Thursday, September 27, 2007

Perkawinan di Simpang Jalan


Setiap orang pasti menginginkan kehidupan rumah tangga yang ideal dan harmonis. Tapi Mempertahankan tali perkawinan bukanlah perkara mudah. Apalagi, dalam kehidupan perkotaan yang banyak godaannya. Kebosanan, konflik internal, hingga kehadiran orang ketiga, tidak ayal membuat perkawinan seperti berada di ujung tanduk. (Burhanuddin Abe)


Selingkuh? Kosa kata ini sangat populer dalam 5-6 tahun terakhir ini. Tidak seperti dulu, yang sekadar mengucapkannya merasa tabu, tapi kata tersebut kini hadir dengan entengnya dalam percakapan sehari-hari, dalam seminar, dalam fiksi, bahkan dalam lirik lagu-lagu pop.

Begitulah, selingkuh adalah godaan yang biasa dalam kehidupan rumah tangga. Hanya saja, selingkuh bukan badai besar tapi godaan kecil saja dalam kehidupan. Bahkan mungkin Anda pernah mendengar istilah “Selingkuh itu Indah”, yang seolah-olah menegaskan bahwa hubungan di luar pernikahan yang sah itu adalah sebuah keniscayaan, yang tidak perlu ditanggapi secara serius.

Asal tahu saja, satu dari lima orang di Indonesia (20 persen) mengaku pernah mengirim SMS selingkuh, yakni mengirimkan SMS berkonotasi seks atau rayuan kepada orang lain yang bukan pasangannya. Demikian hasil riset yang melibatkan 8.518 orang pengguna seluler dari berbagai negara. Riset tersebut dilakukan lembaga riset asal Inggris Ipsos MORI, bekerjasama dengan perusahaan spesialis pesan singkat LogicaCMG Telecoms.

Hasil riset yang dilakukan November 2006 itu juga menyebutkan bahwa orang Indonesia memiliki rasa curiga yang tinggi terhadap pasangannya. Terbukti ada seperempat (25 persen) responden mengaku mengetahui pasangan mereka pernah mengecek ponselnya untuk mencari pesan-pesan mencurigakan.

“Kamu Sadar Aku Punya Alasan Untuk Selingkuh ‘kan Sayang?” Aha, inilah judul buku kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh Tamara Geraldine. Dengan gamblangnya, pembawa acara, host, dan pemain sinetron ini bertutur tentang kehidupan kiwari, perkawinan masa kini yang diwarnai dengan hubungan perselingkuhan. Cerita ini konon berdasarkan hasil pengelihatan dan penjiwaan Tamara dalam menjalani hidup. Bukan semata-mata rekaan, melainkan realita dan kepahitan dalam hidup.

**


Maafkan aku menduakan cintamu
Berat rasa hatiku tinggalkan dirinya
Dan demi waktu yang bergulir di sampingmu
Maafkanlah diriku sepenuh hatimu
Seandainya bila ku bisa memilih…


Itulah sepenggal lirik Demi Waktu yang dinyanyikan oleh grup Ungu, yang saat ini mungkin menduduki tangga teratas di percaturan musik pop Indonesia. Namun Sonia, sebutlah demikian, merasa aneh juga ketika suaminya ikut menyenandungkan lagu tersebut. Syairnya yang mellow kalau tidak bisa dikatakan cengeng, sangat bertolak belakang dengan kepribadian sang suami, yang paling tidak selama ini kelihatan macho.

“Tadinya saya tidak terlalu perhatian, lagu itu tentang apa. Tapi karena suami saya suka banget, saya jadi penasaran. Wah, ternyata tentang selingkuh,” ujar Sonia.

Tadinya profesional kreatif di bidang periklanan berharap bahwa yang dinyanyikan suaminya adalah sekadar lagu belaka. Apalagi, lagu tersebut memang lagi top-topnya, bahkan beberapa temannya pun memnjadikan Demi Waktu sebagai nada tunggu ponselnya. Namun kenyataannya ternyata tidak sesuai dengan yang harapan. “Suami saya ternyata menjalin hubungan dengan perempuan lain,” tuturnya, lemas.

Sonia tidak tahu sejauh mana hubungan suaminya dengan cewek lain tersebut. Yang jelas, ibu dua anak itu merasa terhina, ketika suaminya mengaku bahwa ada perempuan lain selain dirinya. Ia tak percaya, bila perkawinannnya yang berusia sembilan tahun itu mendapat cobaan. Kesetiaan yang mati-matian yang dibina bertahun-tahun ternyata bisa jebol lantaran kehadiran orang ketiga.

Orang ketiga? Agaknya pengalaman Ferdy, bukan nama sebenarnya, patut disimak. Lelaki berusia 43 tahun ini, merasakan enggan pulang cepat ke rumahnya. “Malas!” katanya.

Pegawai di salah satu bank pemerintah ini merasa cinta terhadap istrinya mulai memudar. Perkawinan yang dibinanya selama 15 tahun serasa hambar. Memang, dua tahun pertama mahligai rumah tangganya dijalani dengan suka cita. Namun, setelah anaknya lahir, sang istri mulai sibuk mengurus bayi.Juga ketika anak kedua hadir, perhatian sang istri terhadap suami mulai berubah, “Tidak seromantis dulu,” katanya.

Bisa dibayangkan, kalau dulu Ferdy selalu mendapat perhatian ekstra, kini perhatian istri mulai terbagi. Dalam bawah sadar, Ferdy memang merasakan bahwa istrinya tidak secantik dulu, beberapa bagian tubuhnya mulai melar, ditambah lagi dandanannya yang seadanya – tidak seperti sewaktu pada kencan-kencan yang romantis dalam masa pacaran. Prahara rumah tangga itu kemudian datang, “wanita idaman lain” datang dalam kehidupan Ferdy. “Dialah yang sekarang mengisi hari-hari saya,” ujarnya.

Tidak hanya Ferdy sebenarnya, tapi hal serupa juga dialami oleh eksekutif-eksekutif lain. Istri kurang memerhatikan kebutuhan suami, sebaliknya suami pun cuek dengan persoalan istri. Seiring berlalunya waktu, cinta dalam perkawinan bisa tak lagi semanis madu. Rutinitas pekerjaan, urusan rumah tangga, atau karier yang tengah menanjak, bisa merusak pelangi kebahagiaan yang dulu senantiasa dirasakan. Ketika kebahagiaan itu tidak didapat di rumah, mereka pun mencari kebahagian di luar alias berselingkuh. Tidak ayal, jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, maka hal ini bisa mengancam kelangsungan rumah tangga yaitu perceraian.

Menurut Vera Itabiliana, Psi, Konsultan Psikologi Lembaga Psikologi Terapan UI, banyak hal yang menyebabkan konflik yang dapat mengakibatkan ketidakharmonisan dalam berumah tangga. Di antaranya adalah adanya kehadiran orang ketiga. Orang ketiga di sini bisa mertua, saudara, dan lain-lain. Tapi yang paling gawat adalah orang ketiga tesebut adalah wanita atau pria idaman lain (WIL/PIL).

Butuh waktu sebentar untuk menghancurkan kepercayaan, tetapi butuh waktu yang sangat lama untuk membangunnya kembali. Banyak orang setuju kalau kesetiaan adalah kunci dari kesuksesan sebuah hubungan. Tapi kenapa banyak suami atau istri yang berpaling ke lain hati? Seorang psikolog, Paula Hall mengungkapkan ketika pasangan kita memiliki affair, itu berarti ada sesuatu dalam diri pasangan atau dalam hubungan yang sedang dijalani, tidak sesuai dengan harapan. “Selingkuh biasanya pertanda adanya keinginan untuk perubahan,” katanya.

Introspeksi, apa boleh buat, adalah cara yang bijaksana bagi masing-masing pasangan agar bisa mengoreksi diri kekurangan dan selanjutnya memperbaikinya, agar bisa menyelamatkan perkawinan yang berada di simpang jalan. Vera juga mengamini pernyataan tersebut. “Memang sulit menjalankan rumah tangga yang sudah diselimuti konflik. Agar konflik tidak berlangsung lama, kedua belah pihak harus melakukan rekonsiliasi. Duduk berdua, membicarakan permasalahan secara tuntas,” katanya.

ME No. 74, 2007

No comments:

Post a Comment