Saturday, October 13, 2007

The Enjoyment of Good Drink


Ketika menerima undangan untuk menghadiri acara Wyndham Estate Dinner, beberapa waktu yang lalu, yang terbayang adalah appetite journey ala Australia. Maklum, warga Australia bukan saja terkenal pemuja dan penikmat wine, yang pada setiap jamuan makannya selalu tersedia wine, tapi Negeri Kangguru itu termasuk salah satu negara baru penghasil wine terpenting di dunia.

Wyndham Estate adalah salah satu wine Australia yang tertua, bahkan boleh disebut sebagai “the first commercial Shiraz planting’s in Australia” karena mereka telah mulai memproduksi Shiraz wine sejak tahun 1828 saat George Wyndham – seorang ahli pertanian asal Inggris yang berimigrasi ke Australia – menanam Shiraz yang dibawanya dari Eropa di sebidang tanah yang diberi nama Dalwood di daerah Hunter Valley, New South Wales, Australia. Inilah salah satu wine yang saat ini penjulannya sangat tinggi dan sering mendapatkan berbagai penghargaan di berbagai kompetisi wine regional maupun internasional.

Penikmat minuman anggur atau wine di Indonesia memang masih terbatas, bahkan hanya kalangan tertentu saja. Tentu sebuah kehormatan kalau bisa bergabung dalam acara wine tasting dengan orang-orang yang memang pakarnya. Bertempat di Cassis Restaurant di Jakarta, pada akhir Maret lalu berkumpul sekitar 60 orang pemerhati minuman hasil olahan buah anggur ini. Acaranya makan malam yang dirangkai dengan menikmati wine tentu saja. Hadir malam itu Edhi Sumadi, Country Manager Pernod Ricard Indonesia, Yohan Handoyo, Wine Consultan, serta orang-orang yang bergerak dalam bidang resto, kafe, dan hiburan di Jakarta.

Jenis dan ragam wine sudah cukup banyak beredar di Indonesia khususnya Jakarta, bisa dimaklumi kalau komunitas-komunitas pencinta wine pun tumbuh seiring bertambahnya apresiasi masyarakat terhadap jenis minuman ini. Acara icip-icip anggur yang diadakan Wyndham Estate adalah program berkala yang didesain untuk memperkenalkan karakter wine tersebut. Kemampuannya untuk dipadukan dengan berbagai jenis masakan yang berbeda konon menjadi highlight dan kekuatan acara ini.

Wine, kata orang, adalah minuman misterius. Setiap kali kita meminumnya menerbitkan pengalaman tersendiri, yang kadang-kadang hasilnya sering tak terduga. Mereka yang ingin mempunyai pengetahuan lebih soal minuman ini harus sering mencoba, serta berdiskusi dengan ahlinya soal rasa, juga bagaimana memadukannya dengan berbagai macam hidangan, misalnya.

Memang, memilih wine bukanlah perkara mudah, apalagi informasi yang ada biasanya terbatas pada back label yang menempel di botol wine saja. Anggur asal Prancis, konon mempunyai tradisi yang kuat serta karakteristik yang unik. Tapi New World Wines -- yakni anggur “pendatang baru” yang berasal dari ladang-ladang yang tersebar di Amerika, Afrika Selatan, dan Australia –-, yang lebih pekat (full-bodied), tapi rasanya lebih lembut, dan lebih terasa rasa buahnya, ternyata lebih memikat para pecinta wine untuk mencobanya. Itu sebabnya wine dari Australia lebih masuk ke selera orang Indonesia, karena adalah fruit-driven character-nya, seperti Wyndham Estate, misalnya, masih memiliki karakter buah anggur yang kaya dan menawan.

Fruit-driven wine biasanya memiliki cita rasa buah anggur yang khas, fruity, dan gampang diminum dan umumnya juga memiliki tannin (komponen yang membuat wine terasa sepat) dan acidity (yang membuat wine terasa asam) yang tidak terlalu menonjol sehingga tidak akan membuat alis berkerut saat menikmatinya. “konsumen Indonesia yang memiliki preferensi cita rasa yang unik, wine yang memiliki fruit-driven character biasanya lebih mudah diterima dan disukai oleh lidah Indonesia,” tukas Yohan Handoyo, Wine Consultant.

Sejatinya, anggur Australia akan terasa pas jika dipadukan dengan hidangan ala Australia juga, yang didominasi gaya Pacific Rim dan Modern European. Tapi karena karakternya fruity, tidak terlalu asam dan tidak terlalu sepat itulah yang membuat anggur Australia bisa cocok dengan berbagai cuisine style, sehingga tak heran saat ini Wyndham Estate mengklaim sudah bisa menembus ke 47 negara dengan penjualan melebihi satu juta lebih karton per tahun.

Dalam acara wine & dine itu ada beberapa hidangan yang akan disajikan dan wine – terdiri dari Bin 222 Chardonay, Bin 555 Shiraz, dan Bin 888 Cabernet Merlot -- yang akan menyertai pada masing-masing hidangan tersebut.

Sebagai hidangan pembuka, disajikan hidangan Tartar of Atlantic salmon and trout caviar advocado mascarpone, cine tomato vinaigrette. Paduannya adalah Bin 222 Chardonnay. Rasa fresh, soft & fruity wine ini bisa mengimbangi Atlantic salmon tartar yang juga sangat segar. Sementara Avocado mascarpone sauce-nya juga akan memberi nuansa creamy yang menawan bagi Chardonnay tersebut. Bin 222 Chardonnay adalah anggur putih yang unik dan menawarkan aroma melon, buah persik, dengan aksen oak dan ragi yang terasa jelas di setiap tegukan.

Jika selama ini kita mendengar bahwa anggur merah hanya cocok dipadukan dengan daging merah, maka kali ini kita akan melihat bahwa red wine dari Bin 555 Shiraz dan Bin 888 Cabernet Merlot juga sangat cocok dipadukan dengan sup jamur yang merupakan sayuran! Yang dimaksud adalah hidangan mushroom cappuccino sautéed mushrooms, topped with foam.

Bin 555 Shiraz memiliki gaya yang sangat tradisional Australia; kaya dengan karakter buah plum, black berry, dan spicy. Tannin-nya yang terasa kompleks dan lembut di lidah hasil dari proses maturation selama 15 bulan di dalam tong kayu yang besar. Sementara Bin 888 Cabernet Merlot kaya dengan rasa dan aroma buah blackcurrant, blackberry, dan rasa spicy yang ditopang dengan body yang cenderung full bodied.

Namun, demikian Yohan Handoyo, tentu dua jenis anggur merah ini, Bin 555 Shiraz dan Bin 888 Cabernet Merlot, juga akan sangat cocok dipadukan dengan hidangan utama yaitu beef tenderloin yang dimasak dengan saus anggur merah dari jenis Cabernet Sauvignon. “It’s a pair made in heaven!”

Tiga jenis wine tersebut ternyata cocok juga jika dipadukan dipadukan dengan berbagai jenis keju yang akan disajikan dari mulai soft cheese, semi hard cheese, hard cheese, hingga blue cheese yang sangat powerful.

Setelah rangkaian berbagai menu makan malam selesai, peserta juga mencoba mencicipi Cognac Martel Cordon Bleu yang merupakan salah satu cognac yang sangat complex namun juga smooth dan mellow. Tidak lupa, selain minum cognac yang dikenal sejak 1912 itu, cerutu Cuba pun juga menjadi teman yang menyenangkan malam itu, setelah semua hidangan disantap. Hmm!

Perjalanan masih panjang untuk dapat mengenal lebih mendalam soal wine, tapi setidaknya para undangan yang hadir malam itu sudah memambah satu lagi perbendaharaan pengetahuannya soal wine Australia, khususnya Wyndham Estate. (Barus/Abe)

Jakarta, 2006

No comments:

Post a Comment