Saturday, October 13, 2007

Home Sweet Home

Christine V. Meaty, Psikolog. “Home Sweet Home” sedang tren di kalangan masyarakat Amerika Serikat. Namun anehnya, di Indonesia malah sedang terjadi kegamangan perkawinan. Fenomena seperti ini bisa terjadi dalam suatu dekade, dan kemudian terjadi pergeseran kembali ke "back to nature - back to family”.

Ada beberapa faktor yang memberi peluang pria berperilaku free father. Pertama, gaya hidup metropolis yang penuh godaan. Pria yang lemah akan menjerat dirinya ke dalam posisi ini. "Yang penting saya happy, bikin hidup lebih hidup".

Kedua, tidak komitmen terhadap nilai-nilai perkawinan dan motivasi berkeluarga yang jauh dari hakekat normatif. Pria yang tidak komit cenderung mengabaikan keluarga. Dan dia akan berusaha menghindar dari tanggung-jawab, sekalipun menyadari tapi ia tidak ingin melakukan perubahan sepenuhnya.

Ketiga, masa kecil yang kurang bahagia, dan masa muda yang kurang puas. Atas kekurangan ini, diapun akhirnya mencari kesenangan untuk memuaskan dahaga "pleasure"-nya.

Keempat, hidup di luar koridor ikatan keluarga, sehingga ia merasa dapat mengatur perilakunya sendiri. Tanggung-jawab sebagai suami atau ayah malah dirasakan sebagai beban yang dapat membatasi kebebasannya.

Apakah pola hidup seperti ini bisa dibenarkan oleh sosial dan budaya Indonesia? Tergantung pada kompromi dan penerimaan lingkungan. Karena setiap lingkungan mempunyai nilai-nilai sosial yang berbeda, misalnya lingkungan elite kota besar tentu berbeda dengan kota kecil.

Di pemukiman kota kecil, misalnya, seorang suami lebih memilih nongkrong di pos hansip sambil main gaple, minum kopi sampai tengah malam bahkan sampai subuh. Sementara di kota besar, fenomenanya pasti berbeda, tawaran dunia gemerlap alias dugem lengkap dengan hiburan yang akrab dengan minuman keras, narkoba sampai wanita penghibur dan pacar gelap, kerap menjadi tawaran menggoda. Itulah realita kehidupan kota.

Jika menemukan suami yang suka hidup bebas seperti ini, istri sebaiknya bersikap bersabar sambil mencari waktu yang tepat untuk mengajak dialog, dan mengingatkan kembali tujuan perkawinan serta komitmen berkeluarga. Sementara, anak sebaiknya mengajak ayah untuk melakukan kegiatan bersama, misalnya menonton, memancing, berenang dan belanja bersama. Mengajak sang ayah terlibat dalam pengambilan setiap keputusan, memilih sekolah dan memberi pertimbangan dalam hal-hal pribadi maupun yang bersifat umum. Bahkan sekali waktu mengikuti kegiatan ayah di luar rumah dan menawarkan diri untuk ikut serta dalam kegiatannya.

Hubungan keluarga semacam ini sangat rentan konflik, karena tidak adanya ikatan yang kokoh untuk saling berbagi dan memahami. Hubungan seperti juga rentan terhadap sikap saling tidak peduli, sibuk dengan urusan masing-masing. Harus disadari, rumah tangga ideal adalah tempat keluarga berkumpul dan bercanda, berbagi suka-duka, layaknya home sweet home. Ada waktu makan bersama, menonton TV, berdiskusi dan bertukar pendapat.

Suami yang mempunyai gaya hidup bebas memberikan peluang masuknya orang ketiga, akibatnya timbul rasa saling curiga, malas berkomunikasi - saling membisu, dan segi keuangan pun menjadi kacau oleh kesenangan yang harus dibayar oleh si ayah, sehingga semua rencana untuk kepentingan keluarga menjadi terbengkalai.

Family quality time pun sulit diraih, karena yang harusnya berperan sebagai kepala keluarga sudah terjebak dalam kesibukan pribadinya. Lain persoalan bila ayah dan ibu bersepakat dengan pola seperti ini, serta sudah dibicarakan sebelumnya dengan anak-anak, sehingga ada kesepakatan akan waktu untuk bersama. Dapat juga disepakati bahwa hari Minggu semua harus berkumpul pada jam tertentu, selanjutnya bisa diteruskan dengan kegiatan masing-masing. Saling menyediakan waktu untuk berkumpul bersama sangatlah penting, karena disitulah terjadinya suasana hubungan keluarga yang akrab.

Agar terjalin hubungan emosi yang baik, suami-istri harus saling memperhatikan. suami mengasihi istri, ayah melindungi keluarga, menyayangi anak - sebaliknya istri menghargai suami dan anak mengandalkan ayah. Saling berbagi, memberi dan menerima, memahami, mau mendengarkan dan memberikan perhatian, merupakan suatu hal yang penting dalam sebuah keluarga.

Ayah yang baik adalah ayah yang bisa berperan sebagai pelindung sekaligus teman yang selalu siap mendampingi. Suami berinteraksi dengan istri layaknya sebagai pasangan, teman dan kekasih yang selalu siap menemani dan mendengarkan keluh-kesahnya, we are soulmate for each other. (20 Agustus 2007 )

Sumber: Male Emporium/CBN