Saturday, October 13, 2007

Memanjakan Mata dan Telinga


Tren pemakaian hi-fi makin meningkat di kalangan para eksekutif. Mereka rela merogoh koceknya lebih dalam demi mendapatkan kenikmatan audio visual dari peranti sound system masa kini dan perangkat home theater mutakhir. (Burhanuddin Abe)

Kesempurnaan. Agaknya itulah yang selalu dicari para hi-fi mania. Istilah hi-fi sendiri berasal dari kependekan high fidelity audio visual entertainment. Maksudnya perangkat audio visual yang sangat peka dan mampu mereproduksi dan memancarkan suara yang sangat jernih dan bebas noise. Tidak ada kresek-kresek, tidak ada dengung, untuk visualnya tidak ada bintik-bintik, dan mampu menayangkan gambar terang maupun gelap dengan sangat baik.

Demi kesempurnaan itu pula yang membuat Francis Wanandi rela melakukan perburuan yang panjang untuk mendapatkan peralatan hi-fi di rumahnya. Direktur pemasaran sebuah perusahaan distribusi itu memang bukan muka baru sebagai penikmat audio video. Sejak semasa SMU dulu, awal tahun 1980-an, Frans memang sangat hobi mendengarkan musik dan menonton film. Pada waktu itu sistem audio yang ada baru radio dan tape atawa pemutar kaset. “Saya juga punya piringan hitam, tapi itu jarang digunakan karena tidak praktis. Waktu itu juga belum ada yang namanya compact disc atawa CD,” kenangnya.

Sekarang, seiring dengan perkembangan teknologi di bidang audio, mulai bermunculan berbagai audio system yang ada, mulai dari piringan hitam, CD, dan terakhir DVD audio, format audio baru yang memiliki kualitas musik suround yang berbasis teknologi digital. Begitu juga untuk sistem audio visual, mulai dari pita kaset (dulu namanya VHS Betamax, atau film video), berkembang menjadi laser disc, VCD MP3, hingga DVD video. Untuk pesewat televisi, berawal dari layar kaca cembung, flat, hingga tipe plasma yang bahannya menggunakan gas neon xebib di antara dua pelat kaca tipis, sehingga mampu mengeluarkan gambar yang sangat sempurna.

Perangkat untuk audio pun juga berkembang, mulai dari speaker, amplifier, equalizer, sampai dengan perangkat yang berfungsi memecah atau membagi suara. Kualitas suara pun makin lebih bagus. Inilah yang kita sebut sebagai era hi-fi. “Kita mendengarkan lagu seolah-olah kita berada di hadapan penyanyi, begitu jernih, dan transparan,” ujar Frans yang mengaku sudah mengeluarkan Rp 250 juta untuk menjalankan hobinya ini.

Harga perangkat hi-fi, apalagi yang mutakhir, memang tidak murah. Untuk peralatan high end bagi penggemar musik kelas berat, misalnya, yang terdiri dari pemutar CD, amplifier, serta speaker, harganya berkisar Rp 30-70 juta, tergantung merek serta kemampuannya.

Jika mengambil speaker merek Mordaunt-Shout MS914, misalnya, yang harganya Rp 4,3 jutaan cukup mampu menghasilkan sound yang berat namun dinamis. Tapi kalau kita memutuskan membeli speaker yang lebih mahal, sebutlah Quad 12l seharga Rp 7,8 jutaan niscaya suara yang dihasilkan pasti lebih yahud; ringan, detil, dinamis, transparan, dengan kedalaman suara bas yang luar biasa. “Ibaratnya, desah dan nafas seorang saksofonis pun terdengar jelas,” ujar seorang audiophile – sebutan untuk pecinta audio kelas berat.

Memang, buat audiophile, yang mereka cari bukan sekadar tonal harmony distortion biasa, yang sudah tersedia dalam perangkat hi-fi umum. Tapi reproduksi suara tengah yang natural yang tanpa kolorasi, terutama pada suara vokal manusia – mirip mendengar orang menyanyi di sebelah kita. Sementara untuk musik, nada basnya rendah, dalam, bulat, dan ketat, tanpa distorsi, bebas dari suara boxy dan boomy. Nada tingginya detil, jernih, seakan-akan tidak membebani telinga. Meski mendengar lebih dari lima jam, tapi tidak melelahkan.

Lalu, berapa dana yang dibutuhkan untuk membangun home theater? Tjandra Ghozalli, Pemimpin Redaksi Audio Video, membagi atas tiga kelas. Pertama, kelas A, dengan ruangan home theater yang harganya Rp 5 jutaan per meter persegi. Kelas B yang harganya Rp 4 jutaan per meter persegi. Dan kelas C yang harganya Rp 3 jutaan per meter persegi. “Jadi, kalau mau bikin ruangan kelas C seluas 4 x 6 m2, maka harga set up-nya sekitar Rp 72 juta,” katanya memberi contoh.

Itu baru ruangan berikut interior saja, belum termasuk kursi – yang biasanya cukup mahal (sekitar Rp 20 – 40 juta per biji), karena didesain untuk tidak untuk sekadar duduk tapi rebahan, plus ada tempat untuk menaruh minuman. Pendeknya dibuat senyaman mungkin, tidak kalah dengan Bioskop 21.

Sementara harga peranti hi-fi, yang standarnya terdiri dari proyektor, AV receiver, dan speaker, berbeda-beda. Untuk proyektor, misalnya, ada yang Rp 12 juta, ada yang Rp 40 juta. Tapi yang termahal adalah CRT (Cathode Ray Tube) – proyektor ukuran besar dengan tabung RGB (Red, Green, Blue) yang berfungsi menghasilkan gambar bagus pada layar, harganya bisa Rp 100 juta lebih. Sementara, untuk sound system, mulai Rp 8 juta hingga Rp 350 juta. “Membangun sebuah home theater, untuk yang bukan profesional, investasinya bisa mencapai Rp 150 juta,” katanya.

Dengan harga peranti yang relatif mahal ini, tidak ayal, yang menekuni hobi ini pun hanya orang-orang tertentu yang sudah mempunyai kemapanan secara finansial. Kendati demikian, pasar Indonesia termasuk yang patut diperhitungkan oleh para produsen hi-fi dunia. Sebenarnya kalau mau merek yang umum-umum saja, di Indonesia – sebutlah Glodok, Jakarta, sudah lengkap, sehingga tidak perlu mencari ke luar negeri. Dan menurut Tjandra, perkembangan penjualannya pun selalu tumbuh. “Kalau saya monitor di Mangga Dua Jakarta saja selalu ada 4-5 toko baru setiap tahunnya,” katanya.

Komunitas penggemar hi-fi di Indonesia juga sudah ada meski belum terorganisasikan dengan baik. Maklum, mereka lebih cool, tidak seperti penggemar car audio, misalnya, yang bisa memamerkan peranti miliknya dengan bangga. Penggemar hi-fi hanya berkomunikasi dan saling bertukar informasi antar sesama mereka secara terbatas. “Mereka kebanyakan low profile, dan senang berdiam di rumah,” ujar LT Seng, salah seorang distributor perangkat hi-fi, memberikan diskripsi para pelanggannya.

Meski silent community, LT Seng yakin bahwa penggemar hi-fi di Indonesia terus-menerus meningkat. Ini juga dibuktikan ketika ada Pameran High End & Home Entertainment di Jakarta, yang diadakan Majalah Audio Video, sejak 2000. Tidak hanya pengunjungnya yang makin banyak, tapi omsetnya juga terus melonjak. Jika pada tahun 2000 pengunjungnya cuma 3.000, maka tahun 2001 meningkat menjadi 4.000, dan pada 2002 sebanyak 5.000, serta 2003 sebanyak 6.000. Transaksi yang terjadi pun naik, selama empat tahun berturut-turut: Rp 1 miliar, Rp 2 miliar, Rp 3 miliar, dan terakhir Rp 5 miliar.

Yang unik, pameran tersebut tidak berlangsung di ruang pameran pada umumnya, sebutlah Jakarta Convention Centre, tapi di hotel berbintang. Bukan di balroom atau pun lobi, tapi di kamar-kamar hotel yang disulap menjadi stan-stan menawan layaknya show room saja. Ada kamar yang diubah menjadi home theater dengan layar video proyektor, tapi ada pula ruang coba uji audio. Tidak ketinggalan produk-produk pendukung, mulai dari stan penjual CD, SACD, DVD video, DVD audio, hingga VHS digital.

Pengunjungnya tidak hanya datang dari Jakarta, tapi juga luar kota seperti Surabaya, Bandung, Semarang, dan lain-lain. “Di luar Jakarta memang belum ada gerai khusus perangkat hi-fi. Jadi kalau mereka mau membeli peranti ini harus datang ke Jakarta atau Singapura,” tutur Tjandra. Dengan menempati dua lantai, tahun ini pameran akan berlangsung di Hotel Mulia Senayan, berlangsung dari 27 hingga 29 Agustus.

Teknologi memang terus bergerak, namun jutsru itulah yang menantang para penggemar hi-fi. Tjandra meramalkan bahwa setelah high end yang hanya mengandalkan suara, giliran home theater kelak yang akan menjadi primadona. High end dikenal sebagai perangkat stereo dua kanal, dengan output suara yang sempurna seakan kita melihat gambar tiga dimensi (hologram). Kini, sehubungan dengan maraknya kemajuan teknologi elektronik hiburan, maka lahirlah media DVD Audio multi kanal (dolby atau DTS – digital theater system). Memang, kehadiran DVD berkembang begitu cepat, dan harganya pun semakin murah. Bila pemutar video dan CD perlu waktu yang cukup lama untuk diakui kehadirannya di antara perabot elektronik di rumah tangga, DVP player ternyata bisa lebih cepat populer, dan kelihatannya belum ada tanda-tanda mengendor.

Maka, para perkembangan berikutnya, tidak mustahil orang akan lari ke high end home theater, yakni high end multi kanal, yang bertumpu pada kekuatan audio dan visual. “Dengan perangkat ini, orang merasa mendengarkan musik atau nonton film tidak seperti di rumah, tapi layaknya auditorium, karena suara keluar dari segala penjuru,” jelasnya.

Platinum Society, 2004

No comments:

Post a Comment