Saturday, December 29, 2007

Resolusi



Kalender lama telah kita tanggalkan, dan kita menggantung kalender yang baru. Tanpa kita sadar, tahun tahu-tahu berganti. Selalu begitu setiap tahunnya. Masih ingat apa yang terjadi menjelang Tahun Baru 2007 kemarin? Mungkin ada yang merayakannya di hotel-hotel atau tempat-tempat keramaian? Atau mungkin menyepi dengan mendaki gunung dengan klub pecinta alam?

Anyway, apa pun yang kita lakukan waktu itu, boleh jadi kita menaruh harapan dan berdoa. Beberapa bangsa di berbagai negara ada yang mempunyai tradisi make a wish menjelang saat-saat istimewa seperti Tahun Baru. Mengajukan permohonan dan berharap apa yang diinginkan bisa tercapai. Orang-orang menyebutnya sebagai resolusi, membuat daftar pertanyaan apa yang akan kita lakukan, kemudian menjawab dengan membuat komitmen standar atau sekadar basa-basi.

Begitulah, setiap awal tahun kita sering membuat komitmen personal, tapi kemudian tidak bisa bertanggung jawab atasnya. Sudah berjanji akan bekerja lebih keras, tapi penyakit malas lebih kuat menyerangnya. Berencana liburan ke Bali besama keluarga, eh waktu dan keuangan ternyata tidak mencukupi. Seperti lirik lagu dangdut, ”Kau yang berjanji, kau yang mengingkari.”

”Kalau kita tidak bisa menepati, untuk apa kita membuat resolusi?” ujar seorang teman.

Memang ada benarnya pendapat tersebut. Apalagi, dalam kondisi yang serba ruwet dan unpredictable seperti sekarang ini tidak mudah melihat ”masa depan”. Jangankan orang awam, ahli ekonomi saja tidak muda memprediksi pertumbuhan ekonomi dan iklim usaha tahun ini. Atau yang sederhana, kita sudah berencana naik transportasi TransJakarta saja melihat kemacetan Ibu Kota yang semakin menjadi-jadi, tapi nyatanya busway bukan hanya belum siap, tapi tidak senyaman yang kita bayangkan.

Tapi seorang teman yang lain mengingatkan, menyalahkan kondisi di luar diri adalah sikap yang kurang bijaksana. Begitu orang berjanji akan melakukan ini itu sesuai dengan resolusi pribadinya, maka aura positif tidak hanya mengalir ke dirinya, tapi bisa menyebar ke lingkungan sekitarnya. Ditambah dengan sikap ”Apa pun yang terjadi, saya akan....” bisa dipastikan keberhasilan akan berpihak kepadanya. ”Positif thinking!” tandas pelawak Tukul Arwana.

Resolusi itu memang banyak macamnya, ada resolusi politik, resolusi hukum, resolusi budaya, resolusi kesenian dan lain-lain, asal jangan resolusi optik atau resolusi gambar saja. Tapi yang dimaksud di sini adalah resolusi pribadi.

Tekad JF Kennedy untuk menjadikan Amerika Serikat sebagai negara pertama yang berhasil mendarat di bulan adalah resolusi personal. Namun, kendati resolusi personal, melalui aura positifnya, keinginan JFK tersebut menjadi resolusi institusi, resolusi pemerintah AS, yang berhasil mereka wujudkan.

Tentu, tidak semua keinginan bisa terpenuhi dengan mulus. Keberhasilan adalah sekumpulan dari berbagai pencapaian. ”Kristalisasi keringat,” uja Tukul lagi, host paling ngetop tahun 2007. Saat membuat resolusi, tentu juga harus memperhitungkan kendala atau hambatan yang bakal kita temui. Ada poin-poin yang menjadi penghambat. Tapi setidaknya kita sudah memikirkan solusi untuk mengatasinya.

Jadi, sudahkan Anda membuat resolusi? Apa pun, kita berharap bahwa tahun 2008 yang telah kita mulai ini akan berlangsung lebih baik dibandingkan dengan tahun 2007. Selamat Tahun Baru! (Burhanuddin Abe)

Rakyat Belum Sejahtera


Tahun 2007 yang akan berakhir tiga hari lagi, dan tahun baru 2008 yang akan datang, menyisakan sejumlah keprihatinan dan harapan terhadap kondisi bangsa. Kompas mengumpulkan pendapat sejumlah tokoh masyarakat yang ditemui secara terpisah.

Satu hal yang paling mengemuka dari catatan mereka adalah perlunya mengembalikan kebijakan politik pada hakikatnya, yaitu mewujudkan kesejahteraan rakyat. Pengamat ekonomi Faisal Basri mencatat perlunya pemerintah untuk membenahi kebijakan-kebijakan ekonomi dalam negeri pada tahun-tahun mendatang agar ketimpangan ekonomi yang terjadi selama tahun 2007 tidak terulang lagi. Menurut Faisal, kebijakan Pemerintah Indonesia masih belum dapat mengurangi tingkat kemiskinan yang mendera penduduk Indonesia. "Selama tahun 2007 ketimpangan ekonomi meningkat dari 0,34 persen menjadi 0,37 persen," kata Faisal Basri pada forum diskusi Catatan Kritis Akhir Tahun di Jakarta (27/12).

Sementara itu, pertumbuhan orang kaya di Indonesia per tahun mencapai 16 persen. Ketimpangan ini menunjukkan melebarnya jurang kemiskinan di Indonesia. Pembenahan kebijakan, menurut Faisal, dapat dilakukan dengan membuat kebijakan yang berpihak kepada rakyat.

Pertumbuhan ekonomi di Indonesia secara makro terlihat meningkat. Indikatornya adalah peningkatan pertumbuhan ekonomi hingga 106,5, pertambahan devisa negara hingga 54 miliar dollar AS. Namun, kata Faisal, peningkatan ini hanya "menipu" pandangan."Pertumbuhan ekonomi meningkat hanya pada sektor yang banyak dinikmati kelas menengah ke atas, sedangkan sektor yang menguasai hajat hidup orang banyak cenderung menurun. Peningkatan devisa negara dikarenakan masuknya investasi asing ke Indonesia hingga 70 persen," tuturnya.

Pada kesempatan berbeda, Sekretaris Institute for Democracy and Peace SETARA Benny Soesetyo mencatat, makna politik di Indonesia telah mengalami perubahan. Politik, yang berasal dari kata polis ’kota’, yang seharusnya merupakan strategi untuk mengatur kota agar lebih sejahtera justru digunakan untuk mengamankan diri dan mencari keuntungan. "Esensi politik telah berubah, bukan lagi untuk mencari kesejahteraan bagi masyarakat, tetapi untuk individu dan kelompok," tutur Benny di Jakarta.

Wakil Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Weinata Sairin mengungkapkan pendapat serupa. Kebijakan ekonomi pemerintah, kata Weinata, harus berpihak kepada rakyat dan didukung perangkat peraturan perundang-undangan yang dijalankan dengan konsisten. "Secara sadar, kita harus membebaskan diri dari roh kapitalisme dalam berbagai bentuk," ungkapnya.

Masalah kesejahteraan rakyat juga menjadi keprihatinan mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Ma’arif. Saat ini, kata Ma’arif, belum ada perubahan fundamental dari pemerintah dalam menyejahterakan rakyat. Menurut Syafii, para penentu kebijakan harus kembali mendengarkan hati nurani dan tidak menyibukkan diri dengan urusan mereka sendiri-sendiri.

"Muncul perdebatan tentang angka kemiskinan, tetapi orang tidak berpikir bagaimana kemiskinan itu bisa diselesaikan dengan program yang konkret, bijaksana, dan dengan keberpihakan yang jelas," kata Syafii. Menurut Syafii, kita harus jujur terhadap situasi bangsa ini. "Jangan saling menuduh dan menyalahkan, tapi bertindak sebaik-baiknya untuk mengatasi krisis bangsa," ujarnya.

27 Desember 2007

Putu Wijaya: Wajah Kita


Kebangkitan Nasional membangunkan kita yang semula tidur di telapak kaki penjajah. Dengan persatuan, perbedaan dilebur menjadi satu. Para pemimpin bangsa mengikrarkan Sumpah Pemuda: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, yang mengobarkan revolusi dan berakhir dengan Proklamasi Kemerdekaan 1945.

Tetapi, di masa kemerdekaan, ide peleburan dalam persatuan terasa mulai mengganggu kebebasan. Tak ada orang yang sudi melebur identitas lokalnya setelah musuh bersama tak ada lagi. Maka, Bhinneka Tunggal Eka dibaca sebagai Bhinneka Tunggal Ika. Bukan persatuan yang meluluhkan perbedaan yang diperlukan, tetapi kesatuan dari perbedaan yang justru akan dilestarikan. Dengan kesatuan, kita merayakan keberagaman dan menjadi negeri ajaib dengan 9.000 pulau, berjenis-jenis etnis, 728 bahasa daerah, berbagai agama, adat istiadat dan latar belakang budaya, dalam satu rumah yang kita sebut Indonesia dengan dasar negara Pancasila.

Ketika kebebasan dinobatkan sebagai citra utama kemerdekaan dalam masa Reformasi, kesatuan pun terasa mulai tidak nyaman lagi karena masih dihantui oleh bayang-bayang persatuan. Dosa para pemimpin yang lebih memikirkan kesejahteraan diri dan golongannya menyebabkan rakyat mempertanyakan apakah mereka benar-benar sudah merdeka. Semua orang ternyata ingin kembali merdeka dalam kemerdekaan. Maka, perjalanan Kebangkitan Kebangsaan pun berbelok tajam, menjadi Kebangkitan Kepentingan Daerah dan Golongan yang dengan mudah bisa saja dipelesetkan sebagai disintegrasi.

Pendidikan sebagai tiang agung pembangunan negara dan bangsa pun berbelok dengan tajam. Manusia tidak lagi dididik budi pekertinya, tetapi hanya dikarbit untuk cerdas agar mampu bersaing dalam dunia global, memburu sukses dan menjadi nomor satu. Kalah adalah aib, semua orang dipacu agar menang. Akibatnya, banyak yang tak peduli lagi mencapai keberhasilan dengan cara apa pun. Kalau perlu dengan cara menerkam saudara-saudaranya sendiri, seperti serigala-serigala yang sudah diceritakan Thomas Hobbes. Korupsi dan berbagai tipu daya pun berubah wajah menjadi kiat-kiat dagang dan strategi sukses, karena hukum hanya dibicarakan, tetapi tidak dilaksanakan.

Dalam chaos perlombaan itu tak seorang pun sudi diingatkan lagi, betapa pentingnya menumbuhkan kematangan jiwa, memelihara keteguhan moral, memupuk keluhuran budi pekerti, apalagi mempertahankan kepribadian bangsa. Berkorban untuk kepentingan bersama hare gene sudah menjadi kebodohan. Semua orang sudah telanjur dibelajarkan untuk merasa dirinya belum mendapatkan keadilan dan diperlakukan secara benar. Tak heran apabila setiap orang berusaha untuk "berdagang", menyelamatkan kepentingan pribadinya habis-habisan, bahkan bisa buas. Tak terkecuali saya.

Ukuran yang dipakai di dalam menakar segala sesuatu sekarang adalah angka-angka dan keuntungan. Kalau lebih besar, lebih banyak, lebih tinggi, lebih efektif, lebih efisien, lebih menguntungkan, dianggap lebih baik. Satuan nilai, seperti pengorbanan keikhlasan, yang dulu dimuliakan untuk membina persaudaraan, kebersamaan, kenyamanan, ketenangan, kebahagiaan, ketenteraman, kecukupan, perdamaian, dan sebagainya sudah bergeser. Terjadilah perubahan yang luar biasa di dalam diri setiap orang. Maka, seluruh arti dan tujuan hidup menjadi sangat berbeda. Itulah wajah kita di pengujung 2007 ini.

Kompas, 29 Desember 2007

Tuesday, December 18, 2007

Mix medical, leisure in Malaysia


Blessed with idyllic islands, golden beaches, verdant rain forests and friendly people, Malaysia is a fascinating holiday destination. However, Malaysian tourism does not stop there as it promotes its attractions, ranging from eco-tourism, themed tourism and health-related tourism.

Yes, health-related tourism is packaged under the theme of "health and leisure" and includes wide-ranging activities from how to enjoy treatments and therapies at a spa to medical services. In the past few years, Malaysia has indeed grown as a health care hub. With sophisticated health facilities and qualified personnel, Malaysia has positioned itself as a place where tourists from all over the world can get medical treatment while sightseeing in the country.

In general, Malaysia has three destination areas, namely Peninsular Malaysia and Sabah and Sarawak in Borneo. The capital, Kuala Lumpur, is one of Asia's most dynamic cities. With a population of some 25 million, consisting of Malays, Chinese, Indians and others, Malaysia is a melting pot of various cultures.

International hospitals are found in various cities and districts in Malaysia: Kuala Lumpur, Slangor, Johor, Kedah, Malacca, Negeri Sembilan, Penang, Perak, Sabah and Sarawak. According to the Association of Private Hospitals of Malaysia (APHM), there are no fewer than 40 hospitals.

As there is a wide choice of hospitals, tourists not only can choose a hospital that suits their needs but can also enjoy a tour during their recovery period. Or may opt for a checkup or minor surgery while vacationing in this country.

With health care costs in Malaysia being one of the most inexpensive in the region, patients can undergo treatment, recuperate and enjoy a holiday in Malaysia for much less than it would cost them for treatment alone in another country. For example, standard bypass surgery in Malaysia costs between US$6,500 and $9,000, including a two to three-day stay in the intensive care unit, up to seven days on a ward and consultation, cardiologist and anesthetic fees. "Why pay double the price at home for surgery when you can have this level of service in a beautiful country?" said Leanne, 43, from Australia, who had a facelift.

Malaysia offers a wide choice of state-of-the-art private medical centers boasting an impressive array of sophisticated diagnostic, therapeutic and in-patient facilities. These establishments are well-equipped and staffed to ensure the highest level of professionalism, safety and care. Patients can be assured of quality services in promoting health, preventing disease and full treatment and rehabilitation for all patients and their families through the use of advanced medical technology.

Indeed, lower costs does not mean low quality or services. Hospitals in Malaysia serve their patients with qualified staff, in terms of both medical and administrative personnel. Their specialized doctors are graduates of noted medical schools in the UK, Australia and the U.S. The medical personnel are not only highly educated but are also experienced in medical practices. Most importantly, the medical staff strive to provide a caring and friendly environment, which is vital to a patient's recovery and well-being.

Meanwhile, hospitals in Malaysia have acknowledgment and official licenses from the health ministry. Internationally, they are generally accredited by bona fide institutions, such as MS ISO 9002 certification and Malaysia Standard Quality of health (MSQH), the standard level of which is the same as that of the Australian Healthcare Standard. This accreditation guarantees that hospitals in Malaysia have professional medical services and reliability.

Malaysia has become a top choice for medical treatment and vacations, especially because it offers highly varied services, ranging from medical checkups to treatment of acute illnesses.

Communication in Malaysia is easy as medical staff is generally fluent in English. Patients from Indonesia can even communicate in Indonesian, which is similar to the language used in Malaysia. Special counters for Indonesian patients can be found at most Malaysian hospitals, plus a number of hospitals have representative offices in Jakarta. KPJ Healthcare Berhad in Selangor, for example, has a representative office in Indonesia and collaborates with Medika Permata Hijau Hospital in Jakarta. This hospital is a top hospital in Malaysia and is part of the KPJ Healthcare Group of Hospitals. With over 25 years of experience, KPJ boasts of experience in serving patients at it various clinics and of its specialized doctors. This hospital not only provides medical consultations but also, like a travel agent, attends to tourism matters, ranging from tickets, visas and hotels to taking care of optional local sightseeing tours.

Penang Adventist Hospital is another Malaysian hospital popular in Indonesia, particularly in Medan, which is only an hour's flight away. Set up in 1924, this hospital is one of over 400 Seventh Day Adventist hospitals and health centers the world over.

This hospital boasts complete facilities with no fewer than 35 specialized clinics, ranging from a general practitioner's clinic to clinics for cardiology, psychiatry and cosmetic surgery and reconstruction. Penang Adventist Hospital is also noted as a center for cardiac care with its programs for heart examination, catheterization, the placement of balloon and stents, bypass cardiac surgery, etc.

It is noteworthy that patients are always informed of the cost of medical treatment before it is performed. Hospitals in Malaysia are generally transparent, especially for checkups, which may be offered in packages like "Basic Health Screening", "Women's Package", "Men's Package" or "Health Vacation Package."

Some of the health packages combine health and tourism services. The "Health Vacation Package", for example, is just like an entertainment package. It costs $386 (single room/four-star hotel) and covers three nights of accommodation, breakfast for three days (for one person), a complimentary buffet dinner, airport-hotel transfer and an Executive Screening Program Consultant Package at a local hospital. With a host of beautiful sights in the country, Malaysia offers a winning combination of health and leisure services. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, December 19, 2007

Listing of Malaysia hospitals


Kuala Lumpur

Sentosa medical Centre Sdn Bhd
No. 36 Jalan Chemur, Damai Complex, 50400 Kuala Lumpur. Tel: 603-4043 7166 Fax: 603-4043 7761 Website: www.sentosa.com.my

Pantai Medical
No.8, Jalan Bukit Pantai, 59100 Kuala Lumpur. Tel: 603-2296 0888 Fax: 603-2284 9446 Website: www.pantai.com.my

Gleneagles Intan Medical Centre
No.282-286, Jalan Ampang, 50450 Kuala Lumpur. Tel: 603-4255 2888/2752/2887 Fax: 603-4257 9233 Website: www.gimc.com.my

Selangor

Tun Hussein Onn National (Eye Hospital)
P.O.BOX 514, Jalan Sultan, P.O.46760 Petaling Jaya, Selangor. (No.2, Lorong Utama B, 46200 PJ) Tel: 603-7956 1511 Fax: 603-7957 6128 Website: www.get.to/thoneh

Subang Jaya medical Centre
No.1, Jalan SS12/1A, 47500 Subang Jaya, Selangor. Tel: 603-5634 1212 Fax: 603-5633 5910 Website: www.simenet.com/sjmc

Selangor Medical Centre
Lot 1, Jalan Singa 20/1, Section 20, 40300 Shah Alam, Selangor. Tel: 603-5543 1111 / 5540 3301 Fax: 603-5543 1722 / 5543 2222

Sunway Medical Centre
No.5, Jalan Lagoon Selatan, Bandar Sunway, 46150 Petaling Jaya, Selangor. Tel: 603-7491 9191 Fax: 603-7491 8181 Website: www.sunway.com.my

Johor

Johor Specialist Hospital
No.39-B, Jalan Abdul Samad, 80100 Johor Bahru, Johor. Tel: 607-223 7811 Fax: 607-224 8213 Website: www.jsh.kpj.com.my

Malacca


Hospital Pantai Ayer Keroh
No.2418-1,KM8, Lebuh Ayer Keroh, 75450 Melaka. Tel: 606-231 9999 Fax: 606-231 3299 Website: www.pantai.com.my

Mahkota Medical centre
No.3, Mahkota Melaka, Jalan Merdeka, 75000 Melaka. Tel: 606-281 3333/284 8222 Fax: 606-281 0560 Website: www.mahkotamedical.com.my

Negeri Sembilan

Columbia Asia Medical Centre
No.292, Jalan Haruan 2, Oakland Commercial Park, 70300 Seremban, Negeri Sembilan. Tel: 606-601 1988 Fax.No : 606-601 1848 Website: www.columbiaasia.com

NCI Cancer Hospital
PT 13717, Jalan BBN 2/1, 71800 Nilai, Negeri Sembilan Tel: 606-850 0999 Fax: 606-850 0733 Website: www.nci.com.my

Penang

Mount Miriam Hospital
No.23, Jalan Bulan, Fettes Park, Tanjong Bunga, 11200 Pulau Pinang. Tel: 604-890 7044 Fax: 604-890 1583

Gleneagles Medical Centre
No.1, Jalan Pangkor, 10050 Pulau Pinang. Tel: 604-227 6111 Fax: 604-226 2994 Website: www.gleneagles-penang.com

Island Hospital
No.308, Macalister Road, 10450 Pulau Pinang. Tel.No : 604-228 8222 Fax.No : 604-226 7989 Website: www.islandhospital.com

The Jakarta Post, December 19, 2007

From the thinnest to the touch screen


The mobile phone may be the hottest selling commodity this century. In Indonesia, the mobile phone business has enjoyed rapid growth. Subscribers of fixed wireless access and cell phones have significantly increased in number, registering a growth of some 30 percent a year, while the operators are enjoying great fortune from this huge business.

In fact, besides operators, producers of cell phones also reap a huge profit from this very promising sector. The problem now is the inevitable competition. Only producers that make creative and innovative products will be successful. Further observation will show that successful producers, which are those among the big five, generally have their own product uniqueness and strengths. They keep abreast of technological developments, particularly in the hi-end class, which has 3.5G ready phones.

Sony Ericsson, for example, is consistent in style, particularly in its music-based products. Once noted for its walkman, Sony now has a music feature in its cell phones. One of these new products is the Sony Ericsson Walkman W380i, which will enter the market in the first quarter of 2008. This cell phone, designed for active music buffs, offers a combination of a unique folded design and a trendy music function. W380i also has Media Manager PC software, which makes it easy to transfer music, photographs and videos from a computer to the cell phone.

It is not enough for a cell phone to be categorized as a smart phone. Attractive design is a necessity. LG, for example, has launched the LG KE 850 Prada, following the production of its Chocolate series, which are phones with class. LG KE850 Prada is a smart phone with an attractive design and is the result of cooperation between LG and renowned Italian fashion house Prada. This slim handset with a touch screen has polyphonic ringtones and MP3 features. It has a 2 megapixel camera, a video, an FM radio, a voice recorder, a game viewer and other functions generally found in a cell phone.

Then there is the slim Motorola RAZR series, which may be said to be the most consistent since 2004. Although it has yet to take over Nokia's position as the top-selling cell phone globally, Motorola sells about two million of its RAZR series cell phones a day.

Motorola's success is attributable to its thin design, which was pioneered by Nokia, which has failed to make the most of this feature. Motorola strongly clings to its motto of "Don't change the winning team". It has adopted the very slim design for a long time, particularly with its RAZR V3, V3x, V3xx, which are only 14 mm thick.

Although it is not part of the RAZR family, Motorola's latest product, MOTO Q9h, which is only 11.8 mm thick, was released in Singapore, Malaysia and Indonesia early last month. This cell phone, called a life tool for Web 2.0 generation, is designed in such a way that it packs fun, functionality and high-speed connectivity in a svelte and sleek body. With the Q9h, users can remain in touch with friends and family anytime, anywhere through instant massaging (IM), e-mails, blogs or even Facebook, all the while enjoying their favorite music, photos and videos.

Within its lean form lies High-Speed Downlink Packet Access (HSDPA) technology for lightning-fast speed and quick downloads. "Too much of life happens online to leave it at home, so Motorola has created the MOTO Q9h precisely to let you take your virtual life with you wherever you go," said Mark Shockley, corporate vice president and general manager of Mobile Devices East Asia.

Of course Motorola is not alone in this business. Samsung has also invaded the market with its smart phone, the X820. This cell phone has a 2 megapixel camera and is only 6.9 mm thick, making it the thinnest cell phone in the world. This year, Samsung of Korea is again selling the Ultra II, another thin cell phone with 3.5G technology, as well as Samsung U700 (slide) and PDA i600.

It is becoming more and more interesting to observe how cell phone producers compete with each other in producing the thinnest cell phone. Market leader Nokia also has products in this particular market, namely the Nokia 6500 Classic series, which are only 9.5 mm thick. The next generations are Nokia 6300 and 6500.

Nokia has products in various categories. It has popularized cell phones with a global positioning system (GPS). The official release of the Nokia N82, for example, is highly anticipated. N82 has attracted as much attention as its predecessors in the N series, for example N95 and N1. This candy bar cell phone is complete as it has virtually all the features that today's cell phone can have. The N82 has a 5 megapixel camera with Carl Zeiss optic lenses, an auto focus and an Xenon flash light. This cell phone also has a strong Internet connection through a 3G network, HSDPA or Wi-Fi. And of course, the phone can also serve as a GPS instrument and has a digital map.

What makes the N82 all the more attractive is the fact that it has an accelerometer, just like an iPhone, to support automatic display rotation so that the screen can adjust the orientation of use automatically, with respect to either portrait or landscape.

However, the best device with a touch screen has to be the iPhone. This new generation Apple device has attracted attention and in just two months after its launch, one million units have been sold in the U.S. It has been named Gadget of the Year for 2007.

The iPhone has no buttons at all. All the navigation in the iPhone is based on touch-screen technology, which has been patented as multi-touch. Steve Jobbs of Apple claims this technology is superior to any touch screen on the market as it can ignore accidental touches. The success of this gadget has shown that it was not futile for Apple to acquire Fingerworks, which invented touch screen technology, in 2005.

This product will enter the Indonesian market in 2008 and has been designed to synchronize photos, music and video automatically through an online service of iTunes Music Store. The iPhone also provides synchronization of e-mails, web content and various digital content found in a computer. Besides being able to work on the four bands of the GSM network, the iPhone also has Bluetooth and Wi-Fi and a GPS receiver. The touch of a touch screen is indeed amazing. Has it also touched your heart? (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, December 19, 2007

Between technology and symbol of modern life


The drizzling rain not only made the streets wet but also caused traffic jams throughout the city. After meeting with a client, Agus Sutrisno, the owner of a graphic design company, decided to drop by at the nearest cafe rather than continue on to his office. His workplace was not that far away, but traffic congestion meant that it would take him almost two hours to reach.

His laptop was on. Suddenly a message flashed in through the instant messenger. The sender was his partner who had an office in Kuala Lumpur. The message informed him that a major company in Malaysia required his services in graphic design for their company profile, brochures, leaflets, etc. A proposal and quotation, the message said, had to be submitted within two days. "This is urgent. I have to respond quickly or I could miss this opportunity," he mused.

Agus immediately contacted his executives via cell phone, messages via BlackBerry and chatting. One executive confirmed that he would lead the creative team in the sales pitch and would determine the estimated cost. Iwan, who is also a senior designer, also started to immediately prepare a dummy for the project while putting together a number of relevant portfolio samples.

Traffic jams no longer daunt Iwan. By using the Internet, BlackBerry and mobile phone, he can address almost every work-related issue. Time and distance are no longer challenges. Yes, laptops and other mobile devices, such as cell phones and PDAs, are not simply requirements of modern life, but are inseparable parts of urban life. It is like having the world at your fingertips.

Mobility among people is supported by new products that are becoming increasingly sophisticated. The iPhone, for example, will be introduced to the Indonesia market early next year. This is the first mobile phone to run iTunes, with one million units sold in the first two months after its launch in the U.S. The new cell phone has a 3.1-inch touch screen and can send email, surf the Net and store and play music, photos and videos.

The smart cell phone is a PDA HSPD (High Speed Downlink Package Access), namely 3.5 G developed from 3 G GSM, which has high-speed Internet Explorer access, send and receive e-mail from accounts like Hotmail and Yahoo, chat via Messenger and send photos through Window Live.

With the world at people's fingertips through such sophisticated devices, it is no surprise that laptops are such a common sight in public places, such as in cafes. Wireless access provided by some cafes, malls and hotels make mobile work so easy for people with laptops and PDAs. With laptops and PDAs becoming more common, blogging is becoming more common, too, with people being able to communicate anytime, anywhere through wireless connection and 3G telecommunication.

Vendors are working fast to meet the demands of wireless workers and bloggers. Laptops and notebooks are in great demand because of their many benefits, such as the ability to operate without a direct electric connection, lower electricity consumption than desktop computers, features that are equal to or better than desktop computers as well as the prestige it affords a person when carrying a laptop.

Today, if you browse through newspaper ads you will find a great range of laptops on offer, from highly sophisticated expensive ones to simpler ones selling for just Rp 5 million. Every laptop manufacturer advertises, from world renowned brands such as HP, Toshiba, Acer, IBM (Lenovo) and Acer to newcomers like ECS, A Note and Benq.

For those who love to tinker with computer programs or make complicated graphic designs then top-notch processors such as Core 2 or AMD Turion are good choices. However, for simple jobs, like typing, Powerpoint presentations, Excel tables, browsing the Internet or working on Photoshop, the Intel Celeron or AMD Sempron are sufficient. Most are equipped with Wi-Fi access. Whatever type of laptop, specifications and features, what is clear is that a laptop is very much apart of life these days.

The digital lifestyle is a worldwide trend. In Britain, for example, as reported by Ofcom -- which analyzes communications trends -- television, radio and even DVDs have become items of yesterday to be replaced by technology that is more modern. It is also reported that women in a number of age brackets dominate the use of the Internet as well as the older segment of both male and female. Ofcom said in its report that children tend to use the Internet and mobile phones more than in the past, while video games are gradually being left behind. "On the whole, people are using communication services more than they were five years ago," said James Thickett, Ofcom's director of market research.

The report provides a detailed breakdown on how people in Britain use old and new media and how fond they are of using smaller, high-tech electronics. On average, people are spending 50 hours per week on a cell phone, the Internet, watching TV and listening to the radio. However, the amount of time spent watching TV or listening to the radio has drastically decreased in the past few years.

The situation is no different in Indonesia. In 2007, laptops became a favorite among youth. With hotspots available in many locations, including on campuses and in other public places, laptops have become an essential part of the young generation's daily life. Laptops have gradually become an inseparable part of urban life. According to data compiled by detikinet, the total market for PCs in Indonesia is estimated to reach two million by 2009, with 20 percent being laptops.

Students find laptops helpful in their studies. Taking a laptop to university saves time as one does not have to go to an Internet kiosk or rent a computer just to type the required work. Some feel more confident with a laptop as they feel they will not be left behind with the latest information or entertainment. A laptop in fact can provide entertainment anytime.

Nowadays, not only students use laptops, but also executives, writers, researchers, lecturers as well as those involved in graphic design or multimedia work. Obviously, a laptop is not merely a sophisticated piece of equipment but is also a symbol of modern life. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, December 11, 2007

One child, one laptop program


With more low priced laptops on the market, the digital divide in the country is set to become narrower. About five years ago Michael Dell, the owner of Dell Computers, did not believe in a proposition put forward by Nicholas Negroponte from Media Lab Massachusetts Institute of Technology (MIT) on low cost laptops for developing countries, or the One Child-One Laptop program.

However, today, Negroponte's 20-year-old dream is being realized. After lots of research, traveling to a number of countries to source low-cost LCD technology, affordable processors and cooperating with online encyclopedia Wikipedia, Taiwanese manufacturer Quanta is producing a laptop at an extremely low price, US$150 each.

In September, the laptop, marketed as Easy to Learn, Easy to Play, Easy to Work (Eee PC), was officially launched by Asustek Computer. Each laptop, which weighs less than one kilogram, carries a price tag of $250 (Rp 2.4 million). Just compare the price with that of other laptops available on the market. "Within two weeks after the launch in the United States, more than 10,000 Eee PCs were sold," said Sunny Han, director of Asus Global Brand Center.

Walter Bender, group president of software and content at Massachusetts Institute of Technology, said the laptop uses Linux operation mode and is equipped with a digital camera as well as a wireless system. It also has an electronic notebook and a program for composing music.

For its initial launch, Asus introduced just one type of Eee PC, the Asus 4G or Asus 701 in solid white. At seven inches, the laptop's screen is about the length of an adult's hand. Although it is of minimalist design it has maximum features. It can operate like most other laptops, including for office work and Internet access. It will be on the Indonesian market in January. Indeed Eee PC will create a new segment in the laptop market. One analyst has predicted that within three years it will control 20 percent of the international market.

However, many market analysts doubt that it will cut into the market shares of established brands. In Indonesia, for example, the low priced Intel Celeron, which has a processor, does not enjoy robust sales compared to the Intel Centrino, which also has a processor, or the Centrino Duo, both of which are more expensive.

Still, the Eee PC has a different marketing approach, which is not entirely commercial but aimed at assisting developing countries in the One Laptop-Per Child (OLPC) program. A number of developing countries, such as Argentina, Brazil, Pakistan, Nigeria, Libya and Thailand, have committed to purchasing Eee PCs. At present the factory is in full speed to produce 44,000 Eee PCs per week. "So far we have received orders for 300,000 units," said Negroponte.

During the first days of its launch one unit was sold every six seconds. The success story of Eee PC has spurred other manufacturers, for example Intel, to plan production of low-cost laptops, which they say are more for charity. One such laptop, the Classmate, will be released for $150. Just as its name suggests, it is designed for students. Local sales will made through the government, which will receive 100 units before the end of this year.

Craig Barrett, chairman of Intel, stated that the intention of the company is to target developing countries. According to Intel, in the next 10 years the market in developing countries for low-cost laptops will reach between 500 and 700 million units. So, it will be a huge market, although Intel will make only a few dollars per unit.

The war drums in this segment are now becoming louder. Over the past few months Negroponte has openly criticized Intel. He has accused Intel of trying to block the OLPC program, pointing out that OLPC is a non-profit program. Negroponte claims Intel is upset that OLPC laptops use CPUs from AMD, which is Intel's competitor. However, the competition will no doubt result in lower prices, and if Intel Classmate can be sold for less than $150, then Negroponte's goal will be achieved, that is, a laptop that is affordable for every student. (Reyhan Fabiano)

The Jakarta Post, December 11, 2007

Thursday, December 06, 2007

24 Jam DJ Milinka




Pesta besar di penghujung tahun 2007 tampaknya punya kesan tersendiri bagi partygoers Jakarta. Acara bertajuk "24 Milinka" berlangsung di K7 Hotel & Executive Club Jakarta telah berlangsung Sabtu (17 November) pukul 16.00 dan berakhir pada hari berikutnya Minggu (18 November)

Tidak seperti biasanya di mana seorang DJ hanya tampil dalam satu lokasi saja, kali ini tersedia tiga lokasi yang semuanya masih dalam lingkungan K7 Executive Club, di antaranya di Ibiza, Garden, dan K7 Room. Secara bergantian Milinka tampil di masing-masing tempat dan semuanya mendapat sambutan hangat dari partygoesers yang selalu berada di muka booth. Acara seperti ini memang ditunggu-tunggu oleh "dugem maniac" karena sejumlah besar DJ kenamaan Jakarta dan sekitarnya berkumpul dalam satu lokasi, bermain secara bergantian dan terlihat keakraban di antara mereka. Perbedaan genre yang menjadi ciri khas para DJ tampaknya menjadi keunggulan party ini.

Di kota-kota besar di seluruh dunia, Wyborowa selalu mendukung party-party yang diselenggarakan oleh DJ-DJ ternama dan ini menjadi catatan tersendiri dalam perkembangan industri hiburan.

Saat pergantian hari atau pukul 00 dari hari Sabtu menuju Minggu saat Milinka tampil di Ibiza, crowed mendadak memenuhi klub tersebut. Dance floor penuh dengan manusia, dan crowd juga tampak memenuhi sofa-sofa yang ada di sekeliling club Ibiza. Musik yang dimainkan Milinka malam itu tampaknya memang sudah akrab di telinga partygoers dan tubuh sepertinya dengan sendirinya bergoyang mengikuti musik tersebut. Teriakan-teriakan seringkali terdengar menandakan party ini memang untuk partygoesers.

Milinka yang tampil sejak pukul 16.00 (17/11) hingga pukul 16.00 (18/11) tidak sendirian. Sekitar 44 DJ dan DVJ (Disk Video Jockey) tampil menyemarakkan acara ini. Seperti Buni, DVO, Deniez (EBDJ). Romy, Phatt Brothers "Didi&Dade", Innerlight, Bimo, Dree (1945MF). Naro (OriginalNaro) . Riri, Abo, Bone (Spinach). Anton, Downey (Future10), Winky (Junko). Deny (Clubhoppers) . Marquee, Redy, Derana (Synan Recording), Ai MOonchild, Denny Jariova (Whiteland), Mumu, Iwan sidrink (Stadium), Windo (SoundOfZeus), Shary. Fadlie, Debon (ElectroSoul), Double D (Advark Lab/1945MF), Reynald (X2), Cello (M1/43, Vertigo), Andre Dunant (Paranoia/Centro), Sumantri. Mickey Moran, Akhd@ (Grooyl@nd), Aldo (juice). Ferre (Trance4Life) , Rambo (DigitalSix), Marcell (Filter Funk), Jack (Indoclubbers) Rominaki (Odium), Danish W (U.V.G/Pure), Daniel. K Spacey. Radit (Electrojunkie) dan Dina.Peran MC juga dalam keberhasilan party tidak bisa diabaikan begitu saja. Mereka diantaranya MC Twailla (EBDJ), Lex d MC, MC Giri (Spinach), P Double (Paranoia), MC dRwE (1945MF), MC Joey (SoundOfZeus) , MC Ditter (Synan Recording), MC Lil R (Clubhoppers), Lil Dan (U.V.G), MC Vibe (Absolute3in1),DK_dMC (D`Makaveli) , MC Dabbow (Yellowseven) , MC Okie.Sementara itu VJs yang tampil diantaranya 9 Motion (EBDJ), Dazed Visualab (Clubhoppers), Motioninja (U.V.G), Global Port, Tinkerbell, Groovyl@nd a/v set, Electroflex, Electrojunkies, Dreamotion, Q Motion, X Motion, Illusion (Absolute3in1) , Lie Su Pao, Ctrl V.

Nama Milinka sebagai DJ perempuan di Indonesia sudah tidak asing lagi. Peranakan Yogoslavia – Indonesia ini memulai karirnya pada November 2005 dengan grup Electric Barbarellas. Milinka adalah wakil Jakarta pada ajang pemilihan Putri Indonesia pada 2004. Pernah mendapat penghargaan sebagai Best Rookie DJ 2006 oleh Paranoia Award dan baru saja menerima Best Rookie and Best Female dari Redma Award pada 2007.

Menjelang berakhirnya party pada hari Minggu, Milinka masih tetap memberikan senyum manisnya kepada pengunjung yang terus memenuhi dance floor. Sentuhan jari-jarinya masih lincah memainkan perangkat DJ, tak terlihat rasa kekelahan dari wajahnya. Tampaknya menjadi DJ memang sudah menjadi bagian dari kehidupannya. Let’s Dance Together. (hb)

Tuesday, December 04, 2007

Martell Irresistible Glam Party



Party yang diselenggarakan Martell ini memang ditujukan bagi para eksekutif muda khususnya kaum wanita yang suka akan gaya hidup glamour dan keindahan. Hal ini sesuai dengan maksud dari Martell Indulgence sendiri yaitu selalu tampil anggun dan elegan

Acara yang berlangsung di Sun City Luxury Club Jakarta, 30 November 2007 ini mendapat sambutan yang sangat baik dari sejumlah eksekutif muda Jakarta. Terlihat sejak acara dimulai pulu 21.00 hingga pukul 02.00 Sun City Club tampak penuh dengan para eksekutif muda yang sengaja datang untuk menghabiskan waktu akhir pekan.

Martell adalah minuman jenis cognac yang berasal dari Prancis. Tidak seperti minuman lainnya, cognac yang dihasilkan Martell ini memang minuman yang khas bagi para eksekutif muda yang selalu dinamis, menyukai keindahaan, anggun, dan mempesona. Untuk menjalin hubungan yang akrab dengan para eksekutif maka Martell dengan tema besar Martell Indulgence akan secara berkala mengadakan acara-acara di sejumlah klub, baik di Jakarta, Bandung, Surabaya, maupun kota-kota besar lainnya. “Sun City sebagai Luxury Club sudah lama bekerja sama dengan Martell dalam penyelenggaraan party dan semua party yang diselenggarakan berlangsung meriah dan sukses. Khusus kali ini kami menyediakan banyak acara, dengan demikian para eksekutif muda dapat bergembira bersama teman, relasi, atau pasangan di sini," jelas Andi Mulyadi, General Manager Sun City Luxury Club.

Saat memasuki klub para eksekutif langsung disambut oleh gadis-gadis Martell yang cantik dan anggun. Begitu memasuki ruangan klub, terasa sekali nuansa anggun dari Martell Party. Tata cahaya juga telah dipersiapkan agar para eksekutif tidak ternganggu penglihatannya. Acara dimulai dengan penampilan DMA band yang membawakan lagu-lagu dengan beat yang dapat dinikmati oleh para eksekutif muda yang baru datang. Sekitar pukul 22.00 di mana sofa-sofa sudah mulai dipenuhi para tamu, DMA band menampilkan lagu-lagu yang membuat mereka ikut berdendang bahkan mulai menggoyang-goyangkan tubuhnya mengikuti irama musik.

Penampilan para penari cantik malam itu sangat menghibur. The Glamours Dancer tampil lebih dari tiga kali diikuti dengan Latino Dancer yang tampil juga lebih dari tiga kali. Tidak ketinggalan penampilan sejumlah pragawati yang membawakan koleksi busana dari perancang Ichwan Thoha. Mendekati tengah malam, DJ Milinka tampil di deck dan langsung mendapat sambutan dari para pengunjung. Terlihat beberapa di antara mereka yang langsung mendekati DJ Milinka untuk mengambil foto lewat ponselnya. Malam itu para eksekutif muda sangat puas dengan penampilan DJ Milinka yang tetap didampingi MC Twaila. Tidak kalah hebohnya adalah penampilan DJ Donny, DJ Lendy dan DJ Daniel. (hb)

Monday, December 03, 2007

Mummm Champagne Lounge

Sebuah lounge di mana para eksekutif muda dapat menikmati minuman Mumm Champage bagu saja dibuka. Lounge yang berlokasi di Hotel Rtiz Carlton di sekitar Kuningan Jakarta ini diadakan sebagai jawaban dari banyaknya permintaan agar ada sebuah tempat di mana dapat berkumpul sembil menikmati Mumm Champage dan menikmati musik.

Tren membuat lounge dengan lebih fokus pada sekelompok eksekutif muda yang butuh penyegaran setelah disibukkan dengan urusan bisnis memang snagat meningkat. Kabarnya tahun depan, akan ada lima lounge baru di sekitar Jl Rasuna Said Jakarta Selatan, setidaknya sebagai pelengkap sejumlah lounge yang sudah ada sebelumnya.

"Mumm Champagne Lounge", tempat hang out mereka yang gemar champagne (sampanye) di Mistere, Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (28 November 2007) malam, resmi diluncurkan. Ini merupakan champagne lounge pertama yang ada di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.

Sampanye Mumm termasuk yang terkenal di dunia. Ini merupakan sampanye yang biasa digunakan dalam F1 Racing. Di Indonesia, penggemar sampanye ini ada, tapi segmennya kelas atas, sebagian besar kaum perempuan. Aroma buahnya sangat kental, terutama aprikot dan lemon. Ritz Carlton terpilih karena citranya sebagai hotel bintang lima yang berkualitas. Berikutnya akan ada lounge serupa di Pacific Place di SCBD, yang dikelola Ritz Carlton juga.

Mumm Champagne merupakan salah satu champagne ternama dari Prancis. Minuman jenis ini pertama kali dibuat oleh salah seorang pemilik kebun anggur di wilayah Champagne, Goerges H Mumm pada tahun 1827. Uniknya, jenis minuman ini sangat mudah dikenali, pasalnya dekorasi mereknya menggunakan pita warna merah. Tak heran apabila, champagne merek ini termasuk yang terkenal di dunia ini dan memiliki segmen pasarnya kalangan terbatas.

Interior Mumm Champage Lounge di Jakarta ditata sangat apik. Sofa-sofa dengan warna merah dan kream terang sangat sepadan dengan beberapa gambar Mumm Champage yang melekat pada dinding. Botol-totol Mumm Champage yang besar juga dipajang sebagai tambahan pemanis Lounge. Launching Mumm Champage Lounge malam itu boleh dibilang cukup semarak, sejumlah eksekutif muda pria dan wanita datang dengan busana resmi dan dari penampilannya mereka baru saja meninggalkan tempat kerja. Sesampainya di dalam Mumm Champagne Lounge mereka disambut dengan Female Presenter yang cantik-cantik dan langsung dapat menikmati Mumm Champage.

Kemeriahan malam itu juga bertambah dengan penampilan apik para pragawati cantik dari Look Model yang malam itu membawakan koleksi terbaru gaun-gaun karya dari Serafina Boutique. Teddy Harris sebagai koreografer memang mempersiapkan secara matang mulai dari pemilihan busana, pemilihan pragawati dan cara mereka tampil membawakan gaun-gaun. Semuanya ini menurut Teddy agar citra Mumm Champage benar-benar terlihat pada penampilan pragawati dan busana yang dikenakan malam itu. (hb)

Chivas Vogue Night


Party dan kegiatan fashion sudah menjadi suatu kesatuan gaya hidup masyarakat metropolitan. Berbagai party yang dihadiri oleh sejumlah pesohor dalam dunia entertaimen menjadi daya tarik tersendiri dalam penyelenggaraannya, semakin semarak bila di dalamnya ada fashion show karya disainer ternama.

Dunia glamour memang terasa dalam sebuah acara yang dihadiri sejumlah selebritis dari berbagai bidang seperti dunia film, sinetron, musik, hingga para model-model yang membawakan busana-busana. Peran koreografer dan penata musik sangat lah berperan besar dalam rangkaian party karena dari merekalah lenggang lenggok para model menjadi indah disaksikan. Masih dalam rangkaian Chivas Party yang kali ini berlangsung di Pure Drink & Dine Jakarta mengangkat tema Vogue Night. Sesuai dengan temanya, malam itu ditampilkan busana-busana koleksi dari Benten yang terbaru. Pesta yang dipadukan dengan fashion show ini memang sesuai dengan citra dari Chivas 18 yang selalu mengedepankan gaya hidup dan menginginkan sesuatu yang berbeda dan bermanfaat bagi kehidupannya sehari-hari.

Party dan dunia fashion tidak dapat dipisahkan. Terbukti semua party yang sukses di antaranya adalah berkat dukungan dari model-model dan busana yang mereka peragaakan saat party berlangsung. Kali ini Chivas Party bersama Benten Fashion mengajak profesional muda Jakarta untuk bersenang-senang di atas ketinggian kota Jakarta sambil menyaksikan peragaan busana,” jelas Edhi Sumadi Country Manager Pernod Rirard Indonesia.

Dalam sebuah party kalau hanya disajikan musik saja, dikhawatirkan para profesional muda cepat merasa jenuh. Perlu disajikan hal-hal yang bersifat surprise, baik dari tema acara, siapa saja yang hadir hingga minuman yang tersedia. Unsur-unsur ini memang sangat diperhatikan dalam setiap party yang diselenggarakan oleh Chivas Regal.

Chivas Vogue Night yang berlangsung di lantai 35 Pure Drink & Dine, 23 November 2007, juga dimeriahkan dengan penampilan DJ Milinka yang baru saja sukses dengan penampilan 24 jam-nya, MC Twailla, Super Model Dancer yang menampilkan dancer dengan gaya Harajuku Jepang.

Pada malam itu Benten Fashion dengan Cecilia dan Lisa sebagai pemilik dan disainernya menampilkan dua puluh lima koleksi indah dan mengagumkan. Dengan memberi efek melambai dan ringan terhadap karyannya. Benten mencampurkan gaya klasik dan masa kini untuk mempertahankan dan memperpanjang ciri khas gayanya. Benten yang banyak bermain dengan materi sutra, satin halus dan chiffon sutera. Sesekali ditambahkan dengan motif payet yang terdiri dari bebatuan alam, kristal dan manik-manik yang dipilih secara hati-hati. (hb)

Mengisi Celah Pasar Busana Anak-anak


Banyak desainer bermunculan tapi jarang yang mengkhususkan diri menggarap pasar anak-anak. Ahmad Sofiyulloh, yang dikenal dengan karyanya Sofie Design, salah satu yang sedikit itu, meluncurkan yang busana khusus anak-anak yang diberi label 1.2.b.

Dengan brand consultant dari MakkiMakki, 1.2.b diperuntukkan bagi anak-anak kota besar, pria dan wanita, dengan usia 6 – 12 tahun, dengan SES A (primary) dan B. Dunia “tweens” adalah dunia anak-anak dan “remaja tanggung” yang penuh dengan keceriaan. Dunia anak-anak adalah dunia sekolah, PR, eskul, hangout, berkumpul dengan teman, nonton TV, surfing internet, bersama keluarga…

1.2.b disesuaikan dengan dunia mereka, lingkungan pergaulan, orang-orang di sekeliling mereka, pahlawan/hero yang dikagumi, apa yang mereka suka, dan tentu saja “my coolness, my Style”.

My Own Diva(o)!
Seperti yang sealu dikatakan orang tua, “setiap anak adalah bintang bagi dirinya sendiri”. Dan kita tahu bahwa kadang-kadang mereka ingin menjadi pusat perhatian di antara keluarga atau lingkungan yang lebih luas. Mereka selalu mengaca, selalu menunjukkan kebolehannya di di depan banyak orang, dan seterusnya.

Menjadi favorit adalah keinginan universal anak-anak, entah itu bisa direalisasikan atau tidak, mereka mempunyai perasaan sebagai bintang. Masing-masing anak mempunyai bakat menjadi bintang yang muncul dari dalam dirinya. 1.2.b berusaha memahami ini, sifat dan perilaku “tweens” yang menganggap dirinya adalah bintang dari diri mereka sendiri, “I am my own star and I want to celebrate my own stardom”.

Ide utama desain 1.2.b™ adalah konsep “A Star in Me”, yang aspiring, unique, dan style conscious. 1.2.b™ menonjolkan kebintangan anak-anak yang ditampilkan dalam atribut fashion. “Brand personality 1.2.b™ adalan adalah anak-anak yang kreatif dan berani menampilkannya ke dalam gaya busana,” ujar Ahmad Sofiyulloh, anggota APPMI (Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia), yang pernah mendapat berbagai penghargaan, antara lain Finalis Concour Indonesia Des Jeunes Creatures de Mode, Jakarta (1994), Juara III Indonesian Fashion Competition (1995), The Best 3 Winner versi FTV an Moet & Chandhon, Bali Fashion Week (2002), dan Runner Up The Best Performance Bali Fashion Week (2005).

Lebih jauh, 1.2.b™ adalah personifikasi anak-anak 10 tahun “tween” (laki-laki atau perempuan) yang stylish dan selalu update dengan hal-hal yang baru. Selalu ceria, terbuka, dan mencoba berbagai pengalaman baru yang menggugah sisi adventurous-nya. Suka bereksperimen, berani tampil dengan menonjolkan sisi orisinalitas yang dimilikinya. Imajinasinya adalah selalu bersentuhan dengan segala kreativitas yang membuatnya menjadi pribadi yang fun dan cool. (Burhanuddin Abe)

Fashion 08 Tendance


Bali tidak bisa dilepaskan dari industri fashion. Sepanjang jalan Kuta, Seminyak hingga Oberoi, misalnya, akan mudah kita dapati toko-toko bahkan butik yang menjual pakaian jadi dengan style dan karakter yang khas. Bahkan ada nama-nama merek yang terkenal seperti Paul Robb, Animale, Rusty, Billabong, juga Surfer Girl, yang merek asli Bali, yang kini mulai mengglobal.

Pulau Dewata itu juga mempunyai acara tahunan yang bergengsi, “Bali Fashion Week”. Tempat bertemunya para desainer dengan pengusaha di bidang industri fashion dari berbagai negara. Awal September 2007 lalu Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPM) Cabang Bali kembali menggelar karyanya. Bertempat di Balai Raya Grand Ballroom, The Laguna Resort & Spa, Nusa Dua, sebanyak 10 desainer memamerkan karya terbarunya dalam acara yang bertema “Fashion 08 Tendance”.

Fashion Tendance adalah fashion event tahunan, yang mempresentasikan karya-karya desainer muda dan dinamis Bali, yang sudah punya nama, baik di Bali dan Jakarta, bahkan luar negeri. Sepuluh desainer itu, dengan 12 – 15 karyanya, adalah Ali Charisma yang mengambil tema “Out of Bali”, Angelica Wu (“Neo Ori”), Dewi Suarjani (“The Secret of Art”), Dwi Iskandar (“Be Ta Beda”), Eny Ming (“Non Ordinary”), Putu Aliki (“Me and My World”), Yenli Wijaya (“A Touch of Spirit”), Monika Weber (“A Hoe for Tomorrow”), Muji Ananta (“Trap in the Border”), dan Oka Diputra (“The Silk Road”). Tema-tema yang digali oleh para desainer adalah kekayaan etnik Indonesia, serta national heritage yang memang patut dilestarikan.

Acara fashion show, yang dilengkapi dengan cocktail party, itu juga dipersembahkan untuk program “UNICEF Check out for Children Challenge” 2007. Para desainer mengudang tamu-tamu dari fashion community dari seluruh Indonesia, khususnya Jakarta dan Bali. Seluruh hasil penjualan hasil busana yang dilelang malam itu didonasikan sepenuhnya untuk program tersebut. Sementara koleksi khusus yang dijual di Ballroom Foyer, 50% hasilnya akan disumbangkan ke UNICEF. (Burhanuddin Abe)