Tuesday, May 13, 2008

Kantor Serasa dalam Genggaman




Bekerja ternyata tidak selalu harus berkantor, yang dalam pengertian konservatif adalah sebuah gedung atau ruang, di mana segala aktivitas bisnis dilakukan. Profesional zaman kiwari bisa mengerjakan tugasnya di mana pun, di kafe atau mal yang menjadi meeting points baru. Bagi mobile workers, bertemu klien, bernegosiasi, bahkan berhubungan dengan klien di seluruh dunia pun, bisa dilakukan di kedai kopi. Aha, bisnis dan kesenangan bahkan bisa dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Burhanuddin Abe 

Sambil menyeruput secangkir kopi, mata Evi Puspa tertuju pada layar laptopnya. Pagi itu ia harus mengirim sebuah proposal ke klien, ia membaca sejenak materi yang akan dikirim, memeriksa kembali alamat yang dituju, dan klik! Dalam bilangan detik, proposal tersebut sudah sent out ke email klien.

Direktur PT Online Marketing Indonesia itu tidak melakukannya di kantor, tapi dari Wien Cafe di Plaza Senayan Jakarta. Dari rumah ia tidak perlu meluncur ke kantornya yang masih berada di bilangan segi tiga emas Jakarta, karena siangnya ia janji bertemu dengan klien yang lain di plaza tersebut. “Tidak hanya hari ini, sebagian besar waktu saya berada di jalanan. Dengan laptop dan koneksi internet, serta ponsel, saya bisa mengendalikan perusahaan dari mana pun,” ujar Evi.

Begitulah, kemajuan teknologi informasi membuat segalanya menjadi mudah. Dengan fasilitas internet wi fi ini Evi bisa melakukan kontak bisnis dengan mitranya secara on line. Dengan tidak dibatasi oleh tempat, asal terdapat fasilits hot spot, semua pekerjaan bisa dilakukan dengan mudah, mulai dari melobi sampai melakukan presentasi, termasuk menggunakan fasilitas email dan chatting, tentu saja. “Transfer dana pun bisa memanfaatkan fasilitas internet banking,” ujar mantan marketing manager detikcom itu. 

Jadi, kalau semuanya bisa dilakukan di mana pun, kenapa juga harus berkantor setiap hari. Pemilik pemilik situs www.perempuan.com itu justru mengangap bahwa kafe adalah tempat yang nyaman untuk bersantai sekaligus bekerja yang efektif. Kafe yang disebut pada ilustrasi di atas tersebut tidak hanya sebagai meeting point, tapi juga menjadi kantor kedua.

Tidak hanya Evi, banyak orang menjalani hidup sebagai mobile worker. Memang tidak semua bagian bisa melakukannya, yang kehadirannya masih dibutuhkan di kantor konvensional, seperti operator, sekretaris, dan clerical staff lainnya. Yang paling banyak berkantor di jalanan biasanya orang marketing, konsultan manajemen, wartawan, penulis, dan yang berhubungan dengan pekerjaan kreatif. Dan tentu saja, para entrepreneur yang mengelola perusahaannya sendiri.

Pengamat pemasaran Rhenald Kasali, meski berkantor resmi di Program Pasca Sarjana, Fakultas Ekonmo, UI, Depok, boleh dibilang sebagai mobile worker. Banyak aktivitas yang dilakukan dilakukan di luar kantor, mulai dari konsultansi, ceramah, dan lain-lain. Bahkan untuk bertemu klien ia tidak sampai hati memaksa mereka datang ke Depok, tapi dijamu di Financial Club, Graha Niaga Jakarta, di mana ia menjadi salah seorang anggota kehormatannya.

Hendra adalah contoh yang lebih ekstrim. Profesional di bidang valas dan pasar modal ini bahkan melakukan hamori semua pekerjaannya dari kafe ke kafe. Pria 32 tahun ini kerap nongkrong di Starbucks yang saat ini hadir di banyak tempat. Dengan notebook dan PDA-nya, ia bebas berselancar di internet sambil memantau pergerakan indeks valas dan harga saham. Di kedai kopi dengan fasilitas internet nirkabel atau zona hot spot, ia pun bisa melakukan deal-deal bisnis dengan klien. 

Bisa terbayang, kegiatan para mobile worker ini kini lebih tertolong dengan kehadiran teknologi baru telepon seluler yang disebut sebagai 3G – atau generasi ketiga, bahkan 3,5G. Sebuah ilustrasi di Jepang mungkin bisa menggambarkan kedigyaan teknologi ini, yang di sana hadir melalui teknologi WCDMA. Produsen mobil, misalnya, bisa melakukan promonya via SMS. Tidak hanya tulisan, ada barcode-nya yang kalau di-scan terbaca iklan tersebut di layar komputer, lengkap gambar mobil dan spesifikasinya. Juga nomer telepon yang bisa dihubungi.

Kalau calon pembeli tertarik bisa menghubungi nomer tersebut, dan dengan teknologi mobile phone terkini memungkinkan dia bisa bertatap muka dengan sang penjual. Ingin tahu lokasi mobil berada, tinggal memanfaatkan fitur telepon seluler yang bisa menujukkan lokasi tersebut via program GPS. Gaya berkomunikasi di era TI yang luar biasa ini rasanya tidak hanya ada di film-film James Bond atau Mission Imposible saja. 

Memang, dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh sebuah surat kabar nasional, orang Indonesia masih merasa perlu berkantor secara fisik, meski teknologi semakin maju, dan gadget-gadget baru makin dilengkapi dengan fitur-fitur yang memudahkan. Tapi bisa diduga, dengan kehadiran teknologi 3,5G dan perkembangan TI yang luar biasa, populasi mobile worker pun akan bertambah di Indonesia.

Tidak hanya itu saja, jalanan Jakarta yang makin macet, maka bergaya hidup mobile worker, akan sangat menolong untuk bekerja secara efisien dan efektif. Ditambah lagi dengan kehadiran kafe dan coffee shop yang makin menjamur di mal dan plaza. Dulu, nongkrong yang nyaman hanya bisa dilakukan di hotel-hotel berbintang saja. Sekarang, tempat ngopi, mulai dari yang impor (Starbuks, Coffee Bean, Dome, Gloria Jeans, dan lain-lain) maupun yang lokal (Exelso, Tator, Bakoel Koffie, dan lain-lain) sudah tersebar ke sentero kota. Belum lagi kafe-kafe dan klub-klub, yang di Jakarta sudah mencapai 600-an gerai. 

Mereka tidak sekadar tempat makanan dan minuman, tapi juga tempat yang nyaman untuk bersantai, unwind, atau hang out. Atau sekadar menghabiskan waktu untuk menunggu kemacetan reda. Dan yang lebih menarik, tempat-tempat tersebut ternyata sangat cocok untuk dipakai untuk bekerja. Apalagi, di situ biasanya dilengkapi dengan fasilitas hot spot yang memungkinkan para mobile worker untuk bekerja secara online. 

Para pengembang dan pengelola mal atau plaza sangat sadar bahwa kebutuhan orang terhadap tempat-tempat tersebut tidak hanya sebagai tempat berbelanja, tapi juga sekaligus sebagai meeting point masa kini yang harus dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang memberikan kenyamanan untuk bersantai, sekaligus kemudahan untuk bekerja. 

Pengelola Mal Kelapa Gading Jakarta, untuk menyebut contoh, menyebut tempatnya sebagai salah satu life style centre di Jakarta. Itu sebabnya, di sana tidak hanya ada department store dan butik-butik dengan merek ternama, tapi juga sejumlah kafe dan coffee shop, yang kerap dimanfaatkan sebagai meeting point para trendseter Jakarta. Hadirnya venue-venue ini juga ikut menyumbang tumbuhnya mobile worker yang mempunyai mobilitas tinggi. “Sebaliknya, keberadaan mobile worker juga mengubah konsep kafe. Kafe bukan lagi tempat nongkrong semata tapi juga tempat bekerja dan penyebaran bisnis,” ujar Nuke Siska Puspita, Pengamat dan konsultan Sumber Daya Manusia.

Majalah ME No. 69, 2006

No comments:

Post a Comment