Wednesday, October 10, 2007

Makan Siang Terpanjang


Melbourne adalah kota terakhir yang kami kunjungi dalam program ini. Dengan penduduk 3 juta juta jiwa, kota tersibuk kedua di Australia setelah Sydney ini konon merupakan salah satu kota yang paling baik dihuni di dunia. Kota yang dibangun sejak 1835 ini mirip dengan kota-kota besar lainnya di Eropa, campuran antara modern dan klasik. Anda tidak akan bosan menyusuri jalanan melewati bangunan-bangunan kuno maupun mal-mal mewah.

Hari pertama, setelah check in Grand Hyatt Melbourne, kami lewatkan dengan makan siang di Pearl Restaurant yang berlokasi di Chuch Street, Richmond. Restoran ini berkonsep minimalis, tapi makanannya sangat variatif. Dalam Good Food Guide 2002 terbitan The Edge Melbourne, resto yang juga menjual pearl yang ditaruh dalam show case ini dipuji sebagai pendatang baru terbaik.

Sehabis makan dan mengobrol, kami tak sabar mengikuti tur yang diberi tajuk “Chocolate Indulgence Walk” – melihat dan menikmati coklat dari dekat. Saya tidak menyangka kalau tur tersebut ternyata hanya berjalan-jalan di kawasan pertokoan. Dengan dipandu oleh Suzie Wharton dari Talkabout Tours kami menyusuri kawasan kawasan CBD (Central Business District) Melbourne, rutenya dimulai dari es krim dari Chairmaine’s Ice Cream di Southgate, kemudian pembuat gulali di Toko Suga, pembuat coklat tertua Haigh’s Chocolat, dan berakhir di The Pancake Parlour sambil menikmati panekuk yang lezat.

Yang surprise justru di akhir acara, sambil minum teh di Hanzelmann’s di sisi Hotel Grand Hyatt, Suzie yang berusia setengah baya itu menunjukkan kelasnya sebagai ahli coklat. Ia merencanakan akan menyusun buku dengan kemasan mewah yang berjudul “A Chocoholic Guide to Melbourne”.

Restoran fine dining yang kami jajal di Melbourne adalah Circa, Ezard di Adhelpi Hotel, dan Flower Drum – restoran Cina di China Town. Restoran yang disebut terakhir inilah yang bisa menebus kerinduan saya akan nasi dan makanan Asia, setelah hampir dua minggu selalu ketemu dengan makanan Barat.

Warga Melbourne adalah pemuja makanan dan wine, maka pada setiap jamuan makan selalu tersedia wine. Uniknya, ada beberapa restoran yang mengizinkan tamunya untuk membawa wine sendiri dari rumah, sehingga tidak harus membeli dari restoran, cukup membayar biaya service saja. Restoran seperti ini biasanya mencantumkan BYO (bring your own) di outlet dan di daftar menunya, selain kata “licensed” (mempunyai izin menjual minuman beralkohol, termasuk wine).

Perkebunan anggur dan pembuatan wine di Melbourne tergolong lebih modern, paling tidak dibandingkan dengan tempat serupa di Brisbane dan Canberra. Kami mengunjungi dua winery, Yering Station dan Domain Chandon. Keduanya berlokasi di dataran tinggi Yarra Valley, jaraknya sekitar 1,5 jam perjalanan dengan mobil dari kota Melbourne.

Yering Station berdiri sejak 1838, dan sekarang menjelma menjadi winery modern. Selain terdapat restoran dengan pemadangan pegunungan yang indah, mereka menjual paket wisata testing wine. Mirip dengan Domaine Chandon yang sebetulnya spesialisasinya pada French Champagne atau sparkling wine. Tapi pada saat itu kami berkesempatan mencicipi berbagai wine yang anggurnya dipanen dari tempat tersebut dengan bermacam-macam varietas, mulai dari Chardonnay, Pinot, Noir, Cabernet hingga Shiraz.

Yarra Valley sebenarnya tidak hanya wine-nya yang terkenal, keju terbaik juga dihasilkan dari tempat ini. Kami mengunjungi Yarra Valley Dairy menikmati aneka keju buatan tangan serta secangkir cappucino yang hangat di tengah-tengah peternakan sapi. Santai di sebelah kandang sapi, bo! Suasana seperti ini rasanya hanya bisa dinikmati oleh orang-orang bule saja, yang setiap hari makan keju tanpa tahu tempat pembuatannya dari dekat.

Beruntung, ketika berkunjung ke Melbourne tengah berlangsung Food & Wine Festival di kota itu, sehingga banyak aktivitas yang bisa diikuti. Di antaranya adalah makan siang bareng di tepi Sungai Birrarung Marr. Tiketnya $88 per kepala. Setiap tahun acara ini selalu menarik minat masyarakat, sehingga tahun ini yang diadakan pada 22 Maret hanya dibatasi untuk 1.000 peserta. Meja dan kursi ditaruh berderet memanjang, sehingga makan siang ini boleh disebut sebagai World’s Longest Lunch!

Makanan yang disajikan seperti layaknya di restoran mewah. Para undangan pun berdandan rada istimewa. Prianya berbusana lengkap, sementara para wanita memakai gaun – ada yang melengkapinya dengan topi. Kendari demikian yang berbusana kasual pun terlihat cukup sopan. Di pintu masuk sudah sudah tersedia sparkling wine, dan di tengah-tengah makan juga disajikan dua jenis wine. Yakni, Sauvignon Blanc (putih) untuk menemani salad, dan Shiraz (merah) untuk menu utama kambing muda yang dimasak ala Mediteranean.

Yang tak kalah menariknya adalah ketika mengikuti Epicure Catering Master Class. Atau acara masak-memasak yang melibatkan para maestro yang ahli di bidangnya. Animo pesertanya juga lumayan besar, biasanya orang-orang hotel dan restoran, datang dari berbagai kota di Australia, bahkan New Zaeland. Ada empat kelas yang masing-masing mempunyai empat sesi, dengan 16 pembicara.

Para peserta hanya memilih maksimal empat topik bahasan. Kami pun mengikuti empat sesi dengan pilihan topik. Yang pertama adalah rahasia memasak ala Neil Perry, yang menggabungkan antara makanan Barat dan Asia (Jepang dan Cina). Kedua, resep memasuk dengan wine oleh Anne Willan, penulis buku Cooking with Wine. Ketiga, ceramah dengan tema ‘Kembali ke Alam’ oleh Sherry Clewlow. Dan keempat, View from A Abroad oleh Jill Dupleix.

Bisa dibayangkan, masing-masing topik mempunyai daya tarik tersendiri. Jill Dupleix, misalnya, bercerita tentang makanan-makanan dari berbagai negara. Sebelum menjadi penulis buku masak-memasak, ia adalah seorang wartawan. Presentasinya adalah oleh-oleh ketika ia bertugas ke luar negeri. Tidak hanya bercerita, tapi dikemas dalam bentuk video yang menarik di suatu negara, berbelanja ke pasar setempat, dan mencicipi makanan khasnya. Juga pengalaman sewaktu mengunjungi restoran tertentu, disertai dengan komentar dan pendapat pribadinya.

Dengan berakhirnya program Epicure Catering Master Class, berakhir pulalah program Epicurean Experiences Theme Tour. Para peserta kembali ke masing-masing negaranya dengan kenangan yang pasti sangat berkesan. Berat tubuh memang tidak naik, tapi celana rasanya bertambah satu nomer. (Burhanuddin Abe)

ME 2002

No comments:

Post a Comment