Wednesday, December 24, 2008

00.00




KALENDER meninggalkan lembaran terakhir, tepatnya 31 Desember. Detik jarum jam tepat di angka 12 atau pada jam digital menunjukkan kombinasi angka “00.00″. Inilah momen istimewa yang selalu dirayakan orang seluruh dunia. Ada yang membuat pesta besar-besaran, ada yang merayakan dengan khidmat – merenungkan kembali perjalanan hidup, berdoa, dan merancang langkah ke depan.

Dulu, saya mempunyai kebiasaan untuk selalu merayakan pergantian tahun: old and new, dengan mendatangi 3-4 acara yang menarik. Bukan apa-apa, sebagai jurnalis, saya memperoleh akses yang baik untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut, kemudian menuliskannya untuk pembaca. Belakangan kegiatan tersebut mulai berkurang, saya hanya menyeleksi satu acara saja yang ingin saya hadiri. Atau kalau tidak, saya lebih suka melewatkan waktu untuk kepentingan personal saja – tanpa embel-embel “tugas sebagai wartawan”. Bentuknya tak jauh dari kumpul bareng dengan keluarga di depan TV yang acaranya pasti istimewa, bergembira bersama teman-teman, atau rame-rame berbaur dengan tetangga di seputar tempat tinggal sambil menikmati kambing guling!

Begitulah ritual yang terjadi setiap tahun. Merayakan pergantian waktu, bergembira, melupakan sejenak beban hidup, tidak ada salahnya kan?

Memang tidak ada salahnya. Tapi seorang teman mengingatkan, apa yang istimewa dengan tahun baru, itu toh hanya tanda pergantian waktu, yang lebih penting adalah sejauh mana kita menyikapi waktu dengan bijak. Apalagi, lagi-lagi menurut dia, merayakan tahun baru Masehi jauh dari tradisi Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim.

Menurut catatan Encarta Reference Library Premium 2005, orang pertama yang membuat penanggalan kalender adalah seorang kaisar Romawi yang bernama Gaisus Julius Caesar. Itu terjadi pada tahun 45 SM (Sebelum Masehi) jika menggunakan patokan tahun yang dihitung mundur dari kelahiran Yesus Kristus. Pada perkembangan selanjutnya, Paus Gregory III kemudian memoles kalender tersebut, memodifikasi dan kemudian mengukuhkannya sebagai sistem penanggalan yang harus digunakan oleh seluruh bangsa Eropa, bahkan kini di seluruh dunia.

Pada zaman Romawi, pesta tahun baru adalah untuk menghormati Dewa Janus (yang digambarkan bermuka dua, merupakan dewa pintu dan semua permulaan). Perayaan ini kemudian menyebar ke Eropa dan menjadi tradisi di benua tersebut pada abad awal Masehi. Seiring lahir dan berkembangnya agama Nasrani, akhirnya perayaan ini diwajibkan oleh para pemimpin gereja sebagai satu perayaan suci, satu rangkaian dengan perayaan Natal. Itu sebabnya ucapan Natal dan Tahun Baru selalu satu paket: Merry Christmas and Happy New Year!

Well, tradisi bisa dari mana saja, tapi yang penting kita bisa mengambil nilai-nilai baiknya. Faktanya, pada old & new, sebagian besar teman-teman merayakan kegembiraan tersebut dengan pesta. Tapi tidak sedikit yang menjadikan momen tersebut dengan mengunjungi dan berdoa di mesjid, atau yang lebih dikenal dengan i’tikaf. Merenungi kembali apa yang telah mereka lalui, serta memantabkan berbagai rencana ke depan, yang dalam bahasa masa kini disebut sebagai resolusi. Ini juga sesuai dengan tuntunan Quran, “Wahai orang-orang yang bertaqwa, dan hendaklah kalian melihat diri kalian sendiri, apa-apa yang telah berlalu (telah diperbuat), untuk masa yang akan datang.” (Al Hasyr 18).

Tapi resolusi tentu bukan monopoli orang (atau yang merasa) bertaqwa saja, kan? Semua orang berhak membuat resolusi pribadi. Mereka boleh mencanangkan rencana, keinginan, niat, dan aktivitas baru yang akan dilakukannya tahun depan. Para pengusaha membuat proyeksi bisnis beberapa tahun mendatang. Para pegawai merancang rencana kerja tahun depan. Para seniman berpikir untuk membuat karya unggulan berikutnya. Para artis memasang strategi agar tetap eksis, misalnya dengan banyak tampil di tayangan infotainmen di televisi. Para politikus merancang strategi kampanye terbarunya untuk menarik simpati massa. Koruptor pun berkreasi dengan modus kejahatan terbarunya, yang lebih canggih, dan seterusnya.

Anda mungkin termasuk orang yang sudah memiliki resolusi pribadi. Apa resolusi Anda? Lebih giat bekerja? Lebih rajin mencari peluang-peluang bisnis baru? Memperbanyak jejaring, tapi mengurangi dugem? Berhenti merokok, hidup lebih sehat, lebih memperhatikan keluarga dan seterusnya.

Seorang teman saya, yang merasa ‘melupakan’ pasangan karena kesibukannya dalam bekerja, tahun depan berencana traveling bersama. Tidak harus sebuah pelayaran keliling dunia atau liburan kelas utama, memang, tapi liburan yang penuh, yang akan mereka nikmati berdua. Bahkan tidak ada ponsel atau pun laptop. “Kami akan melakukan sesuatu yang belum pernah kami lakukan,” katanya. Romantis sekali kan?

Tapi apa pun, setiap tahun baru memang seharusnya berarti kesempatan untuk awal baru, dan tentu semangat baru. Selamat Tahun Baru! (Burhanuddin Abe)

Anomali Bisnis F&B


SENJA jatuh di Jakarta. Jalanan di jam sibuk tersebut, seperti biasa, macetnya luar biasa. Inilah saatnya para yuppies Jakarta berhenti sejenak di suatu tempat sambil menunggu jalanan sedikit lengang. Social House, bukan, bukan tempat yang dikelola oleh LSM, seperti “rumah singgah”, misalnya. Tapi yang satu ini kini identik sebagai tempat nongkrong yang asyik saat ini. Sebuah restoran, bar, dan wine shop terbaru, yang terletak di Grand Indonesia, East Mall, lantai satu, tepatnya di dalam gerai Harvey Nichols. Yang menawan adalah view-nya, Budaran HI, lokasi paling strategis di Jakarta.

Social House hanya salah satu. Kini tidak terhitung bar-bar khusus bagi penikmat anggur, dan makanan tentu, di Jakarta. Ada venue khusus yang menyediakan wine, yang bisa dinikmati di tempat atau dibawa pulang. Ada juga konsep restoran dan wine lounge, dengan sofa-sofa modern dan cantik. Ada live music yang membuat venue tersebut sebagai tempat hang out yang mengasyikkan.

Yang jelas, wine kini lebih dari sekadar social drink, dan pasarnya memang berkembang pesat di Jakarta. Itu sebabnya, tempat-tempat minum wine kini makin banyak tersedia. Vino Embassy, Connoiseur, Cork & Screw, Vin+, Oyster, Cheese & Caviar, Portobello, Loewy, untuk menyebut beberapa nama.

Bar-bar ini mengakomodasi kebutuhan minum wine kaum urban (biasanya berusia 25 – 45 tahun) yang mulai menjadi kebiasaan, bahkan menjadi bagian dari gaya hidup baru. Saat kesibukan semakin padat, bar-bar tersebut hadir dengan fasilitas kelas atas, yang membuat kaum urban bisa menikmati hidup.

Yang menarik, faktanya, tidak murah untuk berinvestasi di wine bar, setidaknya dibutuhkan dana sekitar Rp 3,5 – Rp 6 miliar. Itu belum termasuk sewa tempat yang biasanya berada di kawasan elite Jakarta, kalau tidak di central business district Jakarta, pastilah di seputar Kemang. Kalau dihitung dengan persediaan wine-nya sudah pasti akan lebih besar lagi, sedikitnya Rp 300 juta, bahkan gerai yang sekaligus distributor, harus menyediakan dana tak kurang dari Rp 20 miliar untuk stok wine.

Selain Social House, wine bar yang paling hip saat ini adalah Loewy. Berlokasi di Oakwood, kawasan Mega Kuningan Loewy tampil catchy layaknya bistro-bistro ala Prancis yang bertebaran di New York, dengan interior bergaya retro tahun 1940-an yang diolah menjadi bernuansa modern. Mulai dari kursi-kursi Thonet yang khas, dinding batu bata berwarna putih, hingga langit-langit tembaga, semua melebur menjadi satu kesatuan.

Bukan hanya melalui tempatnya, Loewy juga menciptakan sesuatu yang exciting lewat makanan dan minuman yang disajikan. Hanya saja, untuk mendapatkan tempat duduk di sini tidak mudah. Apalagi, Loewy menjadi tujuan utama pada pencari hiburan di Jakarta saat ini. Pada jam-jam tertentu antrean pengunjung lumayan panjang, sehingga harus bersabar untuk mendapatkan kursi.

Kalau melihat fakta ini seperti anomali. Kita sering mendengar dari para pakar, bahwa krisis finansial yang melanda AS, tidak ayal lagi, menyebar ke bagian dunia yang lain, tak terkecuali Indonesia. Tidak hanya dalam sektor finansial, seperti perbankan dan pasar modal, tapi juga sektor riil, termasuk sektor bisnis wine, atau secara lebih luas, F&B.

Pengamat ekonomi Aviliani – yang belakangan menambahkan namanya dengan “Simatupang” alias “siang malam menunggu panggilan seminar”, mengatakan meski kondisi perekonomian Indonesia pada kuartal ketiga tahun 2008 tercatat masih baik, namun terdapat indikasi perlambatan serta signifikan pada tahun 2009 seiring dengan adanya krisis ekonomi global.

Bagaimana tidak, industri perbankan nasional yang tadinya dapat menyalurkan kredit properti, kini harus berpikir ulang untuk meneruskan proyek bantuannya. Sementara dari sisi bunga, saat ini sedang tidak kondusif bagi bisnis apa pun. Tapi kita melihat bahwa bisnis makanan dan minuman masih tetap marak di Indonesia.

Plaza-plaza bertumbuhan, mal-mal bermunculan, dan yang mereka garap pertama kali adalah F&B – bukan department store atau yang lainnya. Foodcourt dibangun semenarik mungkin agar pengunjung bisa berbondong-bondong datang. Resto-resto tidak sekadar berkutat di makanannya saja, tapi mendandani atmosfernya agar terlihat unik dan punya diferensiasi dengan yang lain.

Mengapa bisnis F&B menarik? Jawaban bodohnya, mungkn kita bisa pinjam dari pengusaha Bob Sadino, yang mengoperasikan Kem Chick’s, pasar swalayan modern pertama di Indonesia. “Selama (maaf) pantat manusia masih bolong, bisnis makanan tetap menarik,” katanya. Logikanya, orang pasti membutuhkan makanan, dan yang bisa menyediakan kebutuhan tersebut adalah resto, kafe, atau pengusaha yang bergerak di bidang F&B.

Yang jelas, bisnis makanan memang tergolong usaha yang sangat menjanjikan. Beberapa pengusaha restoran, misalnya, bahkan berani mengklaim bahwa laba bisnis ini sangat besar, bisa mencapai 150% atau lebih. Bukan main!

Tentu, untuk mencapai pendapatan sebesar itu tida semudah membalik telapak tangan. Hanya restoran yang sudah sukses menjaring pelanggan. Boleh jadi karena yang dijual sesai dengan selera maupun kebutuhan pasar. Berikutnya adalah karena faktor-faktor penunjang lainnya, seperti lokasi yang strategis, harganya yang sesuai dengan target pasar, dan lain-lain.

Tidak mudah memang terjun ke bisnis F&B. Kita yang tidak bersentuhan langsung dengan bisnis tersebut, hanya menangkap fakta permukaannya saja. Fun dan hura-huranya saja. Tapi bukankah bisnis F&B yang berkaitan dengan lifestyle dasarnya memang demikian. Meminjam kredo orang-orang yang terjun ke bisnis hiburan, “There’s no business like F&B biz!” (Burhanuddin Abe)

Makan Siang di Tepi Pantai Pulau Sentosa


BANYAK restoran menarik di Singapura, tapi yang satu ini mempunyai kelebihan tersendiri. Il Lido namanya, restoran di tepi pantai di Pulau Sentosa.

Makanan yang ditawarkan khas Eropa, tapi kebanyakan ala Italia. Enak, so pasti, standar restoran fine dining, meski kita boleh berpakaian kasual. Maklum, restoran ini bernuansa sportif, bagian dari golf course di pulau tersebut.

Yang menarik, tentu saja atmosfernya, yang langsung berbatasan dengan laut. Resto ini dimiliki dan dioperasikan oleh Beppe De Vito, perusahaan terkenal yang bergerak di industri food and beverage di Singapura, dengan pengalaman lebih dari 10 tahun.

Sekilas il Lido memang tidak berbeda dengan pantai-pantai di wilayah tropis yang lain, meski penggagasnya memaksudkan sebagai Pulau Lido di Venesia Italia. Tapi yang jelas, di sini udaranya sangat bersih, meski terlihat kapal-kapal bermuatan barang berseliweran, dan tentu saja pemandangannya lebih hijau karena masih banyak pepohonan di sekitar situ.

Kalau kita tidak mau pusing-pusing mau makan apa, ada tiga paket yang ditawarkan, yakni menu standar, menu vegetarian, atau menu klasik. Terdiri dari salad, sup, menu utama, dessert, dan ditutup dengan kopi atau teh. Yang pertama harganya 180 dolar Sing, dua yang disebut terakhir masing-masing harganya 100 dolar Sing.

Saya sendiri – ketika datang ke tempat tersebut bersama teman-teman dari salah satu pengembang terbesar di Singapura -- tertarik memilih mix seafood, untuk starter, yang bisa dimakan ramai-ramai. Sementara untuk menu utama, masing-masing mempunyai selera sendiri. Saya menjathkan pilihan pada daging-dagingan, yakni wagyu beef dengan paprika, polenta dan jamur trombette hitam. Dagingnya sangat empuk, bumbunya pun tidak terlalu spicy, pas sebagai makan siang.

il Lido
Sentosa Golf Course
27 Bukit Manis Road
Singapura
http://www.il-lido.com/

Sunday, December 21, 2008

Untitled, New Bar in Jakarta


UNTITLED, is a stylish, sophisticated, modern bar featuring the best local and international DJs. From an elevated booth, DJs showcase exceptional music suited to the mood of the evening. Later, music is more energized. Whatever the time, Untitled is fun, personal and engaging. Untitled is the place to mix, relaxing and socialize with colleagues and friends.

Richard Saul, general manager of JW Marriott Hotel Jakarta, is pleased to announce the opening of Untitled, December 18, 2008.

With its dramatic lighting, oversized day-sofas and high tables for social gatherings, Untitled is Jakarta’s new night venue and the talk of the town.

The back-lit alabaster bar and wall-mounted wine cabinets are the centerpiece of the Untitled. From an elevated booth, DJs showcase exceptional music suited to the mood of the evening. Later, music is more energized. Whatever the time, Untitled is fun, personal and engaging. Untitled is the place to mix, relaxing and socialize with colleagues and friends.

Untitled offers a variety of beverages, boasting home-made signature cocktails such as Hazel Nuzel (peanut butter twist chocolate martini), Wild Berry Mojito (classic mojito combined with fresh wild berries), Kiwi Ginger Caipirovska (unique alternative to the typical caipirovska), Lycheerinha (local version of caipirinha), and Crème Brule Martini (creamy vanilla martini). Untitled also offers premium spirits and a selection of fine wines. Light snacks, are also available for in the afternoon and during the early evening. Bangkok Beef Rolls, South East Indian Wraps and Tex Mex Connections are just a few of the signature dishes offered at the Untitled.

Oenophile Indulgence


WINE drinking is catching on big-time in Jakarta. Burhanuddin Abe samples some newish venues where the food on offer is equally important.

In Jakarta, wine-dining venues have been sprouting like mushrooms. The bars have latched on to the increased popularity of wine-drinking in the capital, where the activity is as much about lifestyle as consumption.

The bars are a world away from the somewhat decadent, dingy or dispreputable drinking dives of yore: uber-chic and stylish is very much the order of the day. With inviting and comfortable soft furnishings, they have become the ideal venue for a quick snack or full meal, while their live music pulls in customers looking for a trendy hangout.

The Peak has sampled four venues that are becoming an established part of this scene.

Wine, Women and Song


AMID Jakarta’s heavy traffic, Portobello is an oasis of calm. Here’s a fine wine venue with a cigar divan, complemented by a great variety of foods.

Portobello provides comfort through light jazz or 80s tunes. Live music is by Rio Silaen & friends D’Chorus band, or groove on the dance floor with the resident DJ who is present almost every day.

It doesn’t matter if you want to relax on a sofa or face the bartender, tatami-style. This is an excellent place to pass an evening while enjoying the house menu. With an atmosphere this intimate, it’s certainly worthwhile bringing close friends.

The predominant colours are earthy reds and browns, which provide a calming ambience that is complemented by contemporary-modern interior design.

Good-quality wines from both the New and Old World are available, as well as a selection of frozen vodkas, spirits, martinis and cocktails. Wine connoisseurs are not the only ones pampered here; cigar fans are too, as Portobello has dedicated a corner to them.

A selection of Cuban and Dominican cigars are available, kept in humidors to preserve both frangrance and flavour.

How about the food? The menu is quite wide-ranging, allowing visitors to sample treats from both East and West. Japanese food features strongly since a siginficant proportion of guests are expatriates from that country.

Portobello
MidPlaza 2, GF
Jl. Jend. Sudirman Kav 10-11
phone/fax: (021) 570 7600

Cool Watering Hole


LOEWY, in Mega Kuningan, Central Jakarta, has been around since last April 2008. It’s name is inspired by Raymond Loewy (1893-1986), one of the most influential industrial designers of the 20th Century.

The owners therefore aimed to create a casual bistro, an everyday place with an exciting menu that is well-designed but casual, with the addition of an energetic bar.

Located in Jakarta’s up-and-coming business area, Loewy could stand shoulder to shoulder with any decent French bistro in New York, with it’s 1940s interior and modern nuance. Thomet chairs, brick walls painted in white, a copper ceiling – all create an understated, as well as timeless, impression. Go and see for yourself, and you will find that sitting around its sofas is as fun as imbibing in the bar or chilling out on its comfortable terrace.

Now that Loewy is well and truly on the map be prepared to queue for a table at busy times. The wait will be worth it, though. Chef Benoit Claey from Belgium produces classic, home-style cooking with a contemporary twist.

This can be sampled not only in the bistro’s favourites such as salad Nicoise, roast chicken rotisserie, and steak frites, but also in European-style curry, simple yet healthy pasta servings and Morocco-inspired tabouleh salad.

For perfect desserts, they serve Ile Flotante aka Floating Island, a series of tarts with fresh fruit, or legendary Mille Feuille (layer cake).

Want to linger longer? Hop over to the bar where classic drinks and a good choice of whiskies are available.

This is where new urbanites, expatriates and young trendsetters gather. Whether after office hours or a pre-party gathering, this is the place to be seen.

Loewy
Oakwood Premier Cozmo
Jl. Lingkar Mega Kuningan E 4.2 No.1
Jakarta Selatan 12950
tel/fax: (021) 2554 2378

Shellish Haven


OYSTER are growing in popularity in Jakarta. That is why Oyster, with its restaurant-cum-wine bar concept, has been emboldened to turn to oysters as the basis of its menu: At least 60 per cent of the food items here are oyster-based.

The venue is located in an upmarket shopping mall because the management thought that it could reach a wider audience compared with a hotel, for example. However, that does not mean the place is anything like a conventional mall eaterie; it’s safe to say that Oyster is quite classy.

Visitors will be intruiged by the enchanting menu design. Ocean paraphernalia are scattered about its corners, although the venue has a more classic European nuance than a beach, dominated by browns, the use of wooden décor, modern furniture and a bar with subtle lighting that produces a cozy atmosphere.

Here, the oysters are not only fresh but are served with salsa, lemon, or spicy dabu-dabu (hot) sauce; they are also baked (oyster gratin), or mixed into paste or fried rice.

The shellfish are imported from Canada, New Zealand and Australia, which means that prices are not to be sniffed at. The restaurant was established under the supervision of well-known culinary expert William Wongso, and aims for diners from the upper echelons.

For the shellfish-averse, Oyster offers first-class steaks. The bar has a comprehensive collection of wines from around the world, including France, Australia, Germany, Italy, Spain, Chile, South Africa, Argentina, Portugal, Canada and the US.

Opened in late summer, Oyster seems destined to become a good choice for Jakarta yuppies wishing to have a good time out at a classy venue.

Oyster
Unit No CPS11, Plaza Senayan
Jl Asia Afrika No. 8, Jakarta 10270
tel/fax: (021) 572 5338

When Steak Meets Wine


THERE are plenty of steakhouses in Jakarta. However, not many have as comprehensive a collection of wine on offer as MixxGrill Steak House. The venue is a sister company of Vin+, a happening wine bar in Jakarta.

MixxGrill in Kemang is the second branch after the first success in Cilandak Town Square. It’s divided into three areas: wine shop with over 800 wines from all over the world, a lounge and the restaurant itself.

For starter, MixxGrill’s nachos with crispy corn tortila chips is available combined with special sausage of MixxGrill Cummy Churry. Alternatively, there is also tender mesclum lettuce, tomato and aged red wine vinaigrette. The recommended mains are New Zealand grilled tenderloin served with sautéed vegetables and mushroom sauce or Norway salmon fillet with sautéed vegetables and green pepper sauce.

Something seems missing if you enjoy a mouthful of good steak without wine, or vice versa. If you are uncertain which wine to choose, a qualified sommelier will offer suggestions on wine suitable for you and your colleagues.

Despite the minimalist concept of its interior, the food at MixxGrill, however, is served at maximum quality. With so many wines to choose from, your visit should be a memorable one.

MixxGrill Steak House @ VIN+ Wine and More
Jl. Kemang Raya 45 B Jakarta Selatan
tel. (021) 7179 2577
fax. (021) 7179 2723

Wednesday, December 17, 2008

Pria-pria Sinterklas



Perayaan Natal sudah dekat, para sinterklas sudah bersiap-siap untuk ikut meramaikannya. Tapi mereka bukan sinterklas pada umumnya, mereka adalah pria-pria yang pemurah, bahkan cenderung royal, serta memanjakan para wanita dengan hadiah-hadiah. Gejala apakah ini? Kesadaran filantropis, atau sekadar pengukuhan sikap egosentris – yang secara psikologis mengatasi rasa rendah diri? (Burhanuddin Abe)

SINTERKLAS adalah tokoh dalam cerita rakyat di Eropa, lahir tahun 280 SM di Patara, Turki. Ayahnya adalah seorang Arab yang bernama Epifanius, sedangkan Ibunya bernama Nonna. Tokoh yang dikenal dengan berbagai nama –Santa Klaus, Santo Nikolas, Santo Nick, Kris Kringle, Santa, Santy, atau Bapak Natal–, ini dalam budaya masa kini adalah seorang dermawan yang memberikan hadiah kepada anak-anak, khususnya pada Hari Natal.

Tapi orang-orang yang kita bicarakan kali ini agak berbeda. Secara tidak langsung tidak ada hubungannya dengan perayaan Natal, meski mereka dikenal sebagai seorang yang dermawan – bahkan cenderung royal.

Simak saja cerita Dino, 40 tahun. Dia adalah pengusaha kaya, tampan, dan punya kemampuan untuk melakukan apa saja dengan uangnya. Apalagi ditunjang dengan tongkrongan yang up-to date dan lingkungan pergaulan yang cukup luas, membuat pria 40 tahun ini seperti magnet buat siapapun. Pria yang masih melajang ini selalu menghabiskan akhir tahun dengan wild-party bareng teman-teman dekatnya sesama pengusaha muda.

Dino mengaku sudah mempersiapkan rencana untuk melepas akhir tahunnya. “Saya sudah booking untuk pesta akhir tahun. Dengan beberapa teman, kita akan mengadakan pesta yang tidak biasa, swinger-party,” ungkap jebolan sekolah bisnis di Amerika Serikat

Di tengah sepak terjang perilakunya sebagai penyuka pesta dan hidup hura-hura, Dino ternyata melibatkan diri pada kegiatan sosial. Melalui perusahaannya, ia mendanai banyak aktivitas sosial. Pria yang memilih olahraga golf untuk kebugaran tubuh ini merupakan donatur tetap untuk beberapa panti asuhan anak di Jakarta. Ini mungkin semacam keseimbangan antara party goer yang suka hura-hura dan filantropi yang suka bagi-bagi hadiah.

Cerita soal sinterklas juga datang dari Kresna, bukan nama sebenarnya. Pengusaha yang bergerak dalam bidang pertambangan ini mempunyai jadwal khusus setiap akhir pekan, menraktir seseorang yang dianggap istimewa, wanita tentu saja, untuk makan malam. Tidak hanya pilihan restorannya yang mewah, tapi makanan yang dipesannya termasuk kategori mahal. Tapi bukan itu saja yang menarik, di setiap akhir acara selalu ada kejutan, ada hadiah istimewa untuk teman wanitanya tersebut. Itu bisa berupa pakaian atau aksesori, bahkan perhiasan yang cukup mahal harganya.

Tidak hanya satu dua, sudah banyak wanita yang ‘dimanjakan’ Kresna. Bahkan kadang-kadang mereka bisa disatukan dalam sebuah pesta, yang ketika pulang ‘goody bags’-nya bukan barang sembarangan, tiket ke Bali. “Jangan lihat barangnya, tapi saya ingin memberikan sesuatu yang istimewa, biar kesannya mendalam,” ujar Kresna.

Tapi yang jelas, bagi pria 52 tahun ini, uang tidak jadi masalah. Ia ingin berbagi dengan siapa saja, tapi terutama dengan expected person tentu saja, yang dengannya ia berharap bisa dihargai. Dari jawaban Kresna tahulah kita alasan sebenarnya mengapa pria beristri dan bapak dua anak ini, suka royal terhadap teman-teman wanitanya. “Wanita mana sih yang menolak dimanjakan dengan hadiah mewah, atau menikmati santap malam di restoran mahal,” katanya.

Kresna sangat tahu bagaimana memanjakan seorang wanita. Memberikan hadiah yang berkesan berupa kencan spesial adalah salah satunya. Lebih-lebih kalau ditambah hadiah-hadiah lain yang sesuai dengan kepribadian atau kesukaan pasangan. Bunga, lingerie, pakaian dalam yang seksi selalu yang menunjukkan hubungan yang lebih intim, atau berlian yang tida hanya eksklusif tapi juga merupakan sahabat terbaik untuk wanita.

Hadiah dan tanda kasih sayang
Diamonds are the girls best friend, begitulah lagu dalam soundtrack film Moulin Rouge. Tidak terbantahkan memang bahwa wanita dan berlian memiliki hubungan yang erat. Bahkan beberapa wanita mencintai berlian seperti halnya ia mencintai pria pasangannya.

Itu sebabnya, tidak sedikit pria yang memberikan kalung berlian sebagai hadiah untuk wanita yang dicintainya. Hadiah ini biasa diberikan pada saat hari Valentine, Natal, pada saat si wanita berulang tahun, dan momen-momen penting lainnya. Kalung berlian yang diberikan merupakan lambang pujian kepada wanita yang diberikan, atau bisa jadi sebagai sebagai tanda kasih sayang.

Tidak heran, demi rasa cintanya, pemain sepak bola David Beckham menghadiahi istrinya Victoria Adam sebuah kalung berlian senilai Rp 18 miliar pada satu perayaan Natal, serta kalung merek Bulgari 8 juta poundsterling pada ulang tahun istrinya yang ke 32. Sementara Wayne Rooney, pemain sepak bola tajir yang lain juga rela merogoh koceknya sebesar Rp 52,5 miliar untuk sebuah rumah untuk pasangannya, Coleen Mcloughlin, untuk ditinggali bersama di kawasan Cheshire, dekat kota Manchester.

Tapi yang agak mengherankan sebetulnya tindakan Pangeran Azim, putra Sultan Brunei, yang menghadiahkan berlian empat karat dan kalung platinum untuk Mariah Carey dua tahun yang lalu. Kalung bermata berlian seharga 44,4 juta dolar AS itu dikirimkan melalui jet pribadi. Mengapa yang mereka memperlakukan secara istimewa wanita yang dikaguminya, di luar pasangan hidupnya?

Tidak terbantahkan memang, pria-pria seperi putra Sultan Brunei, atau Dodi dan Kresna yang disebut sebagai ilustrasi di awal tulisan, melakukan ini umumnya mempunyai ego yang sangat tinggi. Bagi mereka rasa sayang hanya bisa dibuktikan dengan memberikan hadiah dan kemewahan, serta mereka percaya pasangannya akan merasa senang dengan perlakuan ini. Mungkin juga dengan cara ini ia bisa merasa lebih dihargai.

Jawabannya memang tidak sederhana. Pria-pria macam ini bisa disebut sebagai “teman yang baik hati” untuk semua orang, termasuk para wanita. Ciri-cirinya seperti yang digambarkan di atas, suka mentraktir pizza untuk teman-teman sekantor dan membayari minum saat sedang dugem. Kebetulan, untuk kasus di atas, uang tidak menjadi soal benar. Secara psikologis, sikap ini untuk rasa tidak percaya diri yang dimilikinya. Pria seperti ini konon mempunyai masalah dengan perasaan ketidaknyamanan diri. Ia berusaha membeli popularitas untuk menciptakan rasa nyaman pada dirinya sendiri.

Tentu kedermawanan mereka tidak ada hubungannya dengan kegiatan filantropi – yang berasal dari bahasa Yunani, philein, "cinta" dan anthropos, "manusia"—, yakni tindakan seseorang yang mencintai sesama (manusia) sehingga menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya untuk menolong orang lain.

Juga tidak ada hubungannya dengan kesalehan sosial, yang dalam bahasa Komarudin Hidayat, bahwa kepemilikan yang absolut dalam terminologi Islam, adalah milik Allah. Manusia itu tidak memiliki, tapi sekadar diberi pinjaman oleh-Nya. Oleh karenanya, kekayaan hanyalah instrumental yang harus dibagi kepada sesama. “Barang siapa yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, akan dilipatgandakan bunganya berlipat-lipat. Semangat inilah yang seharusnya mampu menggerakkan masyarakat untuk meningkatkan gerakan filantropi seperti ini,” katanya Rektor UIN Jakarta itu.

Menurut Sigit Rohadi, doktor sosiolog dari FISIP, Universitas Nasional, Jakarta, munculnya pria-pria “sinterklas”, terutama kepada wanita-wanita, itu karena mereka menginginkan aktualisasi diri secara individual. “Ingin publikasi, ingin pengakuan, ingin adanya tangga sosial lain yang bisa menopang eksistensinya,” katanya.

Jadi kalau selama ini diakui sebagai seorang eksekutif perusahaan atau pekerja yang cukup berhasil, maka sebenarnya predikat itu hanya terbatas secara lokalistik ada di tempat dia bekerja. Nah, untuk memperluas pengakuan bahwa mereka adalah eksekutif muda yang berhasil, maka mereka membangun tangga yang lain, dan bukan tangga pekerjaan tetapi tangga sosial yang ingin dibangun. Dan mereka antara lain dengan memberikan “derma” kepada mereka yang membutuhkan.

Memang, ada beberapa yang memang tulus melakukan itu. Apalagi jiwa sosial itu sebenarnya akar dari masyarakat kita itu memang sosialis, semua agama pun mengajarkan itu. Hanya saja banyak yang terjadi sebenarnya, “Mereka hanya berupaya mencari simpati yang lebih dari publik untuk memperluas pengakuan mereka di masyarakat,” ujarnya.

ME, Desember 2008

Monday, December 15, 2008

Blackberry: Smart cell phone that has won hearts



TODAY, many activities are conducted using a mobile phone, so the right type of cellphone is needed to facilitate the smooth flow of activities. Next to telephonic conversations, there are other sorts of communications available, for example short mail services (SMS). Also incorporated in smart or hi-end cellphones is Internet capability.

The trend in e-mailing today is push e-mail service that has been popularized largely by Research In Motion (RIM) through its Blackberry device. This push mail is the favorite of many customers nowadays. It is called push e-mail because the e-mails received and contact list is automatically entered into the cellphone. So, even when a user is abroad or in a remote area, as long as there is a signal from the operator he or she can still receive and send e-mails.

Indeed through this feature BlackBerry has grown more popular and succeeded in creating its own market segment. BlackBerry entered the market for the first time in 1999 focusing on the push e-mail feature. Another feature is its instant message system. Yahoo Messenger, Google Talk and Skype are now already cooperating with Blackberry for this feature. This technology enables one to chat on the Internet via a cellphone and Personal Digital Assistant (PDA).

Recently, the Canadian manufacturer reported that by March 1, 2009 its customers or users are projected to be about 14 million. In the global market, Nokia's sales, usually ahead of the competition with a comfortable margin, went down last year for the first time due to the presence of Blackberry and iPhone made by Apple Inc.

A research company, Canalys, recently reported that in the third quarter the sales of both Blackberry and iPhone exceeded Nokia's. Nokia's smartphones, which are as good as computers, dropped from 51.4 percent to 38.9 percent in the market share in the third quarter.

The market share of iPhone increased to 17.3 percent, while Blackberry's was 15.2 percent in the third quarter. "The introduction of 3G iPhone in July and the expansion of Apple's marketing to more countries enabled the company to grab the second position globally," wrote Canalys in its report.

In Indonesia BlackBerry entered the market in the middle of December 2004. It was offered by the major operator Indosat and Starhub, which is a joint venture of RIM, Blackberry's main partner. Here Starhub served the technical aspects in installing through the operator Indosat. Later on two other major operators, Excelcom and Telkomsel, also marketed Blackberry.

Blackberry has increased its usage with a new facility, Blackberry Connect. Customers no longer have to use a Blackberry cellphone to access Blackberry Internet Solution. Customers need only install Blackberry Connect to any smartphones of theirs -any brand - to access Blackberry Internet Solution.

The marketing of Blackberry developed much faster in Indonesia compared to other Asian countries. A sort of Blackberry community was soon formed here. When the community was formed in 2005 the members were only 15, but today the number has grown to more than 1,600.

The number of members will certainly increase as the price of Blackberry has dropped. A secondhand Blackberry, both local and imported, now only costs between Rp 1.5 and Rp 7 million at ITC Roxy Mas, West Jakarta. Meanwhile, a brand new one, which can be purchased only through the authorized operator, costs a little above Rp 4 million. There is a monthly subscription fee of Rp 200,000.

Currently, in Indonesia there are many variants of Blackberry, including previous models, such as 7290 and 7730 as well as the newer models, 8300, 8310, 8320, 8700 and 8800. The latest is Blackberry 9000, which is also called Blackberry Bold. Blackberry 8300 has a camera without any other special features, while Blackberry 8310 has a camera and GPS. Blackberry 8320, which is the best seller in the 83xx series, has both a camera and WiFi.

In the Blackberry 88xx series there are the following models: Blackberry 8800 with GPS, 8820 incorporates GPS and WiFi. Blackberry 81xx series or Pearl has three variants: 8100, 8110, and 8120. Some of the latest models are the Blackberry 87xx series comprising of Blackberry 8700 and 8707. They are the first 3G Blackberry. In short that is the Blackberry story. Even Nokia, the market leader with a 40 percent market share globally, is facing stiff competition from both Blackberry and iPhone. All three are now the three major contenders.

Indeed competition is touch for cellphone makers, as cellphones have become an inseparable part of a modern lifestyle. What is obvious is that cellphone technology is undergoing rapid and interesting developments for the benefit of customers. Established manufacturers have to really watch out if they do not want their market share taken away by new players. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, December 12, 2008

Sunday, December 14, 2008

Ringing out the old year and ringing in the new


THERE is only half a page left in this year's calendar and Christmas and New Year's celebrations are just around the corner. Everyone certainly wants something special and the entertainment industry has come up with various attractive offers to mark the festive season. Likewise, noted hotels in Jakarta, for example, are staging special events to welcome guests -- be it a large party or just a special dinner.


If your budget is not that big, don't worry as you can still enjoy New Year's Eve programs at various places in Jakarta, for example in Cilandak Town Square (CITOS) in South Jakarta or La Piazza (attached to Mal Kelapa Gading) in North Jakarta. At these two places, for example, it will cost just Rp 100,000 to Rp 150,000 to enjoy various kinds of entertainment. By comparison, five-star hotels are charging Rp 1 million to Rp 3 million. At CITOS, a number of noted musicians will entertain visitors. Meanwhile, La Piazza is staging a New Year's celebration in which popular bands will perform.


There are even cheaper places where you can see in the New Year, such as Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jaya Ancol Dream Land (TIJA) and the National Monument (Monas) Park. These open areas will put on fireworks displays, which are characteristic of New Year's Eve celebrations the world over. The countdown is the climax of New Year's Eve celebrations as people count down to midnight to the beginning of the New Year.


In East Jakarta, New Year's celebrations will be focused at TMII, where a number of local artists will perform before a crowd of onlookers from 4 p.m. onwards. If you are a serious fan of dangdut, TMII is a good place to head to. Dangdut singers will mesmerize fans at TMII, where entry is easy on the wallet at about Rp 20,000. However, with the weather being unpredictable of late, it could be a good idea to take along an umbrella.


In North Jakarta, Ancol is the where all the action is. On New Year's Eve, Ancol is staging the "Color of the Nite 2009" in which each site of Ancol Dreamland will offer a unique program to make New Year's Eve special for visitors.


Visitors at Carnival Beach will be treated to performances by top bands, including Nidji and D'Masiv. Ungu, Peterpan, The Changcuters and Kangen will entertain audiences at the entertainment stage. Meanwhile, a number of old and new dangdut vocalists such as Rhoma Irama, Elvie Sukaesih, Rita Sugiarto, Siti KDI, Maya KDI, Gita KDI and Wali Angkasa will heat up Ex-Teater Mobil Stage in Ancol, Other pop groups like Sheila On Seven, Vagetoz and Hijau Daun will join the show. If you are looking for traditional arts performances, Pasar Seni will host all-night shadow puppet shows with puppeteer Ki Langgeng Sabdo Mardjito,


Ancol will also stage a wide range of programs for families, young people and children to welcome the New Year. PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk's corporate secretary Falaah K. Djafar said that Ancol strives to make innovations by presenting a variety of spectacular programs for all ages as a form of corporate appreciation for regular visitors.


Right on the dot of midnight, the management of Ancol is staging a fireworks display -- attended by Jakarta Governor Fauzi Bowo -- to light up the sky of Ancol and its surroundings. Just like at TMII, New Year's Eve celebrations at Ancol will also take place in the open air. So it is advisable to take an umbrella or raincoat while partying at Ancol.


In Central Jakarta, New Year's celebrations will be concentrated in the Monas area. Monas will not only be crowded with thousands of visitors but will be rocked by the performances of top-notch bands. The atmosphere will be enlivened even more with fireworks.


Those wanting to celebrate at Monas should start off early or travel along alternative roads. As of 4 p.m. a number of roads, such as Jl. Jend. Sudirman and Jl. Thamrin, will be closed to traffic. The police will be out in full force to make sure that traffic regulations are obeyed to maintain order. Care should be exercised in these crowded public places as pickpockets often operate in such crowded surroundings. So keep your money and valuables safe when having a good time partying. Happy New Year! (Burhanuddin Abe)


The Jakarta Post, December 14, 2008

Friday, December 05, 2008

Netbook, a new trend in mobile world


IN the present information technology era, a computer is not only a must-have, it has become part of our lives. What would be your preference: a desktop personal computer (PC) or a notebook that you can take with you wherever you go? Interestingly, the prices of the notebook computer have dropped even though its capability is better than the previous generation.

Or, perhaps, you want something cheaper than a notebook? Today there is new series of personal computers known as netbooks. Well, a netbook is a notebook that is smaller in size and cheaper in price.

It is Intel that introduced the term netbook. The manager for business development of Intel Indonesia Corporation, Arya Sanjaya, has said that one of the characteristics of a netbook is that it uses a platform that is affordable. Aside from introducing the netbook, Intel has also introduced another term: a nettop. A netbook is a smaller version of a notebook while a nettop is a smaller version of a desktop computer.

Netbooks and nettops have been launched to allow people in developing countries easier access to computers. This mission is in line with the program "Intel World Ahead". There are four points that characterize a netbook and a nettop: accessibility, connectivity, education and content. Intel's program may be said to be the "rival" of Nicholas Negroponte's program of "One Laptop Per Child (OLPC)."

Obviously, however, in the past six months, the netbook, which is also known as an ultra-mobile PC (UMPC), has indeed undergone very rapid development in terms of its market and technology. In addition to Intel, vendors of the class of Dell and HP (Hewlett-Packard) have also produced UMPCs because of the gadget's great business potential.

Other vendors have also rushed into the market with this product. Asus EeePC, for example, made a strong move in the market. Then Acer entered the market with Acer Aspire One, followed by MSI Wind from MSI, BenQ Joybook Lite U101, Quantel, Zyrex Ubud, Anoa, Fujitsu, Wibrain and many others.

It is understandable that UMPC has become a new trend in the mobile world, given the fact that this gadget is capable of meeting the expectations of the users: it is equal to a laptop in terms of its capability and it is on a par with a cellular gadget in terms of mobility because of its size.

One of the keys to the success of a mini laptop of this type is its price. A limited budget does not pose a problem as most UMPCs are indeed sold at a low price. Take Asus Eee PC, for example. The cheapest type is sold at below Rp 3 million. UMPCs of other makes with more complete features are sold at prices ranging between Rp 3 million and Rp 6 million. Compare them with similar products with a 12-inch screen made by Fujitsu, Sony, Toshiba or HP Compact, which are all sold at prices above Rp 8 million.

Aside from the price, the advantage of a netbook lies in its features. The features of a UMPC are just like those of an UMPC laptop. An UMPC is also integrated with Wi-Fi, the Ethernet and also uses a modem to make it easier for the users to get connected to the Internet. An UMPC also uses a modern operational system such as Windows XP, Windows Vista or Linux.

Given the modern operational system adopted by an UMPC, it is no longer impossible to operate a certain application for your office work, your home or even your lectures, using a gadget no larger than a canned drink.

It may be small but its capability is great. On average an UMPC weighs no more than 1 kg while an ordinary notebook usually weighs above 1.5 kgs. A netbook has a screen measuring between 4.3" and 7". The screen of an UMPC can either be a touch screen (active and passive) or an ordinary LCD screen.

It is true that the technology adopted by an UMPC differs from the technology used by a notebook. The technology used by an UMPC is still lower than the technology used by a notebook. This is the consequence of its smaller size. And of course this will have an impact on its performance. The processor of an UMPC is of the ULV (ultra low voltage) type, which is oriented to maximizing the durability of the batteries. Indeed, an UMPC is not designed to replace a notebook. The processor usually used in an UMPC is AMD Geode, Via, Intel Atom or Intel Celeron ULV (Ultra Low Voltage). In the case of an ordinary notebook, however, the lowest-quality processor used is Intel Core Duo, which has a better performance.

An UMPC is indeed intended for a user who needs a notebook without attaching importance to the other less important features. This gadget usually has only the standard features to run office and Internet applications only. Some of the early types have a storage medium with a very limited capacity. Only the latest products have quite a spacious storage medium. One expectation the UMPC has yet to fulfill is the capability of the gadget to be used for communications. In fact, it is not unreasonable to project that UMPC may later also function like a cellular telephone. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, December 05, 2008

Friday, November 28, 2008

Ambisi Menaklukkan Pasar Sepatu Dunia



TERDENGAR asing, sehingga banyak orang mengira kalau Edward Forrer adalah merek global. Padahal, merek sepatu (dan tas) kulit itu benar-benar berasal dari Bandung. Memang, gerai Edward Forrer kini tidak hanya tersedia di seluruh penjuru Bandung, tapi juga menyebar di kota-kota penting di Indonesia, bahkan di manca negara, seperti Malaysia, Hawaii, dan Australia.

Edward Forrer adalah salah satu merek sepatu lokal, yang saat ini tidak hanya sanggup bertahan dari serbuan pasar asing – sebutlah produk Cina yang harganya murah, tapi juga mempunyai brand value yang bagus. Selain Forrer, merek-merek lokal yang tangguh saat ini tercatat Pakalolo, Yongki Komaladi, dan Eagle.

Memang grafik produksi sepatu di Indonesia menurun, tapi merek-merek kuat di atas tersebutlah penyelamatnya. Meski menurun, tapi kabar baiknya adalah, jumlah para wirausahawan baru di bisnis ini terus bermunculan. Tahun ini, menurut catatan Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), sudah lebih dari 100 perusahaan yang bergerak di industri persepatuan.

Orang sering tahu happy ending-nya, padahal menguatnya merek-merek lokal tersebut telah melalui proses yang panjang dan berliku. Bahkan untuk menghadapi persaingan yang ketat, Edward Forrer, misalnya, menerapkan strategi tersendiri. Selain melipatgandakan jumlah gerainya jadi sekitar 50 tahun ini dari 16 pada 2003, perusahaan keluarga ini menerapkan manajemen modern. 

Saat ini Edward Forrer – yang juga nama pemiliknya, membangun organizational learning untuk menjamin perusahaan selalu menjadi yang terdepan dalam hal inovasi. Be innovative, begitulah mottonya. Selain itu, peusahaan ini juga mengembangkan sistem pemesanan berbasis web yang inheren dengan skema produksi made to order. Melalui cara ini, Edward Forrer dapat terus menekan biaya secara efektif. Hasilnya, produsen sepatu yang memiliki 2.000 karyawan (termasuk mitra usaha) ini tetap tampil mengesankan dan menguasai 5% pangsa pasar sepatu nonsport.

Tidak ada yang tidak mungkin, begitu prinsip Edward. Semua impian bisa diwujudkan dengan kerja keras, konsistensi, serta keteguhan memegang dan menjalankan nilai. Itu pula ketika ia memutuskan menjadi enterpreneur. “Saya percaya setiap orang mempunyai gift unik yang dapat digunakan untuk menjalani kehidupan,” ungkap kelahiran Bandung, 25 Oktober 1966 itu. 

Menjadikan Merek Global
Merek Edward Forrer mulai dirintis sejak tahun 1989 oleh Edward Forrer sendiri. Awalnya produk sepatu hasil ciptaannya dipasarkan melalui cara door to door. Caranya dengan memperlihatkan gambar dari model-model yang pernah dirancang sebelumnya. Di samping itu, konsumen bisa memesan sendiri model yang mereka inginkan. Tak ayal lagi, Edward Forrer akhirnya punya banyak pelanggan tetap.

Begitu banyaknya pesanan, membuat pihak Edward Forrer kewalahan menanganinya. Atas dasar itu pula didirikanlah PT Edward Forrer, yang sekaligus juga membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga di sekitarnya. Karena model-model yang ditawarkannya selalu inovatif, Edward Forrer bisa berkembang pesat hingga saat ini.

Tak ayal, Edward Forrer adalah produk fashion dengan kualitas terbaik, terdiri dari sepatu dan tas dengan harga yang wajar serta terjangkau. Desainnya selalu baru, unik, dan modern, hadir dalam berbagai gaya khusus dipersembahkan bagi kepuasan konsumen. Untuk layanan purna jual, Edward Forrer memberikan garansi reparasi bagi pembeli produknya.

Boleh jadi, sikap itulah yang mengantarkan Edward yang lulusan SMA ini sukses meretas kiprahnya sebagai pengusaha sepatu. Gerainya tersebar di mana-mana – sepertiga gerai yang milik sendiri (termasuk yang di luar negeri), tapi selebihnya adalah milik orang lain dalam pola waralaba. Dalam menggandeng para entrepreneur tersebut, franchisor Edward Forrer memberi dukungan berupa training, di mana franchisee akan belajar langsung dalam inventory management, proses desain visual merchandise, layanan kepada pelanggan, dan manajemen keuanan dan perencanaan, perekrutan staf pegawai, seleksi produksi, proses pemesanan, konstruksi gerai, hingga grand opening.

Siapa nyana, ketika usia saya 22 tahun, Edo – demikian panggilan karabnya – hanyalah karyawan biasa, ia bekerja di sebuah pabrik sepatu. Tapi, setelah 11 bulan, dari pengalaman singkat tersebut, ia terinspirasi untuk menerapkan bakat dan keinginan untuk mendesain dan membuka usaha sepatu sendiri. “Saya ingin mengelola bisnis sendiri. Saya ingin memimpin, bekerja dengan tim, serta memecahkan problem yang ada,” ujar suami . 

Tidak mudah memang. Tapi orang harus berani melangkah untuk bisa mewujudkan cita-citanya. Dengan modal keberanian dan mimpi, Edo mulai menapaki babak baru dalam hidupnya. Modal Rp 200.000 ia belikan bahan baku sepatu. Ia menawarkan desain sepatunya dengan mendatangi para kerabat, teman ataupun kenalannya. Kalau ada yang memesan, barulah ia membuatnya. Untuk pembuatannya, ia mempekerjakan dua orang tukang. “Saya mengumpulkan modal dari uang muka pemesanan sepatu,” ungkap Edo yang waktu itu harus berkeliling naik sepeda menawarkan desainnya.

Ternyata produk sepatu yang customized itu membuat banyak orang tertarik. Dengan getok tular, menyebarlah promosi produknya. Akhirnya, konsumenlah yang mendatangi rumahnya untuk dibuatkan sepatu. Waktu itu, dalam sehari ia bisa menerima 30 order sepatu. Untuk mengembangkan usaha, ia menambah produksi, sehingga bukan cuma pesanan saja yang dilayani, tapi stok produksi untuk melayani konsumen yang datang langsung, meski jumlahnya masih sedikit.

Pasar yang sudah terbentuk mengukuhkan keberanian Edo untuk semakin mengembangkan PT Edward Forrer. Ia membuka toko pertamanya di Bandung berukuran 3 x 4 m2, yang ternyata menjadi gerbang bagi Edo meraih mimpinya. Dan, mimpi menjadi pengusaha sukses pun mampu digapainya hanya dalam waktu beberapa tahun. 

Untuk penyebaran produk, ia kembali membuka toko di Jl. Veteran. Respons konsumen luar biasa. Mereka tak hanya berdatangan dari penjuru Bandung, melainkan juga dari berbagai kota lain, terutama Jakarta. Sukses ini membuat langkah Edo tak terbendung. Ia pun mengepakkan sayap ke Bali. Berikutnya ke Jakarta, dan kota-kota potensial di Indonesia. Bahkan ke Malaysia, Hawaii, dan Australia.

Bagi Edo, melintasi batas negara bukan tanpa perhitungan. “Saya yakin dengan brand saya dan produknya,” ungkap ayah sepasang anak ini. Bahkan, Australia dijadikan kantor pusat untuk go international. Bertempat di Goldcoast, Edo pun mulai merajut mimpinya untuk menaklukkan pasar ritel sepatu dunia. The best shoes store in the world, itulah visi pemasarannya. 

Edo mengakui, karena segmen yang dibidik berbeda, standar kualitas produk Edward Forrer juga berbeda. “Australia ini akan dijadikan project model shop untuk pasar internasional,” kata Edo yang merintis pembukaan gerai di Australia pada 2003. 

Cerita Edo tidak hanya diwarani sukses melulu. Edo berterus terang, selama 18 tahun membangun bisnis Edward Forrer, beberapa kali sempat terjungkal. Penyebabnya macam-macam, mulai dari lokasi yang kurang strategis sampai SDM. “Yang penting, kita mau belajar dari kegagalan yang pernah kita lakukan sehingga kita tidak jatuh untuk kedua kalinya,” Edo menuturkan.

Menurut Edo, kunci sukses Edward Forrer adalah selalu berusaha memberikan kepuasan kepada konsumen. Harga beragam sepatu atau sandal buat perempuan dan pria serta anak-anak ini juga terjangkau berbagai kalangan. Dengan mematok harga di kisaran Rp 150-400 ribu, segmen yang dibidik Edward Forrer mulai kalangan menengah sampai menengah-atas. Selain kualitas produk, “Suasana nyaman harus hadir saat konsumen berbelanja, mulai dari keramahan petugas sampai kenyamanan tokonya,” ungkap Edo. 

Untuk membangun loyalitas konsumen sendiri, menurut Edo kuncinya adalah produk dan pelayanan. “Komunitas Edward Forrer sudah terbentuk. Mereka sudah fanatik,” katanya. Inovasi produk tak pelak terus dilakukannya. Caranya, selain dengan meng-update fashion terkini, Edward Forrer pun rajin meminta masukan dari konsumen tentang tren sepatu yang diinginkannya. 

Edo percaya bahwa bisnis adalah sebuah tool powerful untuk membangun masyarakat, baik secara ekonomi, kesehatan, pengatahuan, perspektif, keahlian dan karakter. Untuk membangun semangat karyawannya dibutuhkan servant leadership: kata dan perbuatan tidak ada gap, karena hal ini sangat membantu proses membangun bisnis yang sehat. “Dengan bisnis yang sehat otomatis akan membuat bisnis berkembang, jika bisnis berkembang, berarti cash flow positif dan berarti ada profit,” katanya.

Pengertian seperti itulah yang ia tularkan juga kepada 250 karyawannya. “Supaya mereka tahu arah perusahaan dan goal yang akan dicapai,” tukas suami Lieta Widiarti itu.

Kini, lebih dari dua windu, Edward Forrer eksis di jagat persepatuan (dan tas) kulit. Edo hampir tidak percaya bahwa produknya kini diburu para pecinta produk fashion, khususnya sepatu. Saat ini 35.000 pasang sepatu Edward Forrer diproduksi setiap bulannya. 

Namun, perjalanan memang belum berhenti. Tentu, akan banyak tantangan dan hambatan dalam menjalankan bisnis ke depan, apalagi kalau ingin menjadi merek global yang tangguh. Edo percaya, perkembangan dunia mode membuat sepatu tidak sekadar membungkus kaki, tetapi juga menjadi penyempurna dari busana yang tidak bisa dipisahkan, di sinilah kreativtas dan inovasi baru dibutuhkan. Edo optimistis, dengan kemauan yang keras dan menerapkan strategi bisnis yang jitu, target pertumbuhan 200 gerai dan penetrasi ke 12 negara dapat tercapai. (Burhanuddin Abe)

Fashion Pro, Desember 2008

Dari Musisi hingga Seniman Tato


Zaman berubah, merek-merek pun berganti. Kegemaran generasi MTV tidak sama dengan kesukaan generasi sebelumnya. Merek tidak harus tercipta dari tangan seorang desainer mode, tapi lahir dari berbagai kalangan. Berikut adalah beberapa contoh merek yang melaju pesat, bahkan tidak mustahil meninggalkan legend brand.

GIRING Ganesha Jumaryo, 25 tahun, vokalis grup band Nidji, mengaku sebagai salah satu penggemar berat sepatu Onitsuka Tiger. Dulu, ia hanya mampu beli sepatu asal Jepang itu versi palsunya. "Setelah punya penghasilan sendiri, baru saya bisa beli aslinya. Selain itu, dulu belum ada toko yang menjual Tiger di Indonesia," ujar Giring yang biasa membeli Tiger di Singapura.

Karena itu, Giring tidak alang kepalang gembiranya ketika tahu sepatu favoritnya merek Onitsuka Tiger itu ada di Jakarta. "Baru satu tahun belakangan saya beli Tiger di sini," ujar pria berambut kribo itu usai pembukaan gerai Motion di fx, mal baru yang berlokasi di Jl. Sudirman, Jakarta Selatan, Juli lalu. 

Pembawa lagu Laskar Pelangi itu itu menyukai desain Tiger yang menurutnya unik dan nyaman dipakai. "Yang saya pakai ini dibuat hand made," tutur Giring yang memiliki lima Tiger. Dua di antaranya, selalu ia bawa setiap kali tur, agar ia bisa berganti-ganti sepatu saat manggung.

Tiger hanya salah satu brand pendatang baru yang berada di top of mind anak-anak muda sekarang. Kalau merek sepatu yang ada di benak Anda adalah Puma, Adidas, Reebok, Rockpot, tentu tidak salah. Tapi sekarang pada era generasi MTV, pilihan sepatunya lebih beragam, mereknya pun lebih variatif. Begitu pun dengan aparel pada umumnya.

Kalau Anda perhatikan anak-anak muda sekarang, jangan heran kalau menemukan merek-merek yang “asing” yang kedengaran asing – tapi sebetulnya tidak bagi para fashionista. Sebutlah True Religion, Evisu, Onitsuka Tiger, Harajuku Lover, K-Swiss, Ed Hardy, Royal Elastic, Christian Audiger, atau Paris Hilton. Merek-merek tersebut jelas bukan murahan, bahkan boleh dibilang untuk kantong ABG cukup eksklusif. Harga-harganya berkisar di Rp 800.000 ke atas.

Sebutlah Levi’s, memang benar, adalah merek jins yang legendaris. Tapi Anda akan dibilang “tidak gaul” kalau tidak mengenal merek True Religion, merek jins yang kini sedang digandrungi anak-anak muda Amerika, yang mungkin menjadi “agama baru” di sana.

Tidak hanya di AS, di era kemajuan TI di mana media internet dan TV mampu menyebarkan informasi seperti virus, merek-merek global itu tentu saja cepat mendunia. Kalau kita lihat tas belanjaan Ages Monica, misalnya, salah satu merek yang disebut di atas itu, pasti terselip. Nyatanya penyanyi muda yang sedang naik daun itu adalah penggemar merek-merek seperti True Religion, Harajuku Lovers, David & Goliath, dan lain-lain.

Bahkan Melly Goeslaw yang sering tampil aneh-aneh di panggung lebih pede memakai merek-merek seperti Royal Elastic, Christian Audiger, juga Ed Hardy. 

Gwen Stefani, David & Goliath
Waktu berganti, kesukaan akan barang dan merek pun berganti pula. Pencipta brand tidak harus seorang desainer, tapi bisa datang dari mana saja, mulai dari artis film, penyanyi, ikon dunia konsumsi, hingga seniman tato. 

Gwen Stefani adalah satu satunya. Setelah sukses dengan merek Lamb (2004), penyanyi eksentrik itu meluncurkan merek Harajuku Lovers (2005). Stefani terinspirasi mode jalanan Jepang yang berani saat melakukan perjalanan ke Tokyo pada tahun 1996, di mana ia sangat kagum dengan ekspresi diri dan gaya mode para remaja di sana. Kekaguman tersebut tidak hanya dituangkan dalam lagu "Harajuku Girls", tapi juga diwujudkan dalam sebuah fashion brand.

Insting bisnis Stefani tidak salah. Meski banyak orang meragukan bahwa ia bisa mendesain apalagi menjahit, toh gaya busana yang merupakan cerminan dirinya itu sukses di pasaran. Dibuat di Los Angeles, Harajuku Lovers tidak hanya pakaian, tapi juga tas, dompet, sepatu, aksesoris, bahkan alat tulis. Banyak selebriti yang mengenakan merek ini, di antaranya Silo Jolie-Pitt dan tentu saja putra Stefani, Kingston Rossdale.

David & Goliath, Anda tentu kenal dengan kisah tersebut, tapi di Amerika adalah salah satu merek fashion paling hot saat ini. Merek ini diciptakan oleh Todd Goldman pada 1999, awalnya berbasis di Florida, dan kini produknya tersedia di lebih dari 2.500 butik dan department store terkemuka di seluruh dunia.

Kekuatan David & Goliath terletak pada lukisan kartunnya yang unik, lucu, naif, tapi penuh rasa humor. Padanannya mungkin seperti T-shirt Dagadu asal Yogyakarta itu, tapi dipadukan dengan desain yang menawan, bukan sekadar kaus oblong. 

Menyasar pasar remaja, David & Goliath adalah fenomenal. Tidak hanya populer di Amerika, dengan dukungan pendistribusian utama di 15 wilayah di Negeri Paman Sam tersebut, tapi juga tersebar dengan baik untuk pasar global, mulai dari Kanada, Inggris, Yunani, Italia, Belgia, Belanda, Luksemburg, Swedia, Norwegia, Denmark, Finlandia, Islandia, Afrika Selatan, Australia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Malaysia, serta Indonesia.

Seniman Tato
Kalau David & Goliath terkesan manis, apalagi pasar utamanya adalah remaja putri 16 – 24 tahun. Maka, Ed Hardy lebih “sangar”. Maklum, merek ini adalah hasil kolaborasi desainer Christian Audigier dan “The Godfather of Tattos” Don Hardy. 

Lahir di California Selatan 1945, Don Hardy adalah maestro tato terkenal, dengan spesialisasi tato tradisional ala Jepang. Penggemar karya-karyanya sangat luas, tidak hanya di AS tapi bahkan ke seluruh dunia. Tidak heran kalau kemudian Christian Audigier mengambil lisensi karya-karya Hardy untuk pakaian (2004).

Desain Ed Hardy sangat unik, dengan karakter penggunaan teknik campuran gambar-gambar yang menarik dan penggunaan warna yang lebih cerah. Koleksi ini menjadi sasaran untuk orang yang berani tampil beda dan mampu memperkuat kepribadian pemakainya. Merek yang sudah menjadi tren gaya hidup di Amerika ini banyak memikat artis Hollywood untuk mengenakan koleksinya. Mulai dari Madonna hingga Leonardo DiCaprio. Koleksinya tidak hanya terbatas pada T-shirt saja, tapi juga sepatu, kaca mata, perhiasan, jam tangan, dan bahkan energy drink.

Saat ini butik Ed Hardy tersebar di berbagai belahan dunia, mulai dari Waikiki, Dubai, Kuwait, Tel Aviv, Dallas, Miami, Los Angeles, Tucson, Houston, New York, San Francisco, Hamburg, Tokyo, Singapura, Noosa The Sunshine Coast, Melbourne, Sydney, Riga Gold Coast, Johannesburg, hingga Cape Town. (Burhanuddin Abe

Fashion Pro, Desember 2008

Property business staying afloat amid global crisis


THE current global financial crisis has affected almost all sectors, including the property sector. Within two years the property business here will be sluggish, say analysts. Sales of condominiums, especially the apartments subsidized by the government for the lower income market, will slow down and office building sales will also decrease sharply in 2009.


Indeed, the macro economic indicators have worsened during the third quarter of this year. The inflation rate is currently the highest in the past three years. The rupiah value has weakened against the U.S. dollar. Bank interest rates for loans have gone up and stock prices have dropped. The U.S. financial crisis has clearly affected the Indonesian economy, especially its stock and capital market.


After large numbers of government-subsidized condominiums entered the pre-sales market last year the number gradually declined in the middle of 2008. However, new construction has started for middle and upper class condominiums. The locations of both are in premium class areas in the city, such as the Central Business District.


Actually, the overall situation is not getting better. It is understandable as banks that used to provide huge loans are now putting a brake on lending and have to think more than twice for such project loans. "No real lending, no real speculation," they say. This kind of situation will last at least two to three quarters until next year, said Arief Rahardjo, associate partner for strategic consulting of PT Cushman & Wakefield Indonesia.


Still there is another scenario that shows that the property business in Indonesia is not totally affected. Hiramsyah Thaib, president director of PT Bakrieland Development, said that while the exchange rate of the rupiah against the U.S. dollar has weakened it is estimated that foreigners will be attracted to purchase properties here. From this perspective the property business domestically is not in an entirely bad shape after all as its growth can be maintained, he added.


Expatriates, who earn in dollars, will take advantage of the situation, he said. "Here lies the great potential in property purchased by expatriates, including foreign businesspeople," he said.


Such potential has been proven by the sales of an apartment complex called The Wave Epicentrum in Kuningan, South Jakarta, developed by the Bakrie group. Out of the first construction phase of 861 units, 431 units have been sold to date with 5 percent ownership by foreigners. The apartments have just entered the initial construction stage.


According to Handoyo Kristianto, chairman of Real Estate Indonesia, the properties bought here by expatriates are less in number in comparison with those in Singapore and Malaysia, because the ownership status over there is much longer and clearer.


He added that once the government revises procedures for property ownership by expatriates the sales will automatically go up. Currently expatriates only have a usership right for 25 years, which is extendible to 70 years. "For expatriates such procedures are complicated," he said while highlighting the huge potential for property ownership not only here in Jakarta, but also in Bali and Batam.


In every difficult situation one can always find an opportunity, say the wise men. That is why in spite of the future stagnation in the marketing of condominiums and apartments developers do not seem deterred from carrying out new projects. One way is to work on a specific target or niche marketing. PT Asiana Lintas Development has taken such steps in its marketing. After successfully marketing its Nirvana Kemang Apartments it is now constructing Senopati Suites on Jl. Senopati, Kebayoran Baru, South Jakarta. "We carefully target our apartments to a select segment that has not been affected by both the economic situation or excessive number of apartments available," said Alifa Abdullah, marketing director of PT Asiana Lintas Development.


Built on 2,600 square meters of land close to Sudirman Central District Business (SCBD), Suropati Suites comprises 17 floors totaling 86 apartment units. There are various sizes of units, from 124 to 440 square meters. The price is Rp 15 million per square meter. "Until now more than 35 percent has been sold," he said.

Meanwhile, no less aggressive in its marketing is Agung Podomoro Group. One of its construction companies, PT Cahaya Mitra Sejahtera, has just completed Permata Hijau Residences in Permata Hijau, South Jakarta. The project is valued at Rp 300 billion and construction began in February 2007.


The high-rise exclusive apartment buildings are situated on a 7,000 square meter area and combine a modern minimalist architectural concept blended with a tropical park. There are two towers here, Abelia with 33 floors and Bromelia with 26 floors. "We prioritize owners' privacy as each floor consists of only two units and is served by two elevators," said marketing director of Agung Podomoro Group, Indra Widjaya Antono as quoted by Kontan.


Agung Podomoro markets only 250 units with 100 square meters for three bedrooms and 200 square meters for four bedrooms. The price of each unit ranges from Rp 1.6 to Rp 4 billion. Since the marketing launch in December 2006, 80 percent of the units have been sold. The demand is quite high, said Indra, because expatriates, for example Koreans, Americans and Australians like Permata Hijau area. "Many of them rent in this area," said Indra.


The market for Permata Hijau Residences is also targeted mostly at expatriates who have become a target market of several other developers of apartments in the area. Other apartments in the area include Simprug Teras, Simprug Indah, Permata Saphire Regency and The Bellezza, which belongs to Gapura Prima Group. Compared to other residential areas, Permata Hijau is an attractive residential destination for expatriates.


Meanwhile, Chairman of Real Estate Indonesia (REI) Teguh Satria is optimistic about the property business in the country, predicting a 25 percent growth in the sector in November and December 2008 provided there are no extreme global economic changes. (Burhanuddin Abe)


The Jakarta Post, November 27, 2008