Tuesday, October 16, 2007

A Boutique Bookshop with Style


Bagi para pecinta buku, terutama buku impor, Periplus bukanlah tempat yang asing. Bukan hanya koleksinya yang mencapai 30.000 judul, toko buku ini didesain sebagai tempat cozy, bahkan untuk beberapa gerai – sebutlah di bilangan Kemang Jakarta dan Bali Galeria Mall – dilengkapi dengan coffee shop.

Periplus yang merupakan bagian dari The Periplus Publishing Goup, yang mempunyai alamat di Singapura, Tokyo, dan Nort Clarendon (AS), menjadi pilihan yang berburu buku yang menyenangkan. Meski tidak dirancang sebagai superstore yang luas, kehadiran Periplus yang sekitar 100 – 150 meter persegi yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia terlihat cukup menonjol. Desain Periplus, yang digagas Jaya Ibrahim, memakai konsep semi minimalis. Pemakaian bahan kayu yang sangat dominan membuat tempat ini terasa hangat dan homy. Desainnya yang menonjolkan unsur keindonesiaan, yang diperlihatkan dengan sentuhan arsitektur lokal – sesuai dengan lokasi toko buku, itu terlihat sangat catchy.

Toko buku internasional di Indonesia boleh dibilang tumbuh subur, tapi dengan kekhasan tertentu, Periplus yang berdiri sejak enam lalu itu selalu mendapat tempat di hati para pecinta buku. “Kalau dulu pengunjungnya kebanyakan para ekspatriat, kini justru sebaliknya. Orang lokal bahkan mencapai 70 persen,” ujar Judo Suwidji, General Manager Periplus.

Ia menyebutkan, dengan banyaknya para lulusan luar negeri, serta sekolah-sekoah internasional di Indonesia, membuat kegemaran akan membaca buku asing (berbahasa Inggris) di Indonesia meningkat.

Judo Suwidji, yang juga Managing Director Java Books Indonesia, mengaku semula pihaknya adalah impotir buku-buku asing. Tapi seiring dengan berkembangnya waktu, serta minta orang akan bacaan asing makin tinggi, pihaknya pun tertarik untuk mempunyai gerai sendiri. Kini tak kurang dari 36 gerai yang dimilikinya, tersebar di enam kota (Jakarta, Bandung, Semaran, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali).

Buku tak sekadar jendela dunia, tentu saja. Untuk mengelola usaha buku tidak cukup hanya berbekal idealisme, tapi dibutuhkan pengetahuan tentang bisnis yang memadai. Salah satunya adalah, Judo tidak percaya bahwa untuk kalangan atas – sesuai dengan positioning buku-buku impor – tidak sensitif terhadap harga. Justru di masa sulit ini, harga kerap menjadi pertimbangan utama seserang dalam memutuskan pembelian buku.

Untunglah, dengan menguasai hulu, Periplus bisa menjual buku dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan toko-toko sejenis. Itulah salah satu rahasia mengapa Periplus bisa bertahan di antara serbuan pesaing-pesaing baru.

Tidak hanya itu, dari segi judul, Periplus mempunyai akses yang baik ke penerbit-penerbit dunia, terutama di Singapura, Tokyo, New York, dan Sydney. Jaringan yang luas ini sangat penting dalam pengelolaan bisnis toko buku, terutama untuk mendapatkan buku-buku berkualitas. Setiap bulan, ada ratusan buku yang diterbitkan oleh para penerbit internasional. “Kami perlu mempunyai hubungan yang baik dengan para penerbit agar mendapatkan informasi buku-buku yang bagus, termasuk buku-buku best seller dunia. The Top 50 New York Time Best Seller Books List, misalnya, selalu tersedia di Periplus,” jelas Judo.

Memang, tidak semua buku laris dunia otomatis laku keras di pasar Indonesia. Itu sebabnya, Periplus pun dituntut untuk mengetahui psikologi pembeli Indonesia, buku-buku apa saja yang mereka sukai. “Itu sebabnya, tidak semua buku yang terbit di dunia akan didatangkan Periplus ke Indonesia,” jelas Judo.

Itulah seni menjual buku-buku impor. Tidak hanya judul, karena sebuah buku untuk sampai ke tangan konsumen, selalu berkaitan dengan distribusi, serta volume yang dianggap optimal jika dikaitkan dengan harga.

Judo mengakui, sejak BBM naik dua tahun lalu, daya beli masyarakat makin turun, dan kebutuhan akan membeli buku pun semakin rendah pula. Hanya saja, ia tetap optimistis bahwa pecinta buku-buku asing tetap tumbuh secara positif. Sehingga, ketika kondisi makronya mulai membaik, bisnis buku pun pasti menggeliat pula. Dan rencana rencana ekspansi Periplus dalam beberapa waktu ke depan tidak ingin diurungkan. “Periplus is an Indonesian contemporary designed shop filled with excellent range of books and magazines. With a cozy atmosphere and helpful staff. In short, it’s a bookshop with style,” katanya. (Abe)

28 November 2006

No comments:

Post a Comment