. Dan yang pasti, bisnis tersebut cukup menjanjikan, dan tidak terlalu besar untuk skala pemula seperti Sonia. “Start with something small, kafe dan butik adalah kebutuhan primer manusia. Saingannya memang banyak, karena itu harus pintar pintar memilih konsep yang unik, dan lain dari yang lain. Jadi mempunyai kelas dan konsumen tersendiri yang loyal,” ujar istri Robert Wardhana, yang memberinya seorang putra, Ramses (1,2 tahun) itu.

Sonia menceritakan, bisnis restoran yang ia tekuni bersama teman temannya, yaitu restoran yang sehat, bahan bakunya tanpa MSG, hanya bumbu-bumbu alami. Jadi sambil berbisnis, ia bisa membantu masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat. Sementara di bisnis fashion, ia membuka butik berlisensi internasional. Shanghai Tang berpusat di Hong Kong, didirikan oleh David Tang, tetapi dimiliki oleh perusahaan Prancis, yang juga memiliki merk-merk internasional seperti Cartier dan Dunhill.

Terjunnya Sonia ke bidang bisnis, bukannya Sonia tidak menikmati dunia entertainmen karena memang hobinya berhubungan, berkomunikasi dan berelasi dengan orang banyak tersalurkan. Sonia hanya melihat bahwa sebagai presenter atau bintang iklan, adalah jalan lain untuk membantu mengedukasi masyarakat di bidang kesehatan, sesuai profesinya sebagai seorang dokter. Tapi di kedua bidang tersebut, meski honornya lumayan besar, ia merasa sifatnya sementara. Dengan kata lain, dalam jangka panjang, ia tidak mungkin bergantung dari kedua profesi tersebut, yang hanya melengkapi fungsinya sebagai dokter. “Jadi, tiap bidang saya tekuni karena bisa memberikan arti hidup yang berbeda-beda, tersendiri, dan saling melengkapi. Yang satu untuk membantu sesama, yang lain untuk mengumpulkan uang,”kata bintang iklan Dettol, Actimo, Citibank, Hero, Top 1, dan Sido Muncul itu.

Model sampul beberapa majalah itu mengaku belajar dari buku karangan Robert Kiyosaki, "Rich Dad Poor Dad", bahwa bekerja sebagai presenter, iklan, bintang film, dan lain lain di dunia entertainmen masih termasuk di golongan "Rat Race", atau balapan tikus. Berarti masih keliling-keliling saja di satu lingkaran. Belum naik kelas. Tapi jika kita sebagai produsernya, berarti kita memiliki bisnis yang bisa jalan sendiri tanpa kita, yang bisa menghasilkan uang untuk kita, itulah entrepreneur sejati. “Itulah yang dapat lebih menjamin dan menjanjikan kecukupan materi di masa depan kita,”ujarnya.

Saat ini Sonia memang tidak terlalu muluk-muluk terhadap dua usahanya yang tergolong baru, tapi penulis kesehatan untuk beberapa majalah ini sangat optimistik. Sup Sip yang berkonsep makanan “sehat alami” sangat berpotensi menarik pengunjung, karena lokasinya yang dekat dengan perumahan dan perkantoran. Sementara Sanghai Tang, yang hadir di Indonesia, Mei 2005 lalu, produknya mempunyai karakter yang kuat, menawarkan baju bercorak Chinese dan Tibet. Bisa cheongsam, juga pakaian sehari-hari seperti kaus, sweater, tank top, celana, jaket, jaket kulit, jeans, yang semuanya bercorak Oriental. “Yang jelas, kualitasnya nomer satu. Sekali Anda pegang bahannya, langsung tak terlupakan rasanya,”ujarnya berpromosi.

Koleksi Shanghai Tang, demikian Sonia, merupakan perpaduan antara old China fashion dengan aliran modern yang berani, baik dari segi gaya maupun warnanya. Warna-warna yang sering dipakai adalah neon pink, tart lime, confectionary blue, dan warna warna terang lainnya, meski ada juga warna-warna kalem dan klasik, seperti hitam dan krem. Di Tomb Raider seri 2, Angelina Jolie terlihat mengenakan salah satu koleksi kemeja sutra biru bermotif dari Shanghai Tang. Sementara di serial Friends, Jennifer Aniston tampak membawa ke mana-mana tas bayi merek Shanghai Tang, yang langsung memberikan inspirasi ke seluruh dunia tentang baby bag.

Cerita yang lebih unik datang dari Nia G. Indra (32 tahun) dan Yulfi H. Herman (35 tahun), yang sukses mendulang bisnis gaya hidup. Dua ibu muda cantik ini tadinya suka belanja tas bermerek. Tadinya memang untuk dipakai sendiri, tapi lama kelamaan justru menumpuk di gudang. “Tadinya saya terpikir untuk melakukan garage sale. Kemudian saya bertemu dengan Yulfi sahabat saya yang juga hobi berburu tas, bahkan ke luar negeri. Klop, kita sepakat membuka butik untuk tas second,” ujar Nia.

Niat mereka itu kemudian mereka wujudkan dengan membuka Upstairs Boutique pada 1998. “Promosinya memang dari mulut ke mulut, memanfaatkan jaringan pertemanan kami. Seru, pada awal penjualan kami bisa menghabiskan 50-an tas,” kata Nia sambil menambahkan bahwa harganya branded bag tersebut berkisar Rp 5 – 10 juta.

Kini, Upstairs yang berlokasi di bilangan Panglima Polim sudah tidak asing lagi di kalangan elite di Jakarta. Di situlah Nia, ibu tiga anak, dan Yulfi, ibu dua anak, 'menjaring' pelanggan yang terdiri dari ibu-ibu muda yang gandrung fashion, ibu-ibu pejabat dan tentu saja, para selebriti. Dari pelanggan, kemudian berkembang menjadi teman. Dari obrolan, tercetuslah ide untuk meluaskan lagi usaha butik berikutnya, kali ini mereka tidak berdua saja, namun bertambah 11 mitra yang lain, namanya Socialite pada tahun 2003.

Kalau Upstairs khusus barang second hand, maka butik seluas 600 meter persegi berloksi di bilangan Jalan Hang Tuah ini mengkhususkan diri pada barang-barang baru. Dan tidak cuma tas saja, yang terdiri berbagai merek – mulai dari LV, Prada, Dior, Fendi, Guci, dan lain-lain – kini pilihan Anda juga bertambah sampai ke berlian, mutiara, dan baju muslim. Butik ini juga dilengkapi dengan salon dan kafe. “Hanya saja, busana yang kami utamakan. Kafe hanya buka kalau dipakai untuk acara khusus saja,” jelas Yulfi, lulusan ekonomi dari California, AS, yang pernah bekerja di bank di Jakarta itu.

Pola belanja masyarakat kosmopolitan perlahan mulai bergeser. Setelah bermunculan banyak mal besar di seantero kota, kini belanja pakaian di pusat perbelanjaan itu oleh sebagian orang dinilai tidak lagi eksklusif, lantaran busana yang dipajang adalah hasil buatan pabrik yang diproduksi massal. Maka, kehadiran Upstairs dan Socialite, misalnya, menjadi penting. “Barang-barang kami tergolong eksklusif,” kata Nia, sambil menambahkan bahwa barangnya bisa ditawar dan bayarnya bisa dicicil, “Karena itu naluri ibu-ibu sih.”

Setiap dua bulan sekali mereka berbelanja ke Paris, Milan, New York, dan London. Sambil menyelam minum air, sambil berjalan-jalan, juga berbisnis. Yang menarik, mereka bisa hemat sekitar 30% dibanding dengan harga yang pemegang merek resmi, sehingga harga jualnya pun jadi lebih lebih murah ketimbang di butik resmi. “Hanya saja, belinya kami terbatas. Kalau terlalu banyak, pasti dicekal, karena dicurigai akan dijual lagi,” kata Nia sambil tertawa.

Gaya hidup kota besar yang orang-orangnya senang berdandan dan mengikuti mode, diakui Nia, menjadi penopang utama bisnisnya. Sasaran mereka adalah ibu-ibu kelas atas, yang tidak segan-segan mengeluarkan koceknya lebih dalam untuk tampil treendi. Hanya saja, baik Nia maupun Yulfi, yang didukung penuh para suami mereka, tidak ingin merambah ke bidang lain dalam waktu dekat kalau tidak benar-benar menguasai bidangnya. “Begitu terjun ke bisnis, kita harus serius, harus sepenuh hati dan sekuat tenaga menjalankannya. Begitulah konsekwensinya kalau ingin sukses,” ujar Nia yang hampir setiap hari menunggui gerainya, hal yang sama juga dilakukan Yulfi.

Yang jelas, fenomena berkembangnya kebiasaan tertentu yang sering diberi label sebagai gaya hidup metropolitan, demikian pakar pemasaran Rhenald Kasali, menjadikan ladang bisnis yang subur. Betapa tidak, kaum kelas atas yang hedonis yang tidak sayang untuk menikmati barang dan makanan yang dicitrakan dengan gengsi tertentu, adalah potensi pasar yang sangat menjanjikan. (Her World, 2005)

No comments:

Post a Comment