Saturday, October 13, 2007

Bermainlah Golf Hingga ke Negeri Kangguru


Banyak pilihan berlibur, salah satunya adalah bermain golf. Tidak asal bermain golf tentu saja, tapi sekalian berwisata, yang sering juga disebut golf tour. Banyak agen travel yang membuat paket ini sebagai pilihan berwisata, tapi tidak sedikit yang para eksekutif yang berinisitaif sendiri untuk melakukannya, baik berombongan dengan teman-temannya atau pun pergi sendirian – yang tentu saja di tempat tujuan sudah ada temen-temennya yang menunggu. “Bukan golfnya saja yang asyik, ketika off the court pun tidak kalah menariknya,” ujar seorang bankir yang berkantor di bilangan segitiga emas Jakarta.

Bisa dimaklumi, apalagi lapangan golf yang dikunjungi pun yang kelas satu, bisa berlokasi di Singapura, Melbourne, Perth, atau pun lapangan golf di kota-kota dunia lainnya. Sebetulnya pilihan di dalam negeri pun tidak menariknya bagi orang Jakarta, misalnya lapangan-lapangan golf di Bali, Batam, Pulau Bintan, dan lain-lain.

Wisata golf memang tidak sekadar urusan olah raga, tapi lebih sophisticated. Ada urusan sportivitas, ada urusan bisnis – kendati dalam masa liburan, ada juga urusan untuk bersenang-senang. Sisi yang menarik dan menjadi tantangan bagi setiap golfer adalah ketika menemui lapangan baru, sebab mau tidak mau pegolf harus bisa menaklukkan lapangan baru tersebut kalau ingin mendapatkan nilai tinggi. Itulah yang diceritakan Nunus Oetomo, pemimpin kelompok band Flash Black yang mempunyai hobi menjelajah lapangan baru.

Pemenang berbagai kejuaraan dan turnamen golf di tanah air itu tidak hanya menjajal lapangan golf domestik, tapi sering mencari tantangan baru ke luar negeri. Bisa berenam atau berdelapan dengan teman-temannya. Australia adalah salah satu destinasi yang disukai. Selain pemandangannya indah, jenis lapangannya juga unik. “Pernah saya berjalan di lapangan seluas sembilan kilometer persegi. Panas terik tak terhiraukan, apalagi saya bisa mendapat score tinggi,” ungkapnya.

Pengalaman exciting juga diungkapkan Bambang Irawan, pria berkacamata yang sering menyelenggarakan turnamen golf. Bermain di Joondalup Country Club, Australia Barat, adalah peristiwa yang tak terlupakan. Betapa tidak, ketika mengayunkan stik dalam kesejukan udara, tiba-tiba di pinggir fairway berdiri sekelompok kanguru seakan menyaksikanpermainan para pegolf yang sedang unjuk kelihaian lapangan golf 27 holes ini.

Golf course rancangan Robert Trent Jones Junior ini terbagi dalam tiga bagian keunikan karakter masing-masing; Quarry, Lake, dan Dune, masing-masing terdiri 9 lubang. Pada hole ke 3 par 3 di bagian Quarry, misalnya, memiliki keunikan yang cukup menantang. Untuk bisa secara tepat menjatuhkan bola dari tee box yang berjarak 137 meter ke green harus mampu melewati semacam lembah. Jika pukulan meleset niscaya bola akan jatuh ke jurang sedalam 40 meter tersebut.

Yang jelas, keelokan dan keasrian alamnya sekaligus memiliki hole yang sangat menantang, menjadikan lapangan golf ini banyak diminati pegolf asal Indonesia. Lagi-lagi, lapangan golf yang sering disebut sebagai The Whole In One – karena fasilitasnya yang lengkap dan berkelas – bukan sekadar tempat olah raga, tapi juga tujuan wisata, sekaligus tempat tetirah yang memberikan suasana damai dan asri.

Selain Australia, Singapura, karena lokasinya yang dekat dengan Indonesia, juga menjadi sasaran para eksekutif kita. Tidak hanya wisata belanja, negeri yang cuma seluas 682,7 kilometer persegi ini, juga mempunyai 15 lapangan golf. Salah salah satu golf course destination yang berkelas adalah Laguna National Golf & Country Club. Di sinilah berbagai turnamen golf dunia sering digelar, di antaranya Caltex Singapore Masters and Charity Pro-Am beberapa waktu yang lalu. “Bagi pegolf yang berasal dari negara berhawa dingin, bermain golf di Singapura memerlukan stamina ekstra, dan tahan diterpa terik matahari serta suhu kawasan tropis yang berkisar antara 24-32 derajat Celsius. Tapi bagi orang Indonesia tentu tidak masalah,” cerita Bambang.

Tidak hanya pemandangan yang indah dan keistimewaan desain, lapangan golf tertentu ternyata ada yang menawarkan ‘keunikan’ lain. Di Taiwan, misalnya, ada lapangan golf course yang caddy-nya semuanya wanita. Yang seorang bertugas membawakan payung, seorang lagi membawakan perlengkapan golf, dan yang ketiga memijat penggung golfer. Para caddy tersebut konon lebih komersial dibandingkan di Indonesia. Bahkan tidak sedikit yang bersedia untuk diajak kencan atau sekadar menemani bobo siang. Wallahualam!

Berwisata golf tidak hanya membuat badan sehat, tapi juga menyenangkan dan membuat badan kembali rileks. Di lapangan golf kita bisa berolah raga, di luar lapangan tentu urusan masing-masing orang. (Burhanuddin Abe)

Platinum Society Edisi 07

No comments:

Post a Comment