Saturday, September 22, 2007

Use Your Body Language!

Peminat kelas body language makin membludak. Inilah olah tubuh baru yang memaduan gerak tari dan teknik pernapasan asal Cina. Semua orang bisa melakukannya, tapi kalau tanpa pengawasan yang ahli, bisa fatal akibatnya.

Body language. Kosa kata ini belakangan sangat akrab di kalangan para eksekutif yang sadar kesehatan. Inilah salah satu bentuk olah tubuh yang memadukan gerak tari dan teknik pernapasan asal Cina, yang selain bertujuan untuk meningkatkan kebugaran, juga untuk membentuk tubuh. Gerakan-gerakannya halus, sederhana, bahkan cenderung lamban tanpa unsur lompatan, itu sebabnya body language bisa dilakukan siapa saja, termasuk ibu-ibu hamil.

Menurut Roy Ahmad Julius Tobing, sang kreator, body language mempunyai pengertian yang luas, bahkan sulit untuk didefinisikan. Konon, koreografer lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang pernah mendapat sertfikat dari Claudine Kamoun dan David Allen “Geneve Dancer Centre” itu mendapat inspirasi dari salah satu dialog di film musikal Staying Alive yang dibintangi John Travolta. Dalam film itu seorang koregrafer menyapa salah seorang penarinya dengan mengatakan, ”Use your body language!”

Pada dasarnya, body language adalah latihan “berkomunikasi” dengan bahasa tubuh yang benar melalui pengenalan setiap titik di badan. Dalam olah tubuh yang ditemukan Roy pada 1981 itu dilakukan penyelarasan sikap tubuh dengan napas dan gerak tubuh. “Tiga dimensi itulah yang menjadi ciri khas body language,” jelas pria yang tetap bugar di usia 46 tahun itu.

Penemuan body language bukan karena kebetulan. Roy, memang menggali gerak dari tari untuk kebugaran yang berasal dari kebudayaan sendiri. Tidak hanya itu, ia juga mempertimbangkan struktur orang Asia yang berbeda dengan orang Eropa, jenis makanan, serta lingkungan keseharian.

Dari situlah ia menciptakan olah gerak, yang dipadukan dengan teknik pernapasan asal Cina – dalam tampilan yang berbeda, gerak dan teknik pernapasan ini, juga menjadi gerakan dasar baku seni tari modern yang dikembangkan, antara lain, oleh tokoh balet legendaris asal AS, mendiang Martha Graham. “Ilmu pernapasan sangat memperhatikan kekuatan tubuh si pelaku, sehingga tidak akan melampaui kekuatan serta kondisi setiap orang yang tentu berbeda satu sama lain,” ungkap Roy kepada Intisari.

Setelah matang, pria yang pernah mendapat predikat memuaskan dari Guner Ozkan, Direktur Kebudayaan dan Pariwisata Konya, Turki itu pun memperkenalkan body language kepada masayarakat pada 1986. Sejak saat itu, di studionya yang berlokasi di bilangan Pondok Indah, Jakarta, banyak didatangi para wanita yang ingin belajar body language, sedangkan kaum pria lebih suka mengambil privat.

Kini, body language memang bukan hanya monopoli Roy Tobing, sebab kini sejumlah sanggar senam dan health club di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia, juga membuka kelas serupa. Studio Pesona Tiga Primadona, misalnya, selain menyelenggarakan pelbagai jenis senam, mulai dari aerobik, balet, senam lantai, senam kamar, calestenic (pembentukan tubuh), juga menawarkan body language.

Studio milik Minati Atmanagara itu berlokasi cukup mewah, interiornya didominasi oleh perabot antik berkualitas tinggi. Selain studio, ada fasilitas sauna yang bisa dipakai para anggota. Dilengkapi pula “kafe garasi”, lantaran memang memanfaatkan ruang garasi rumah tersebut. Tampak jelas, kalangan mana yang dibidik studio senam yang berlokasi di Jl. Prof. Joko Sutono 33, Kebayoran Baru, Jakarta itu. Lihat saja, jika menjelang sore, puluhan mobil mewah tampak berjejer parkir.

Kendati banyak kelas, tapi body language yang paling populer. Untuk body language Primadona menawarkan beberapa paket. Untuk para pemula ada yang dinamakan Paket I (Basic), yang berisi pemahaman awal tentang body language dan dasar-dasar gerakannya. Kemudian ada Paket II (Lanjutan), dan Paket III (Mahir). Masing-masing paket terdiri 10 kali pertemuan, dengan frekwensi latihan lima kali pertemuan seminggu, kecuali Paket III cukup tiga kali seminggu. Tarifnya Rp 350.000 per paket.

Minati mengaku, peminat body language cukup besar. Sejak didirikan 1991, tak kurang dari 10.000 orang yang mencatatkan diri jadi anggota, dan datang dalam sehari sekitar 150-200 orang. Krismon pun agaknya tidak menurutkan animo masyakarat. “Saat ini ada 125 calon member yang berstatus waiting list,” ujar ibu dari Cakra (13) dan Cantika (8) itu.

Saat ini Primadona, yang dibuka mulai pagi hingga malam, Senin sampai Sabtu itu hanya menerima anggota wanita saja. Untuk para penjemput, yang kebanyakan berjenis kelamin pria, dilarang masuk ke studio. Tapi tidak perlu khawatir, ruang tamu studio yang didesain seperti layaknya rumah itu cukup lega. Sambil duduk di sofa empuk, mereka bisa santai sambil nonton TV yang tersedia di ruang itu.

Menurut Minati, ada perbedaan yang mencolok antara latihan senam aerobik dan body language. Jika aerobik lebih banyak didominasi dengan gerakan-gerakan meloncat dan menghentak, maka body language merupakan perpaduan antara latihan pernapasan dan pengencangan otot, terutama otot rahim dan otot alat-alat reproduksi wanita. Kendati tidak menyebut sebagai senam seks, secara tidak langsung, body language juga bisa mengharmoniskan hubungan suami isteri.

Dalam body language pernapasan yang dipakai sebagian besar adalah pernapasan mulut. Kata Minati, volume udara yang ditarik dan dikeluarkan ternyata lebih besar ketimbang melalui hidung. Setelah latihan pernapasan ini terkuasai, latihan berikutnya adalah melakukan kontraksi otot, yang merupakan gerak dasar senam. “Fokus utamanya adalah otot perut. Gerakan tersebut dilakukan bersamaan dengan kontraksi otot panggul,” jelas artis cantik kelahiran 2 Maret 1959 itu.

Yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah posisi pada saat melakukan gerakan senam. Tubuh harus dalam keadaan tegak, konsentrasi penuh, kemudian melakukan teknik pernapasan dan gerakan senam secara bersamaan. “Memang tidak mudah, dan karenanya untuk pemula harus di bawah pengawasan yang ahli,” tutur Minati yang mempekerjakan 8 instruktur body language itu.

Kendati berirama lamban dan tanpa hentakan, bukan berarti body language tidak mengeluarkan keringat. Bahkan, setelah gerakan yang benar dilakukan tidak lebih dari lima menit, keringat pun sudah bercucuran. Streching (peregangan) sebagai bagian penting dari body language yang maksimal ternyata bisa membakar kalori lebih banyak, yang berfungsi untuk melangsingkan tubuh. Dan untuk wanita, karena latihan ini tanpa melibatkan beban alat, maka diharapkan otot-otot yang dihasilkan pun lebih panjang dan mampu membentuk tubuh yang ideal, tidak ada tonjolan otot yang berkesan maskulin, misalnya.

Tidak semudah mengatakannya memang, karena untuk mendapatkan manfaat yang lebih besar dari latihan body language, perlu kerja keras. Minati sendiri perlu waktu setahun untuk mempelajari dasar-dasar gerakan body language. Ia mengaku mendapat ilmu tersebut bukan dari Roy Tobing, tapi dari instruktur senam yang bernama Priya – saat ini masih mengajar body language di beberapa tempat.

Pada awalnya ia merasa, body language berguna untuk memperbaki sikap tubuh, dan lebih jauh bisa membentuk tubuh yang ideal sesuai dengan struktur anatomi tubuh. “Makanya saya nggak bosan, saya tekuni tekuni terus hingga mahir dan bisa menjadi instruktur,” ungkapnya.

Jalan hidup yang sama juga dijalani Liza Nataliasari. Semula ia ikut latihan body language yang diasuh Minati, dan keranjingan. Setelah itu, setelah cukup menguasai ia pun menjadi instruktur di Klub Relasi yang berlokasi di Jl. Panjang 333, Kebun Jeruk, Jakarta.

Icha, demikian panggilan akrabnya, memang bisa cepat menyerap gerakan-gerakan body language lantaran sejak sejak belia ia doyan tari. Sempat belajar seni tari di IKJ selama beberapa semester, kemudian belajar balet di Sumber Cipta pimpinan Farida Feisol, serta pernah menjadi penari profesional di Acan Studio dan MCM Production. “Jadi, berbekal pengalaman, serta ditambah belajar secara otodidak itulah, saya memberanikan diri untuk menjadi instruktur,” katanya wanita bertinggi-berat 167/50 itu.

Menurut Icha, body language tidak lain adalah gerakan senam kombinasi. Di situ ada gerakan aerobik low impact, gerakan tari, senam seks dan pernapasan. Ia kurang setuju kalau dikatakan bahwa body language itu ciptaan orang Indonesia, karena ia berasal dari AS. “Itu kan gerakan pemanasan yang dilakukan oleh para penari dan koreografer sebelum naik pentas. Karena gerakan itu bermanfaat bagi kebugaran, maka disebarluaskan secara global,” papar bintang iklan untuk sekitar 20-an produk itu.

Tapi terlepas dari perdebatan tersebut, peminat body language memang terus bertambah. Di sanggar tempat Icha bekerja saja, semula peserta kelas body language bisa dihitung dengan jari, “tapi setelah delapan bulan, member kami sudah sekitar 50-an.” Ini tidak lain karena cerita tentang olah tubuh yang baru masuk ke Indonesia itu cepat menyebar, dan banyak yang bisa memetik manfaatnya secara langsung.

Muthia Datau, misalnya, sejak menekuni body language sejak 1992, merasa selalu sehat. Dengan berlatih body language mantan kiper Galanita itu bisa mempertahakan stamina, sekaligus membentuk keindahan tubuh. “Ketika masuk tubuh saya ancur-ancuran, gemuk banget. Tapi sekarang lihat saja sendiri,” tutur ibu tiga anak itu sambil menunjukkan perutnya yang ramping.
Hal senada juga diungkapkan oleh Inez, 27 tahun, yang menekuni body language di studio milik Minati Atmanagara. “Selain fit dan bugar, saya merasakan bobot saya menjadi stabil. Padahal sebelumnya, paha saya sempat bersayap, lho,” ujar karyawati perusahaan swasta yang berkantor di bilangan Kota, Jakarta itu.

Tidak semua peserta memang yang langsung bisa memetik hasilnya. Minati mengakui bahwa ada beberapa peserta yang kendati sudah melakukan latihan yang benar, tapi tetap saja tidak bisa mencapai hasil yang ideal. “Makanya, kami menyarankan kepada mereka untuk berkonsultasi dengan dokter ahli gizi, mungkin bisa terdeteksi problemanya,” katanya sambil menambahkan bahwa dalam waktu dekat studionya akan melayani peserta untuk konsultasi gizi secara gratis dengan mendatangkan ahlinya.

Peringatan yang lebih serius juga datang dari Dr. Sadoso Sumosardjuno. “Saya pernah melihat body language. Pendapat saya, banyak gerakan yang dari segi kedokteran olah raga cukup membahayakan untuk terjadinya cedera,” ungkapnya. Itu bisa dilihat dari bermacam gerakan, seperti memutar kepala, memegang kaki dengan gerakan memutar, dan seterusnya.

Kalau dilakukan juga, Manager Pusat Uji Kesehatan Manggala Wanabhakti, Jakarta itu menganjurkan hanya untuk yang muda saja, yang usianya tidak lebih dari 35 tahun. “Mereka masih mempunyai otot yang cukup elastis dan terlatih. Saya tidak merekomendasikan untuk yang sudah berumur,” katanya. (Burhanuddin Abe & Ari Prastowati)

Majalah Tajuk No. 26, 1999