Thursday, October 11, 2007

Misteri Ratu Boko


Mengunjungi Ratu Boko yang terletak di dataran tinggi di Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, selalu membuat saya merinding. Candi yang bertenggaan dengan Candi Prambanan ini, berjarak dua kilometer arah selatan, tidak hanya magis, tapi bobot vibrasinya sangat kuat.

Kompleks kepurbakalaan Ratu Boko, yang juga dikenal dengan nama Kraton Boko, karena menurut legenda di situlah letak istana Ratu Boko, saudara Loro Jonggrang, terbuat dari batu putih dan batu andesit. Situs ini merupakan peninggalan sejarah yang menunjukkan unsur-unsur agama Budha dan Hindu dari abad 8 – 10 Masehi, yakni pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Candi Prambanan sebagai salah satu peninggalan terbesar dari Kerajaan Mataram Kuno, memiliki keterkaitan dengan kompleks Ratu Boko. Candi Prambanan terletak pada salah satu garis imajiner dengan Ratu Boko, sehingga para ahli memperkirakan bahwa Candi Prambanan sebagai daerah sakral, sedangkan kompleks Ratu Boko sebagai tempat pemukiman yang lebih profan.

Banyak elemen menarik di seputar Ratu Boko yang bisa dieksplorasi dalam sebuah karya fotografi, bahkan dalam survei sebelumnya seolah-olah ada yang menuntun ke tempat-tempat yang luar biasa magisnya. Lokasi di seputar kolam pemandian adalah pilihan yang luar biasa indahnya untuk mengabadikan Lana dan Melda dalam suasana yang dramatik.

Di Kraton Boko ini saya berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan elemen-elemen ruang luar (landscape) dan benda-benda sekitar lokasi yang mungkin sering luput dari mata awam. Secara teknis hampir tidak ada kendala. Ibaratnya, kalau kita sudah menemukan lorong tertentu, apa pun bisa diwujudkan. Tinggal framing saja, mana yang mau dilebarkan, mana yang mau dipersempit. Pose Lana yang memanfaatkan pohon sebagai elemen utama, contohnya. Framingnya bagus. Karena sinar matahari yang kuat, maka saya tambahkan filter polarisasi yang bisa meredam cahaya yang terlalu terang. Ada asap buatan, seperti suasana desa di pagi hari.

Menjelang sore cuaca agak mendung. Sewaktu pemotretan saya mengandalkan long flash berdaya kuat Broncolor Para. Sedangkan teknik yang saya gunakan adalah mix light, yakni memadukan dua sumber cahaya dengan suhu warna yang berbeda: cahaya matahari sore dan flash. Saya juga pakai filter, sehingga warna ungu bisa masuk, sehingga bisa lebih dramatik lagi. Dengan latar belakang candi yang artsitik, ini juga bisa disebut sebagai foto fashion arsitektur.

Matahari tenggelam di ufuk barat, sesi pemotretan diakhiri di salah satu pintu gerbang seputar Kraton Boko. Puri berpose bak Loro Jonggrang, diiringi sepuluh pengawal lelaki bertelanjang dada. Bangunan sebagai latar belakang mencerminkan bangunan yang sangat kokoh, masif. Tapi yang saya tonjolkan tetaplah sosok perempuan yang sangat eksotik, matching dengan latar belakang yang ada di sekitarnya.

Mood-nya saya dapat, saya cukup puas. Ada awan yang menutupi langit, tapi saya bisa adjust. Tadinya saya berharap ada lapisan-lapisan awan, tapi mendungnya bukan yang cloudy, tapi awan yang rata. Saya tidak bisa menampilkan lapisan-lapisan awan itu, jadi saya putuskan untuk menggelapkan semua back ground-nya. Saya hanya bermain dengan filter. Golden light saya tidak dapat, tapi golden moment bisa saya peroleh. (Darwis Triadi)

Yogyakarta, 16 – 19 April 2005

No comments:

Post a Comment