Wednesday, April 30, 2008

Dari Petualangan hingga Koleksi


NAMANYA Steve Fosset. Mungkin tidak banyak orang mengenalnya, tapi catatan tentang petualangannya itulah yang membuat pria kelahiran Tennessee, Amerika Serikat, 22 April 1944, ini populer. Bahkan di kalangan para petualang namanya pun sangat disegani. 

Betapa tidak, Fossett tak cuma tangguh menaklukkan ombang-ombak ganas di laut mana pun. Ia juga seorang pendaki gunung yang andal, meski tak pernah bisa menaiki puncak Everest. Dan kini, ia telah mencatatkan dirinya sebagai penerbang solo paling cepat yang mengitari bumi tanpa henti: 67 jam dengan jarak 37 ribu kilometer! ”Inilah obsesi terbesar saya,” katanya. 

Fosset mulanya dikenal sebagai petualang laut. Banyak perjalanannya di lautan menjadi parameter keberanian seorang petualang. Berbagai pengalaman sudah dikecapnya dalam petualangan laut. Terombang-ambing di lautan bisa jadi malah menyenangkan untuknya. Dengan modal sebuah kapal bercadik dua bernama Chayenne, ia terabas hampir keseluruhan rute laut terganas di dunia. Mulai dari usaha memecahkan rekor tercepat dalam melintas Lautan Atlantik, Bermuda, Miami hingga New York, hingga lautan Mediterian menjadi santapan kegiatan perjalanan gilanya. 

Tidak hanya berpetualang di laut, ia juga mengarungi angkasa dengan menaiki balon udara keliling dunia. Laksana cerita Jules Verne dalam Around The World in 80 Days, ia tempuh perjalanan dua bulannya melintasi udara bumi. ”Saya tidak melakukan ini untuk kesenangan saja, tapi juga menciptakan sejarah,” ujarnya.

Kalau dikatakan petualangan gila mungkin tidak salah. Tapi bagi Fosset, semua yang dilakukannya adalah sebuah kesenangan, kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran, tapi juga hampir menjadi profesi.

Mungkin tidak harus seperti Fosset, tapi berpetualang memang mulai menjadi hobi para eksekutif saat ini. Dari berpetualang, tepatnya soft adventure, mereka menuai pengalaman menarik dan berharga bagi kehidupan mereka. Dunia petualang bagi para pehobi menjadi tantangan tersendiri yang mengasyikkan. Sebuah perusahaan rokok global pun berani membentuk adventure team dalam program tahunannya.

Para peserta tidak harus seorang petualang beneran, tapi paling tidak harus lulus dari berbagai ujian, mulai dari mengemudikan motor trail, jeep terbuka di medan off road, triatlon, rafting, berenang, dan sebagainya. Cukup seru, selain peminatnya bejibun, kegiatan ini bisa membentuk brand image yang baik terhadap produk ini.

Kegiatan berpetualang tidak hanya menyenangkan, tapi melahirkan banyak cerita. Seperti pengalaman Amir Maulana yang hobi naik gunung. Berada di puncak gunung bagi lulusan Fakultas Ekonomi UI Jakarta ini menjadi kenikmatan tersendiri yang sulit dicari bandingannya. 

Profesional di bidang perbankan yang di masa mahasiswa menjadi pengurus klub pecinta alam ini merasa tenang saat melakukan pendakian gunung dan sensasinya ketika berhasil ke puncaknya. “Kita menjadi dekat dengan Tuhan,” kata Amir yang pernah menaklukkan Gunung Semeru dua kali itu.

Tidak gampang mendaki gunung, selain butuh ketrampilan khusus, ketahanan tubuh, juga waktu dan biaya. Tapi namanya juga hobi, apa pun akan dilakukan untuk memenuhi keinginan dan mendapatakan kesenangan. Hobi tidak hanya terbatas pada berpetualang atau mendaki gunung seperti Amir. Masih banyak jenis kegemaran lain, yang bai orang tertentu, termasuk remeh-temeh. Sebutlah mengumpulkan sesuatu (koleksi), juga hobi yang lain seperti filateli, fotografi, kaligrafi, melukis, menjahit, origami, otomotif, dan lain-lain.

Tedjo Iskandar adalah salah seorang contoh kolektor andal. Ia mengumpukan pernik-perni, mulai dari pernak-pernik Hardrock Café hingga bir berbagai merek dari berbagai negara. Maklum, ia tidak hanya hobi traveling tapi profesinya memang seorang tour guide yang setiap tahun bepergian sedikitnya ke tiga negara. “Koleksi saya ini ibarat saksi sejarah, bahwa saya pernah ke negara ini, negara itu…,” katanya.

Mengapa pernak-pernik Hardrock Café dan bir? Hardrock Café adalah ikon masa kini yang ada di kota-kota besar dunia, sedangkan bir juga diproduksi negara-negara modern – masing-masing mengeluarkan merek-merek yang unik. Saking cintanya pada koleksinya, Tedjo membuat lemari khusus di kantornya untuk menyimpan barang-barang hasil buruannya dari pelbagai negara. 

Lain lagi dengan cerita Taufik Dasaad. Bapak satu anak ini terobsesi dengan pada dunia militer yang penuh disiplin. Ia tidak hanya meniru kedisiplinannya, tapi ia juga mengoleksi benda-benda yang berbau militer, mulai dari seragam, emblem, hingga senapan. “Kebetulan saya kenal dengan beberapa perwira tinggi,” ungkap pecinta fotografi ini.

Fotografi? Ini juga salah satu hobi Taufik yang lain. Bukan hanya hobi ternyata, tapi pekerjaannya memang fotografer. “Dulu hobi, sekarang profesi,” ungkapnya.

Memang banyak orang yang menekuni hobi, yang kemudian menjadikannya sebah profesi. Selain Taufik, kita mengenal Jay Subijakto, Kay Moreno, Pinky Mirror, Sam Nugroho, dan yang lebih senior Darwis Triadi. Itu yang di bidang fotografi, di jalur musik kita mengenal promotor musik Adrie Subono yang dulunya pemain band, impresario Peter Gontha yang sukses menggelar Java Jazz yang hobi berat main piano (jazz). 

Kesenangan, hobi, atau profesi, tergantung dari sudut mana Anda memandangnya. (Burhanuddin Abe)

Mistere-Ous Delight Party



Penampilan sekelompok musisi yang tergabung dalam Choklit Soul & Hugh Maynard ini dapat menjadi obat pelepas kepenatan bagi profesional muda setelah disibukkan dengan urusan bisnis sepanjang hari. Berbagai aliran musik yang digemari masyarakat Indonesia dan juga yang sedang tren di dunia hiburan dapat dengan apik dibawakan oleh mereka.

Bersama Chivas Regal dan Mistere Club Jakarta pada Jumat 25 April 2008, Choklit Soul & Hugh Maynard tampil menghibur partygoers Jakarta. Malam itu Chivas Regal menggelar acara dengan tema Mistere-Ous Delight.


Band-band dengan genre musik seperti yang dimainkan oleh Choklit Soul & Hugh Mynard ini memang sedang digemari profesional muda Jakarta. Party malam itu bertambah meriah saat DJ Milinka tampil di deck. Ia ditemani oleh Twaila sebagai MC. Kolaborasi antara mereka berdua, ikut berperan dalam suksesnya acara malam itu.


Penampilan DJ Sanny Djohan dan DJ Iman malam itu juga patut diacungi jempol. Sebagai Resident DJ, mereka berdua memag sangat paham selera musik para profesional muda yang memang jadi pelanggan tetap Mistere Club yang terletak di Ritz Carlton itu. Terlebih lagi saat mereka berkolaborasi dengan pemain perkusi menjadi pertunjukan yang menarik untuk disaksikan. [chivas regal]

Aha, Mobil Murah!


Mengapa industri otomotif Thailand berkembang pesat? Selain pajaknya sangat meringankan, regulasi pemerintah sangat memudahkan. Itu sebabnya, Pemerintah melalui Departemen Perindustrian tengah melobi produsen mobil Toyota Motor Corp (TMC) untuk mengembangkan mobil mini, murah, dan kompak di Indonesia, sebagai basis produksi untuk pasar domestik maupun ekspor.

Masuk akal, saat ini tren permintaan mobil di dunia khususnya negara-negara berkembang adalah mobil mini dan murah. Indonesia yang telah menjadi basis produksi sejumlah produsen otomotif dunia, menginginkan jadi basis produksi mobil tersebut. Apalagi,

Sebetulnya, wacana mobil murah di Indonesia ini sudah mengemuka sejak 2-3 tahun terakhir ini. Anda pasti ingat kehadiran produk-produk seperti Daihatsu Xenia yang memiliki harga paling rendah (Rp 99-116 juta), sementara itu Honda Jazz berada di level harga teratas di kelas ini, dengan angka Rp 144-160 juta. Sementara itu, mobil-mobil terlaris tahun 2007 juga dikuasai jenis MPV-LMPV CC 1.5 dan harga di bawah Rp 150 juta, sebutlah Avanza (yang selama setahun terjual hingga 62.010 unit), Xenia (28.914 unit), Hyundai Avega (20.991 unit), Honda Jazz (14.057 unit), Suzuki APV (12.434 unit).

Indonesia memiliki basis industri komponen yang cukup kuat untuk mengembangkan mobil mini yang murah untuk membidik pasar kelas bawah. Lampu hijau sudah menyala, kalau tidak ada aral melintang realisasi investasinya bisa terjadi tahun 2010 atau 2011.

Tapi apa pun, yang terang, pabrikan-pabrikan besar saat ini sudah menyiapkan mobil-mobil dengan harga yang terjangkau konsumen. Walaupun harga murah, tapi kualitas, kenyamanan dan safety yang ditawarkan tidak murahan. Saat ini, dengan merangkaknya harga mobil, pasar menjadi stagnan, maka tidak heran kalau produsen-produsen asal negara Eropa Barat dan Amerika Utara, ngebet ingin memproduksi dan memasarkan mobil murah.

Pasar potensial yang belum digarap optimal adalah negara-negara berkembang dengan laju pertumbuhan ekonomi tinggi. RRC, Russia, Brasil, India, negara-negara ASEAN masuk dalam list dan hebatnya lagi, populasi penduduk di negara-negara itu tinggi. Diprediksi dalam lima-sepuluh tahun lagi, akan muncul kelas menengah baru yang butuh mobil.

Untuk menangkap peluang itu, produsen mobil harus menciptakan mobil untuk kelompok konsumen yang sebelumnya hanya mampu membeli sepedamotor. Yang paling siap saat ini mungkin kongsi Renault-Nissan dengan Tata Motors yang mengembangkan mobil murah sejak 2003 dan meluncurkannya seharga US$ 2.500 tahun 2008 di India.

Di Eropa, Renault menawarkan sedan Logan dengan harga US$ 7.200, atau 40% lebih murah dari sedan lain di kelasnya. Tidak hanya Renault-Nissan-Tata. Toyota, Volkswagen, Fiat, Peugeot, General Motors dan Hyundai ikut terjun. Mitsubishi juga dikabarkan menyiapkan model dengan harga terjangkau untuk pasar Asia seperti diungkapkan President Mitsubishi Motor Corp Osamu Masuko.

GM menggunakan keahliaan orang-orang Daewoo untuk merancang dan memproduksi mobil-mobil di bawah US$ 7.000. Chrysler menggandeng perusahaan otomotif RRC, Chery, dan Hyundai memusatkan produksi mobil murahnya di India yang SDM-nya luar biasa, ongkos engineering, komponen lokal dan proses manufacturing-nya murah.

Daihatsu sebagai bagian dari Toyota Group masih menyimpan rencana pengembangan mobil super murah seperti ini. Padahal mereka jago membuat mobil kompak dengan harga terjangkau. Seharusnya tidak sulit bagi Daihatsu untuk menawarkan mobil seperti ini. Inilah tantangan bagi perusahaan yang berusia seabad lebih itu. (Burhanuddin Abe)

Computer business continues to flourish


COMPUTERS are inseparable from daily life, with worldwide sales for personal computers (PCs) recorded at 71.1 million computers in the first quarter of 2008, an increase of 12.3 percent over the same period last year.

The highest growth rates, said Mika Kitagawa, an analyst at Clint Computing Market Group Gartner, were recorded in Europe, the Middle East and Africa.has been prompted by the growth of mobile computation in the countries in these regions," he said in a press release.

Growth of the computer market in Indonesia has also been quite high, as revealed by Lukas Lukmana, chairman of the Standing Committee of Multimedia of the Central Java branch of the Indonesian Chamber of Commerce and Industry (Kadin) on the sidelines of the Solo Computer Expo (Scompex) in Solo Grand Mall early this month. He said that computer sales in Indonesia significantly increased from year to year. This is reflected in the 30 percent increase in sales in 2007, with sales projected to increase by 50 percent in 2008.

The computer has undergone incredible development over the years. The earliest computer, made in 1951, was in the form of a vacuum tube. IBM may be considered a pioneer in computer technology. The first computer was huge, but in 1981 IBM announced the launch of IBM PCs. In the first year, some 35,000 computers were sold, increasing to 800,000 by 1982. With such rapid sales growth, IBM personal computers became the standard for the micro industry. When software vendors began to gear their products toward IBM PCs, many computer makers created and copied IBM PCs. These groups were called IBM-PC compatibles and were the reason why most software products were designed for IBM PCs.

The computers available now are of a smaller size but owing to more advanced technology, their processing speed is much faster while their prices are lower. Today's computers, in short, are more efficient compared to computers of previous generations. As the production of micro computers has jumped, personal computer users, who are not professionals in the computer area, now make up the majority of computer users.

To make a computer more user-friendly, many computer companies have developed Graphical User Interface (GUI), which can produce pictures and menus (lists of choices of instructions) which a user can choose with just the click of a mouse. GUI was introduced for the first time in 1984 by Apple and was used in Macintosh. Macintosh has also developed a similar GUI, known under the name of Windows. In addition, most new application programs today are provided with tutorial and quite a broad help menu for new users.

Since 1981, the micro computer industry has been divided into two groups: Apple micro computers and IBM micro computers. These two groups do not use a common program. In 1991, Apple and Motorolla made an agreement that would lead to the development of micro computers that were compatible to the switch of Macintosh data with IBM data. These two groups were also engaged in a competition to increase the speed and capability of their respective products.

Computer technology continues to evolve, with computers now being much smaller in size and having a faster processing speed but lower prices. They are more efficient than the computers of previous generations. The notebook is part of the revolution. You can carry a notebook, the capability of which is as good as that of a PC or a desktop computer and server. This feature is inseparable from the phenomenon among professionals who work on a wireless basis with the help of a notebook. "The growth of the notebook market is due to the features of a notebook now available and because notebooks have become more and more affordable," said analyst Erica Gadjuli, principal research analyst of Gartner Inc, as reported by Bisnis Indonesia.

Growth in the notebook market is faster than that in the desktop market. This, however, does not mean that desktop sales are stagnant. In fact, makers continue to develop their innovations in terms of computer technology and design. One of these innovations is a hybrid computer. This computer, the production of which was pioneered by NEC, blends the superior elements of the notebook and the desktop. At a glance, this hybrid computer, called the NEC Powermate P5000, looks like any other personal computer but has no CPU. The monitor is easy to carry as it has a handle on the upper rear part.

Weighing just four kilos, the Powermate P5000 does not have a maze of cables but uses just one electric cable. The keyboard and the mouse are wireless, making the computer both functional and stylish. The NEC Powermate P5000 is the first hybrid computer to enter the Indonesian market. This product is also the first hybrid computer to be sold outside Japan. However,obvious is that today the time gap in the launch of a new product globally and in Indonesia is narrowing. Hewlett-Packard (HP), for example, released its global products in Indonesia only two months after they were launched globally.

It is difficult for laymen to guess the direction that computer technology will take in future. We can only marvel at the phenomenal development of information technology in the past decade. The presence of the Internet and the boom in the development of hardware and software technologies have prompted the emergence of computers of a new generation. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, April 30, 2008

Optimisme Industri Otomotif


Para pengusaha otomotif nasional boleh tersenyum lega. Setelah beberapa tahun sebelumnya sempat mengkhawatirkan, dua tahun terakhir ini ada tanda-tanda membaiknya penjualan mobil di Indonesia. Bahkan, pertumbuhan pasar otomotif nasional tahun ini ditargetkan 520.000 unit.

Memang, kelegaan bukan berarti benar-benar aman. Situasi politik nasional yang kurang stabil terus membayangi kehidupan perekonomian, termasuk berimplikasi terhadap industri otomotif. Sebetulnya tidak hanya itu, fenomena perlambatan ekonomi global ikut menjadi pemicu yang sewaktu-waktu bisa meledak.

Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor, Johnny Darmawan pernah mengatakan, pasar mobil tahun ini diperkirakan tetap meningkat. Namun, kondisi itu bisa terjadi kalau nilai tukar rupiah dan harga bahan bakar minyak (BBM) stabil. "Perkiraan kami, penjualan tahun ini akan menyentuh angka 500.000 unit. Tinggal bagaimana pemerintah bisa menjaga kestabilan harga BBM dan kurs," tukasnya.

Keyakinan Johny Darmawan ini sebetulnya sudah dilansir Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Bambang Trisulo tahun lalu bahwa tahun 2008 otomotif bisa menembus angka 500.000. Optimisme ini selain dipicu oleh pertumbuhan ekonomi yang semakin baik, sehingga penjualan otomotif akan semakin baik, juga bercermin kepada penjualan mobil nasional Thailand – sesama negara baru di industri otomotif, yang tahun lalu sudah menembus 600.000 unit kendaraan.

Berdasarkan data kasar Gaikindo, penjualan pada Febuari 2008 mengalami peningkatan sebesar 11,1 persen dari pencapaian bulan sebelumnya sebesar 41.381 unit. Peningkatan juga terjadi dalam volume penjualan selama 2008 sebesar 87.381 unit. Angka ini terkerek 73,1 persen di atas perolehan volume periode yang sama tahun 2007 yang hanya 50.480 unit. (Burhanuddin Abe)

Monday, April 28, 2008

Kartini di Era Digital


“Kartini adalah pengguna teknologi komunikasi informasi pada zamannya,” tulis Ventura Elisawati, blogger yang bekerja di XL (Kompas 28 April 2008).

Tidak salah, Kartini, wanita kelahiran Jepara 21 April 1879 itu pada zamannya adalah pelanggan koran terbitan Semarang, De Locomotief, yang boleh dikatakakan produk teknologi informasi pada saat itu. Dia juga membaca majalah wanita Belanda, De Hollandsche Lelie. Dia juga orang yang tak segan berinteraksi dengan berbagai pihak untuk berdiskusi dan bertukar pikiran tentang berbagai hal. Dia berkirim surat kepada para sahabat penanya, tentang kebudayaan, kehidupan perempuan, pendidikan, dan juga agama. Beberapa sahabat penanya, seperti Tuan dan Nyonya JH Abendanon, serta Estelle alias Stella Zeehandelaar, cukup intensif memberikan tanggapan atas pemikiran, keluhan, dan juga curhat Kartini.

Kumpulan surat-surat Kartini dengan JH Abendanon, setelah Kartini meninggal, diterbitkan menjadi buku Door Duisternis tot Licht yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini diterbitkan pada 1911 dan menjadi best seller saat itu karena dicetak sampai lima kali.

Menurut VE, apa yang dilakukan Kartini saat itu—menuangkan pemikiran, memanfaatkan teknologi komunikasi informasi untuk berinteraksi, melakukan transformasi dan memberikan inspirasi—sebenarnya tak jauh dari apa yang kini tengah populer di dunia teknologi komunikasi informasi sekarang ini. Salah satunya, ngeblog. Blogging secara positif adalah menuangkan berbagai pemikiran, dalam personal web site (blog) untuk kemudian mendapatkan tanggapan dalam diskusi interaktif yang positif tentunya. Yang pada akhirnya bisa ditransformasikan dan bisa menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal-hal yang positif.

Bila Kartini hidup di zaman sekarang, sudah pasti dia ngeblog, supaya lebih banyak orang berani berpendapat menyampaikan pikirannya. Dan buntutnya makin banyak orang pintar dan terjadi social networking yang positif.

Data dari APJII menyebut sampai akhir 2007 pengguna internet di Indonesia mencapai 25 juta dengan tingkat pertumbuhan sekitar 39 persen. Tahun 2012, jumlah pengguna internet di Indonesia akan sama besarnya dengan jumlah pengguna internet di Asia Tenggara. Itu menggambarkan bahwa pengguna internet Indonesia bertambah dengan sangat cepat.

Sementara jumlah blogger Indonesia yang memiliki situs di Blogspot sekitar 247.000, di Wordpress 125.000, blog service lainnya sekitar 75.000 (data Internet World Stats December 2007 Report). Penambahan fitur bahasa Indonesia di Wordpress dan Blogspot menunjukkan bahwa potensi blog besar dan terus tumbuh. Jika tarif internet maupun telekomunikasi makin murah, potensi pertumbuhannya akan makin tinggi, termasuk potensi pengguna mobile blogging, yang jumlahnya sebangun dengan penetrasi pengguna ponsel yang sudah mencapai lebih dari 100 juta orang.

Di era dunia tanpa batas dan kebebasan berpendapat yang dijamin undang-undang, mestinya Indonesia bisa memunculkan banyak kartini yang sesuai kompetensinya. Inilah makna sesungguhnya dari peringatan Hari Kartini di era digital, dan bukan sekadar lomba berkebaya. Setuju banget Mbak Lisa!

Wednesday, April 23, 2008

Belanja Iklan Membesar


Belanja iklan Januari-Maret 2008 meningkat 23 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2007. Pemasangan iklan paling banyak dilakukan untuk mempromosikan produk peralatan komunikasi, jasa komunikasi, serta pemasangan iklan oleh organisasi politik dan pemerintah.

Data tersebut ditunjukkan oleh hasil survei Nielsen Media Research Indonesia. Associate Director Nielsen Media Research, PT ACNielsen Indonesia, Ika Jatmikasari memaparkan hasil survei tersebut di Jakarta, 22 April 2008.

Ika menjelaskan, total belanja iklan pada triwulan pertama 2008 tumbuh 23 persen dibandingkan dengan triwulan pertama 2007, dari Rp 7,019 triliun menjadi Rp 8,661 triliun. Porsi iklan terbesar masih dikuasai media televisi, yakni 62 persen atau senilai Rp 5,386 triliun.

Meski demikian, pertumbuhan belanja iklan terbesar pada triwulan pertama 2008 terjadi pada surat kabar. Pemasangan iklan di surat kabar tumbuh 38 persen. Sementara belanja iklan di televisi dan majalah tumbuh 17 persen dan 26 persen.

Peningkatan belanja iklan, menurut survei Nielsen, terutama terjadi untuk mempromosikan produk peralatan komunikasi dan jasa komunikasi. Iklan jenis produk ini tumbuh hingga 78 persen dari Rp 457 miliar pada Januari-Maret 2007 menjadi Rp 815 miliar pada Januari-Maret 2008.

Iklan produk komunikasi yang paling menonjol dalam pantauan Nielsen antara lain produk sim card dari Indosat, Excelcomindo, dan Telkom Flexi, serta telepon genggam Nokia.

Survei yang dilakukan Nielsen ini konsisten dengan tren pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan oleh data Badan Pusat Statistik (BPS). Data pertumbuhan ekonomi tahun 2007 yang diumumkan BPS Februari 2008 menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi paling besar terjadi pada sektor pengangkutan dan komunikasi.

Sektor pengangkutan dan komunikasi sepanjang tahun 2007 tumbuh 14,4 persen, jauh di atas angka pertumbuhan ekonomi nasional 6,3 persen. Kuatnya laju pertumbuhan sektor padat modal ini masih berlanjut pada triwulan pertama 2008.

Menyusul belanja iklan produsen perangkat dan jasa komunikasi, belanja iklan yang tumbuh terpesat pada triwulan pertama 2008 dilakukan oleh pemerintah dan organisasi politik. Belanja iklan pemerintah dan organisasi politik meningkat 90 persen, dari Rp 115 miliar pada triwulan pertama 2007 menjadi Rp 218 miliar pada triwulan pertama 2008.

Survei periklanan ini dilakukan Nielsen pada 82 surat kabar, 127 majalah dan tabloid, serta 19 stasiun televisi. Survei tersebut didasarkan pada tarif normal, tanpa menghitung diskon, promo, dan tidak memperhitungkan iklan baris.

Belanja rumah tangga
Communication Manager PT ACNielsen Indonesia Winda Ekariany menjelaskan, lembaga survei ini juga menemukan adanya peningkatan pada belanja rutin rumah tangga. Belanja rutin yang diperhitungkan dalam Survey Media Index oleh Nielsen antara lain meliputi pengeluaran untuk bahan makanan, transportasi, listrik, dan telepon. Pengeluaran dengan kredit atau cicilan tidak diperhitungkan dalam survei ini.

Survei ini dilakukan pada 13.300 rumah tangga yang tersebar pada sembilan kota besar, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Yogyakarta, Medan, Palembang, Makassar, dan Denpasar.

Pada kelompok masyarakat yang pengeluaran rutinnya di atas Rp 2 juta per bulan terjadi peningkatan belanja hingga 72 persen pada tahun 2008 dibandingkan dengan tahun 2006. Pada kelompok masyarakat dengan pengeluaran rutin antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per bulan terjadi peningkatan belanja hingga 55 persen.

Sebaliknya, pada kelompok masyarakat dengan pengeluaran rutin antara Rp 500.000 hingga Rp 700.000 terjadi penurunan belanja hingga 40 persen. Penurunan belanja yang lebih tajam, mencapai 61 persen, terjadi pada kelompok masyarakat yang pengeluaran rutinnya di bawah Rp 500.000 per bulan. ”Kami memperhitungkan pengeluaran atau belanja tunai yang rutin, bukan pendapatan masyarakat. Peningkatan pada pengeluaran ini menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada harga barang-barang kebutuhan dan inflasi,” ujar Winda. (Kompas, 23 April 2008)

Tuesday, April 15, 2008

Sensasi Rasa Imperial 17


Bagi Anda penikmat sejati minuman whiskey, tentu tidak melewatkan kehadiran Scotch Whiskey Imperial 17. Whiskey ini diproduksi di Korea, sebuah negara yang sebenarnya lebih dikenal dengan ginseng-nya. Sebuah pesta disenggarakan pertanda secara resmi beredarnya Imperial 17 berlangsung di Grand Hyatt Jakarta, 10 April 2008.


Tapi kali ini bersama Pernod Rirard Indonesia, Imperial 17 berada di tenga-tengah Anda penikmat sejati whiskey. Imperial 17 khusus untuk yang menyukai sensasi rasa whiskey. Taste lebih smooth dan aroma bunga-bunga sangat dominan saat menikmatinya.


Imperial 17 memang baru hadir di Indonesia, tapi sebenarnya whiskey ini sudah sangat populer di kalangan professional muda Korea sejak 15 tahun lalu. Dan Imperial 17 telah menduduki tempat yang terhormat di antara whiskey-whiskey yang ada di Negeri Ginseng ini.


Party launching dihadiri oleh sejumlah ekspat asal Korea dan beberapa pengusaha yang bergerak dalam industri hiburan, karaoke dan restoran. Sejumlah penari dengan kostum wanita Korea tampak ikut memeriahkan acara selain penampilan Flash Band. Puncak acara, seperti sudah diduga adalah toast yang diikuti oleh seluruh yang hadir dalam party untuk keberadaan Imperial 17 di Indonesia. [Imperial 17]

Sunday, April 13, 2008

The Ultimate Tribute




Party yang diselenggarakan oleh Pernod Ricard Indonesia kali ini agak beda dengan yang biasa diselenggarakan. Kali ini Royal Salute Scotch Whisky mengadakan party yang diberi tema The Ultimate Tribute. Party berlangsung di Sun City Luxury Club Jakarta pada 4 April 2008.


Dengan dukungan dari Fabiola dari Flirt. Inc party kali ini mengambil tema kehidupan masyarakat di Eropa pada abad pertengahan. Kabarnya tema ini disesuaikan dengan Royal Salute yang merupakan minuman yang khusus dipersembahkan bagi Ratu Inggris.

Menjelang tengah malam sejumlah dancer dan model tampil di catwalk Sun City. Lounge di mana party berlangsung memang sudah dipenuhi oleh professional muda Jakarta yang telah dihibur oleh penampilan band LickyTa, D&D dancer dan penampilan DJ Donny. Panggung dan cat walk malam itu dihiasi dengan kain-kain warna keemasan dan sebuah pigura berukuran besar.


Lima orang dancer dengan mengenakan kostum dan tata rambut ala abad pertengahan di Eropa tampil menghangatkan party dengan diiringi musik dengan beat yang cukup tinggi. Gerakan-gerakan dancer terlihat sangat harmoni dan tidak membosankan untuk dinikmati.


Saat penampilan sejumlah selebriti pendukung Royal Salute Party di atas cat walk seperti Indah Kalalo dan Chaterine Wilson dan teman-temannya, para professional muda yang dekat dengan cat walk langsung ikut berdansa mengikuti gerakan-gerakan dari para selebritis. Terlihat di antara mereka seorang pria dan wanita berkuit putih sebagai model ikut memeriahkan sesi fashion dance.


Puncak dari party malam itu adalah seluruh profesional muda yang hadir malam itu dapat menikmati empat macam rasa Royal Salute yang dibagikan oleh para model termasuk Indah Kalalo dan para Female Presenter Royal Salute. Beberapa professional muda tampak mengambil botol Royal Salute yang terbuat dari keramik untuk dijadikan cindera mata.


Selesai penampilan fashion dance terlihat seluruh pendukung acara seperti Fabiola, Chaterine Wilson, Indah Kalalo, Andi Mulyadi (Lounge & Hotel) Manager dan lainnya bergabung dengan professional muda menikmati minuman Royal Salute. Pada booth DJ tampak DJ Lendy dan DJ Daniel terus menghibur professional muda yang menghabiskan waktu senggangnya. (rs)

Saturday, April 05, 2008

Together eyeing wealthy customers


ONE afternoon in a coffee shop at a five-star hotel in Senayan, Jakarta, a fair-skinned woman with shoulder-length hair walked toward a corner that she considered strategic. She was dressed smartly and carried a bag with a notebook in it. Although she was not smiling, she looked charming.

Before deciding on a place to sit, the woman, who was a professional at a foreign bank with an office in Singapore, took out her mobile phone. She contacted a man, who turned up shortly after. In fact, they had agreed to meet at the coffee shop.

The woman, who appeared to be at least 30 years old, did not lodge straight into a sales pitch about a superior product she wanted to offer the businessman. Instead, she talked about traveling, which is a hobby of the client. The man then talked about Bangkok, a city that keeps on changing and which he had recently visited. The woman was also fairly knowledgeable about Bangkok and the conversation proceeded amicably.

When the woman later went on to explain the investment product she wanted to offer the businessman and about the superiority of the wealth management services of her bank, she also demonstrated her deep knowledge about this matter. Her explanation captured the attention of the businessman, who was a boss of an advertising company. In short, he was interested in the wealth management bank product the woman was offering him.

Many foreign banks - including those with representative offices in Jakarta - have started eyeing Indonesian customers. They are targeting people with an above average income. Although general statistics say the number of poor people in Indonesia is increasing, Morgan Stanley Singapore data shows that the number of wealthy people in Indonesia is also increasing, with the fifth fastest growth in Asia.

As a result, many domestic banks are also intensively promoting their wealth management or premium services. They are competing not only with banks operating in Indonesia but also with overseas banks, particularly from Singapore, which are also looking for customers in Indonesia.observe what happens at star-rated hotels every weekday. They usually lobby their clients in the early or late afternoon," said Hidajat Djoko Sampurno, head of the wealth management division of PT BNI, as quoted by Investor Indonesia.

Although wealthy clients are small in number, they help secure the very survival of banks here. A BCA manager once said that its wealthy clients accounted for just 20 percent of its customers and yet they contribute the most to the bank's assets.

Other banks also agree that wealthy customers are important to them. Citibank, for example, through its Wealth Management Services, offers two types of services, namely wealth planning and advisor service. "These products are important because we believe upper-class clients require business class service, namely exclusive, personalized and rapid service," said Meliana Sutikno, vice president of retail banking, Citibank NA.

Through the Citigold Wealth Management, for example, the bank provides premium services to help customers develop and protect their wealth. Availing of this premium service, a customer can get help from the personal relations manager, an investment product specialist team and a wealth planner. They help a customer identify his profile, investment products and their risks and the most suitable investment strategy.

Meanwhile, Bank Commonwealth has set a target of 40,000 high network individual (HNI) customers, following its plan to issue a new investment product recently. Nursing, director of retail banking services at the Commonwealth, said the bank has some 33,000 customers in the HNI category. He said on average an HNI customer is someone with assets totaling at least Rp 2 billion. "Bank Commonwealth's investment products in the wealth management program include bancassurance, treasury and advisory. Each product consists of, among other things, mutual funds, investment in foreign currencies or financial planning," he said.

Even Bank BRI, which is known as the common people's bank, is eyeing wealthy and superrich customers. Through BRI Prioritas, BRI is providing complete banking services in a personalized manner. Head of the fund and consumer services division of BRI, Susilo, said BRI Prioritas was eyeing customers from the rich to superrich, which continue to increase in number. Meanwhile, BNI, a conservative state-owned bank, says it has netted 5,000 large clients with deposits amounting to at least Rp 1 billion.

Bank Mandiri has also stepped up to the plate in this respect. Through its Wealth Management Group, the bank has designed a premium service, also called the Prioritas. It offers various investment products with different levels of risk involved. It also teams up with a number of internationally affiliated investment managers. The result is something it can take pride in. According to 2007 data, Mandiri has at least 6.5 million customers and of this number, some 38,000 customers use its wealth management services. If you look at the composition of the funds, particularly funds from third parties, these premium customers control 33 percent of the total deposits at Bank Mandiri.

Not all banks in Indonesia have separate wealth mana-gement divisions. Some have developed such services from their existing services, which is why at some banks wealth management is handled by customer service staff. However, it is undeniable that wealth management is gaining popularity today. Besides being a strategic business unit for a bank, this service can meet the needs of premium customers. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, April 05, 2008

Wednesday, April 02, 2008

Community health programs


"Every five seconds, a person dies of starvation in Asia," said United Nations World Food Program, Indonesia, director Bradley Bussetto just before the kick-off of the "Fight Hunger: Walk the World" event in Jakarta recently.

This is not a new finding, but it needs to be kept at the forefront as it is a problem that has yet to be properly addressed. In Indonesia alone, some 13 million children experience hunger.

According to records compiled by the Food and Agriculture Organization in 2006, chronic hunger hit 854 million people in the world, and 96 percent of theseor about 820 million - were found in developing countries. More than 50 percent, or 350 to 450 million, of them were children. Therefore, hunger is the number-one threat for the survival of children compared to AIDS, malaria or TB. It is an even bigger threat than AIDS, malaria and TB put together.

It is not uncommon to hear the World Bank remind Indonesia that its food reserves are at their lowest. Even the government, according to deputy to the coordinating minister for the economy, Bayu Krisnamurthi, has long been aware of this condition although it has yet to undertake measures to address the problem. "That food reserves are at their lowest is a phenomenon found the world over and I mentioned it as far back as June 2007. It is a warning to us all," he said in Jakarta last month.

In September last year, some 90 million people in Jayawijaya faced famine due to drought, harvest failure and the late arrival of aid. In October 1997, starvation struck in West Sumba, East Nusa Tenggara, due to drought. Then in November 1997, people in Grobogan and Boyolali (Central Java) were reduced to eating tiwul (dried cassava) when they ran out of rice.

In January 1998, hunger hit thousands of people in Kutai. All they had to eat was steamed bananas. The price of rice rose to Rp 5,000 per kilogram. Some people traded one hectare of land for 10 kg of rice with a local palm plantation company. Will the same thing happen in 2008?

Hunger is everyone's concern. The good news is that Coordinating Minister for People's Welfare Aburizal Bakrie and the World Food Program (WFP), for example, signed on March 24 a memorandum of understanding for a food aid program. This agreement is aimed at providing nutritional aid and improving the nutrition condition in Indonesia, and for this purpose some US$98 billion will be donated over three years ending in December 2010. The donation comprises $56 million for food and $42 million for operational purposes.

The donation will be designated for the improvement of nutrition in children aged between 24 and 60 months, pregnant women, breast-feeding mothers and children aged 6 to 13 years. The program will also provide additional food to tuberculosis patients and poor families.

Indeed, corporate social responsibility (CSR) programs in the health arena are being increasingly run by a number of companies, particularly those dealing in health and food, for example PT Unilver Indonesia (consumer goods producer), PT Nestle Indonesia Tbk (maker of dairy and nutritional products) and Fonterra Brands Indonesia (dairy producer).

As part of its participation in the handling of world hunger, Unilver is working with the World Food Program (WFP). Globally, said PT Unilever Indonesia director of Human Resources and Corporate Relations Josef Bataona, Unilever donated 2 million euro in 2007. Four countries to receive this donation were Kenya, Indonesia, Ghana and Colombia.

Several activities are being conducted in the partnership between Unilever and WFP in relation to this cooperation, which has the themefor Child Vitality". To begin with, Unilver has intensified the sales of one of its products, Blue Band, to bring attention to hunger issues and raise more money for WFP. In addition, in line with the WFP program, a school feeding program is being carried out. Unilver helps further develop this program by means of donating nutritious food products. In addition, together with WFP, Unilever also carries out a nutrition, sanitation and health campaign in schools to educate students.

In this context, said Director of the World Food Program (WFP), Indonesia, Bradley Bussetto, to date WFP has helped 1.2 million Indonesian children by providing them with nutritious food through food aid in schools and health centers in, for example. Nanggroe Aceh Darussalam, Greater Jakarta, East Java, East Nusa Tenggara and West Nusa Tenggara.

It is worth noting that nearly half of the regencies in Indonesia are vulnerable to food scarcities. Of course, the partnership with Unilever will make WFP better able to reach the children in the regions that need help.

This year WFP has allocated school food aid for 21.7 million children in 74 countries, including Indonesia. Most of them are daughters of poor families. Some 50,000 of a total of 21.7 million children that this program has set as its target are from Indonesia.

Everybody agrees that fighting children's hunger is a program that must be immediately carried out in line with the UN Millennium Development Goals. In this context, the Indonesian government, as Aburizal has put it, has set a target of reducing the malnutrition level and the mortality rate of mothers and babies in 2010.

PT Nestle Indonesia is also carrying out a CSR program in community health, which covers three main issues: improvement of the nutrition of Indonesian families, health and the environment. Since it was first established in Indonesia in 1971, this company has shown its commitment to improving the nutrition of Indonesian children.when cases of children's malnutrition were found in 2005. As a dairy producer, Nestle felt called upon to give its best and try to improve the nutrition of Indonesian children," said PT Nestle Indonesia's HR and corporate affairs director Syahlan Siregar.

To improve children's nutrition, he said, Nestle is concerned not only with malnourished Indonesian children but also with over-nourished children. As for malnourished children, Nestle provides milk formula free of charge. Meanwhile to improve the nutrition of overweight children, Nestle Indonesia, teaming up with the Sports Medicine department of the University of Indonesia's School of Medicine, give sports education and training to children through Bermain Asyik (Fun Play), a program intended to burn calories.

Another company carrying out a CSR program in health is PT Fonterra Brands Indonesia, the producer of milk under the brands of Anlene, Anmum, Anchor, WAM and Chesdale. The company is busy popularizing a daily walk program to strengthen bones.are committed to educating the public in the prevention of osteoporosis. This time we are popularizing a program of walking 10,000 steps a day," said marketing manager of Fonterra Brands Indonesia, Baskorohadi Sukatno.

Meanwhile, TNT Indonesia is another business player carrying out a sports-related CSR program. Throughthe World", TNT Global hopes to be able to arouse enthusiasm in people to improve their health. The program is supported by the World Health Organization, the Food and Agriculture Organization and UNESCO.

In fact, the Indonesian government has a special budget to deal with these sorts of issues. However, as many natural disasters have occurred recently, part of this fund has been spent on emergency measures to mitigate these disasters. For this reason, the government hopes that the private sector and the general public will take part in community health programs, particularly in overcoming malnutrition among children. Obviously, the government cannot be relied upon to solve community health programs on its own, given its limited funds and resources. (Burhanuddin Abe )

The Jakarta Post, March 04, 2008

Tuesday, April 01, 2008

Darius Sinathrya - Donna Agnesia


Bagaimana memadukan dua selera makan yang berbeda? Tanyakan pada pasangan Darius Sinathrya dan Donna Agnesia. Memang, keduanya suka olah raga bahkan sampai sekarang menjadi presenter beberapa acara olah raga, tapi soal makan, masing-masing memiliki favorit tersendiri.

Donna, kelahiran Jakarta 8 Januari 1979 di Jakarta, suka masakan Sunda dan makanan tradisional Indonesia lainnya. Tapi Darius, sang suami, meski tinggal lama di Yogyakarta, selera makanannya cenderung bule. “Saya suka pasta, pizza, dan makanan-makanan Eropa,” ujar kelahiran Swiss 21 Mei 1985 itu.

Memang Darius tidak menolak makanan Indonesia, bahkan beberapa menjadi favoritnya, sebutlah gudeg, tongseng, sate padang, dan lain-lain. Tapi pria yang pernah membintangi beberapa sinetron seperti Gatotkaca, Hantu Jatuh Cinta dan Bukan Salah Bunda Mengandung, serta berakting dalam film Naga Bonar (Jadi) 2, D'Bijis, Pocong 3, Akhir Cinta, dan Love ini, banyak daftar pantangannya. Di antaranya adalah ikan. “Saya tidak suka baunya yang amis,” tukas pemilik tubuh atletis yang suka masak itu.

Dan itulah menjadi PR Donna ketika harus jalan bareng mencari makanan. Meski Donna yang banyak inisiatif, ia harus pandai-pandai memilih restoran atau kafe yang sajiannya bisa untuk memenuhi selera mereka berdua. Tidak hanya berdua sebetulnya, sebab pasangan yang menikah pada 30 Desember 2006 sudah dikaruniai seorang putra (lahir 28 Juni 2007, dan diberi nama Lionel Nathan Sinathrya Kartoprawiro).

Bagi Donna, soal makan jelas bukan suatu kendala, justru berwisata kuliner menjadi rekreasi tersendiri di tengah-tengah kesibukannya bekerja. “Untungnya, saya orangnya ‘pemakan segala’, sehingga bisa menyesuaikan diri dengan selera keluarga,” ujar mantan model yang fasih berbicara soal tim-tim sepak bola dunia itu.

Selera yang berbeda juga bukan halangan untuk saling mendekatkan diri satu sama lain. Bahkan keduanya mempunyai kesukaan yang sama terhadap bberapa jenis makanan, di antaranya adalah vondue – makanan berbahan keju yang cara penyajiannya sangat unik. “Bentuknya indah, dimakannya juga enak, ada sensasinya,” ujar Donna yang diamini oleh Darius. Bahkan itulah sebagian kenangan ketika mereka berbulan madu ke Swiss. (Burhanuddin Abe)