Wednesday, October 10, 2007

Fidel Castro versus Demi Moore


Produk gaya hidup itu bernama cerutu. Bukan sekadar gulungan tembakau, tapi ada citra dan gengsi pengisapnya. Cerutu kini tidak hanya monopoli pria, tapi wanita pun ikut menikmatinya. Dengan emas coklat itu, kata orang, wanita terlihat lebih seksi. Hmm!

Burhanuddin Abe

“Women & Cigar”. Tema itulah yang diusung pada acara pesta yang berlangsung di Zen Bar & Lounge, Jakarta Jumat, 30 Juli lalu. Venue yang terletak di Menara Thamrin, Gedung Parkir lantai 8 itu tak ayal kebanjiran pengunjung, acara unik tersebut berhasil mengundang rasa penasaran para partygoers Ibu Kota.

Jam menunjukkan pukul 23.00. Keriaan pun makin seru. Para penari seksi bergoyang di bar berbentuk U yang dijadikan panggung. Iringan musiknya yang biasanya techno, kali ini digabungkan dengan petikan gitar live yang kental dengan nuansa Latin, sesuai dengan asal cerutu. Di panggung itu pula, pada sesi berikutnya, para peragawati berlenggak-lenggok bak di catwalk, mengenakan berbagai busana, mulai dari busana malam yang anggun hingga bikini yang seksi. Tidak lupa, di salah satu adegan, di mulut mereka terselip cerutu. Wow!

Lalu, apa hubungan antara wanita dan cerutu? “Penggemar cerutu di Jakarta tidak banyak, dan hampir semuanya pria. Kami ingin mensosialisasikan bahwa perempuan pun layak mengonsumsi cerutu,” tutur Yadie Dayana, Operations Manager PT Gemilang Cahaya Utama (GCU), distributor sejumlah merek cerutu asal Dominika, sponsor utama acara malam itu.

PT GCU sahamnya dimiliki oleh Java Match Factory, perusahaan patungan antara pengusaha domestik yang berkedudukan di Surabaya (60%) dan perusahaan global Swedish Match (40%) – manufaktur dan distributor cerutu premium di dunia. Pada 2001 mereka membuka cigar outlet pertamanya di Asia, yang diberi nama Club Macanudo, tepatnya di Hotel Shangri-La, Jakarta. Kini, gerai yang menyediakan 200-an merek cerutu itu tidak hanya terdapat di hotel tersebut, tapi sudah tersebar di 27 tempat lainnya di Jakarta, satu di antaranya di The Peak, Bandung.

Club Macanudo memang bukan klub untuk cigar society yang pertama, karena beberapa tahun sebelumnya, yakni tahun 1997 sudah ada klub serupa, namanya Lacasa del Habano, yang berpusat Hotel Mandarin Jakarta, yang primadonanya adalah cerutu-cerutu eks Kuba. Sebutlah Cohiba, Montecristo, Partagas, Hoyo de Monterrey, Romeo Y Julieta, H Upmann, Puch, Sancho Panza, Trinidad, Vegas Robaina, dan Bolivar.

Cerutu memang lahir di Kuba dan “ditemukan” Columbus pada tahun 1492, tapi kini produsennya ada di beberapa negara, serta penggemarnya sudah merebak ke seluruh dunia. Di Indonesia, menurut Yadie, saat ini penjualan premium cigars – kebanyakan eks negara-negara Karibia (Dominika, Kuba, Jamaika, Brasilia, Nikaragua, Honduras, dan lain-lain) – baru 7.000 batang (terbesar dari Club Macanudo, 2.500 batang) per bulan. Nilainya sekitar Rp 500 juta.

Tidak besar memang. Jangankan dengan AS yang penjualan cerutunya terbesar di dunia, dibandingkan dengan negara sesama Asia saja, sebutlah Hong Kong, Indonesia belum ada apa-apanya. Di negara kepulauan itu satu gerai mampu membukukan penjualan sekitar 3.500 dolar AS (setara dengan Rp 30 juta) setiap bulannya. Padahal setiap hotel berbintang lima di sana pasti mempunyai cigar outlet.

Memang, menjual cerutu tidak seperti menawarkan barang komoditi biasa, tapi menjual gaya hidup.Cerutu bukan sekadar gulungan tembakau tapi ada citra dan gengsi di sana. Menikmati cerutu barangkali mirip dengan mengapresiasi wine, cognac, liquor, champagne, dan sejenisnya. Lebih jauh, seperti yang dikatakan pemikir budaya pop David Chaney, produk gaya hidup seperti Porsche, jins, juga cerutu, adalah semacam artefak budaya material yang mempresentasikan identitas sosial pemakainya.

Secara faktual cerutu memang disukai tokoh-tokoh dunia yang kharismatis, sebutlah PM Inggris pada Perang Dunia II, Winston Churchill, pemimpin revolusi Amerika Latin Che Guevara, tokoh legendaris AS John F. Kennedy, gembong mafioso Don Corleone, bintang Hollywood Bill Cosby, Tom Selleck, hingga penyanyi seriosa Luciano Pavaroti.

Sementara di Indonesia tidak kurang dari mantan Presiden Soeharto, pengusaha William Soeryadjaya, Sabam Siagian, dan seterusnya. Tokoh-tokoh yang lebih muda ada musisi, arranger dan conductor Addie MS, MC kondang Tantowi Yahya, artis sinetron Adjie Pangestu dan Ade Habibie.

Bagaimana dengan perempuannya? Memang, kalau di AS konsumen cerutu tidak terbedakan antara pria dan wanita, mungkin sama banyaknya, sama seperti dengan konsumen rokok. Bahkan beberapa selebriti Hollywood seperti Demi Moore dan super model Claudia Schiffer, mengaku sebagai pengisap berat emas coklat tersebut. Tapi kalau di Indonesia, menurut perkiraan Yadie, dari society-nya yang tergolong eksklusif, wanitanya tidak lebih dari 10 persen. “Mungkin informasinya yang masih minim, sehingga pengetahuan tentang cerutu sangat kurang,” tukasnya.

Hal yang sama juga dibenarkan oleh Elisa Weston, salah seorang perempuan penggemar cerutu. “Masih ada pandangan negatif terhadap perempuan pencerutu. Padahal dibanding dengan merokok, cerutu jelas lebih sehat,” ujar ibu dua anak itu. Ia menjelaskan, jika rokok asapnya biasanya masuk ke paru-paru, tapi kalau asap cerutu cukup dikulum di mulut saja.

Elisa yang juga merokok mengaku menggemari cerutu gara-gara ketularan sang suami yang pengisap berat cerutu. Dari coba-coba akhirnya ketagihan, khususnya cerutu yang berasal dari Dominika, seperti merek Macanudo, Don Sebastian, Aurora, Leon Jimenes, El Credito, dan Davidoff. “Seminggu saya bisa menghabiskan 5-6 batang,” ungkapnya. Tidak seperti merokok yang bisa dilakukan sewaktu-waktu, menikmati cerutu katanya perlu waktu khusus, karena untuk menghabiskan satu batang membutuhkan waktu 30 menit hingga satu jam.

Kalau Elisa bisa ketagihan, Fenny Sujana mengaku hanya sekali-kali menikmati cerutu. Perempuan lajang 29 tahun yang bekerja di perusahaan asuransi itu hanya mengisap cerutu jika ada kesempatan khusus bersama kelompoknya, baik pria maupun wanita. “Lebih untuk pergaulan sosial saja. Sebetulnya saya lebih suka minum wine,” ujarnya ketika ditemui SWA di acara “Women & Cigar”.

Konon, pria yang mengisap cerutu terlihat gagah dan berwibawa. Sementara wanita akan tampak seksi. Benar tidaknya memang tergantung dari sudut mana kita memandang. Yang terang, cerutu memang sering dicitrakan sebagai produk eksklusif. Maklum, hanya kalangan tertentu saja yang bisa menikmati produk ini karena harganya yang relatif mahal, mulai Rp 15.000 hingga Rp 370.000 per batang. Tapi untuk kelas kolektor (limited edition) ada juga yang harganya 1.000 dolar As per batang.

Mahal, karena bahan bakunya memang terbatas. Tembakaunya sudah pasti berasal dari bahan berkualitas. Asal tahu saja, selain Amerika Latin (Kuba dan Brasilia), Indonesia (Deli dan Besuki) terkenal sebagai pemasok tembakau kelas satu untuk produk cerutu dunia. Sementara cara memproduksinya pun tidak massal (manual atau masinal), untuk premium cigars dikerjakan secara hand made. Tidak sekadar melinting tentu, karena untuk menghasilkan cerutu berkualitas bagus dibutuhkan keahlian khusus, serta ketelatenan yang luar biasa.

Belum lagi kalau ada permintaan khusus, harganya pun tentu melambung. Orang nomer satu Kuba, Fidel Castro, misalnya, konon hanya mau mengisap cerutu yang pembuatannya dilinting di atas paha wanita. Plis, deh!


Majalah SWA, 02 September 2004

No comments:

Post a Comment