Saturday, October 13, 2007

Memindahkan Resor ke Rumah


Spa kini cenderung menjadi ikon gaya hidup masa kini. Tidak hanya sebagai fasilitas publik, tapi harus kehilangan eksklusivitasnya, tapi perkembangan selanjutnya, rumah-rumah pribadi platinum society pun kini melengkapi fasilitasnya dengan spa, yang lebih mempunyai privacy.

Spa, singkatan dari saulus per aqua, dalam bahas Latin berarti “mencari kesehatan dari air”, tapi kemudian berkembang menjadi seni relaksasi yang berkembang ke seluruh dunia. Tidak terlalu sulit untuk mencari lokasi untuk berspa ria di Jakarta, juga kota-kota besar lain di Indonesia. Tidak hanya tempat yang benar-benar mengkhususkan diri sebagai spa. Beberapa sport centre pun ada yang memiliki fasilitas spa, mulai dari penyediaan whirpool air panas dan dingin, ruang sauna, ruang steam (uap), termasuk pemijatan dengan aromaterapi.

Tapi spa di rumah? Inilah yang mulai marak di Jakartra. Memang tidak menjadi tren massal. Tapi kita mulai tidak sulit menemui rumah-rumah mewah yang memiliki fasilitas spa. Ada yang merupakan bagian pengembangan kamar mandi, misalnya menjadikan salah satu bathtub-nya sebagai whirpool yang bisa menyemburkan air dan “memijat” penggunanya. Ada yang memang sejak awal mereka mendesain tempat spa mewah tersendiri, bisa bergaya modern, bisa juga dengan sentuhan etnik dengan tema “back to nature”. Lengkap dengan ruang sauna dan kamar uap.

Memang, home spa di Indonesia tergolong baru. Tidak seperti di Finlandia, misalnya. Rumah di negara yang mempunyai empat musim itu kebanyakan mempunyai ruang sauna sendiri. Di Belgia, yang konon tradisi spa berasal. pada musim dingin penduduknya mencari pusat-pusat air panas untuk berendam dan menghangatkan tubuh. Pada perkembangan selanjutnya orang membuat pool sendiri di rumah yang pemanasannya memakai energi batu bara, kemudian listrik ketika listrik ditemukan. Tidak hanya kolam, seni spa ini kemudian berkembang dengan atribut pendukungnya, seperti whirpool, ruang sauna, dan seterusnya.

Sementara di Jepang, fasilitas whirpool – lebih populer dengan sebutan jacuzy, menjadi bagian penting bagi rumah. Memang, selain sebagai fasilitas pribadi, sebuah perkampungan tradisional di Negeri Sakura itu biasanya mempunyai fasilitas mandi umum untuk penduduknya – yang dalam kehidupan modern dikenal dengan spa.

Wirianto, arsitek lulusan Universitas Tarumanagara, Jakarta, merasa bahwa dengan membangun spa di rumah salah satu alasannya karena masalah kemacetan di Jakarta. “Kami tidak perlu keluar rumah untuk menikmati spa. Tidak perlu antre, juga tidak perlu bayar,” katanya.

Ayah dua anak ini sengaja membangun rumahnya dengan gaya tropis minimalis. Fasilitas kamar mandinya, yang dikembangkan menjadi spa, terbagi dua; indoor dan outdoor.

Di indoor dinamakan master bathroom, ada bathub besar yang bisa menampung dua orang dengan gaya klasik, dua wastafel yang mejanya bertabur batu kali yang senada dengan ubinnya, dengan nuansa tropis minimalis. Kesan natural didapat dengan menambahkan semacam air terjun yang mengalir di samping bathub tersebut dan menyirami pohon jenis alang-alang d ibawahnya. Di pojok ruangan tersebut ada tempat mandi biasa dengan shower yang digunakan sehari-hari. Juga dilengkapi dengan pesawat televisi agar tidak ketinggalan berita terbaru atau hiburan. Sementara untuk outdoor terdapat jacuzy atau whirpool. Ada paviliun untuk tamu, kursi santai, meja biliar, serta arena bermain anak-anak.

Yang unik, fokus pandangan semua ruang (termasuk ruang TV, keluarga, tamu, bahkan dapur kering) mengarah pada jacuzy yang ada di ruang dalam yang terbuka. Bila malam tiba lampu temaram akan mengarah ke jacuzy yang dikelilingi obor. Di ruang atas juga ada kursi santai menghadap barat sehingga bisa menikmati sunset sambil memperhatikan anak-anak yang berenang di bawahnya.

Bagi Wirianto, rumah bukan hanya untuk istirahat badan tapi juga istirahat jiwa. “Jadi kami berusaha membawa kualitas resor ke dalam rumah. Sehingga berada di rumah itu benar-benar bisa nyaman. Karena setelah penat bekerja, apalagi kalau saya sedang lembur dan bisa seharian berkutat dengan pekerjaan, maunya kan bisa rileks agar bisa segar kembali,” ujar Direktur PT Arsicon Wiratama, perusahaan yang bergerak dalam bidang arsitektur itu.

Meski pun di dalam rumah, spa tidak hanya dinikmati hanya penghuni rumah – Wirianto, istri dan anak-anaknya. Tapi teman-temannya pun kerap beranjang sana, dan ikut menikmati fasilitas tersebut. “Kami bisa berendam di whirpool. Kebetulan di master bathroom juga dilengkapi dengan massage room, jadi kami bisa panggil pijat dari luar,” ungkapnya.

Suara merdu Mariah Carey sayup mengalun di ruang mandi berukuran 6X4 meter persegi. Butterfly, lagu yang tengah dilantunkan membuat si pemilik kamar kian menikmati eksotiknya rendaman aroma Lampe Berger asal Paris di lingkaran jacuzy. Sambil sesekali menyambangi ruang shower sekaligus steam room yang berdinding transparan di pojok kiri, Nila Warsito — si pemilik kamar — mulai membasuh tubuhnya dengan air dingin. “Saya alergi dengan air panas,” kata istri pengacara Warsito Sanyoto itu.

Dua jam berlalu seraya dibantu oleh petugas salon yang khusus diundangnya, kulit perempuan berparas cantik itu kembali tampak bugar. Di ruang bermarmer dengan perpaduan kuning keemasan dan krem itulah hampir setiap hari kelahiran Jakarta 30 tahun yang silam ini rutin memanjakan tubuhnya. Mulai dari perawatan ujung rambut hingga ujung kaki.

Ritual seperti itu penting, bagi Nila. Itu sebabnya, ia membangun fasilitas spa mewah bergaya Italia, lengkap dengan jacuzy, ruang uap, serta TV. Kamar mandi, katanya, adalah sebuah sarana untuk proses pemeliharaan dan perawatan tubuh, sehingga ia perlu mengembangkannya menjadi spa. Di sinilah Nila menjalankan proses perawatan dan pemeliharaan badan, rambut, manicure & pedicure, dan wajah. Jangan heran kalau segala tetek bengek peralatan kecantikan ada di sini, mulai dari body lotion, lulur, pembersih muka, shampo, masker, hingga scrub. “Mandi saya lama, sehingga saya merasa nyaman di dalamnya,” ujar ibu tiga anak yang juga hobi berenang itu.

Tidak Nila dan Wirianto saja yang menyulap kamar mandinya menjadi spa bak di hotel atau resor. Menurut Wirianto, dalam dua tahun terakhir ini permintaan untuk membangun home spa meningkat. Mereka itu adalah para platinum society yang mulai membutuhkan privacy, sehingga tidak perlu ke luar rumah kalau ingin menikmati spa. “Waktu mereka terbatas. Jadi, kalau bisa dilakukan di rumah, kenapa tidak? Bahkan ke dokter gigi pun kalau bisa di rumah juga,” kata Wirianto sambil tertawa. (Burhanuddin Abe/Dwi Wulandari, Arie Hananti, dan W. Setiawan)

Platinum Society, 2004

No comments:

Post a Comment