Saturday, October 13, 2007

Marketing Tools


Salah seorang biang pesta yang kerap mengadakan corporate party adalah Tedjo Iskandar, Direktur Tourism Training Center. Selain sering ditunjuk sebagai tour leader, ia juga ditunjuk sebagai perwakilan Emporium – jaringan toko busana dan cendera mata yang berlokasi di beberapa negara, perwakilan salah satu travel agent dari Bangkok dan Hongkong, sekaligus perwakilan Hongkong Tourism Board. “Kalau saya sering bikin pesta itu tak lebih sebagai rasa terima kasih saya kepada para relasi dan klien saya selama ini yang telah berkunjung ke Emporium,” ujarnya.

Supaya para undangan antusias, Tedjo selalu terobsesi membuat pesta yang unik dan menarik. Beberapa waktu yang lalu, misalnya, ia mengusung tema Sex & Tourism, dengan menghadirkan penulis buku Jakarta Undercover Muammar Emka dan host model dan pemain sinetron Anya Dwinoff. Talk show dengan tema miring tersebut memang sekadar pemikat, selebihnya acara yang digelar di Musro, Hotel Borobudur tersebut adalah pesta. Makan, minum, musik, games, serta go go dance yang dibawakan oleh para penari seksi, bahkan cenderung sensual.

Yang menarik, sepanjang pesta Tedjo mengedarkan minuman alkohol; bir dan whiskey – tak kurang dari 38 botol Jack Daniels – yang bisa ditenggak dari botol langsung oleh para tamu, serta cocktail yang bisa diminum rame-rame dengan sedoton dari gelas pitcher yang sama. “Dengan alkohol para tamu bisa membaur satu sama yang lain, tidak ada yang jaim (jaga image),” ujar Tedjo yang malam itu menghabiskan dana sekitar Rp 50 juta.

Dana tentu bukan soal benar, apalagi jika sang penyelenggara ingin memberikan kesan yang mendalam terhadap para tamu. Tapi jangan terburu menyimpulkan bahwa mereka hanya menuruti nafsu hedonisnya, dan semata-mata menghambur-hamburkan uang. Sebab, pesta, apalagi corporate party mempunyai misi bisnis tertentu – minimal membangun citra serta menjaga networking. Dan itu sah-sah saja. Harap maklum, pesta bisa menjadi sarana ampuh dalam memasarkan produk dengan pendekatan yang sangat personal (one on one). Sejumlah bank papan atas yang menyelenggarakan private banking juga kerap mengadakan pesta terbatas untuk menjaring potential customer. Barangkali kita juga masih ingat bagaimana Bvlgari menyelenggarkan pesta khusus untuk potential customer-nya, termasuk Miana Sudwikatmono dan mengiriminya tiket pesawat Raffless Class SQ, menyediakan akomodasi terbaik, dan seterusnya. Buntutnya, ya menawarkan produk terbarunya kepada premium customer mereka.

Kita bisa mengungkapkan sederet contoh lain yang menggunakan pesta sebagai marketing tools. Pesta ulang tahun artis remaja yang sedang naik daun, Roger Danuarta dan Agnes Monica, yang disponsori sejumlah produk di mana mereka menjadi bintang iklannya, patut ditengarai mempunyai motif bisnis – minimal untuk mempertahankan, syukur-syukur untuk menggenjot popularitas mereka. Apakah Anda percaya jika pesta yang diselenggarakan para desainer papan atas, seperti Harry Dharsono, Susan Budiardjo, dan Adjie Notonegoro, hanya semata-mata pesta, mengingat kebanyakan yang diundang adalah crème de la crème yang memang telah menjadi pelanggan atau potential market mereka. So, are you ready for party? (Burhanuddin Abe/Nurur R. Bintari, W. Setiawan, dan Dwi Wulandari).

Platinum Society Edisi 03/2004

No comments:

Post a Comment