Monday, March 31, 2008

Dunia Gemerlap Jakarta


Party with Royal Salute “The Ultimate Tribute” @ Sun City Luxury Club on Friday, April 04, 2008, start 9pm till late. Cheers!

Pesan pendek dari Edhi Sumadi, Country Manager Pernod Ricard, pemegang merek sekitar 30-an spirit dan wine, mampir ke ponsel saya. Ini adalah salah satu dari tiga SMS ajakan party minggu ini.

Begitu banyak undangan party di Jakarta, dengan konsep-konsep acara yang baru, bahkan crowd baru pula. Tempat-tempatnya pun selalu baru. Rasanya kalau kita meleng sedikit pasti ketinggalan.

Kapan Anda terakhir kali datang ke sebuah tempat hangout? Jangankan tahun lalu, bulan lalu pun, mungkin sekarang sudah basi. Tiap bulan selalu saja ada pembukaan bar-bar baru, klub-klub baru, atau kafe-kafe baru – minimal venue lama yang di-redesign, kalau perlu dengan nama baru. Kalau mereka tidak melakukan perubahan, pasti akan ditinggalkan para “jamaah” pesta selalu.

Anda tahu Sun City Luxury Club, seperti yang tertera di SMS di atas? Mungkin bukan nama yang asing bagi para partygoers Jakarta. Tapi kalau Anda tidak tahu tempat tersebut, tidak perlu berkecil hati, Anda bukan satu-satunya orang yang “kurang gaul”. Begitu banyak klub di Jakarta, ada yang datang ada yang pergi, saya coba list beberapa: Score!, Blowfish, D'Light, 9Clouds, Bvlgary, 101 Lounge, Amor Club, X Lounge, Dragonfly, Vertigo, Mumm Champagne Lounge, Kama Sutra, Mojito, ADS Bar, Red & Whte, X2, Equinox, Black Cat, V2, Red Square, Embrio, Mistere, Between… Percayalah, hanya clubber sejati saja yang hapal tempat-tempat tersebut di luar kepala.

Yang terang (bukan gelap), dunia gemerlap (dugem) malam Jakarta memang kagak ade matinye. Kalau Anda suntuk dan butuh selingan, pasti tersedia hiburan yang sesuai dengan kebutuhan batin, mau pilih yang rave atau pun yang romantic, semua ada. Kondisi kantong juga bisa disesuaikan, ibaratnya mulai dari cuma cepek hingga ber-jut-jut, tinggal tunjuk.

Kalau Anda suka berdansa, khususnya Latin, The W9 Club di kawasan selatan, untuk menyebut salah satu contoh, patut dicoba. Inilah bar yang memadukan konsep dance club, bar, dan restoran. Kalau Anda suka ajep-ajep dengan irama musik dengan ketukan cepat, klub-klub di Kota menjadi pilihan yang tepat! Lupakan dress code, karena hiburan ala “Jakarta Barat” tidak memedulikan penampilan pengunjungnya, tidak perlu jaim seperti di kawasan selatan, yang penting berkocek tebal!

Oh ya, kalau membagi dunia berdasarkan ideologi, kita dulu mengenal Timur-Barat, kalau berdasarkan tingkat kemakmuran kita mafhum Utara-Selatan. Tapi kalau dunia malam Jakarta, kita membaginya menjadi Barat dan Selatan.

Barat mewakili klub-klub ala Kota – meski berlokasi di utara tapi kalau gaya hiburannya seperti di Kota, dia digolongkan sebagai “Barat”. Cirinya, klub-klub tersebut tidak terlalu stylist, hiburannya cenderung to the point, mengarah ke urusan syahwat, dan pendapatan setiap malam yang luar biasa – khususnya untuk venue yang populer dan banyak pengunjungnya.

Sementara “Selatan” mewakili klub-klub yang berada di kawasan Jakarta Selatan – sebutlah kawasan Kemang, plaza-plaza atau hotel-hotel berbintang lima yang kebanyakan berlokasi di Jakarta Selatan. Interiornya biasanya sangat mewah dan classy. Pengunjungnya para fashionista, minimal suka mejeng (to see or to be seen), cenderung jaim (jaga image), tapi tingkat belanjanya relatif rendah – paling tidak, jika dibandingkan dengan pengunjung klub-klub “Barat”. Teman saya, salah seorang pemilik jaringan klub dan kafe di Jakarta, pernah menghitung, pendapatan sebuah klub di Jl. Hayam Wuruk bisa mencapai Rp 12 miliar sebulan, bandingkan dengan klub di kawasan Taman Ria Senayan yang paling banter “cuma” Rp 1 miliar per bulan.

Begitulah. Harga BBM boleh naik, harga beras boleh melangit, harga susu boleh menonjol, harga pisang boleh naik turun, tapi bisnis hiburan Jakarta, mulai zaman kuda gigit besi hingga reformasi gigit jari, dari generasi Ebony hingga angkatan Embassy, tetap berputar. Selamat datang di dunia gemerlap malam! (Burhanuddin Abe)

Pinkan @ Chivas


Di sela-sela kesibukannya mempersiapkan album solo kedua, Pinkan Mambo tampil dalam acara The Chivas Escapade Dassling Encounter di V2 Pub Lounge Karaoke Jakarta 28 Maret lalu. Malam itu Pinkan tampil membawakan beberapa hits-nya, seperti Kasmaran, Biar Ku Tau Rasa, Dirimu Dirinya, Cintaku, Cinta Tak Akan Usai, Still Belive, dan Aku Tau Rasanya.

Penampilan Pinkan di panggung masih seperti biasanya, lincah, genit dan terkesan manja. Memang gaya seperti itu sudah melekat pada setiap penampilan Pinkan sejak beberapa waktu lalu saat masih bergabung dengan duo Ratu ini.

Sebelum penampilan Pinkan, para profesional muda yang hadir dalam acara ini dihibur dengan penampilan Valencia Band. Bagi professional muda yang suka hadir di executive lounges Jakarta ini tentu sudah kenal dengan penampilan grup musik ini. Resident DJ Daniel, DJ Vito dan DJ Ardi sangat berperan dalam suksesnya party malam itu. [chivas]

Tuesday, March 25, 2008

Investing in unit-linked products


INDONESIANS are generally reluctant to make an insurance plan, or simply ignore the significance of such planning. Tiarma Hutabarat is no exception. However, when an insurance agent visited her workplace to promote unit-linked products, Tiarma, who runs a catering business, was interested. The agent, who works for a company that has been in operation in Indonesia for a decade, made interesting promises as he offered not just insurance but also investment. "If I invest about Rp 5 million per month for two years, when I am 60 years old, my investment will be about Rp 1 billion" Tiarma said.

Indeed, unit-linked products are insurance coupled with investment. If you have invested in a unit-linked product, you can enjoy insurance protection and investment. The insurance product offered may be health insurance or life insurance, but usually it is marketed to the public as a more attractive package, for example coupled with a savings scheme or educational insurance.

Just like ordinary insurance, a customer of unit-linked insurance pays a premium for a certain period of time, usually monthly. The difference is that a unit-linked premium has two portions: the protection portion and the investment portion. The protection premium has the same function as the premium in ordinary insurance, while the investment portion will be handled by an investment manager.

A customer of unit-linked investment is like a mutual fund customer. In both, a customer decides on what the money will be invested in. The choices available are equity, a fixed income, the money market or a combination of the three. All choices have more or less the same risk, depending on the type of investment chosen.

A unit-linked product is not the prima donna of insurance products. Understandably, a unit-linked product has dual value: investment and protection. When unit-linked products were first introduced on the market in 1998, there were only three players. Today, these products are offered by nearly all life insurance companies, such as AIG Life, Prudential Life Assurance, Manulife Indonesia, Sun Life Financial Indonesia, Allianz Life Indonesia, Sequis Life, Jiwasraya, MAA Life, AIA Indonesia, Astra CMG Life and Axa Mandiri Financial Services.

In the eyes of financial observer Goei Siau Hong, the prospects of unit-linked products are bright even though many Indonesians are more inclined to invest in time deposits. He acknowledged that the risk of a time deposit was low, but then so is the return. In the long run, he believes Indonesia will follow the trend in advanced countries, where people have become oriented toward long-term investment, which is possible with a unit-linked product.

According to Goei, it is not easy for retail investors to invest in products that have a long-term commitment, such as shares and bonds. On the other hand, products such as unit-linked products and mutual funds, which have an investment composition of a number of long-term products, are ideal. "Besides, these products are affordable and are managed by a fund manager," he said.

However, before deciding to invest in a unit-linked product, one should consider the opinion of Taufik Gumulya, a financial planner at TGRM Financial Planning Services. In his opinion, a unit-linked product is very practical as it facilitates both customers and prospective customers. In the case of a unit-linked product, a customer does not need to go to the trouble of visiting two companies -- an insurance company and a mutual investment management company or an investment manager -- because a unit-linked product is a combination of protection and investment.

Even a customer with a thin wallet can easily enjoy protection and make an investment because the investment may be made in a relatively small amount of money. Many unit-linked products have an investment value of only Rp 100,000 per month or even less. This product is also liquid because, as far as the fund is sufficient, the investment can be withdrawn by the customer at any time. Even after a certain period of time, this investment can be used for the payment of the basic premium so that the customer may enjoy a premium leave.

Don't be mistaken, though. As he can enjoy all the facilities referred to above, a prospective customer placing his money in a unit-linked product bears the costs not found with an investment in mutual funds, such as the insurance cost (in accordance with the age and the sex of the customer), administrative costs and investment management costs. In general, the company will clearly state the amount of administrative costs included in the premium. The amount varies from one company to another.

What about the insurance risk? Some insurance companies offer life insurance, the premium of which is charged every month to the customer's unit. Other companies cover insurance against accidents or even add health insurance. The greater the variety of risks, the bigger the portion of the premium used to pay the insurance risk.

How about the premium payment, then? There are two ways to pay the premium. First, payment as a lump sum at the beginning of a period. Second, payment made periodically every year for a certain period of time. Every product that an insurance company offers has unique characteristics. Therefore, carefully study the product that is offered to you. And the saying goes, test before buying. (Burhanuddin Abe

The Jakarta Post, March 23, 2008

Tuesday, March 18, 2008

War between mobile phone service providers not over


THE lowest rate among all operators! That is the sales pitch of XL Bebas in an ad that has run for weeks. On March 5, the XL operator starting offering a rate not based on per second, per minute or hour and now millions of XL Bebas subscribers throughout Indonesia can enjoy the lowest rate ever and talk to their heart's content at a rate of Rp 0.00001 per second.

However, conditions apply. The rate is valid only after the first minute between 11 p.m. and 10:59 am, after the second minute between 11 a.m. and 6:59 pm and after the third minute between 7 p.m. and 10:59 p.m. For calls to subscribers of other operators the rate is also Rp 0,00001/per second after the second minute up to the 10th minute. The rate includes 10 percent VAT and is currently available to subscribers in Jakarta, West Java, Central Java, Yogyakarta, East Java, Bali and Lombok.

Nicanor V. Santiago, marketing director of XL, said the program had strengthened the company's position as the provider with the lowest rate and quality service. He also said XL wanted to avoid the price war among mobile phone service providers that base their rates on per second or per minute calculation. "We want to leave this vicious circle of price warfare and focus on being the provider with the lowest rate. Through this promotional rate we expect our subscribers to feel freer and comfortable in using XL without having to worry about high charges," he stressed.

But is it really true that XL offers the lowest rate? Just a few days XL started running its sensational ads, Indosat jumped on the bandwagon and announced a lower rate, Rp 0,00000000001 (one can wonder at the number of zeros) per second. There are no rate or time slots, the rate is available for communication to anyone, anywhere and anytime after the first 90 seconds to all operators. SMSes are also free for the whole day just after making a call that costs only Rp 2,000. Wow!

High rates are now things of the past. Customer loyalty programs offering prizes and reward points are also history. And gone are the ads about sophisticated 3G services. The alternative is all about low rates, which operators think is the right strategy in the present climate of stiff competition.

Now let's take a look at Three. The brand is owned by PT Hutchison CP Telecommunications Indonesia, which offers a rate of Rp 1 per minute! This means this Hong Kong operator only charges 1.66 Indonesian sen per second. Three subscribers do not have to make calls in the late hours as the offer is available from 1 p.m. to 1 a.m., but the minus point is that it is temporarily available only for calls to other Three subscribers.

PT Bakrie Telecom (BTel) with its Esia brand has also offered low rates since day one of its operation. It has further expanded its promotional program by offering a free bonus of Rp 50 per minute to subscribers when phoned by other GSM users. Through a bundling program, Esia mobile phones were being offered for Rp 199,000 each and sales soon skyrocketed. The target is 3.7 million by the end of 2008 or about 4.6 percent of estimated domestic cell phone subscribers, which is 80 million.

A similar strategy of offering low rates is also used by PT Sinar Mas Telecom, also known as Smart Telecom. Sutikno Widjaya, the company's president director, said that until March 31, subscribers will not be charged for calls to other Smart subscribers, while the SMS rate among subscribers is only Rp 25. The CDMA-based operator charges Rp 550 and Rp 660 per 30 seconds for local and non-local calls with other operators. The Smart management does not seem to be worried about the huge costs the company must bear in its promotion.

In the meantime, the company has spent Rp 3 trillion on the construction of 600 BTS in a number of major cities in Java. Next year, it plans to spend another Rp 2 trillion on 700 BTS. "Five hundred BTS will be located in Java and the rest in Sumatra, Kalimantan and Sulawesi," said Sutikno during an interview with Kontan.

In the telecommunications industry there are three important aspects, namely rate, quality and reach (network). This is how customers prioritize or rank the aspects. Of course, reach that is excellent is a plus point. Customers will soon leave an operator that does not have extensive reach even if the rate is very low. Coverage is another important aspect.

According to one observer of the telecommunications industry, Ahmad Farukinata, low rates have indeed become the latest trend here. Today's customers, he said, have become smarter. When low rates are advertised people carefully compare the rates offered by each operator before making a final decision. However, the ARPU (average revenue per user) of established subscribers is certainly larger than new ones. "The ARPU of a new subscriber is only Rp 20,000 to Rp 35,000 per month on average, and that is mostly used on SMSes," he added.

If low rates offered in promotions are available only for a short time then it will boomerang on the operators. There is also the risk of expired SIM cards as many customers only chase after low rates. New cards that are sold at very low prices compared to recharging prices also generate a lot of expired cards. Last year, about 2,500 Mentari and IM3 cards expired every day. Since the onset of the price war and the stiff competition, more and more cards have expired. It costs Rp 7,500 to make a card, while they are sold for Rp 10,000, plus another Rp 10,000 for the initial startup pack. This means an operator loses Rp 7,500 for every expired card.

At present, there is no other choice for operators but to do their best in this tough price war. According to a Frontier Consulting Group management consultant, Handi Irawan, the price war has a serious impact on the profitability of operators. "Customers acquired through the low rate strategy are the kind of customers that can easily move to another operator at any time as they are extremely sensitive to rates," he said. (Burhanuddin Abe

The Jakarta Post, March 18, 2008

Sunday, March 16, 2008

Mencermati Investasi di Kondominium


Investasi di sektor kondominium? Kenapa tidak? Di tengah begitu banyaknya instrumen investasi saat ini, kondominium bisa dibilang salah-satu elemen investasi yang menggiurkan. Apalagi secara umum, kondisi perekonomian Indonesia belakangan ini sudah menunjukkan indikator-indikator yang optimis.

Lihatlah pertumbuhan GDP dari 2006 yang hanya 5,5% menjadi 6,3% pada 2007. Tingkat inflasi yang turun, meskipun hanya 0,1%, dari 6,6% pada 2006 menjadi 6,5% pada tahun kemarin. Perkiraan pada tahun ini inflasi akan menjadi hanya 6% saja.

Rupiah pun dalam dua tahun terakhir hampir bisa dipastikan stabil terhadap dolar Amerika. Suku bunga pinjaman juga semakin kondusif seiring dengan menurunnya SBI menjadi 8% pada akhir tahun 2007. Hal ini didukung pula dengan gejolak politik dan sosial yang relatif aman hingga 2007.

Tak heran kalau kemudian iklim investasi semakin baik dengan melonjaknya Nilai Investasi Asing 141% pada 2007 dibandingkan pada 2006. Nilai Investasi Domestik pun ikut naik meski hanya sebesar 12,2% pada 2007.

Jadi, apalagi yang Anda tunggu untuk ikut mendulang keuntungan lewat investasi di sektor kondominium? Hal yang perlu diperhatikan dengan amat teliti adalah lokasi, lokasi dan lokasi. Ini sudah menjadi pakem di dunia properti secara umum.

Hal ini terbukti dari beberapa unit kondominium di lokasi yang tepat, meskipun usia bangunannya sudah cukup tua, tapi bila disewakan oleh pemiliknya, mungkin saja tarif sewanya masih bisa bersaing dengan bangunan baru. Atau bisa juga karena bangunan tersebut dikelola oleh property management yang mumpuni sehingga tarif sewanya tidak ikut surut seirama dengan usia bangunan.

Sebagai contohnya salah satu bangunan kondominium yang tertua di Jakarta adalah Park Royal yang hampir memasuki usia 20 tahun. Tapi, karena proyek ini terletak di lokasi yang strategis, tarif sewanya dapat bersaing dengan bangunan baru di sekitarnya.

Pada umumnya, sebuah kondominium yang mulai memasuki usia 15 tahun harus melakukan renovasi besar, baik dari segi mechanical engineering (M/E) atau dari segi design dan kosmetik. Tidak seperti pada landed house (rumah di darat) yang usianya bisa lebih dari 15 tahun mungkin tidak perlu direnovasi secara besar-besaran.

Namun, secara umum hal yang patut jadi perhatian bagi para investor adalah apakah dia akan berinvestasi jangka pendek atau jangka panjang. Menentukan tujuan ini penting untuk memilih jenis kondominium yang mana yang paling cocok.

Untuk investasi jangka pendek, yang paling menarik adalah membeli unit kondominium pada saat pre-sales. Sebab, harganya akan melonjak naik sekitar 20 – 25% dari saat launching hingga sampai menjelang selesainya pembangunan. Sehingga investor akan bisa mendapatkan capital gain bila ia menjual unitnya. Jarak antara pre-sales sampai launching berkisar antara 2 – 2,5 tahun. Hasil riset yang kami lakukan menunjukkan bahwa pada kuartal 4 2007 tercatat tingkat pre-sales untuk kondominium kelas middle mencapai 69,9% dan untuk kelas upper sebesar 47,9%. Ini membuktikan bahwa para investor sadar akan capital gain yang akan diperoleh pada saat launching.

Bila ingin melakukan investasi jangka panjang, unit-unit kondominium ini bisa saja disewakan dengan yield rata-rata 8%/tahun. Tentu ini masih lebih menguntungkan ketimbang tingkat suku bunga deposito yang rata-rata hanya 5 – 6%/tahun.

Namun, untuk jangka panjang yang perlu diperhatikan adalah lokasi dan konfigurasi unit kondominiumnya. Bila lokasinya sekitar CBD (Central Business District) biasanya penyewanya adalah para single/double, bukan keluarga yang bekerja di kantor yang lokasinya dekat dengan apartemennya, jadi unit yang cukup favorit untuk disewakan adalah tipe 2 kamar atau maksimal 3 kamar (dengan fungsi 1 ruang kerja dan 1 kamar lainnya untuk kamar tamu).

Bila lokasinya ada di sekitar selatan Jakarta, maka umumnya yang menyewa adalah keluarga expatriate, sehingga tipe unit kondominiumnya adalah lebih besar misalnya 3 atau 4 kamar. Umumnya pertimbangannya adalah kedekatan dengan sekolah internasional anak-anaknya. Sedangkan untuk kondominium yang akan disewakan yang lebih dari 4 kamar, akan menjadi pesaing langsung rumah-rumah tinggal disekitarnya.

Bagian selatan Jakarta saat ini memang masih menduduki urutan pertama dalam hal supply kondominium yaitu sebesar 27,7%. Urutan kedua adalah belahan utara Jakarta yang mencapai 25% dan urutan ketiga adalah Jakarta Pusat yaitu sebesar 22,4%. Lalu, berapa harga yang pas apabila Anda ingin berinvestasi di kondominium? Ini akan ditentukan dari kelas mana bangunan kondominium yang anda miliki. Untuk kelas middle, biasanya harga berkisar antara Rp 5 – 8 juta/m2. Untuk kelas upper middle, harga berkisar antara Rp 8 – 13 juta/m2. Dan untuk upper lebih dari Rp 13 juta/m2. Untuk harga rata-rata kondominium di Jakarta CBD sendiri sekarang sekitar Rp. 13 juta /m2.

Beberapa kondominium kelas middle yang cukup laris, tidak terlalu mahal harganya terletak di kawasan kebon kacang, mas mansyur dan kemayoran. Bahkan, ada di antara kondominium tersebut yang laku keras seperti kacang goreng. Statistiknya menunjukkan bahwa supply kondominium kelas middle masih mendominasi pasaran, yaitu sekitar 27.286 unit pada 2007. Sementara untuk kelas lower-mid hanya 9.252 unit dan kelas up-mid 12.004 unit dan kelas upper hanya 10.013 unit.

Untuk kondominium kelas lower dalam waktu belakangan ini dan beberapa tahun ke depan kemungkinan pembangunannya akan melonjak tajam dengan adanya program dari pemerintah yang membangun Rusunami. Hal ini tentu akan membantu pemerintah dalam hal penyediaan tempat tinggal yang layak untuk rakyat banyak.

Tarif sewa memang tidak bisa terlalu tinggi yaitu lebih kurang maksimum US$2.500 per unit per bulan, kecuali unit yang disewakan tersebut terdapat pada proyek yang cukup prestisius dan lokasinya sangat baik. Pangsa pasar untuk kelas atas inipun cukup terbatas karena penyewanya adalah dari kedutaan atau CEO dari perusahaan multinational di Jakarta.

Namun, sekali lagi, selain masalah lokasi, kredibilitas dan reputasi property management yang menangani sebuah kondominium pun harus masuk dalam pertimbangan utama. Karena ‘barang’ yang bagus tidak akan bisa dijual bila penjualnya tidak mumpuni, sebaliknya seorang penjual yang baik akan mampu menjual ‘barang’ yang terlihat super mewah atau biasa-biasa saja.

Dari data yang kami kumpulkan tercatat beberapa serviced apartment dan apartemen yang memang dibangun untuk disewakan tarif sewanya dalam setahun terakhir naik 6,7% dalam kurs Dolar Amerika karena dikelola oleh property management yang kredibel. Tarif sewa serviced apartment dan apartemen yang memang dibangun untuk disewakan saat ini rata-rata adalah US$ 16,72 per m2 per bulan,

Namun, perlu diakui juga bahwa tarif sewa kondominium saat ini rata-rata adalah US$ 13,62 per m2 per bulan, tidak sebaik apartemen sewa. Hal ini disebabkan melimpahnya supply di pasaran apartemen sewa. Kendati begitu, kenaikan tetap terjadi meski hanya sedikit, yaitu 2,7% dalam kurs Dolar Amerika dan 7,2% dalam kurs Rupiah. Tidak terlalu jelek, tentunya.

So, bisa dibilang investasi di sektor kondominium bisa dibilang cukup menjanjikan untuk beberapa tahun ke depan. Investasi jangka pendek atau jangka panjang? Semua tergantung pada Anda, karena sama-sama menguntungkan. Tinggal tentukan lokasi yang strategis serta property management yang berkualitas. (Nonny Subeno, Partner, Residential Sales and Leasing, PT Property Advisory Indonesia - PROVIS)

Saturday, March 15, 2008

Jurnalisme Kuliner


Tulisan tentang makanan di media apakah termasuk karya jurnalistik? Wacana ini pernah mengemuka dan sempat menjadi polemik serius. Teman saya, wartawan senior, berpendapat bahwa tulisan yang berkaitan dengan kuliner, khususnya review tentang makanan tertentu di sebuah warung atau restoran bukanlah karya jurnalistik, karena nadanya selalu positif. Tidak ada kritik, yang ada adalah “enak” dan “enak sekali”. Pokoknya, maknyus! Atau, dalam terminologi jurnalisme, tulisan seperti itu cenderung “satu arah”, tidak ada unsur cover both side story yang menjadi jiwa tulisan jurnalistik. Benarkah?

Bondan Winarno, pembawa acara Wisata Kuliner di Trans TV, tentu mempunyai pendapat yang berbeda. Menurut mantan Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan ini, rumah makan yang akan dia review di acaranya, sudah melalui proses screening terlebih dulu. Sudah ada pra-penilaian, baik oleh Bondan pribadi maupun oleh Tim Jalansutra, komunitas pecinta kuliner di mana Bondan menjadi kepala sukunya. Dengan kata lain, restoran yang kurang OK sudah pasti dihindari, sehingga makanan yang dicicipi pun dijamin maknyus.

Bodan menepis bahwa tidak ada kritik sama sekali terhadap makanan yang dicicipinya. Meski tidak pernah mengatakan “tidak enak”, bukan berarti penilaian selalu positif. Dugaan bahwa media dibayar – yang merupakan pantangan terbesar dalam dunia jurnalistik – juga ditepis Bondan.

Sebagai pengelola majalah food & entertainment Appetite Journey tentu saya mengamini pendapat Bondan Winarno – yang secara personal menjadi inspirasi saya ketika memutuskan menjadi wartawan. Tapi saya tidak ingin larut dalam polemik ini dan berdebat tentang keberadaan jurnalisme kuliner – yang pijakannya menurut saya sama dengan jurnalisme pada umumnya, yakni: to inform, to educate, dan to entertaint.

Yang jelas, info seputar kliner saat ini makin dibutuhkan. Media-media umum, apalagi yang kusus, perlu memberitakannya. Bahkan majalah gaya hidup pendatang baru dari Grup Tempo, U, menjadikan topik kuliner sebagai cover story.

Ya, siapa yang bisa menyangkal bahwa gerai-gerai yang menjual makanan (baca: restoran, kafe, food court, coffee shop, dan sejenisnya) sudah menjamur di Jakarta, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Kalau awal tahun 1990-an kita hanya mengenal beberapa kafe serta restoran yang kebanyakan berlokasi di hotel-hotel, kini sudah tidak terhitung jumlahnya. Di Jakarta saja tak kurang dari 10.000-an. Belum termasuk yang kelas kaki lima jumlahnya sudah tidak terbilang lagi.

Karena kebutuhan informasi tentang tempat makanan (untuk kelas menengah perkotaan yang bukan sekadar bertanya hari ini “makan apa” tapi “makan di mana”) itu pula, media yang menampilkan dunia kuliner juga makin marak. Tidak hanya hanya media cetak, stasiun TV pun pasti punya tayangan seputar kuliner. Situ-situs atau pun blog-blog pribadi, pun tidak sedikit yang mengkhususkan diri kepada topik makanan. Sebutlah jalansutra.or.id, ada sendokgarpu.com, budiboga.blogspot.com, pennylanekitchen.blogsome.com, dan tentu saja appetitejourney.com.

Jadi, apakah jurnalisme kuliner itu juga jurnalisme? Gak penting-penting amat, gitu loh! Pokoknya, meminjam motto komunitas Jalan Sutra, sekali jalan-jalan terus makan-makan… (Burhanuddin Abe)

Royal Legacy of Art & Tradition



Sebuah Mercy menjemput pasangan Darius Sinathrya - Donna Agnesia di bandara internasional Ngurah Rai, Denpasar. Inilah untuk pertama kalinya pasangan sejoli selebriti itu akan menghabiskan bulan madunya (yang kedua) di Bali.

Tempat yang dituju tidak tanggung-tanggung, sebuah resor mewah yang sangat lekat dengan nuansa Bali di kawasan Ubud, sekitar 40 kilometer dari Denpasar, The Royal Pita Maha. Ubud, dalam cerita rakyat setempat, adalah destinasi pilihan pendeta Maharsi Markandhya dari Jawa. Sementara orang-orang asing generasi pertama yang “menemukan” Ubud sering menyebut bahwa desa ini sebagai surga dunia, dan The Royal Pita Maha adalah bagian penting dari keindahan desa ini, “is a captivating resort of refined Balinese villas that embrace the landscape of a serene river valley.”

Meski dibangun tanpa blue print, sang pemilik resor ini yang tak lain adalah keluarga kerajaan Ubud, merasa tidak perlu merusak alam sekitar. Bahkan bangunan di lahan seluar 12 hektare itu sangat menyatu dengan alam sekitar yang asri. Vila-vila dibangun menghadap ke lembah yang di bawahnya mengalir Sungai Ayung, lengkap dengan air terjun alaminya. Berada di vila, dengan perpaduan eksotis kebun yang hijau, bukit dan lembah, membuat suasana rileks. “Wow, keindahan alamnya tidak ada duanya!” seru Donna tertahan.

Terdiri dari 52 villa, 41 buah Pool Villa, 10 buah Healing Villa dan 1 buah Royal House. Dirancang untuk kenyamanan Anda, king size bed serta private swimming pool dengan pemandangan alam yang hijau, menjadikan The Royal Pita Maha penuh dengan ketenangan dan kedamaian.

Didesain dengan Balinese style yang memadukan nuansa modern dan alami. Pastinya akan membuat Anda dan pasangan Anda dimanjakan dengan suasana seperti back to nature di sekelilingnya.

Tidak hanya alam memesona, The Royal Pita Maha terletak di daerah Ubud yang terkenal dengan kebudayaan khas dan tarian tradisional seperti tarian Legong, Kecak dan banyak lagi tarian lainnya. Tempat ini seringkali menarik perhatian para turis dari mancanegara dan menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi bila berlibur ke Bali.

Kalau Anda ingin bermalas-malasan tinggal di resor juga bukan pilihan yang salah. Atau, jika Anda ingin menikmati beragam aktivitas untuk Anda seperti pertunjukkan kelas tari, musik, lukisan, kelas memasak serta kelas memahat buah dan kayu, The Royal Pita Maha pun bisa menyediakannya. Selain itu, Anda juga dapat menikmati perjalanan dengan bersepeda atau arung jeram, untuk yang menyenangi tantangan.

Di tempat yang tenang seperti ini yoga adalah kegiatan yang tepat. Di sini tersedia Royal Wellness and Healing Yoga Programs yang dipandu instruktur yoga berpengalaman, Anda dapat menemukan ketenangan pribadi antara tubuh, pikiran dan jiwa.

Sementara jika Anda menyukai spa, cobalah ke Kirana Spa. Di The Royal Pita Maha – yang sering disebut juga A Tjampuhan Relaxation Resort, tersedia international luxury spa dengan produk dari Shiseido Co. dan private spa program, serasa Anda berdua dimanjakan layaknya seorang raja dan ratu.

Bulan madu kurang lengkap jika tidak mencoba candle light dinner dalam cahaya yang temaram. Dalam makan malam yang romantis, apalagi dengan suguhan tarian Legong atau Kecak, menjadikan bulan madu Anda sulit untuk dilupakan… (Burhanuddin Abe)

The Royal Pita Maha
Desa Kedewatan Ubud
PO Box 198 Ubud 80571, Bali
Tel: (62 361) 980022
Fax: (62 361) 980011
http://www.royalpitamaha-bali.com/

Resor Terbaik di Pantai Kuta


Pantai yang paling ramai dikunjungi orang di Bali, apalagi kalau bukan Kuta. Kendati padat pengunjung bukan berarti kita tidak bisa menikmati indahnya Sunset dari sudut pandang yang tepat, yakni dengan tinggal di Discovery Kartika Plaza Hotel.

Inilah hotel berbintang lima yang legendaris di Bali. Tersedia 312 kamar dan suites yang anggun dan 7 Discovery Beachfront Villas yang mewah. Memiliki kebun luas dinaungi pepohonan kelapa, tanaman khas pantai tropis. Dari situlah Anda bisa menyaksikan ombak pantai yang selalu bergelora hingga tenggelamnya Sang Matahari. Hotel ini memang terletak di Pantai Kuta Selatan, dan gampang dijangkau karena lokasinya tidak jauh dari bandara internasional Ngurah Rai.

Discovery Kartika Plaza Hotel menawarkan kamar hotel yang elegan dengan desain moderen dilengkapi dengan aksesori ala Bali yang mempercantik kamar. Sangat nyaman untuk berlibur, atau jika Anda kebetulan berbulan madu, pilihnya kamar yang sesuai dengan selera Anda berdua. Pernik-pernik di setiap kamar -- mulai dari tempat tidur, mebel hingga dekorasi ruangan --, disiapkan sedemikian rupa sehingga sangat ideal buat dua sejoli yang sedang memadu kasih.

Jika Anda suka keramaian tidak salah menginap di hotel ini, sebab Discovery Hotel berada di wilayah yang sangat strategis di Kuta, yang merupakan pusat kegiatan pariwisata di Bali. Di sekeliling hotel Anda dapat dengan mudah menemukan dan mengunjungi berbagai hiburan seperti restoran, bar, klub malam, tempat belanja, mal atau pusat hiburan keluarga. Letak hotel ini tak jauh dari Kuta Square dan Legian yang menjadi meeting point para wisatawan dari berbagai negara.

Yang menarik, hotel ini bersebelahan dengan Discovery Mall, mal terbaik di Bali, di mana Anda dapat berbelanja sekaligus bersantai di berbagai kafe yang menawarkan berbagai jenis sajian lezat, kuliner serta aneka jenis minuman yang dapat menemani Anda bercengkrama bersama keluarga, kolega, atau pun berdua bersama kekasih.

Anda yang tidak suka kehidupan yang hingar-bingar, masih banyak pilihan yang cerdas untuk menikmati Bali. Di hotel ini saja Ana bisa mengeksplorasi lebih jauh. Di hotel ini tersedia fasilitas olah raga, seperti pusat kebugaran yang dilengkapi dengan lapangan squash, sauna, jacuzzi dan ruangan pijat. Juga kolam renang, tentu saja.

Untuk makan malam, pilihannya pun tidak kalah serunya. Berbagai restoran dan kafe siap menyambut Anda dengan berbagai menu makanan dan suasana sesuai dengan selera Anda. Sebutlah Pond Café yang menyajikan buffet makan pagi dengan menu internasional, makan siang a la carte dan makan malam dengan tema khusus yang dimeriahkan dengan pertunjukan budaya. La Cucina menyajikan makan khas Italy Al Fresco. Restauran Tepan Noodle menyajikan menu Mie Asia dan teppanyaki.

Untuk makanan ringan, tersedia Kul Kul Bar yang menyajikan pizza, sandwiches dan minuman penyegar. Bar ini bersebelahan dengan kolam renang – penunjung bisa memesan minuman dari kolam sembari berenang. Di malam hari cahayanya berpendar-pendar, sambil Anda mendengarkan sajian hiburan musik.

Kurang seru? Mengapa Anda tidak lewatkan malam di Music Room (Musro), yang letaknya bersebelahan dengan hotel. Musro – yang seperti sister club serupa di Jakarta, memiliki aneka pertunjukan yang heboh, mulai live show band, penampilan DJ di diskoteknya, karaoke di ruang karaokenya, serta show kabaret ala Las Vegas.

Oh ya, tidak hanya untuk kepentingan privat, Discovery Kartika Plaza Hotel menyediakan berbagai fasilitas hotel seperti ruang pertemuan yang dapat digunakan untuk rapat, pernikahan, pertemuan bisnis, konfrensi, atau berbagai event lainnya. Ruangan yang cukup besar didesain untuk menampung 350 sampai 800 orang yang terdiri dari beberapa ruangan seperti Kharisma Ballroom, Shinta dan Rama yang dapat menampung 200 orang serta Arjuna dengan kapasitas 90 orang. Fasilitas pengaturan upacara pernikahan ataupun pesta pernikahan juga disediakan dengan tenaga yang profesional di bidangnya. Pusat bisnisnya melayani segala keperluan seperti internet, fotokopi dan lain-lain yang terletak tak jauh dari lobi utama, buka dari pukul 8 pagi hingga 10 malam setiap harinya. (Abe)

Discovery Kartika Plaza Hotel
Jl. Kartika Plaza
Po Box. 1012 Tuban
Pantai Kuta Selatan 80361, Bali
Tel: (62-361) 751067
Fax: (62-361) 752475
http://www.discoverykartikaplaza.com/