Saturday, October 13, 2007

Perawatan Jiwa dan Raga


Masyarakat menengah ke atas yang menjalani hidup di kota besar pada umumnya telah sadar akan perawatan tubuh secara holistik, jiwa dan raga, sebagai pengimbagan aktivitas rutin lainnya. Bukan sekadar spa yang mereka butuhkan, tapi tempat yang mampu memberikan instant refreshment. “Bukan hanya sekadar memijat tubuh, tetapi tempat relaksasi yang dapat memberi rasa ketenangan dengan produk, serta pelayanan yang prima,” jelas Indira Budiati, Direktur Utama Zen Living.

Zen Living yang berdiri empat tahun lalu, kata Indira, adalah pelopor aromatherapy reflexology di Indonesia yang untuk kelas premium. Pelayanan yang ditawarkan adalah; 1) Relaxation reflexology, yakni aromaterapi dengan suatu kesatuan interior yang nyaman seperti layaknya first class cabin suatu penerbangan; 2) Stoneage foot treatment, perawatan kulit kaki dengan lumpur dan pasir yang dilengkapi dengan pijat relaksasi yang menggunakan batu panas; 3) Hand neuro reflex, terapi yang difokuskan pada daerah tangan, lengan, dan bahu; dan 4) Normobaric, atau terapi hirup oksigen murni. Terapi ini dikerjakan bersamaan dengan pemihatan refleksi pijat refeksi sehinga tercipta relaksasi yang menyeluruh.

Pelayanan serupa, khususnya terapi hirup oksigen, rupanya tidak hanya dilakukan di spa treatment, tapi juga di klinik-klinik kesehatan, seperti Stanford. Klinik yang berlokasi di Jalan Heng Lekir Raya 9, Kebayoran Baru, Jakarta itu memperkenalkan terapi ozone, yang konon bermanfaat untuk mengoptimalkan organ tubuh, sehingga mempunyai fungsi untuk membuat awet muda.

Pengobatan ozon ini diperoleh dari suatu proses oksigen murni yang dialirkan melalui generator listrik. Ozone sendiri adalah jenis gas yang sangat reaktif dan tidak stabil dengan masa hidup yang sangat pendek (20-30 menit) sebelum kembali menjadi oksigen. Bila disuntikan ke dalam peredaran darah sangat bermanfaat untuk perbaikan peredaran darah dan oksigenasi jaringan tubuh, terutama bagi penderita kencing manis, gangren dan bagi orang yang pembuluh darahnya mulai mengalami pengerasan (sclerosis), penderita dengan kelumpuhan badan, vertigo, penyakit jantung koroner dan kesemutan pada kaki atau tangan.

Pendeknya, perawatan jenis apa pun kini sudah bisa dilakukan, oleh pria maupun wanita. Teknologinya pun tersedia, mulai dari penggunaan laser hingga alat-alat operasi ala kedokteran. Jakarta Skin Centre, misalnya, memanfaatkan teknologi laser. Klinik yang didirikan putri mantan wapres Sudharmono pada 1993 itu menawarkan sekitar 15 pelayanan medis untuk kulit, di antaranya dermatologi, bedah laser, bedah kulit, injeksi kolagen, suntik botox, bedah plastik, hingga liposuction alias sedot lemak.

Sementara Impressions, yang dulu hanya dikenal sebagai klinik perampingan tubuh, kini membuka pelayanan khusus untuk pria, yang disebut men’s health centre. Klinik utamanya di Jakarta juga mempunyai fasiliats mesin IPL (Intense Pulse Light) dari Lumenis/Spectron Cosmetic Ltd, Inggris dan LHE (Light Heat Energy) Skin Station dari Radiance Inc, AS. Perawatan yang ditawarkan, antara lain, mengatasi dermabrasi, skin rejuvenation, menghilangkan jerawat, serta membantu menghilangkan bekas tato, bercak-bercak atau cacat di kulit.

Kepedulian akan kesehatan dan penampilan yang lebih oke, dan terutama naiknya penghasilan sebagian masyarakat, terutama lapisan atas, agaknya yang ikut menumbuhsuburkan klinik-klinik kecantikan. Seakan memanfaatkan eforia ingin tampil sempurna bak selebriti, para pemilik klinik pun tidak segan-segan mengembangkan inovasi dan gimmick pemasaran untuk merayu kalangan kelas tersebut.

Jadi, sebaiknya jangan bingung istilah-istilah yang aneh dalam perkara perawatan tubuh. Bahkan, setelah perawatan spa (saulus per aqua), yang arti sebenarnya adalah “mencari kesehatan dari air” ngetren, ada istilah serupa untuk perawatan gigi, juga untuk rambut yang disebut hair spa. Juga ada klinik yang memberikan embel-embel “butik”.

Menambahkan istilah khusus untuk mendekatkan ke gaya hidup tertentu memang sah-sah saja. Apalagi hal itu bisa menjadikan lebih eksklusif dan bisa “menaikkan” harga. Harga perawatan rambut ala hair spa di salon tertentu, misalnya, tarifnya pasti lebih mahal ketimbang keramas atau creambath biasa. Demikian pula dengan tarif di klinik biasa, tentu berbeda dengan di klinik yang berkategori butik.

Biaya merawat tubuh, apalagi dengan pelayanan yang prima, memang tidak murah. Sekadar massage di spa, misalnya, tarifnya sekitar Rp 150.000, tapi untuk full body treatment Rp 1,4 juta. Untuk perawatan rambut di salon, sebutlah Toni & Guy yang berlokasi di eX Plaza Indonesia, Jakarta menghabiskan sekitar Rp 250.000, sementara perawatan untuk rambut bermasalah, sebutlah di Svensons Hair Clinic yang mempunyai empat cabang di Jakarta dan Surbaya, bisa Rp 5 – 10 juta, tergantung problemnya. Untuk pelangsingan tubuh biayanya sekitar Rp 5 juta. Terapi ozon Rp 300.000 – 1,5 juta. Sedangkan untuk perawatan kulit harga konsultasinya sekali datang sekitar Rp 300.000, sedangkan perawatannya minimal Rp 1 juta untuk yang sederhana, dan untuk problem kulit yang lebih complicated bisa Rp 15 juta.

Tapi harga agaknya bukan masalah benar, apalagi bagi masyarakat platinum. Mereka rela merogoh koceknya lebih dalam untuk mendapatkan kesempurnaan penampilan dan kecantikan ragawi secara instan. (Burhanuddin Abe/Dwi Wulandari dan Lily G. Nababan)

Platinum Society No. 07, 2004

No comments:

Post a Comment