Monday, November 05, 2007

Jakarta Bakal Stagnan

Tidak ada jaminan kemacetan parah yang melanda jalanan di Jakarta akan mereda setelah pembangunan jalur bus transjakarta Koridor VIII, IX, dan X selesai. Transportasi massal itu hanya akan berfungsi untuk mempertahankan pengguna angkutan umum tidak berpindah ke kendaraan pribadi.

Menurut Direktur Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas, Sabtu (3 November 2007) di Jakarta Pusat, efektivitas pelayanan bus transjakarta masih rendah. Upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyediakan angkutan massal yang baik tidak mampu mengurangi jumlah pengguna kendaraan pribadi.

Berdasarkan penelitian Instran, sebagian besar penumpang bus transjakarta berasal dari penumpang angkutan umum lain: sebanyak 42,7 persen dari penumpang bus non-AC, 22,3 persen dari mikrolet atau angkutan kota, 14,2 persen dari bus patas AC, dan 2,7 persen dari taksi. Mereka yang berasal dari pengendara kendaraan pribadi sendiri hanya 13,3 persen. Pengendara mobil 5,8 persen dan pengendara sepeda motor 7,5 persen.

Berdasarkan data Badan Layanan Umum Transjakarta, bus transjakarta melayani pergerakan lalu lintas bagi 210.000 orang per hari. Padahal, setiap hari terdapat sekitar 7 juta orang yang melakukan pergerakan lalu lintas di Jakarta. Rendahnya daya tampung bus transjakarta membuat sekitar 3,08 juta orang tetap menggunakan kendaraan pribadi untuk pergerakan atau mobilitas mereka. Sementara itu, sekitar 3,92 juta orang menggunakan angkutan umum, termasuk bus transjakarta, untuk menunjang pergerakan pribadi warga. Darmaningtyas mengatakan, rendahnya efektivitas bus transjakarta disebabkan jumlah bus yang kurang, banyak persimpangan, dan penggunaan badan jalan secara bersamaan. Ketiga masalah itu membuat bus transjakarta tidak nyaman, tidak cepat, dan tidak menarik bagi pengguna mobil pribadi untuk pindah ke angkutan massal itu.

Pengamat transportasi dari Universitas Trisakti, F Trisbiantara, mengatakan, para calon penumpang tidak dapat mengandalkan jadwal kedatangan antarbus atau headway, yang semula direncanakan setiap 3,1 menit tetapi berubah menjadi setiap 20-30 menit. Ketidakpastian semacam itu membuat bus transjakarta tidak menjadi pilihan utama para pengguna jalan.

Menurut Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Nurachman, bus transjakarta di ketiga koridor itu diperkirakan baru beroperasi Maret 2008. Selain itu, inefisiensi bus transjakarta dalam mengurangi kemacetan juga terjadi karena minimnya angkutan pengumpan atau feeder dan tempat parkir bagi para pengendara kendaraan pribadi yang akan beralih angkutan. Karakteristik permukiman Jakarta dan sekitarnya yang jauh dari jalur bus transjakarta perlu dijembatani dengan angkutan yang menghubungkan dengan halte terdekat.

Kompas, 05 November 2007

No comments:

Post a Comment