Tuesday, October 23, 2007

Trendsetter in Fashion Industry


Senayan City, Jumat malam, pekan lalu. Para fashionista Jakarta tampak menyerbu gerai Massimo Dutti yang baru dibuka di plaza tersebut. Seru, karena gerai seluas 437,60 meter persegi itu buka hingga tengah malam hingga pukul 23.00 itu diikuti oleh para undangan VIP, public figure serta para relasi.

Bagi penggemar fashion, Massimo Dutti bukan merek asing. Produk yang berasal dari Spanyol ini sudah lama hadir di Singapura – yang pembelinya sebagian datang dari Indonesia. Merek ini kemudian dibawa ke Indonesia tidak lain oleh perusahaan ritel terkemuka saat ini, PT Mitra Adiperkasa (MAP), distributor dan pemegang franchise sejumlah merek internasional di Indonesia.

Ya, bisnis retail boleh melesu, tapi MAP agaknya tetap berjaya. Paling tidak, penjualan perusahaan publik ini pada kuartal pertama 2006 mencapai Rp 752 miliar atau naik 16 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 650 miliar.

Menurut Group Head of Investor Relation Mitra Adi Perkasa Tbk, Ratih D. Gianda, tingkat penjualan tertinggi diperoleh dari gerai-gerai khusus. Kontribusi terbesar omzet MAP diperoleh dari pengelolaan department store yang menyumbang 46,3 persen dari total pendapatan. Kontribusi terbesar kedua diperoleh dari pengelolaan usaha divisi specialty stores yang menyumbangkan penjualan sebesar 44,1 persen. “Kedua divisi itu merupakan penyumbang terbesar dari usaha kami,” ujarnya.

MAP tidak hanya dikenal di pasar modal, perusahaan ini juga identik dengan life style untuk kalangan menengah ke atas. Jaringan retailnya telah berekspansi hingga lebih dari 40 konsep bisnis, yang meliputi semua aspek, mulai dari sports ke fashion and lifestyle; dari department stores hingga ke trendy cafes.

Saat ini, MAP mengoperasikan lebih dari 500 toko dengan total area penjualan lebih dari 250.000 meter persegi di 22 kota besar di Indonesia. MAP merupakan perusahaan yang mengelola departemen store seperti Sogo, Debenhams dan JAVA, dan gerai-gerai khusus seperti Planets Sport, The Athlete’s Foot dan Mark & Spencer, sementara untuk gerai makanan minuman perusahaan ini mengelola gerai Starbucks Coffee Shop.

Selain sukses mengusung produk fesyen untuk kalangan atas melalui department store Debenhams, MAP juga mengambil mengusung tiga merek baru yang laris di Inggris kepada warga Jakarta. Ketiga produk fesyen yang dapat dilihat di pertokoan baru Senayan City, Jakarta itu adalah Topshop, Topman dan Miss Selfridge. “Sejak kita initial public offering November 2004 pertumbuhan usaha kami terus meningkat dengan pesat,” jelasnya.

Menurut Ratih, produk itu ditujukan untuk mereka yang ingin senantiasa memenuhi keinginannya memiliki koleksi busana, aksesori dan alas kaki yang inovatif. Di Inggris, ketiga merek itu di bawah payung perusahaan ritel Inggris Arcadia Group. Produk fesyen itu ditujukan untuk segmen pasar pria muda dan wanita muda usia 20-an tahun-30 tahunan. Selebritis dunia, seperti Madonna, Liz Jagger, Kelly Osbourne dan Claudia Schiffer disebut-sebut menjadi pelanggan produk tersebut.

Produk yang dikelola oleh perusahaan itu terdiri dari sepatu, pakaian, aksesoris, makanan, minuman hingga buku. Tidak ada perusahaan yang se-fashionable MAP, karena merek-merek fashion top ada dalam genggamannya. Sebutlah Calvin Klein, Energie, FCUK, Kipling, Lacoste, MEXX, Marks & Spencer, Miss Sixty, Morgan, NEXT, Nautica, Nine West, Liz Claiborne, Principles, Salvatore Ferragamo, Sole Effect, Women'Secret, dan ZARA.

Bukan sembarang merek, karena setiap langkah mengakusisi merek MAP selalu mempertimbangkan dari segala sisi. Keputusan mengambil Zara, misalnya, ternyata melalui serangkaian riset dan pertimbangan. Zara adalah merek fashion dari Spanyol, tapi namanya tidak asing di kalangan pecinta mode di Indonesia. Sebelumnya ia ada di Singapura dan Kuala Lumpur, yang pembelinya tak lain adalah orang-orang Indonesia. Maka, begitu masuk Jakarta (tepatnya di Plaza Indonesia dan Mal Pondok Indah 2) Agustus 2005, tak ayal, sambutan konsumen pun luar biasa. Tahun ini sudah mempunyai enam gerai, lima di Jakarta dan satu di Surabaya.

Zara, yang didirikan Amancia Ortega Gaona pada 1975, mampu meraih hati konsumen lantaran memiliki cara kerja yang berbeda dari kebanyakan merek lainnya. Majalah The Economist edisi 18 Juni 2005, menulis bahwa Zara bukannya menciptakan permintaan untuk tren baru pada musim semi atau musim dingin dengan membuat pergelaran busana, melainkan justru mempelajari permintaan para pelanggannya di seluruh jaringan tokonya dan memproduksi desain yang sesuai dengan kebutuhan tersebut dalam waktu yang relatif cepat.

Ada 200 desainer yang bekerja di pusat produksi Zara di Spanyol. Ke-200 orang ini kerap melakukan perjalanan keliling dunia untuk melihat perkembangan tren fashion di negara-negara lain. Upaya ini dilakukan agar bisa bergerak cepat dan lebih dulu menangkap perubahan pasar. Tak mengherankan, Zara menjadi trend setter bagi industri fashion.

Zara di bawah Inditex Group, yang juga membawahi delapan merek lainnya, serta mengelola hampir seratus perusahaan di berbagai negara di seluruh dunia. Selain Zara ada Massimo Dutti yang diceritakan di atas. Kedua merek itu mempunyai perbedaan yang cukup signifikan, jika Zara yang konsep bisnisnya sering disebut freshly baked clothes, maka Massimo tampil lebih klasik. Koleksi Massimo kebanyakan berwarna hitam, coklat, dan biru. Sedikit lebih mahal, tapi masih jauh di bawah Hugo Boss atau Armani, misalnya. “Kami sengaja mengambil segmen yang tidak terlalu tinggi, disesuaikan dengan konsumen Indonesia,” tutur Ratih.

Langkah-langkah MAP mengambil berbagai merek terkenal internasional ini merupakan bagian dari strategi perusahaan ini dalam mempertahankan positioningnya sebagai peritel kelas atas terdepan. “MAP selalu menjadi yang terdepan dalam bisnis retail kelas atas di Indonesia. Menciptakan standar-standar baru dalam industri ini dan menelurkan konsep retail secara revolusioner,” kata Ratih.

Rahasia suksesnya? “Our unwavering commitment to each brand, marketing acumen, and sheer professionalism!” katanya (Burhanuddin Abe).

Jakarta, Juni 2006

No comments:

Post a Comment