Sunday, November 11, 2007

Saling Kerling Politik dan Mode


Ketika iklan Louis Vuitton dengan model mantan pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev muncul dua bulan lalu, mode dalam bentuknya sebagai anak kandung dunia konsumsi memasuki babak baru.

Kejutkan dunia dan Anda akan mendapat perhatian, begitu jalan pikiran para produsen. Apalagi yang dapat menarik perhatian selain tokoh yang dielu-elukan sebagai tokoh pembaharu negeri Tirai Besi itu?

Gorbachev kini berada pada posisi sama dengan aktris Scarlett Johansson, Uma Thurman, dan Catherine Deneuve, sama-sama menjadi model iklan produk barang kulit mewah tersebut. Bedanya, bila tiga aktris tersebut tampak nyaman dengan pose mereka, Gorbachev kelihatan kikuk duduk di dalam limusin yang melintas di sisa-sisa tembok Berlin. Tas Louis Vuitton di sisinya terbuka dan sebuah terbitan terletak di atasnya.

Pilihan pada tokoh politik yang wajah dan namanya dikenal di seluruh dunia itu membaurkan dunia konsumsi, dunia budaya pop, dengan dunia politik, wilayah yang masih dianggap sakral, setidaknya bila kita masih percaya politisi punya nurani untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat daripada diri dan kelompoknya.

Hubungan antara mode dan politik semakin cair ketika pekan lalu di internet muncul terjemahan judul di publikasi di atas tas Louis Vuitton Gorbachev: The Murder of Litvinenko: They Want to Give Up the Suspect for $$ 7.000.

Konteks kalimat itu adalah kematian Alexander Litvinenko, bekas mata-mata dinas rahasia Uni Soviet, KGB, yang meninggal November 2006 setelah diracun dengan isotop radioaktif polonium 210. Litvinenko menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin berada di belakang peracunan itu. Pejabat Inggris menuduh pelaku pembunuhan teman Litvinenko, Andrei Lugovoi, dan meminta Lugovoi diekstradisi ke Inggris, hal yang ditolak Rusia.

Menurut laporan International Herald Tribune (IHT, 6 November), Louis Vuitton dan biro iklannya, Ogilvy&Mather, membantah kesengajaan mengirim pesan selain ”perjalanan personal” yang menjadi inti iklan di mana Gorbachev menjadi model. Direktur pemasaran Louis Vuitton, Pietro Beccari, kepada IHT mengatakan, bila penggunaan bahan terbitan itu kesengajaan, penempatannya tidak akan terbalik dan dalam bahasa Cyrillic, serta perlu kaca pembesar untuk membacanya.

Chief executive Ogilvy untuk Eropa, Timur Tengah, dan Afrika, Daniel Sicouri, juga membantah adanya unsur politik. Asisten untuk Annie Leibovitz, fotografer iklan itu, membawa sejumlah majalah berbahasa Rusia untuk membuat hasil foto terlihat lebih otentik. Bila ada keterkaitan dengan kasus Litvinenko, itu ketidaksengajaan. Gorbachev dikabarkan juga tidak menyadari keadaan itu sampai dia diberitahu beberapa hari lalu.

Sarana protes
Keterkaitan mode dengan politik bukan baru. Mode sebagai gaya hidup tidak bisa melepaskan diri dari perubahan politik, ekonomi, dan sosial. Ketika di Barat gerakan persamaan hak antara perempuan dan laki-laki semakin kuat berembus pada awal abad ke-20, Coco Chanel menciptakan gaun longgar bergaris lurus sebagai perlawanan terhadap korset yang mengungkung tubuh perempuan hingga mengubah bentuk tulang rusuk mereka.

Mode juga memperlihatkan pertarungan antarkelas, tetapi sekaligus mencairkan sekat pembatasnya. Atau mungkin lebih tepat dikatakan industri mode mengambil mode dari jalanan, mencanggihkan desainnya, lalu memberi pencitraan sebagai gaya hidup yang menyenangkan. Perancang Inggris, Vivienne Westwood, berhasil menjadikan punk sebagai gaya yang diterima di dunia mode. Gaya berpakaian kelompok orang muda yang antikemapanan itu terus didaur ulang oleh banyak perancang sampai kini. Setelah itu, para perancang tidak enggan lagi mencari inspirasi dari kelompok-kelompok yang bukan arus utama.

Dalam pekan mode musim semi dan panas 2008 di Paris awal Oktober lalu, Vivienne Westwood (66) kembali menggunakan mode untuk menyatakan sikap politiknya. Dia memprotes rencana Perdana Menteri Inggris Gordon Brown memperpanjang masa penahanan tersangka pelaku terorisme tanpa pengadilan menjadi 56 hari, dua kali waktu saat ini. Westwood menyebut koleksinya 56, beberapa model membungkus diri mereka dengan kain bertuliskan angka itu. Westwood menyebut Brown sebagai tiran dan harus turun dari jabatannya. ”56 hari tidak akan melindungi kami dari terorisme. Kami butuh perlindungan dari para tiran, kami butuh orang-orang yang menjalankan hukum,” cetus Westwood seperti dikutip kantor berita Reuters.

Ikon
Bukan hanya Gorbachev yang menjadi selebriti mode, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy juga dinobatkan sebagai pria berpakaian terbaik bersama pemain bola David Beckham oleh majalah Vanity Fair. Direktur mode dan gaya majalah itu, Michael Roberts, memberi alasan, cara seseorang menampilkan dirinya semakin penting karena orang akan menghubungkan kemampuan seorang politisi menampilkan dirinya secara padu dengan kemampuan berpikir padu.

Menurut Laure Fontaine dari grup riset periklanan TNS Media Intelligence seperti dikutip Reuters, politisi dan selebriti yang memiliki minat politik dapat menarik perhatian konsumen karena masyarakat semakin sadar pada isu politik dan lingkungan. Nilai-nilai yang semakin kuat di masyarakat adalah solidaritas, kemanusiaan, dan yang kurang berhubungan dengan provokatif.

Seperti kata Prof Benjamin Barber dalam bukunya Consume (2007), ekonomi global yang telah kelebihan produksi harus terus menciptakan kebutuhan/konsumen untuk membeli produk mereka. Caranya dengan memasarkan kepada anak-anak dan membuat orang dewasa (negara kaya) tetap menjadi anak-anak. Mungkin itu sebabnya bila semakin terasa mengapa sekat antara dunia politik dan dunia konsumsi dicairkan: agar orang tak lagi sungkan berbelanja barang yang sangat duniawi, bahkan ketika barang di dalam lemari sudah menumpuk. (Ninuk Mardiana Pambudy)

Kompas, 11 November 2007

No comments:

Post a Comment