Saturday, October 13, 2007

Ballads of Bad Dads


Sudah menikah, tapi jarang di rumah. Sudah menjadi ayah, tapi malah sering ke pesta. Mereka adalah pria berkeluarga yang memandang hidup seperti seorang bujangan. Di negeri Paman Bush, orang-orang seperti ini mendapat julukan “Free Dad” karena gaya hidupnya yang urakan. Bagaimana dengan ayah-ayah pro kebebasan yang tinggal di Jakarta? Apakah gaya hidup mereka “bisa dibenarkan”?

Para ayah bangun di pagi hari ketika anaknya sudah berangkat sekolah. Mereka pulang kantor malam hari ketika anaknya sudah pulas tertidur. Waktu bertemu anak hanya mereka habiskan di Sabtu dan Minggu. Itupun kalau mereka tidak harus menyelesaikan pekerjaan ekstra dari kantor. Fenomena seperti itu dilaporkan sebuah majalah berpengaruh di Jepang. Menurut survei yang mereka lakukan terhadap para ayah usia 25-45 tahun, terbukti 77% ayah di Jepang tidak punya banyak waktu buat anak-anaknya. Bagaimana dengan di Indonesia?

Meski belum pernah ada survei khusus mengenai fenomena rutinitas para ayah di kota-kota besar seperti Jakarta, nampaknya fenomena di Jepang tadi juga sudah mulai menulari gaya hidup para ayah di Ibukota. Sebagai sesama kota kosmopolitan, Jakarta juga menyita jutaan orang untuk lebih banyak berada di luar rumah. Seperti Tokyo, Jakarta juga terhitung sebagai kota yang "hidup 24 jam”. Warganya menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah. Persamaan ini yang membuat sebagian kalangan orang kota bergaya hidup layaknya orang-orang metropolis di belahan dunia lainnya.

Meski perdebatan soal gender sudah semakin aktual, tetap saja peranan ayah di rumah tidak sebesar peranan yang dibebankan pada para ibu. Meskipun suami-istri bekerja, realitas sosial masih menempatkan istri pada posisi yang memiliki tanggung jawab lebih untuk mengurus rumah. Sebagian besar pria yang tinggal di kota besar bisa saja memaksakan diri pulang setelah jam kantor usai. Namun, sebagian lagi justru memilih untuk tidak langsung pulang.

"Saya paling malas kalau pulang di bawah jam 10 malam,” ujar Raffly Hermansyah, seorang wine supplier ketika ditemui di sebuah bar kawasan Melawai Jakarta. Ia mengaku suntuk dengan pekerjaan sehari-hari. Raffly tidak bisa langsung pulang sebelum "menenangkan" diri di tempat-tempat favoritnya. "Saya sering ke sini, bersama beberapa teman sekantor. Ngobrol-ngobrol sambil cari peluang," lanjutnya.

Senin dan Selasa merupakan hari wajib baginya bertandang ke wilayah Little Tokyo itu. Kadang ia mampir ke salah satu dari sekian banyak karaoke bar di wilayah yang terkenal dengan escort-escort cantiknya. Sementara Rabu ia biasa memilih kawasan lounge di sekitar Jakarta Selatan, biasanya dibarengi urusan bisnis. "Sebenarnya, susah juga membedakan night life saya dengan urusan bisnis. Karena sering juga saya mengajak prospek partner ke tempat seperti ini,” ujar pria 38 tahun yang biasa berurusan dengan klien-klien dari Asia Timur ini.

Di akhir pekan, Raffly mengaku lebih suka ke wilayah Kota. Meski mengaku bukan seorang frequent visitor, ia tergolong sering mampir ke Stadium. "Dari dulu gaya hidup saya memang seperti ini. Setelah berkeluarga, ternyata saya tidak bisa benar-benar melepaskannya,” ujarnya. Sebagaimana anak-anak muda lainya yang biasa mangkal di tempat seperti itu, kalau Jumat atau Sabtu Raffly juga suka pulang jam 5 subuh.

Lantas, kapan untuk keluarga? Hari Minggu. "Itu satu-satunya hari di mana saya bersama keluarga. Seharian penuh," akunya bangga. Di hari itu, ia biasa bangun sekitar jam 10 pagi, lalu bermain bersama anak semata wayangnya. Seringkali ia mengajak keluarganya pergi ke luar rumah. Entah ke mal atau tempat-tempat hiburan lainnya. Bagi Raffly, meski jarang pulang, yang penting tetap ada waktu sekali dalam seminggu bersama keluarga.

Apakah kehidupan pria-pria seperti Raffly dapat dibenarkan? Apakah perilaku mereka yang mengutamakan lifestyle di luar rumah tidak akan berdampak buruk pada anak-anak mereka kelak? Apakah di zaman millenium ketiga ini- Raffly dan orang-orang seperti Raffly boleh dijadikan role model seorang ayah yang baik? Dan, apa pula sebenarnya kriteria ayah yang baik?

Dalam “Involved Development: Provisional Balances”, Prof. Rob Palkovitz membuat kriteria tentang kualitas seorang ayah yang baik. Menurutnya, seorang ayah yang baik adalah mereka yang peka terhadap kesadaran moral bagi anak-anaknya. Artinya, bagi profesor yang mengadakan penelitian terhadap sejumlah anak yang jarang bertemu ayahnya ini, peran ayah tidak boleh hilang dalam perkembangan mental si anak. Konselor dan penulis buku tentang keterlibatan ayah ini mengingatkan, "Hentikan berpikir tentang masa lalu, dan pusatkan perhatian Anda pada ke mana langkah Anda selanjutnya". (20 Agustus 2007)

Sumber: Male Emporium/CBN
http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cyberman/detail.aspx?x=Men's+Guide&y=cyberman%7C0%7C0%7C6%7C1713