Friday, September 28, 2007

Seni Pertunjukan Indonesia di Pasar Dunia


Betapa beragam dan dahsyatnya karya seni pertunjukan Indonesia, seperti yang mereka tampilkan di Indonesia Performing Arts Mart (IPAM) ke-3 di Bali, 6 – 9 Juni 2005. Mereka memadukan unsur bunyi, gerak, kostum, dan tata panggung dengan baik. Mengapa masih ada di antara kita yang meragukan potensi luar biasa ini, dan justru bangsa asing yang memberikan apresiasi tinggi? (Burhanuddin Abe)

Slamet Gundono, dalang Wayang Suket, memukau para penonton yang memadati salah satu arena pertunjukan di Hotel Nusa Dua Beach, Bali. Ambil bagian di Indonesia Performing Arts Mart (IPAM) ia memainkan Celangan Bisma, yang menceritakan perkawinan Bisma dengan Dewi Amba.

Para penggemar wayang, setidaknya yang pernah membaca komik wayang karya RA Kosasih, misalnya, pasti tahu persis tentang Resi Bisma dalam lakon Mahabarata itu. Tapi di tangan Slamet, cerita menjadi terbalik, minimal tidak berjalan sama persis dengan pakemnya. Menjadi tontonan yang menarik, bahkan cenderung lucu. Dengan bahasa Jawa dialek Tegal, yang kadang-kadang diselipi bahasa Inggris, Slamet yang bertubuh tambun itu tidak sakadar bertutur sebagaimana layaknya dalang, tapi juga ikut menari. Ia juga dibantu penari beneran yang memperkuat pengadeganan dalam lakon tersebut.

Slamet hanya salah satu penampil. Penampil lain yang juga mendapat sambutan hangat adalah Rury Nostalgia. Tari Kumala Bumi hasil karyanya, yang pernah dipentaskan di hadapan delegasi Republik Rakyat China di Istana Negara saat Konferensi Asia Afrika, April lalu, ditampilkan kembali, meski hanya sepenggal, 15 menit. Tarian yang dibawakan sembilan perempuan dalam formasi bedaya itu berkisah tentang legenda Ménak Jayengrana, pertarungan dua putri, yakni Putri Kelaswara dari Kerajaan Kelan dan Putri Adininggar dari negeri China, untuk memperebutkan cinta Jayengrana dari Kerajaan Puser Bumi.

Inilah karya keempat Rury setelah sebelumnya ia menyusun koreografi Bedah Madiun (2000), Kelaswara Tanding (2002), dan Roro Mendut (2003). Namun, dalam tiga koreografi terdahulu itu, Rury masih berada di bawah nama Padneswara, sanggar tari milik ibunya yang melenga di dunia tari klasik, Retno Maruti. Dalam Kumala Bumi, ia tampil dengan labelnya sendiri.

Meski “sampel”, karya Rury, juga suguhan Slamet, mendapat aplaus yang positif dari penonton, yang terdiri dari para presenter internasional (yang terdiri dari manajer artis, promotor, agen, dan produser) dari berbagai penjuru dunia yang datang pada waktu itu untuk “belanja” seni pertunjukan yang ditampilkan dalam acara tersebut. Lebih dari 30 agen pertunjukan dan pemantau budaya dari Singapura, Afrika Selatan, Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Kanada, Belanda dan Indonesia sendiri tentunya, tampak terhenyak menyaksikan 20-an karya seni pertunjukan Indonesia yang terdiri dari berbagai kategori – tradisional, klasik, modern, dan kontemporer, mulai dari pentas musik, drama dan wayang. Semuanya ditampilkan bergantian di Keraton Ballroom dan Kertagosa Ballroom.

Selain Slamet dan Rury, beberapa nama peserta lain yang tampil adalah Keraton Mangkunegaran (Solo), Metadomus (Jakarta), Nurroso Art Community (Solo), Rury Nostalgia (Jakarta), Independent Expression (Solo), Nyoman Sura Dance Company (Bali), Wayan Sadra and Friends (Bali), Nan Jombang (Padang), Agung Suharyanto Ensemble (Medan), Laksemana Dance Center (Pekanbaru), Sahita (Solo), dan Studio 28 (Kendari). IPAM ke 3 ini juga menampilkan beberapa peserta yang dinilai lebih berorientasi ke pop, seperti Simak Dialog, Didi AGP, dan Wayan Balawan bersama kelompoknya, Batuan Etnik.

IPAM yang digagas I Gde Ardika saat menjabat Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, adalah program pemasaran seni pertunjukan Indonesia ke pasar internasional, dengan mengundang para calon pembeli potensial seni pertunjukan Indonesia dari manca negara, untuk dipertemukan dengan para performing artist Indonesia.

Bayangkan, Indonesia adalah negara kepulauan yang berpenduduk lebih dari 220 juta orang, dengan keberagaman tertinggi di dunia. Bangsa yang terdiri dari ratusan kelompok etnis, bahasa dan dialek. Unik, khas, dan atraktif. Setiap kebudayaan yang bersumber dari khasanah tradisional mempunyai nilai-nilai luhur yang tumbuh dari waktu ke waktu. Kebudayaan yang agung dan adiluhung tersebut telah menginspirasikan para seninam untuk berkreasi dengan karya-karya mereka yang indah. Hanya saja, karya-karya tersebut akan menjadi kenangan jika tidak ada “pembelinya”, komunitas penontonnya.

IPAM 2005 memberikan kesempatan karya-karya seni pertunjukan tampil dan dikenal tidak hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia. Dengan kata lain, acara ini adalah sebuah meeting point program yang mempertemukan para presenter dengan para seninam seni pertunjukan Indonesia. “Interaksi ini diharapkan akan menimbulkan kontak intensif, yang pada akhirnya berkembang menjadi kontrak,” jelas Bram Kushardjanto, CEO PT Gelar Nusantara, sebagai pelaksana program IPAM 2005 kali ini.

Acara ini merupakan salah satu peluang bagi para pekerja seni untuk tampil di pusat-pusat pertunjukan dunia. Program ini boleh jadi menjadi salah satu model penggerak industri kebudayaan Indonesia, juga dapat memberikan perspektif global kepada para seniman seni pertunjukan Indonesia dalam menangkap kesempatan untuk maju ke pasar internasional.

Memang, kesadaran itu selama ini belum tertanam di benak para artis, juga manajemen seni pertujukan Indonesia, khususnya seni pertunjukan seni tradisional. Mereka belum mengganggap penting soal itu, dan pada saat yang sama, pemerintah masih terus berdalih soal keterbatasan dana jika ditanya soal komitmennya untuk memajukan budaya tradisional. Sikap dunia usaha? Setali tiga uang, belum ada kesadaran untuk membantu komunitas kesenian tradisional. Sebagian besar di antara mereka lebih percaya kepada kesenian pop yang lebih massanya. Bandingkan dengan Singapura, misalnya, yang selain menggerakkan industri kebudayaan pop, juga mendukung perkembangan kesenian tradisional – yang juga mempunya komunitas penggemarnya tersendiri. Bahkan di Korea, sudah biasa kalau perusahaan-perusahaan besar, sebutlah Hyundai, Daewo, dan lain-lain, bangga bisa mendanai keberadaan art center.

Asal tahu saja, IPAM memang lahir dari keprihatinan, ada satu keinginan dari dalam negeri sendiri untuk memberikan pandangan yang berbeda kepada dunia, terdorong akan kenyataan bahwa Indonesia memiliki kekayaan keragaman budaya. Faktanya, hampir 75% kesenian yang ada di Asia itu dimiliki oleh Indonesia, sebagian besar di antaranya adalah kesenian-kesenian tradisional, seperti upacara-upacara ritual di Bali, atau seni pertunjukan Dayak, yang sudah sangat menyatu dengan kehidupan masyarakatnya. “Jika semua kekayaan ini diramu menjadi sebuah industri, maka kekayaan yang luar biasa ini selayaknya membuat Indonesia seperti macan tidur,” tambah Bram.

Obsesi Bram mungkin berlebihan. Apalagi, kita hanya bisa mengelus dada ketika menyaksikan fenomena seni pertunjukan tradisional Indonesia, yang makin hari makin kehilangan penontonnya, serta tanpa dukungan yang signifikan oleh pemerintah dan dunia usaha. Itu sebabnya, kita mafhum, ketika IPAM ke 3 yang karena keterbatasan dana, terpaksa dimajukan sehari lebih cepat dari rencana. Bram yang oleh Ardika disebut "orang gila" karena dengan penuh semangat mau terus menghidupkan IPAM hingga ketiga kalinya, bahkan tidak bisa menyembunyikan keresahan hatinya. Seorang anggota panitia mengungkapkan, dana Rp 1,5 milliar yang dianggarkan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata tidak semuanya mengucur.

Menarik perhatian presenter internasional dan menelurkan kontrak memang tidak semudah membalik telapak tangan. IPAM tahun lalu, misalnya, yang diikuti 15 peserta, hanya 3-4 penampil saja yang dikontrak presenter internasional untuk bermain di luar negeri. Di antaranya adalah Mimi Rasinah, maestro tari Indramayu, yang akan mengadakan beberapa pementasan di Inggris selama dua minggu, bulan Juli lalu. "Nilai kontraknya sekitar 25 ribu dolar AS," kata Bram. Ada lagi beberapa kelompok yang juga akan segera melawat ke luar negeri, yaitu Keraton Surakarta, ARMA Museum, dan Cudamani.

Bagaimana dengan IPAM tahun ini? Sejumlah seniman sudah dilirik untuk tampil di tingkat internasional, meski realisasinya masih butuh waktu. Alain Pare, presenter dari Kanada sekaligus pemimpin CINARS (IPAM-nya Kanada), misalnya, kabarnya tertarik dengan sejumlah penampilan, di antaranya penampilan Sanggar Sahita yang menampilkan Srimpi Srimpet, Ni Kadek Yulia Puspasari, Sasando dari Kupang, Simak Dialog, dan kelompok tari Mangkunegaran Solo.

Sementara itu Azizah Zakaria dari National University of Singapore (NUS) Center for the Arts, terpesona dengan komposisi musik Simak Dialog dan I Wayan Balawan. Benno Rama Dia, mewakili Brisbane Powerhouse, memilih kelompok tari Independent Expression, KITA Dance, dan Ni Kadek Yulia Puspasari. Sedangkan Liew Chin Choy dari Nanyang Academy of Fine Arts berminat pada tari Tongkonan dari Sanggar Kreatif Sulawesi Selatan.

Beberapa presenter lokal juga tidak ketinggalan. Penampilan Rury Nostalgia, misalnya, sudah diincar Martin Krumeck, yang memiliki sebuah gedung pertunjukan di Kuta, Bali. Ananda Sukarlan, pianis Indonesia yang datang mewakili Spanyol, tempat ia bermukim sekarang, berencana mengusung kelompok musik Metadomus dan I Nyoman Sura, koreografer dari Bali. Sedangkan Direktur Goethe Institut Marla Stukenberg merekomendasikan Teater Satu (Lampung) untuk tampil di festival teater Berlin – yang setiap tahun rutin diikuti teater dari Indonesia.

Hasil tersebut memang sebatas potensi, yang untuk mewujudkannya membutuhkan waktu. Hanya saja, di tengah kegamangan kita boleh bangga bahwa kesenian Indonesia mampu go international. Juga, jangan salah, gamelan Jawa, untuk menyebut salah satu contoh, sudah lama mendunia. Di AS, misalnya saat ini tak kurang dari 300 set gamelan dengan ratusan grup yang memainkannya. Di Paris konon ada 15 grup dan di London 20-an grup gamelan. Di negara tetangga Australia, jangan ditanya lagi, grup-grup penabuh gamelan sudah terbentuk di Sydney, New England, Perth, Adelaide, Armidale. Belum lagi di Jepang, Bulgaria, Ceko, dan beberapa negara di Eropa Timur. Bahkan komposisi gamelan Ketawang Puspowarno, karya Ki Tjokrowasito, sempat terbang ke luar angkasa, Voyage tahun 1977, bersama musik klasik karya Bach, Beethoven, dan Mozart.

No comments:

Post a Comment