Monday, March 31, 2008

Dunia Gemerlap Jakarta


Party with Royal Salute “The Ultimate Tribute” @ Sun City Luxury Club on Friday, April 04, 2008, start 9pm till late. Cheers!

Pesan pendek dari Edhi Sumadi, Country Manager Pernod Ricard, pemegang merek sekitar 30-an spirit dan wine, mampir ke ponsel saya. Ini adalah salah satu dari tiga SMS ajakan party minggu ini.

Begitu banyak undangan party di Jakarta, dengan konsep-konsep acara yang baru, bahkan crowd baru pula. Tempat-tempatnya pun selalu baru. Rasanya kalau kita meleng sedikit pasti ketinggalan.

Kapan Anda terakhir kali datang ke sebuah tempat hangout? Jangankan tahun lalu, bulan lalu pun, mungkin sekarang sudah basi. Tiap bulan selalu saja ada pembukaan bar-bar baru, klub-klub baru, atau kafe-kafe baru – minimal venue lama yang di-redesign, kalau perlu dengan nama baru. Kalau mereka tidak melakukan perubahan, pasti akan ditinggalkan para “jamaah” pesta selalu.

Anda tahu Sun City Luxury Club, seperti yang tertera di SMS di atas? Mungkin bukan nama yang asing bagi para partygoers Jakarta. Tapi kalau Anda tidak tahu tempat tersebut, tidak perlu berkecil hati, Anda bukan satu-satunya orang yang “kurang gaul”. Begitu banyak klub di Jakarta, ada yang datang ada yang pergi, saya coba list beberapa: Score!, Blowfish, D'Light, 9Clouds, Bvlgary, 101 Lounge, Amor Club, X Lounge, Dragonfly, Vertigo, Mumm Champagne Lounge, Kama Sutra, Mojito, ADS Bar, Red & Whte, X2, Equinox, Black Cat, V2, Red Square, Embrio, Mistere, Between… Percayalah, hanya clubber sejati saja yang hapal tempat-tempat tersebut di luar kepala.

Yang terang (bukan gelap), dunia gemerlap (dugem) malam Jakarta memang kagak ade matinye. Kalau Anda suntuk dan butuh selingan, pasti tersedia hiburan yang sesuai dengan kebutuhan batin, mau pilih yang rave atau pun yang romantic, semua ada. Kondisi kantong juga bisa disesuaikan, ibaratnya mulai dari cuma cepek hingga ber-jut-jut, tinggal tunjuk.

Kalau Anda suka berdansa, khususnya Latin, The W9 Club di kawasan selatan, untuk menyebut salah satu contoh, patut dicoba. Inilah bar yang memadukan konsep dance club, bar, dan restoran. Kalau Anda suka ajep-ajep dengan irama musik dengan ketukan cepat, klub-klub di Kota menjadi pilihan yang tepat! Lupakan dress code, karena hiburan ala “Jakarta Barat” tidak memedulikan penampilan pengunjungnya, tidak perlu jaim seperti di kawasan selatan, yang penting berkocek tebal!

Oh ya, kalau membagi dunia berdasarkan ideologi, kita dulu mengenal Timur-Barat, kalau berdasarkan tingkat kemakmuran kita mafhum Utara-Selatan. Tapi kalau dunia malam Jakarta, kita membaginya menjadi Barat dan Selatan.

Barat mewakili klub-klub ala Kota – meski berlokasi di utara tapi kalau gaya hiburannya seperti di Kota, dia digolongkan sebagai “Barat”. Cirinya, klub-klub tersebut tidak terlalu stylist, hiburannya cenderung to the point, mengarah ke urusan syahwat, dan pendapatan setiap malam yang luar biasa – khususnya untuk venue yang populer dan banyak pengunjungnya.

Sementara “Selatan” mewakili klub-klub yang berada di kawasan Jakarta Selatan – sebutlah kawasan Kemang, plaza-plaza atau hotel-hotel berbintang lima yang kebanyakan berlokasi di Jakarta Selatan. Interiornya biasanya sangat mewah dan classy. Pengunjungnya para fashionista, minimal suka mejeng (to see or to be seen), cenderung jaim (jaga image), tapi tingkat belanjanya relatif rendah – paling tidak, jika dibandingkan dengan pengunjung klub-klub “Barat”. Teman saya, salah seorang pemilik jaringan klub dan kafe di Jakarta, pernah menghitung, pendapatan sebuah klub di Jl. Hayam Wuruk bisa mencapai Rp 12 miliar sebulan, bandingkan dengan klub di kawasan Taman Ria Senayan yang paling banter “cuma” Rp 1 miliar per bulan.

Begitulah. Harga BBM boleh naik, harga beras boleh melangit, harga susu boleh menonjol, harga pisang boleh naik turun, tapi bisnis hiburan Jakarta, mulai zaman kuda gigit besi hingga reformasi gigit jari, dari generasi Ebony hingga angkatan Embassy, tetap berputar. Selamat datang di dunia gemerlap malam! (Burhanuddin Abe)

No comments:

Post a Comment