Thursday, September 27, 2007

Sex, Lies, and Sacrifice


Wanita-wanita Simpanan

Menjadi simpanan rupanya telah menjadi solusi bagi para wanita untuk mendapatkan hidup layak dan mapan. Kesenangan dan kecukupan materi, mungkin menjadi motivasi utama. Sementara bagi para pria (yang tentunya sudah beristri), inilah petualangan seru, petualangan seks, cinta, dan nafsu, yang harus dibalut dengan dusta dan pengorbanan....

DEBRINA sudah mengalami pelbagai pahit-getir kehidupan. Berangkat dari keluarga yang miskin, dia terjerumus ke dunia penjaja seks untuk membantu keluarganya. Setelah berhasil mengumpulkan tabungan yang cukup, dia ingin hidup terhormat. Dia ingin punya suami, punya keluarga, punya status. Tapi dia malah terlibat dengan seorang laki-laki yang sudah beristri, yang tidak bisa memenuhi keinginannya, yang hanya bisa menjadikannya wanita simpanan. Lalu suatu hari dia mati…...

Jalan cerita yang dramatis itu ada dalam novel Misteri Matinya Wanita Simpanan, karya S.Mara Gd. Bgeituah, wanita simpanan masih menjadi topik yang menarik dalam cerita fiksi, baik sebagai tema utama atau pun bumbu yang justru menjadi seru.

Tapi jangan salah, wanita simpanan bukan hadir dalam cerita rekaan semata, tapi memang ada dalam kehidupan nyata sehari-hari. Dengar saja cerita Nila, 27 tahun, cewek manis asal Surabaya. Semula ia adalah seorang model untuk tabloid pria. Pada sebuah pesta ia berkenalan dengan seorang pria separuh baya yang menurut Nila “simpatik, kebapakan, dan agaknya bisa dijadikan sandaran hidup” .

Jalan cerita pun bisa ditebak. Nila dijadikan wanita simpanan pria yang sudah beristri tersebut. Ia dibelikan rumah mewah, segaa kebutuhannya pun dicukupi. Hidupnya yang semula sederhana berubah drastis menjadi kaya. “Ini sudah menjadi pilihan hidup saya, apa salahnya? Saya menjalaninya tidak setengah-setengah, dan tahu segala konsekwensinya,” tutur Nila.

Konsekwensi? Apa boleh buat, namanya juga “istri simpanan” yang dari penyebutannya saja mengandung ketidakterangan. Ada sesuatu yang ditutup-tutupi, baik dari masyarakat, tapi terutama dari istri pertama dan keluarga yang sudah dibina pertama kalinya. Simak saja kasus ini yang terungkap dalam konsultasi psikologi di surat kabar Minggu yang diasuh Leila Ch Budiman. ".... mengapa Bu, selama ini yang dibela cuma para istri saja. Padahal kami, yang berstatus the other woman juga menderita. Bu, saya merasa seperti sampah, habis manis sepah dibuang. Tidak pernah diperkenalkan kepada siapa-siapa, dan selalu dipersalahkan orang. Padahal saya dulu disebutnya sebagai "penyelamat" -nya, sebab Bapak datang sambil mengeluhkan istrinya. Saya dilimpahi janji dan puji, akhirnya dibuang saja seperti sampah. Bu adilkah ini? Mengapa kami tidak ada yang membela ? ("Simpanan" di HI, Jkt)

Memilih menjadi wanita simpanan memang tidak gampang. Selain efeknya berlimpah materi dan keseanngan, harus tahan banting. Tidak hanya disembunyikan, tapi kadang-kadang dilecehkan. Masyarakat cenderung membela membela para istri, sebab mereka beranggapan kehadiran wanita simpanan bisa menghancurkan kebahagiaan sang istri dan merusak keluarganya. Memilih menjadi wanita simpanan adalah memilih sebuah paket hidup yang penuh risiko. Punya kenikmatan dan kemesraan, namun sekaligus dilumuri pahit dan getir.

Petualangan Cinta
Yang jelas, wanita simpanan adalah fenomena. Banyak wanita yang bersedia menjalaninya, banyak pula pria ada yang pria (yang sudah berikeluarga) yang siap mewujudkannya. Setidaknya, itulah pengalaman Julian YS, pengusaha properti yang berusia 49 tahun, ketika bertemu dengan seorang model cantik, sekitar 18 bulan yang lalu. Singkat kata mereka saling tertarik dan berpacaran. Hanya saja, untuk melanjutkan ke hubungan yang lebih serius tidak bisa, karena Julian sudah menikah dan berkeluarga. Yang paling mungkin mungkin bagi Julian adalah menjadikan gadis berusia 21 tahun itu sebagai simpanan.

Bagi Julian, uang bukan masalah. Apapun kebutuhan dan keinginan sang wanita simpanan itu selalu dipenuhinya. Sudah tentu, sebagai kompensasinya, wanita simpanan berdarah Minang – Jawa itu harus bersedia melayani gairah seksualnya. “Saya pikir ini adil. Kebutuhan dia di segi materi saya penuhi, bahkan mungkin sangat berlebihan. Tentu ini ada kompensasinya, dia menemani saya kapan saya perlukan. Di luar itu, terus terang, dia tidak saya beri kesempatan untuk meminta lebih, semisal dikawani secara resmi, atau sampai hamil. Bagaimanapun, saya menutup rapat hubungan gelap ini. Saya tidak mau keluarga yang sudah saya bina 25 tahun hancur berantakan,” tutur pemilik tinggi-berat 172 cm/68 tahun itu.

Julia hanya salah satu. Sebab, nyatanya banyak pengusaha mapan bahan pejabat yang mempunyai wanita simpanan. Para wanita pun, bahkan sejumlah artis ditengarai, banyak yang diam-diam menjalin cinta dengan sejumlah bos dan petinggi negara, dan bersedia menjadi istri simpanan. Dalam istilah psikolog Christine Meaty, ada demand and supply, kebutuhan dan penawawan.

Menurut Christine, pengaruh komunitas dan gaya hidup yang glamour menjadikan nilai-nilai hedonisme tumbuh merasuki kehidupan wanita yang bertipe enggan bekerja-keras. Pilihan menjadi wanita simpanan adalah yang terbaik di antara yang tidak baik. Daripada menjadi pelacur, daripada menjadi istri kedua, daripada bersusah-payah menjadi ini-itu lebih baik menjadi wanita simpanan.

Pada wanita, rasa kecewa dan frustasi yang terpendam terhadap orang-tuanya, dendam terhadap pria karena cintanya pernah ditolak atau diputus sepihak, frustasi karena belum mendapatkan pasangan yang diidamkan, kecewa hubungan asmara yang selalu kandas, dijadikan pembenaran dirinya untuk memilih menjadi wanita simpanan. Siapa yang tidak tergoda, tinggal di apatemen mewah, mengendarai mobil keluaran baru seharga ratusan juta rupiah…

Pembenaran dan kompromi terhadap godaan, rayuan, tawaran kesenangan, ini tidak terlepas dari adanya demand dan supply. Ada wanita yang mau menjadi wanita simpanan karena ada pria yang menawarkan posisi ini. “Pria jenis ini sudah pasti telah berkeluarga, kaya, gombal, dan suka petualangan seks. Petualangan seks dibungkus dengan aroma cinta dan nafsu terjalinlah suatu hubungan yang terlarang,” terangnya.

Tidak mudah memang menjalin hubungan terlarang ini. Menjadi wanita simpanan pun penuh dengan perjuangan dan strategi yang jitu. Tidak sedikit wanita simpanan yang cukup “pintar”, dengan berbagai upaya mencoba memenuhi obsesinya untuk tujuan kelancaran atau kemudahan karier, mendongkrak popularitas, dan memastikan jaminan masa depannya. Pria yang menjadi incaran adalah yang kaya, punya jabatan atau kedudukan atau kekuasaan. Awalnya saling memanipulasi, akhirnya saling menipu diri. (Burhanuddin Abe)

ME, 2007

No comments:

Post a Comment