Saturday, October 13, 2007

Hidup Mewah di Apartemen Mewah

Apartemen-apartemen mewah mulai bermunculan di Jakarta. Kebutuhannya memang ada, karena tinggal di rumah vertikal di tengah kota bagi penduduk metropolitan agaknya mulai menjadi pilihan. Apa sebenarnya yang mereka cari? Prestise, kepraktisan, atau sudah menjadi bagian dari gaya hidup?

Home is a name, a word, it is a strong one; stronger than magician ever spoke, or spirit ever answered to, in the strongest conjuration. Charles Dickens (1812 – 1870).

Rumah memang penting, seperti yang diungkapkan novelis Inggris di atas. Tapi rumah kini agaknya bukan sekadar tempat tinggal. Bagi kalangan berduit yang tinggal di kota-kota besar, hunian istimewa adalah hunian yang mempunyai fasilitas bintang lima, sekaligus praktis karena terletak di jantung kota. Dan itu hanya bisa didapat di apartemen mewah, yang belakangan bermunculan di Jakarta.

Asal tahu saja, apartemen berfasilitas bintang lima harganya kini harganya per unit berkisar antara Rp 1,2 miliar untuk tipe standar hingga Rp 7 miliar untuk tipe istimewa, misalnya penthouse. Namun, bagi platinum society harga bukan menjadi masalah benar kalau yang dicari adalah kemewahan sekaligus kenyamanan. Itu pula yang manjadi pertimbangan Sonia Wibisono, dokter dan model iklan, ketika memutuskan untuk tinggal di Apartemen Casablanca, setelah menikah akhir tahun 2002. Mereka menempati unit berkamar tiga, tepat satu lantai di bawah penthouse. “Waktu baru dibuka, apartemen ini termasuk yang paling bagus dibandingkan apartemen seangkatannya. Lagipula lokasinya strategis, kemana-mana dekat,” ujarnya memberi alasan.

Bagi pasangan super sibuk dengan kehidupan metropolitan macam Sonia dan suaminya, tinggal di apartemen terasa lebih nyaman. Di samping tak perlu waktu banyak untuk mengatur ruangan yang tak seberapa luas, semua urusan menjadi lebih gampang karena tersedia pelayanan 24 jam layaknya hotel. “Kalau ada apa-apa kami tinggal telepon ke bawah. Teknisi akan datang setiap saat,” tambahnya.

Dengan kondisi seperti ini, Sonia menghitung living cost di apartemen justru relatif lebih rendah dibandingkan jika menghuni rumah tinggal. Tinggal di apartemen juga terasa simpel karena dilengkapi dengan enaka fasilitas yang sangat memadai. Minimarket yang buka mulai jam 7 pagi hingga 10 malam di lantai bawah, cukup memenuhi kebutuhan harian. Selain itu tersedia kolam renang, fitness centre, tempat pijat, video rental, serta parkir bersama. Berbeda dengan tinggal di rumah, Sonia juga tidak perlu ketar-ketir kalau mau pergi ke mana pun, karena faktor keamanan sangat terjamin.

Tidak hanya Sonia tentu saja. Bagi para eksekutif sibuk, single maupun yang sudah berkeluarga, tinggal di apartemen adalah pilihan yang tepat. Di tengah kehidupan modern yang selalu dinamis dengan mobilitas tinggi, apartemen yang berlokasi di tengah kota juga mempunyai akses mudah menuju pusat bisnis, perbelanjaan, dan hiburan, juga menjawab kebutuhan akan hunian yang strategis dengan segala kemudahan dan kenyamanannya.

Peluang itulah yang dimanfaatkan para pengembang untuk berlomba-lomba membangun apartemen. Panangian Simanungkalit, konsultan properti dari Panangian Consulting Group, melihat apartemen merupakan sebuah fenomena setahun terakhir ini. Kalau pada kurun waktu 1980-2000 jumlah apartemen 25.000 unit – atau hanya tumbuh 1.250 unit per tahun. Maka, pada lima tahun berikutnya, 2000 – 2005 nanti, pertumbuhhannya sangat luar biasa, yakni 5.000 unit per tahun. “Ini angka yang menakjubkan,” komentarnya.

Ada beberapa hal yang mendorong pertumbuhan apartemen di Indonesia, khususnya di Jakarta. Pertama, semakin diterimanya gaya hidup tinggal apartemen; kemudian adanya banjir di Jakarta jadi orang berpikir perlu rumah kedua yang anti banjir. Kemudian, apartemen merupakan alternatif yang menarik ketimbang tinggal di perumahan pinggir kota karena selalu dihadang kemacetan arus lalu lintas. Tren lainnya adalah apartemen ini menjadi salah satu investasi yang menarik karena harganya naik terus dari tahun ke tahun. Sementara bagi investor sendiri, apartemen merupakan salah satu portofolio investasi yang menjanjikan capital gain yang lumayan. Hingga akhir tahun 2003 lalu, kapitalisasi bisnis apartemen mencapai Rp 5,5 triliun, atau meningkat 265 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dan, tahun ini angka itu diprediksikan akan meningkat lagi.

Tapi benarkah tinggal di apartemen sudah menjadi bagian dari gaya hidup? Panangian mempunyai pendapat, disadari atau tidak, orang-orang Jakarta butuh privasi. Seharian bekerja sangat capek dan begitu di rumah, kita ingin tidak lagi diganggu dengan tetangga, tamu atau hal lainnya. Ini memang gaya hidup orang kota yang sangat mendambakan privasi. Dambaan itu terpenuhi kalau dia tinggal di apartemen. Beda jika tinggal di perkampungan yang setiap saat bersingungan dengan tetangga. Privasinya seolah-olah terganggu. “Soal gaya hidup, bisa kita lihat saat ini. Berapa banyak mereka yang memilih tinggal di apartemen ketimbang di permukiman biasa atau kompleks perumahan. (Indikasinya), berapa pun unit apartemen yang dibangun, pasti ludes terjual,” tuturnya.

Mengenai pembagian kelasnya, Panangian mempunyai tiga klasifikasi. Yakni, apartemen kelas bawah dengan harga berkisar Rp 4 – 6,9 juta per m2, kelas menengah harganya berkisar Rp 7 – 14,9 juta per m2, dan kelas atas dengan harga Rp 15 juta ke atas per m2. Saat ini apartemen yang ada, khususnya di Jakarta, didominasi apartemen kelas bawah dan menengah, (sekitar 60-70 persen) seperti Gading Mediterania Residence, Puri Gading, Ambasador, Grand Permata Hijau, dan lain-lain. Sedangkan selebihnya adalah apartemen kelas atas, diwakili SCBD Suites, Bellagio, Four Season, Da Vinci, Casablanca, Radiance, dan seterusnya.

Motivasi kebanyakan orang, selain untuk ditinggali, membeli apartemen juga untuk investasi. Bahkan berdasarkan data yang ada, umumnya mereka membeli apartemen tidak melulu untuk ditinggali, tapi lebih banyak sebagai investasi. Sebagian besar tujuannnya adalah untuk investasi seperti disewakan atau dijual lagi karena harganya akan selalu naik. “Ada sih yang untuk ditempati sendiri, tapi hanya sedikit, sekitar 20-30 persen,” ujar Panangian.

Hanya saja, menurut Sebastian Gunadi, Executive Director PT Centra Lingga Perkasa, pengembang The Bellagio, batas antara membeli apartemen untuk dihuni dan untuk investasi agak kabur. Seseorang yang membeli properti tentunya akan memilih yang nilai investasinya tinggi, tidak mungkin kita memilih yang investasinya rendah. Jadi semuanya simultan walaupun untuk tempat tinggal mereka tetap mempertimbangkan apakah sebuah properti, dalam hal ini apartemen, yield-nya tinggi, terlepas untuk ditinggali atau disewakan kembali.

Yang jelas, investasi di apartemen jelas cukup menguntungkan. Dibandingkan investasi di sektor perhotelan, misalnya, apartemen lebih menjanjikan. Sebab, hotel umumnya berkait dengan pertumbuhan perekonomian makro, sebutlah sektor pariwisata yang saat ini sedang lesu. Sementara apartemen tidak terpengaruh pada sektor pariwisata maupun kunjungan wisman (turis asing) yang menurun, misalnya, tapi lebih sebagai gaya hidup, privasi, serta tuntutan hidup yang lebih prestisius. (Burhanuddin Abe/W. Setiawan, Djamilah, Arie Hananti, dan Dwi Wulandari)

Platinum Society 4, 2004

No comments:

Post a Comment