Thursday, September 27, 2007

Pria-pria Penjual Cinta


Mereka adalah pria-pria pintar dan profesional dalam urusan pekerjaan. Tapi mengapa harus memacari wanita kaya atau bahkan bosnya sendiri di kantor. Demi karier atau untuk memicu gairah dan kesenangan semata? Yang jelas, inilah hubungan asmara yang paling berisiko, bahkan memicu skandal. (Burhanuddin Abe)

Sebuah penelitian di Italia menyimpulkan bahwa bercinta dengan bos ternyata lebih mengasyikkan. Para bos (pria) ternyata bukan hanya piawai di tempat kerja, tapi juga lebih hot di ranjang. Setidaknya, begitulah pengakuan 2/3 wanita yang pernah punya pengalaman dengan bos mereka.

Studi terhadap sejumlah responden tersebut menyimpulkan bahwa wanita yang bercinta dengan bos mendapatkan pengalaman yang paling memuaskan. Hal ini agaknya berkaitan dengan daya tarik bos itu sendiri, yang lekat dengan citra kekuasaan, uang, dan seks. ”Sebetulnya bukan karena bos itu hebat bercinta, tapi karena dia adalah orang yang berpengaruh. Apalagi bila mereka juga dijanjikan sesuatu, yang menjadi stimulus bagi gairah dan kesiapan bercinta," demikian kesimpulan studi yang dilakukan oleh Institute for Interdisciplinary Psychology tahun 2002.

Bagaimana jika sang bos seorang wanita? Apakah para pria yang bercinta dengan sang atasan akan mendapatkan pengalaman serupa? Memang belum ada penelitian khusus terhadap masalah ini. Boleh jadi, ada sejumlah pria yang mendapatkan pengalaman yang mengasyikkan bila bercinta dengan wanita ”powerful” yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya. Namun beberapa nara sumber pria yang menjalin hubungan dengan sang bos yang diwawancarai ME, tidak mengindikasikan sedikit pun seputar ”ranjang”. Yang muncul justru tentang hubungan sosialnya: relasi antara ”atasan dan bawahan”, ”karier dan cinta”, dan seterusnya.

Bahkan Irwan M. Hidayana, Pengamat Sosial dari Universitas Indonesia (UI) Jakarta memastikan bahwa pria-pria yang menjalin asmara dengan wanita kaya yang usianya lebih tua atau dengan atasannya, motivasinya justru lebih banyak berkaitan dengan pekerjaan. “Cara ini oleh sebagian eksekutif dianggap cukup efektif untuk menaikkan karier,” katanya.

Dengan menjalin asmara dengan wanita kaya atau bosnya sendiri, demikian Irwan, akan menaikkan status mereka. Jabatan di kantor cepat terangkat, dan materi pun berkecukupan. Itu pula yang dialami oleh, sebutlah Peter Edward dan Boy Firmansyah. Dengan menjalin asmara dengan atasan, kedua pria eksekutif itu tidak hanya bisa beroleh materi, tapi membuat jalan kariernya mulus tanpa hambatan.

”Saya memang punya target ketika melihat peluang bisa mendekati bos saya. Tujuan saya jelas, agar promo saya lebih mulus saja. Saya perlu karier yang bagus serta kehidupan sosial keluarga yang baik,” aku Eward yang mempunyai keluarga itu terus terang. Di perusahaan alat-alat berat tempat ia bekerja bapak dua anak itu memang cepat melejit kariernya. Semula ia hanyalah seorang staf di divisi engineering, tapi setelah menjalin asmara dengan sang bos, ia langsung bisa menduduki posisi manajer di divisi marketing communication.

Boy Firmansyah mempunyai pengalaman kurang lebih sama. Setelah berhubungan “khusus” dengan sang bos, karier yang baru dipupuknya selama setahun lebih itu langsung melesat bak roket. Berawal dari staf pemasaran biasa, kini ia menyandang asisten manajer bidang pemasaran. Maklum, sang kekasih yang juga atasannya itu menjabat sebagai regional manager di perusahaan yang sama, yang tentunya mempunyai pengaruh yang besar terhadap kariernya.

Boy memang sempat membantah kalau hubungannya dengan sang atasan memuluskan kariernya. Apalagi, kunci kesuksesan di bidang pemasaran adalah networking, bukan koneksi atasan. Tapi yang tidak dimungkiri, sang pacar yang atasannya itu selalu membantu Boy membuka jalan dan meluaskan pergaulan bisnisnya. Tidak hanya itu, segala kebutuhannya pun, mulai dari kredit kepemilikan rumah hingga mobil mewahnya, selalu mendapatkan “subsidi” dari kekasihnya. Nah, kan?

Dating at Work
Karier memang sangat penting dalam dunia kerja. Penghasilan yang lebih tinggi dan semakin menguatnya eksistensi diri menjadi salah satu alasan mengapa hal yang satu ini selalu dikejar banyak orang.

Rajin, giat bekerja, dan taat pada peraturan yang berlaku, adalah hal-hal yang lazim dilakukan demi mengejar karier. Namun masih banyak manuver lain yang bisa dilakukan agar jalan menuju kesuksesan semakin terbuka lebar. Tidak ada rumus yang pasti memang bagaimana menyiasati agar karier bisa melejit. Tapi banyak yang meyakini bahwa menjalin relasi dengan rekan kerja, serta membangun hubungan yang baik dengan atasan, merupakan kiat yang jitu untuk melempangkan karier.

Rekan sekerja adalah mitra yang bisa diajak bersama-sama mengerjakan tugas-tugas kantor dengan baik. Sementara atasan adalah orang yang mempunyai otoritas atas nasib para karyawan di kantor. Bila hubungan dengan bos tidak harmonis, karier pun pasti akan terhalang. Problemnya adalah, bagaimana kalau hubungan dengan atasan tersebut terlalu jauh, hingga melibatkan perasaan?

Memang, cinta itu bisa jatuh pada siapa saja dan di mana saja, tak terkecuali di kantor. Hanya saja, menurut Michelle Marrinan, seorang konsultan karier di New York, tidak mudah membina hubungan cinta dengan rekan sekantor, apalagi dengan bos. "Salah satu masalahnya adalah memelihara profesionalitas dan perasaan pada saat yang bersamaan," ujarnya.

Itu pula yang diakui Boy, menjalin hubungan dengan sang atasan memang lumayan berat. Kerikil tajam kerap mewarnai perjalanan hubungan mereka. “Yang paling berat adalah menghadapi sikap iri dari rekan-rekan di kantor. Banyak yang berusaha menjatuhkan karier kami berdua. Bahkan, saya kadang dianggap mata-mata bos. Padahal, saya juga profesional, sama seperti mereka,” katanya.

Keluhan Boy cukup beralasan. Sebuah survei tentang dating at work di Amerika Serikat terhadap sekitar 5.000 karyawan dari berbagai perusahaan beberapa waktu yang lalu menunjukkan, 68% responden menganggap bahwa dalam sebuah perusahaan memang tak seharusnya tidak ada hubungan cinta. Sebanyak 66% responden memang sadar bahwa hubungan baik memang diperlukan untuk kemajuan perusahaan dan interaksi dengan para klien, tapi bukan hubungan cinta.

Yang menarik, meski tergolong ”cinta terlarang”, sebagian besar responden (52%) menganggap bahwa hubungan asmara sekantor, suka atau tidak suka, menguntungkan. Hanya saja, masih soal untung rugi, 37% mengatakan bahwa dating at work lebih banyak merusak mood kerja dan membuat produktivitas kerja menurun. Menyenangkan sih menyenangkan (27%), sebagai sesuatu yang semata-mata untuk gairah dan kesenangan, tapi bukan untuk hal serius, karena terlalu berisiko, mematikan promosi, dan bahkan bisa memicu skandal.

Soal semata-mata untuk gairah dan kesenangan, juga tidak dimungkiri Peter Edward. Memacari bos di kantor adalah salah satu agendanya ketika pertama kali bekerja, agar kariernya cepat menanjak. “Menariknya dari hubungan saya dan bos, tidak banyak melibatkan perasaan. Jadi, keluarga masing-masing tidak terganggu,” katanya.

Cinta Semu
Irwan M. Hidayana dari Universitas Indonesia, Jakarta, menganggap bahwa cinta Edward terhadap atasannya adalah cinta semu. Cinta yang semata-mata demi karier dan kesenangan. “Bila sang atasan sudah tidak memiliki posisi penting lagi, bisa jadi si pria akan meninggalkannya, dan mungkin akan menjalin asmara dengan perempuan lain yang punya kdudukan tinggi,” katanya.

Hubungan cinta seperti itu, menurut Irwan, lebih banyak menguntungkan pihak pria. Selain mendapatkan seks, sang pria juga mendapatkan keuntungan materi. Sementara sang wanita akan merasakan efek negatifnya jika tidak diperlukan lagi, seperti habis manis sepah dibuang. Bisa saja, setelah mendapatkan semua yang diinginkan – karier dan materi, sang pria meninggalkan sang wanita. Tidak hanya itu, bila tidak terpuaskan secara seks karena usia sang wanita lebih tua daripada sang pria, berkemungkinan besar sang pria akan mencari petualangan seks dengan orang lain yang bisa memenuhi kebutuhan libidonya.

Tentu saja, selalu ada perkecualian. Tidak semua pria yang menjalin cinta dengan atasannya adalah penjual cinta. Bisa saja cinta yang dirasakan adalah cinta sejati, karena bukankah cinta tidak mengenal status, usia, dan meteri? Tidak sedikit pria yang menjalin cinta dengan perempuan yang lebih kaya atau atasannya, bukan atas dasar materi semata, tapi atas dasar kasih sayang sejati. Hmm!


Male Emporium 73, 2007

No comments:

Post a Comment