Saturday, October 13, 2007

Hidup dalam Zona Hiburan

Seorang mantan pejabat yang kini bekerja sebagai konsultan manajemen yang tergolong senior sempat merasa khawatir ketika anaknya memilih bekerja di salah satu stasiun televisi. Jabatannya sebagai produser progam hiburan. “Bukan apa-apa, saya hanya mengingatkan bahwa profesi tersebut bukan mainstream, yang sangat rentan terhadap perubahan. Jadi harus tahu konsekwensinya,” ujar pria 63 tahun lulusan Fakultas Ekonomi UI Jakarta dan Harvard Business School itu.

Memang, produser adalah profesi baru, paling tidak kurang dikenal di masa lalu. Orang sulit membayangkan apa yang dikerjakan oleh produser, sehingga anak kecil yang ditanyai tentang cita-cita tidak akan menyebut profesi tersebut. Profesi yang populer saat itu, dan mungkin sampai saat ini, adalah dokter, insinyur, arsitek, jaksa, pengacara, bankir, dan seterusnya.

Tapi itu dulu. Sekarang tersedia berbagai profesi yang dulu jangankan diangankan, dikenal saja tidak. Produser mungkin masih populer, mungkin cukup bergengsi, karena berhubungan dengan dunia film yang glamor – padahal produser sekarang lebih luas pengertiannya. Tapi cobalah simak beberapa profesi berikut ini; artis sinetron, dubber, creative director, script writer, event organiser, show coordinator, stage manager, artist management, video clip producer, talent scouter, music director, stylist, dan seterusnya.

Pertanyaannya, apakah profesi-profesi “aneh” tersebut memang di luar mainstream. Mungkin masih terjadi perdebatan. Tapi Michael J. Wolf dalam The Entertainment Economy menyebutkan bahwa pada zaman ini kita sebetulnya hidup dalam “zona hiburan”. Jutaan manusia yang lahir antara 1977 dan 1997 ini adalah “anak-anak media” yang menjadikan televisi dan komputer sebagai bagian sehari-hari mereka, hiburan bagian integral kehidupan mereka. Inilah yang mungkin tidak masuk dalam khasanah pemikiran ekonom klasik.

Maka, jangan heran kalau profesi yang berkaitan dengan industri hiburan kini sangat diburu kaum muda. Lomba nyanyi diikuti oleh ribuan peserta. Pemilihan VJ MTV diikuti oleh ribuan peminat. Stasiun televisi dan production house (PH) kebanjiran pelamar ketika mengadakan casting untuk mencari pemain-pemain baru.

Inilah perubahan dramatis di industri hiburan, yang gemerincing rupiahnya sangat menggiurkan. Industri televisi adalah salah satu contoh, dan itu pun tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga merebak di seluruh dunia, berkembang pesat sejak 1980-an setelah berakhirnya era dominasi stasiun besar ABC, CBS, dan NBC.

Di Indonesia saja kini ada 11 stasiun televisi nasional. Di luar stasiun-stasiun lokal yang juga bertebaran. Bayangkan saja, berapa program yang harus diisi. Dengan permintaan yang semakin besar, jangan heran kalau PH-PH kebanjiran job order. Helmy Yahya dengan Triwarsana mempunyai 20-an program, sementara Multi Vision, Star Vision, dan Prima Entertainment, yang tergolong tiga besar tak terhitung jumlah produksi sinetronnya. Kejar tayang adalah hal yang biasa, sehingga sinetron Kecil Kecil Jadi Manten, yang ditayangkan di RCTI, misalnya, yang masuk sepuluh besar, naskahnya terpaksa dibuat di lokasi shooting.

Seperti paradoks, di tengah dunia bisnis yang masih lesu, industri hiburan justru sangat marak. Inilah industri yang sangat menggiurkan, yang percaya atau tidak, pemainnya di Indonesia masih langka. Penulis naskah handal, seperti Jujur Prananto, misalnya, mungkin tidak pernah istirahat kalau memenuhi permintaan seluruh produser. Sutradara Ahmad Yusuf harus jungkir balik untuk menggarap beberapa sinetron. Sementara para cameraman dan kru sibuk mengatur waktu untuk mengerjakan beberapa produksi. Bagaimana dengan para artisnya? Tidak ada bedanya. Desy Ratnasari, misalnya, pernah main tiga sinetron dalam kurun waktu yang bersamaan, sementara Bella Saphira bermain empat sinetron secara beruntun.

Berapa uang yang beredar di bisnis ini? Untuk sinetron saja, untuk menyebut salah satu contoh, tak kurang dari 80 episode dalam seminggu, atau 320 episode setiap bulannya, atau 3.840 episode dalam satu tahun. Taruhlah, kalau biaya produksi satu episode menghabiskan sekitar Rp 150 juta, maka jumlah uang dalam beredar di industri sinetron ini sekitar Rp 576 miliar setahun. Itu belum program yang lain, seperti musik, feature, kuis, infotainmen, atau news – yang disebut terakhir ini biasanya dikerjakan oleh stasiun televisi sendiri. Selebihnya adalah program impor, seperti film-film Hollywood, India, Mandarin, juga telenovela dari Amerika Latin.

Industri hiburan, termasuk profesi di dalamnya, ternyata cukup menjanjikan. Ahli perekonomian agaknya perlu mengkaji ulang, paling tidak sedikit mengubah pandangnya bahwa perekonomian mainstream tidak hanya sebut saja perbankan yang pernah terpuruk dan kini belum bangkit dari proses penyembuhan, tapi industri hiburan. (Burhanuddin Abe)

No comments:

Post a Comment