Wednesday, April 30, 2008

Dari Petualangan hingga Koleksi


NAMANYA Steve Fosset. Mungkin tidak banyak orang mengenalnya, tapi catatan tentang petualangannya itulah yang membuat pria kelahiran Tennessee, Amerika Serikat, 22 April 1944, ini populer. Bahkan di kalangan para petualang namanya pun sangat disegani. 

Betapa tidak, Fossett tak cuma tangguh menaklukkan ombang-ombak ganas di laut mana pun. Ia juga seorang pendaki gunung yang andal, meski tak pernah bisa menaiki puncak Everest. Dan kini, ia telah mencatatkan dirinya sebagai penerbang solo paling cepat yang mengitari bumi tanpa henti: 67 jam dengan jarak 37 ribu kilometer! ”Inilah obsesi terbesar saya,” katanya. 

Fosset mulanya dikenal sebagai petualang laut. Banyak perjalanannya di lautan menjadi parameter keberanian seorang petualang. Berbagai pengalaman sudah dikecapnya dalam petualangan laut. Terombang-ambing di lautan bisa jadi malah menyenangkan untuknya. Dengan modal sebuah kapal bercadik dua bernama Chayenne, ia terabas hampir keseluruhan rute laut terganas di dunia. Mulai dari usaha memecahkan rekor tercepat dalam melintas Lautan Atlantik, Bermuda, Miami hingga New York, hingga lautan Mediterian menjadi santapan kegiatan perjalanan gilanya. 

Tidak hanya berpetualang di laut, ia juga mengarungi angkasa dengan menaiki balon udara keliling dunia. Laksana cerita Jules Verne dalam Around The World in 80 Days, ia tempuh perjalanan dua bulannya melintasi udara bumi. ”Saya tidak melakukan ini untuk kesenangan saja, tapi juga menciptakan sejarah,” ujarnya.

Kalau dikatakan petualangan gila mungkin tidak salah. Tapi bagi Fosset, semua yang dilakukannya adalah sebuah kesenangan, kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran, tapi juga hampir menjadi profesi.

Mungkin tidak harus seperti Fosset, tapi berpetualang memang mulai menjadi hobi para eksekutif saat ini. Dari berpetualang, tepatnya soft adventure, mereka menuai pengalaman menarik dan berharga bagi kehidupan mereka. Dunia petualang bagi para pehobi menjadi tantangan tersendiri yang mengasyikkan. Sebuah perusahaan rokok global pun berani membentuk adventure team dalam program tahunannya.

Para peserta tidak harus seorang petualang beneran, tapi paling tidak harus lulus dari berbagai ujian, mulai dari mengemudikan motor trail, jeep terbuka di medan off road, triatlon, rafting, berenang, dan sebagainya. Cukup seru, selain peminatnya bejibun, kegiatan ini bisa membentuk brand image yang baik terhadap produk ini.

Kegiatan berpetualang tidak hanya menyenangkan, tapi melahirkan banyak cerita. Seperti pengalaman Amir Maulana yang hobi naik gunung. Berada di puncak gunung bagi lulusan Fakultas Ekonomi UI Jakarta ini menjadi kenikmatan tersendiri yang sulit dicari bandingannya. 

Profesional di bidang perbankan yang di masa mahasiswa menjadi pengurus klub pecinta alam ini merasa tenang saat melakukan pendakian gunung dan sensasinya ketika berhasil ke puncaknya. “Kita menjadi dekat dengan Tuhan,” kata Amir yang pernah menaklukkan Gunung Semeru dua kali itu.

Tidak gampang mendaki gunung, selain butuh ketrampilan khusus, ketahanan tubuh, juga waktu dan biaya. Tapi namanya juga hobi, apa pun akan dilakukan untuk memenuhi keinginan dan mendapatakan kesenangan. Hobi tidak hanya terbatas pada berpetualang atau mendaki gunung seperti Amir. Masih banyak jenis kegemaran lain, yang bai orang tertentu, termasuk remeh-temeh. Sebutlah mengumpulkan sesuatu (koleksi), juga hobi yang lain seperti filateli, fotografi, kaligrafi, melukis, menjahit, origami, otomotif, dan lain-lain.

Tedjo Iskandar adalah salah seorang contoh kolektor andal. Ia mengumpukan pernik-perni, mulai dari pernak-pernik Hardrock Café hingga bir berbagai merek dari berbagai negara. Maklum, ia tidak hanya hobi traveling tapi profesinya memang seorang tour guide yang setiap tahun bepergian sedikitnya ke tiga negara. “Koleksi saya ini ibarat saksi sejarah, bahwa saya pernah ke negara ini, negara itu…,” katanya.

Mengapa pernak-pernik Hardrock Café dan bir? Hardrock Café adalah ikon masa kini yang ada di kota-kota besar dunia, sedangkan bir juga diproduksi negara-negara modern – masing-masing mengeluarkan merek-merek yang unik. Saking cintanya pada koleksinya, Tedjo membuat lemari khusus di kantornya untuk menyimpan barang-barang hasil buruannya dari pelbagai negara. 

Lain lagi dengan cerita Taufik Dasaad. Bapak satu anak ini terobsesi dengan pada dunia militer yang penuh disiplin. Ia tidak hanya meniru kedisiplinannya, tapi ia juga mengoleksi benda-benda yang berbau militer, mulai dari seragam, emblem, hingga senapan. “Kebetulan saya kenal dengan beberapa perwira tinggi,” ungkap pecinta fotografi ini.

Fotografi? Ini juga salah satu hobi Taufik yang lain. Bukan hanya hobi ternyata, tapi pekerjaannya memang fotografer. “Dulu hobi, sekarang profesi,” ungkapnya.

Memang banyak orang yang menekuni hobi, yang kemudian menjadikannya sebah profesi. Selain Taufik, kita mengenal Jay Subijakto, Kay Moreno, Pinky Mirror, Sam Nugroho, dan yang lebih senior Darwis Triadi. Itu yang di bidang fotografi, di jalur musik kita mengenal promotor musik Adrie Subono yang dulunya pemain band, impresario Peter Gontha yang sukses menggelar Java Jazz yang hobi berat main piano (jazz). 

Kesenangan, hobi, atau profesi, tergantung dari sudut mana Anda memandangnya. (Burhanuddin Abe)

1 comment:

  1. Hai, Salam Kenal
    sekedar membagi Informasi tentang penyewaan tenda dan alat-alat camping , pembuatan dan penjualan tenda,
    Berkemah, Camping, kemping, Even, Wisata Alam, Mabim, Outbound Training, Tenda Dome, Tenda Sarnafil atau Tenda Kerucut;
    silakan hubungi kami di http://www.tendaku.net atau http://www.mrcamp.net
    thx..

    ReplyDelete