Monday, June 30, 2008

Sexiest Man Alive!


Ikon seksi kini bukan monopoli wanita, pria pun mempunyai peluang untuk meraih predikat tersebut. Apa yang membuat pria menjadi seksi? Jawabannya pasti amat sangat beragam. Yeng terang, kriterianya ternyata tidak hanya fisik semata, setidaknya itulah hasil polling Majalah ME Asia 2008.

PENCARIAN pria seksi di Indonesia agaknya belum sepopuler pencarian wanita seksi yang kontesnya sangat beragam. Memang beberapa majalah remaja secara berkala sudah menjaring para cover boy, majalah wanita pun sering menggelar pemilihan figur-figur pria idola. Tapi tetap saja itu hanya sebagai ajang tambahan dari hajatan utama yang lebih seru yang objeknya adalah wanita.


Tidak seperti di Amerika, misalnya. Majalah People, untuk menyebut contoh, mempunyai tradisi yang cukup panjang dalam pemilihan pria seksi, bahkan gemanya bisa menyebar ke seantero dunia. Siapa yang tidak tahu ketika aktor Matt Damon dinobatkan sebagai "Pria Paling Seksi" tahun 2007. Ia sebetulnya menolak julukan itu, tapi justru sikap bersahajanya tersebut makin menguatkan majalah tersebut memilih aktor kelahiran Massachusetts, 8 Oktober 1970 itu pada tempat pertama.


Memang bukan tanpa alasan People menetapkan Damon sebagai pria terseksi di dunia. Ia dikenal sebagai bintang utama film serial "Bourne Identity" yang meraih sukses komersial dan tahun lalu membintangi dua film peraih Oscar, yakni "The Departed" dan "Syriana". "Rasa humor Damon yang sukar dilawan, kerendahan hatinya dan statusnya sebagai lelaki yang mencintai keluarga yang begitu kokoh membuat dirinya sebagai pemenang yang logis,” tulis majalah itu.


Otomomatis, Damon menjadi orang ke-22 yang menerima julukan pria terseksi versi majalah People. Sebelumnya ada sejumlah nama populer, seperti aktor George Clooney (1997 dan 2006), Brad Pitt (1995 dan 2000), Ben Affleck (2002). Sementara Mel Gibson adalah pria pertama peraih gelar bergengsi tersebut pada tahun 1985.


Memang, kendati ada nama-nama Asia, pemilihan pria terseksi versi People tersebut terkesan ”Amerika centris”. Kandidatnya merupakan bintang-bintang tenar Hollywood. Secara kasat mata para aktor ini sudah terlihat ganteng dan berkarakter. Mungkin bukan susah mencari nominatornya, sebaliknya justru sulit mengeksekusi siapa yang harus dinobatkan menjadi pria terseksi di dunia.


Tapi yang bisa menjadi catatan, ternyata bukan hanya fisik semata, kriteria non fisik agaknya tidak kalah pentingnya. Itu yang terjadi pada kemenangan Damon, juga para pendahulunya. Hal senada juga diungkapkan oleh John R. Ballew, M.S., L.P.C. Konselor dengan spesialis seksual, relationship dan spirit dari Atlanta Amerika itu menegaskan bahwa ketampanan saja tidak cukup menjadikan pria terlihat seksi, tapi tergantung dari cara ia merawat diri, berpakaian, berbicara, berpikir smart, bergaul, bahkan dalam memberikan kasih sayang pada keluarga dan pasangan.


Kini, bukan hal yang aneh kalau pria membentuk dirinya menjadi seksi. Dulu, boleh dibilang hanya wanita dan pria tertentu yang memperhatikan penampilan; cara berpakaian, pergi ke salon atau spa dan latihan rutin di gym untuk membentuk tubuh yang sehat dan indah.


Tetapi kini zaman telah berubah. Pria-pria tidak tabu lagi mematut diri dan melakukan berbagai upaya untuk tampil rapi, bahkan mengikuti mode yang lagi in. Mereka adalah orang yang sadar dengan sejumlah etika, seperti bagaimana mengajak kencan, makan malam di restoran, pilihan parfum yang sesuai, kesadaran terhadap fesyen, selera terhadap kesenian, dan masih banyak lagi. Inilah generasi baru pria-pria dewasa yang matang dan peduli dengan penampilan, tidak untuk menarik lawan jenis semata, tapi juga untuk mencapai kesempurnaan. Orang menyebut mereka ”pria metroseksual”.


Bukan fisik semata
Penampilan luar memang harus dibarengi dengan kekuatan dari dalam, atau istilah yang umum dipakai wanita, inner beauty. Benang merah itulah yang terlihat dalam polling ME kali ini. Seksi tidak semata-mata ditentukan oleh kelebihan ragawi semata; badan yang atletis, dada yang bidang, bokong yang seksi, dan lain-lain. Pengertian pria seksi lebih luas dari itu. Itu sebabnya, yang terpilih kali ini tidak hanya kalangan selebriti dari dunia seni dan hiburan, tapi juga atlet, news announcer, bahkan eksekutif.


Kepada setiap responden ditanya bagian tubuh pria mana yang dianggap seksi? Jawabannya ternyata sangat beragam. Ada yang menyebutkan pantat adalah bagian tubuh pria yang paling seksi, tapi sebagian yang lain beranggapan bahwa senyum yang cool atau tatapan mata yang tajam merupakan daya tarik seksi dari seorang pria.


Jika Anda kaum wanita, menganggap dada yang bidang adalah suatu hal seksi dari pria, maka bersiaplah Anda dengan banyak pesaing. Ya, wanita mana yang menolak untuk berbaring di dada pria yang bidang dan kekar. ”Saya sering membayangkan dipeluk pria berdada bidang. Rasanya nyaman, terlindungi,” ungkap Marcella, 28 tahun, karyawan perusahaan asuransi yang masih menjomblo.


Kriteria tentang pria seksi – seperti halnya ukuran wanita seksi – memang berubah dari waktu ke waktu. Bedanya, kalau wanita seksi, meski ada tambahan kredo beauty, brain, & behavior, ukurannya tidak pernah beranjak dari persoalan fisik. Kalau pria seksi, batasannya lebih complicated.


Ada yang tertarik dengan goyangan ala Ricky Martin di lantai dansa. Tapi percaya atau tidak, ada juga yang bergairah ketika melihat pria saat mengemudi. Paling tidak, Itulah yang dialami Sofia ketika menatap pacarnya ketika melajukan mobilnya.He just sat there and was driving seriously, and then? I got very horny!” ungkapnya terus terang dalam artikelnya di U Magazine.


Ketika seperti itu pria terlihat sesuai kodratnya. Dalam kacamata Sofia, sadar atau di bawah sadar, banyak perempuan setuju pria dilahirkan untuk melindungi perempuan. Pria tidak bisa terlihat meyakinkan sebagai pelindung, kecuali dia melakukan sesuatu dengan penuh percaya diri. Dalam kasus ini, kepercayaan diri itu terlihat ketika dia mengendarai mobil.


Otomotif dan berkendara, menurut Sofia, adalah dua di antara passion yang paling besar bagi sang pacar yang bekerja di bidang otomotif itu. Kepercayaan diri biasanya, dan seharusnya, membuat laki-laki jadi mampu memegang kendali – dan malam itu dia tampak berkuasa. Sangat kodrati, itulah yang kemudian menebarkan aura keseksian pria. ”Perempuan menyukai laki-laki dengan kekuasaan, dengan kontrol. Ada banyak perempuan yang jatuh cinta atau sekadar suka pada laki-laki tua yang berkuasa. Ini bukan masalah uang. A woman gains a sense of security from a guy who's in control and knows what to do,” tulisnya. Aneh?


Tidak juga. Ukuran keseksian pria memang subyektif, dan seperti disebut di muka, urusan fisik semata. Iwan Fals dan Eros Djarot, yang menduduki peringkat pertama dan kedua pria terksi versi majalah ME, tentu bukan semata karena kumisnya. Iwan adalah musisi yang kharismatis, lagu-lagunya selain bercerita tentang cinta dengan lirik yang bernas, jauh dari cengeng, juga berbicara tentang kritik sosial. Eros Djarot tidak sekadar musisi, tapi kiprahnya di dunia politik, memberikan inspirasi kepada banyak orang tentang perubahan. Siapakah pilihan Anda? (Burhanuddin Abe)

12 ME Sexiest Men


1. Iwan Fals (Musisi)
2. Eros Djarot (aktor)
3. Mathias Muchus (aktor)
4. Ari Sihasale (aktor)
5. Arief Suditomo (news anchor)
6. Mario Wuysang (atlet basket ball)
7. Sandiaga Uno (pengusaha)
8. Takeshi Kanishiro (aktor)
9. Lin Dan (atlet bulu tangkis)
10. Chow Yun Fat (aktor)
11. Abhishek Bachchan (aktor)
12. Dr. Sheikh Muztapar (astronot, Malaysia)

(Source: ME July 2008)



Traveling

DALAM kolom hobi saya selalu mencantumkan ”traveling”. Ini memang bukan satu-satunya hobi, berwisata kuliner juga menjadi kesenangan tersendiri. Tidak sekadar makan memang, sebab kegiatan yang satu itu tidak boleh disebut hobi, tapi sudah menjadi keniscayaan sebagai makhluk hidup. Menulis? Dulu pernah menjadi hobi, tapi sekarang menjadi pekerjaan. Membaca? Tidak fair kalau disebut hobi, karena sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pekerjaan begitu kita (tepatnya: saya) memilih profesi menjadi wartawan. Itu kata Goenawan Mohammad loh!

Hobi yang tersisa, apalagi kalau bukan traveling dan berwisata (kuliner), meski keduanya setali tiga uang. Ya, aktivitas yang satu ini sungguh menyenangkan. Meski kalau mau jujur, belakangan ini saya jarang bepergian. Memang, dulu sewaktu menjadi reporter di majalah berita hampir tiap bulan selalu saja ada tugas ke luar kota, mulai dari Aceh hingga Papua pernah saya kunjungi. Memang sih, kalau untuk liputan ke luar negeri masih bisa dihitung dengan jari. Kendati undangan dari luar negeri bertubi-tubi, dan kebutuhan reportase langsung dari manca negara juga tidak sedikit, jajaran awak redaksi juga tak kalah banyakya. Artinya, masing-masing wartawan ada gilirannya, kapan ia ditugaskan ke luar negeri.

Teman saya sesama alumni UGM Yogyakarta, Laurensius Sastrawijaya, tidak kekurangan akal, ketika mendapat kesempatan bekerja di sebuah koran nasional terbesar, ia memilih desk olah raga. ”Banyak event olah raga yang berskala global, sehingga kesempatan ke luar negeri sangat besar,” ujar Sastra yang kini bekerja di BBC London.

Pilihan yang sangat masuk akal. Hampir semua orang punya keinginan melanglang buana. Tentu tidak salah dong kalau saya masih menganggap traveling sebagai hobi, bahkan cita-cita abadi. Adiktif mungkin, tapi yang jelas saya menganggap jalan-jalan adalah the ultimate fun activity. Mengunjungi berbagai negara masih menjadi obsesi yang terpendam.

Siapa yang tidak ingin berkunjung ke perkebunan anggur di Tuscany, berjemur di pantai-pantai Mediterania, kalau kita sudah terbiasa kepanasan di pantai tropis – tidak ada salahnya memimpikan pemandangan gunung Alpen bersalju di Prancis Selatan. Ikut pesta di Rio de Janeiro. Atau, kalau Anda tergolong orang yang romantis, pilihannya mungkin berbulan madu ke Venesia. Wow!

Cita-cita seorang traveler sejati adalah keliling dunia suatu hari nanti. Selama mimpi masih gratis, kenapa nggak? Mimpi, keinginan, obsesi, harapan, dan sejenisnya, kata orang, adalah semacam mantra (dan juga doa) yang jika diulang-ulang tidak mustahil akan menjadi kenyataan.

Dan nyatanya, kalau cita-cita tersebut dirancang dengan cermat, perjalanan ke negeri orang bukan perkara sulit. Simak saja pengalaman para traveler, yang kisahnya tertuang dalam berbagai buku – sebutlah Sigit Susanto yang menulis ”Menyusuri Lorong-lorong Dunia” atau Trinity yang berkelana sejak 1995 dan menuangkan ceritanya dalam ”Naked Traveler”. Tapi yang membuat saya berdecak kagum adalah kisah Marina Silvia Kusumawardhani, seorang backpacker yang berhasil keliling Eropa selama enam bulan hanya dengan 1.000 dolar AS (sekitar Rp 9,3 juta)!

Bayangkan, dengan bekal yang sangat minim itu Marina berhasil mengunjungi 45 kota di 13 negara Eropa. Selama enam bulan sarjana teknik industri ITB itu bisa menyaksikan pembukaan Piala Dunia Sepak Bola 2006 (tahun petualangannya) di Jerman, merayakan ulang tahun Venesia, nonton konser Sting, hingga disapa Dalai Lama saat bengong di Praha. Selengkapnya bisa baca blook (gabungan blog dan book)-nya, yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, Mei lalu.

Jika rencana traveling kita tertunda-tunda, mengapa kita tidak menyimak kisah para Columbus masa kini tersebut, dan mau belajar dari mereka. Bon voyage! (Abe)

Pilih One-Stop atau Spesialisasi?


Sektor ritel di properti, seperti kata Benyamin Sueb, kagak ade matinye! Belum habis orang terperangah dengan kehadiran pusat perbelanjaan one-stop (satu lokasi terdiri dari berbagai fungsi) mewah di CBD (Central Business Distict) Jakarta, yakni Senayan City, Grand Indonesia, dan Pacific Place. Kini, para pendatang baru juga ikut meramaikan pasar ritel.


Paling tidak, sepanjang kuartal pertama 2008 sudah selesai dibangun lima pusat perbelanjaan, yaitu Pasar Grosir Cililitan 2 di Jakarta Timur yang dijual dengan sistem strata-title, Rawamangun Square dan Plaza Buaran di Jakarta Timur, fasilitas ritel tambahan di gedung perkantoran Menara Standard Chartered di Jakarta CBD, serta Pluit Junction di Jakarta Utara yang berkonsep gaya hidup, F&B (makanan dan minuman), dan hiburan. Hadirnya pusat-pusat perbelanjaan tersebut menambah pasokan ruang ritel di Jakarta sekitar 86.300 m2.


Pada kuartal I 2008 pasokan kumulatif total ruang ritel di Jakarta tercatat 2.875.100 m2, yang terdiri dari 1.793.000 m2 (62,4%) pusat perbelanjaan sewa dan 1.0882.100 m2 (37,6%) strata-title.


Pembangunan pusat-pusat perbelanjaan memang belum berhenti. Sampai akhir 2008 kami memperkirakan pasokan akan mencapai 473.500 m2, sekitar 69,2% di antaranya datang dari pusat perbelanjaan sewa. Bila pembangunan selesai tepat waktu, pasokan ruang ritel total di Jakarta akan mencapai 3.348.500 m2 pada akhir 2008.


Aktivitas Sewa
Aktivitas sewa pada pusat perbelanjaan selalu bergairah, tak terkecuali sepanjang kuartal I 2008. Peyerap utama memang penyewa jangkar (anchor tenant), yang selalu menempati ruang ritel di pusat-pusat perbelanjaan yang baru dibuka. Hypermarket dan department storeGiant di Ramawangun Square, dan M. Department Store di Pacific Place.
memberi kontribusi terbesar, seperti Carefour di Plaza Buaran,


Penyewa-penyewa lainnya yang membuka gerai-gerai baru, tercatat pembawa merek-merek top, sebutlah Zara, Forever 21, dan Dolce & Gabbana di Grand Indonesia. Paper Clip di Mal Kelapa Gading (MKG) 5, Periplus di MKG 2, Wall Street Institute di La Piazza, serta Kalbe dan Nuansa Musik di Mal Pondok Indah 2.


Yang menarik, penyewa-penyewa F&B makin dominan saja sepanjang kuartal pertama tahun ini. Sebutlah Cuisine Cuisine (masakan cina) dan Red Sapphire (masakan laut) di Pluit Junction, dan Tesate (masakan indonesia) di Plaza Senayan. Belum lagi para pemain lama yang juga mengisi tempat-tempat yang tersedia di beberapa mal dan plaza.


Prospek
Di antara sektor properti yang lain, pusat perbelanjaan tergolong yang paling tinggi pertumbuhannya. Memang, pada saat krismon sektor ini yang terpuruk lebih dulu, tapi begitu ekonomi membaik, sektor ini pula yang paling cepat pulih bahkan berkembang dengan pesat.


Kinerja pusat perbelanjaan strata-title di Jakarta memang belum membaik, itu pula yang menyebabkan pasokannya dalam dua tahun mendatang masih terbatas. Hanya tiga pusat perbelanjaan hak milik saja yang menonjol yang sedang dalam tahap pembangunan, yakni Blok M Square, Seasons City, dan Pusat Grosir Senen Jaya.


Sebaliknya, pusat-pusat perbelanjaan sewa, terutama berkonsep one-stop, akan mendominasi pasokan mendatang. Sebagian adalah bagian dari proyek-proyek superblok, yang di dalamnya tidak hanya pusat perbelanjaan, tapi juga kondominium dan gedung perkantoran.


Perlu dicatat, setelah suksesnya Cilandak Town Square dan EX Plaza, pusat-pusat perbelanjaan dengan spesialisasi F&B dan hiburan menjadi konsep yang populer. Bahkan tidak jarang, untuk menarik pengunjung, para pengembang rela membangun pusat perbelanjaan dengan konsep tersebut untuk jangka waktu tertentu, bersifat temporer hingga lahan tersebut siap dijadikan pusat perbelanjaan one-stop, atau bagian dari superblok, seperti EX, Automal, dan sebentar lagi Kuningan One. Lini Djafar - PT Property Advisory Indonesia (Provis)


Rushing into the LCD monitor market


LCD (liquid crystal display) monitors are currently the choice of many customers as the price is becoming more reasonable. They are also more practical and efficient. The pictures produced are also more satisfactory and do not tire the eyes quickly. So, LCD monitors are actually healthy for your eyes compared to CRT (cathode ray tube) monitors.

It is important to know how CRT monitors works. It shoots electrons 65 to 85 times every second that are multiplied three times due to the three color spectrums (red, green and blue). So, soon your eyes have to work very hard and get tired in no time.

There is no such risk with LCD monitors as they use liquid crystal and backlight without shooting electrons. Its thin design makes it possible to be placed at an ideal distance. Therefore, for those who work on computers for hours every day, LCD monitors are an excellent choice.

A perfect example of such a monitor is the Samsung T190. Its exterior design is smart with rounded corners and button less screen. It comes in three colors - Rose Black (Red), Emerald Black (Green) and Sapphire Black (Blue). It is also an energy saver.

Meanwhile, LG also has an elegant design that does not require much space. The LG 1753S, for example, with its 17 inch screen, is slim with a totally black frame, which lends it elegance. Other LG products are LCD LG 15" 1553S, LG 17" 177 WSB (Wide Screen) and LCD LG 19" 196 WTQ (Wide Screen).

Indeed, LG Electronics Indonesia not only manufactures reliable home appliances and cell phones, but is also a market leader in flat computer monitors and LCDs.

BenQ, meanwhile, has its own special strategy. It strives to make world standard LCD monitors and is innovative in every aspect. Its monitors are the most accurate and the fastest, and were the first in the world to be certified by Vista recently. Other manufacturers of LCD monitors are Acer and ViewSonic.

With its flat screen, most manufacturers are rushing to produce some of the best designs for monitors. One such company is Dell Incorporated, which is headquartered in Round Rock, Texas, the U.S. and was established by Michael Dell. Dell, which is number one in its field and has overtaken the position of Hewlett-Packard, has some unique features that no other company has. Dell is able to administer its inventory system accurately and can supply any customer anywhere in the world on time.

So, it is not surprising that the company can produce LCD monitors that are not only attractive but also competitively priced. Some of Dell's products are made by companies based in China, Taiwan and South Korea. The situation in the market, however, is quite tough, as all manufacturers have joined the bandwagon and started to produce monitors that either has sufficient or a wide range of features. The prices also vary.

What is becoming most popular is the wide screen monitor. The latest data from DisplaySearch shows that the sales of wide screen monitors in the first quarter of 2007 increased 40 percent from the last quarter of 2006. The 19-inch monitor took third place for sales worldwide, overtaking the 15 inch. Its total sales reached 5.8 million units. Number one in sales is the 17 inch monitor, while number two is the standard 19 inch screen.

Customers tend to choose the wide screen monitors because they are easy on the eye and are ideal for watching wide screen movies as well. The producers are also happy to make such monitors because cost-wise they are far more efficient. So, don't be surprised if there are soon more and more wide screen monitors on the market. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, June 30, 2008

Saturday, June 28, 2008

The exotic Asian culinary


Asian food, with its specific taste, is the favorite of many and can be found in every corner of the world. Thai food, for example, is considered quite exotic with chili and tamarind in most of its dishes.

Indeed the Thais have been quite successful in boosting the popularity of their rich cuisine across the world. Here in Indonesia numerous Thai restaurants have been mushrooming. Take for instance a new restaurant franchise from Bangkok, the Blue Erawan, which is strategically located in Menteng, Central Jakarta.

Indonesia and Thailand have similar roots in taste. Historically, the two countries have been close for hundreds of years, especially in the trade of spices. So, it is not surprising that the food of the two countries have similar ingredients.

The most well-known Thai dish is tom yam soup, which contains more chili and tamarind than the local sayur asam or tamarind soup. The tartness is more due to the lemon juice added to it. Other ingredients in the soup are lemongrass or citronella and coriander leaves. Besides chicken tom yam there are also tom yam gong (with prawns), tom yam pla (fish), tom yam palay (seafood such as squid, shrimp and snapper) and tom yam palai thong (fish head).

Of course, tom yam is not the only popular Thai food. Thai food also blends ingredients and spices from a number of countries, including China and India, to create its own specific flavor.

You will be delightfully surprised when you explore most streets in Bangkok, which are filled with restaurants and vendors, for instance Sukhumvit 38, Khao San and Pratunam streets. Among the many delicious dishes are som tum (hot papaya salad), Thai noodles, khao tom pla (fish soup with rice), tom yum talay (seafood soup) and khao man gai (chicken rice).

Some restaurants provide entertainment, for example Baan Thai, Piman Thai Theater and Season, which are located on Sukhumvit street. Similarly, there is also entertainment at the Royal Dragon restaurant, which according to the Guinness Book of Records is the largest restaurant in the world. You can find it on Bangna street. If you like a romantic atmosphere then why not have dinner while cruising along Chao Phraya river, which has a splendid view to enjoy while dining with your partner.

Thailand can be considered the heart of Asian culinary. In Bangkok you can easily find many good cooking classes, for example at the Thai Cooking School at Oriental Hotel, Royal Dragon, UFM Food Center, Landmark Hotel, Institute of Culinary Art and at the Blue Elephant Cooking School.

If you prefer milder food, then go for the milder and safer taste of Malaysian food. Nasi lemak (rice cooked in coconut sauce), roti canai (Indian bread), laksa (rice balls in delicious coconut sauce with shreds of chicken, prawns and meat) are some of the popular dishes here. In fact, Malaysian food is not that different from its Indonesian counterpart, and rice is the staple of the people in both countries.

A visit to Malaysia is incomplete if you only go shopping without a culinary tour. Various races live here and therefore the food of the country is also rich in choices and ingredients. Basically there are three types of food in MalaysiaMalay, Chinese and Indian, each with its own specific taste. There are also mixed race food, such as Nyonya and Muslim Indian. International cuisine, including Mediterranean, is also available in Malaysia's major cities.

Malay dishes are characterized by the coconut sauce and rather bold spices. However, Malay food tastes slightly different in each part of the country. Nyonya dishes, which are a mixture of Malay and Chinese flavor, have a combination of sweet, sour and spicy. Otak-otak (grilled fish with rice wrapped in leaves) and tim bebek (steamed duck) are examples of two popular Nyonya dishes.

Nasi lemak, served with vegetables and fish, can be found in almost every corner of the country, while the price is not too high at RM 15 (about Rp 37,500). If you desire more Malaysian food you can find it in Kuala Lumpur at Mid Valley Megamall, which is located in Mid Valley City, Lingkaran Syed Putra. Here at the Ayam Nor restaurant you can savor various dishes, including nasi lemak ayam golek (nasi lemak with chicken), nasi ayam daging rendang (rice with chicken simmered in spices and coconut milk), mee rebus Johor (Johor noodle soup) and mee bandung muar (Bandung noodles muar).

Meanwhile at Suria KLCC (Kuala Lumpur City Center), located at the lowest part of the Petronas Towers, you can find many restaurants and food stalls. On the fourth floor there are also various Asian restaurants. What is interesting is that the waiting staff are mostly Indonesian. The Chow Kit area is more Indonesian with its numerous Padang restaurants and jamu stalls. The menu here is very similar to those in Indonesia, and the area is often referred to as Indonesia town.

Fancy some Indian food? Then visit Bombay Palace on Jl. Tun Razak, which has an excellent menu and service. The food here is mostly Northern Indian, which is not as hot as Southern Indian food. Another choice for authentic Indian food is Restaurant on Jl. Telawi and The Taj at Crown Princess Kuala Lumpur. So, are you ready to go on a food adventure that will tickle your taste buds? (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, June 22, 2008

Thursday, June 26, 2008

Dari Bandung ke Jakarta


Raja Rasa, Sundanese & Sea Food Restaurant, dari Bandung akhirnya ke Jakarta (tepatnya Jl Ampera Raya 137), 12 Mei lalu. Hal ini dilakukan untuk mengakomodasi kebutuhan pelanggan, yang ternyata banyak yang datang dari Jakarta.

Resto dengan motto “Untuk Rasa memang Rajanya”, adalah surga kelezatan bersantap, hadir dengan menawarkan konsep restoran mewah, suasana nyaman dengan harga yang terjangkau serta variasi masakan yang beragam. Cobalah menu-menu, seperti udang galah bakar, kepiting asam pedas, cumi telur, gurame berbumbu, gurame jimbaran, tahu berbumbu, dan lain sebagainya. Hmm...

Selain makanan, Raja Rasa juga memanjakan pengunjung dengan alat saji dan alat-alat makan yang unik dan berkelas. Restoran bernuansa Bali, dengan dengan bale-bale ini, menempati gedung yang mewah dan artistik dilengkapi dengan dekorasi barang-barang antik dan batu fosil serta barang seni lainnya menjadikan Raja Rasa layaknya sebuah galeri kelas atas. Kolam ikan koi di sekeliling restoran menambah suasana alam dan mmbuat para tamu merasa betah dan nyaman berlama-lama menikmati berbagai hidangan dan suasana di restoran yang berkapasitas 400 tempat duduk ini. (Abe)

Perdapuran


Sepanjang Mei lalu Ben mengajak saya makan siang dari kedai ke kedai. Hampir saban hari! Saya tak ingat berapa kali ke bistro, food court, kafe, lapo, pujasera, restoran, rumah makan, atau warteg. Makin beragam saja kata untuk menamai tempat makan di Jakarta. Ben menyebut kegiatan dari hari ke hari itu: berpetualang kuliner.

Saya mengenangnya selaku pengisi tetap rubrik Kiat di majalah Tempo dulu. Kini Bondan Winarno dikenal sebagai bintang makan. Kehadirannya selalu ditunggu tetangga duduk saya di kantor lewat acara Wisata Kuliner.

Pria ini mengagetkan kami serumah ketika dulu muncul di TV dengan adegan yang memancing asam lambung. Menelan ulat-ulat hidup. Kini William Wongso dijuluki sebagai pakar kuliner.

Begitulah. Kata kuliner dalam tempo seringkas-ringkasnya meroyak dari Sabang hingga Merauke. Dari anak gaul di Menteng sampai si Butet di Parongil mengintimi kata ini berkat televisi. Ia belum terdaftar di Kamus Besar edisi terakhir (2001). Namun, Google sampai pukul 10 pagi dua hari lalu merekam pemakaian kuliner pada ranah bahasa Indonesia dalam 2.290.000 rongkol.

Ben mengartikan kuliner sebagai makan-makan. Supaya dianggap modern? Ah, dia tak tahu, culinary sudah tersua dalam literatur Inggris populer sebelum tahun 1791. Asalnya menurut Webster ialah kata Latin culinarius, yang berakar dari culina. Culina adalah ’dapur’. Culinarius: yang berhubungan dengan dapur, masak-memasak. Jadi, sudah purba kata ini. Umurnya berorde ribu tahun.

Kuliner yang adjektiva itu tak sekadar makan-makan. Ada kaitannya dengan persiapan di dapur sampai terhidang di meja perjamuan. William Wongso sudah benar dengan kata ini sebab proses dari mentah ke matang pun ia pertontonkan. Bondan akhir-akhir ini tembak langsung. Jarang sekarang dia masuk dapur. Dari meja, pelopor maknyus ini menuturkan hikayat santapannya kepada pemirsa.

Apa bentuk pribumi kuliner?

Saya tak mendapatkannya dari Budi Santosa. Justru dari Webster’s Online Dictionary. Di situ terdapat terjemahan mutakhir culinary dalam 28 bahasa. Sebagian besar bahasa Eropa. Hanya lima bahasa Asia. Salah satu bahasa Indonesia. Versi Indonesia culinary di situ: perdapuran.

Tak semua bahasa Eropa menyerap culina Latin untuk perdapuran. Albania, Belanda, Bulgaria, Denmark, Finlandia, Yunani, Hongaria, Romania, Rusia, dan Swedia punya kosakata pribumi. Yang memungut Latin hanya Inggris, Italia, Jerman, Perancis, Portugal, dan Spanyol.

Poerwadarminta, Badudu-Zain, maupun Kamus Besar tak mencantumkan perdapuran. Justru Alan M Stevens & A Ed Schmidgall-Tellings dan John M Echols & Hassan Shadily yang meringkus perdapuran sebagai padan culinary dalam kamus dwibahasa Indonesia-Inggris mereka. Bentukan perdapuran analog dengan persuratkabaran. Ben bertanya, berapa berkas di Google yang mengandung perdapuran untuk culinary? Baru 768 berkas memang. (Salomo Simanungkalit)

Kompas, 27 Juni 2008

Wednesday, June 25, 2008

Bookstores are enjoyed by entire families

One morning in a bookstore in South Kemang, Jakarta, customers leaf through books in a bookstore. The bookstore stands back from the road but is clearly visible. Periplus Bookshop, which is only about 150 m2 in area, has its own attraction. Aside from the vast collection of books, the bookstore has a small cafe. There is no partition separating the "reading room" and "the dining room".

While some customers browsed through the books, others sipped coffee. A Caucasian woman was glued to her chair from morning to early afternoon, enjoying snacks and busily working on her notebook.

On the same road, Jl. Kemang Raya, is Aksara bookstore, which follows the same concept. In the first outlet of the bookstore chain owned by Winfred Hutabarat and Arini Subianto Mamuaya, are various imported books, ranging from literary books to popular books such as biographies of famous people in the entertainment business. The interior design consists of wood, glass and iron in primary colors like red and black.

Since it was first opened in 2001, Aksara Kemang has been a favorite haunt, especially for expatriates living in South Jakarta. Meanwhile, many people from other parts of Jakarta come here to find imported books that are not available at other bookstores. Although it is mostly known for its imported books, Aksara has books printed in both English and Indonesian.

Some people visit the store not for the books for the cafe and its atmosphere. The interior, which adopts an eclectic style, is unique as it is a combination of modern, traditional and even controversial designs. You can find traditional Indonesian chairs as well as modern sofas.

Both Aksara and Periplus apply the concept that a bookstore is not merely a place where books are sold but it is also a lifestyle. Periplus, which is designed in a contemporary style with a cozy atmosphere, claims to be a bookstore with style. Periplus, which has at least 30 outlets in its network across the country, can be found in airports and malls.

Interestingly, it is this lifestyle concept that has prompted developers or managements of malls to invite Periplus and Aksara to open stores in their malls. The bookstores and the malls share a common concept, positioning and target market. According to a reliable source, the management of a mall will offer a special rate to some bookstores to entice them to become tenants.

In the past, any mention of local bookstores would certainly bring to mind Djambatan, Gunung Agung or Gramedia. Books about or related to Islam could be found at Walisongo and Media Dakwah in Kramat Raya, Jakarta. Today, however, bookstores are present in upmarket malls and shopping centers as a reflection of the urban community's lifestyle. Besides Periplus and Aksara, you can also find Maruzen, Kinokinuya, TGA (a trade mark of Gunung Agung) and QB World Books, which, unfortunately, has only one outlet left.

The latter bookstores seem to represent their age: those buying books are not bookworms but shoppers who consider books as items that must be bought just like CDs or fashion items. A bookstore is no longer a place where you can find only books but is also a place where performances are staged and where people hang out. In short, a bookstore not only meets one's need for reading material but it also makes reading a lifestyle.

It is no surprise, therefore, that PT Mitra Adiperkasa, which sells imported lifestyle products, has opened bookstores under the name of Kinokuniya. Each outlet of this originally Japanese bookstore stocks over 200,000 titles. "We provide 32 categories of books in English, 18 categories of books in Japanese and 30 categories of books in Mandarin," said Paulus A. Tandagi, general manager of Kinokuniya.

Interestingly, however, most Kinokuniya outlets in upmarket malls are located next to Starbucks -- both being icons of today's lifestyle. The concept of a bookstore has indeed shifted to become part of a lifestyle of the community, particularly in major cities. Besides being a shopping center, it is also a place where people spend their leisure time, dine out or hit the gym. And one of the places that shoppers like visiting when they go to the mall is a bookstore.

Not infrequently do bookstores become the main destination, although people do not necessarily go to a bookstore just to buy books. Very often they go there just to kill time. "Spending time in a bookstore is quite pleasant and comfortable. You can see many things and then the atmosphere in a bookstore is usually peaceful," said Ita Wibowo, a customer at Periplus Bookshop at Mal Kelapa Gading.

Many families view a bookstore as a place to go for a form of recreation, especially if the bookstore's stock is varied so that the various needs of all the family members can be met. Indeed, parents and children obviously have different needs. The father, for example, may look for items related to office work. The mother may browse through recipe books while the child may look at school or comic books.

It is this concept about a bookstore that bookstore owners are aware of. The basic concept of a bookstore is that reading a book is a cultural habit so that a customer's desire for a book as a means for self-actualization must be met and books must be easily accessible. In their later development, in line with an increasing interest in reading, improving living standards and people's purchasing power, bookstores enjoy a higher status in concept as they have become part of common lifestyle.

While according to the old paradigm, a bookstore sells only books, in line with the present-day concept, a bookstore sells not only books and stationery but also other items such as computers and accessories, office equipment such as desks, chairs, safes, facsimile machines, telephones, attendance machines and so forth. In addition, it also sells sports equipment, school equipment, musical instruments and so forth. While the outlets of Periplus, Aksara and (in the past) QB have their own cafes, TGA Bookstore has a kid's corner, which keeps a large collection of educational reading material for children and where children can play and have fun. This is a corner that contains desks and chairs and where children can read and play comfortably. (Burhanuddin Abe )

The Jakarta Post, June 26, 2008

Cycle of best-selling books


Ayat Ayat Cinta (Verses of Love) is a phenomenon. Since its publication in December 2004, this novel, which was serialized in Republika daily, has sold over 150,000 copies. The film based on this novel was a box office hit and is second to none in terms of the number of viewers.

Of course, not all best sellers become box office hits. But producers in Indonesia and Hollywood are always on the lookout for good novels (hopefully best sellers) to turn into films. If such novels are available, at least they won't have to look for a storyline as the novels are good enough to be turned into screenplays. The main idea for James Bond films came from a novel by Ian Fleming. Meanwhile, The Da Vinci Code is based on a best seller by Dan Brown and brought in over US$750 million from worldwide ticket sales.

Prior to the success of Ayat Ayat Cinta, a novel by Habiburrahman El Shirazy, there were several phenomenal titles although they did not sell as many as Shirazy's. Take, for example, Saman by Ayu Utami and then Supernova, an experimental novel by singer-writer Dewi "Dee" Lestari. Another book much discussed was Jakarta Undercover by Moammar Emka, a journalist for an entertainment tabloid. This book, once a hot topic of discussion, was previously rejected by a major publisher. It became a best seller after being published by a small publisher, Galang Press. So, whoever you are, a small or large publisher, an old or new publisher, an established or unknown writer, you may still have the opportunity to produce a best seller.

Interestingly, the cycle of these best sellers has become relatively shorter, just like Hollywood, which produces box-office films at relatively short intervals. This means that the Indonesian book market has now become an industry with a clear direction, although the market has yet to stabilize. Not only established publishers can reap profits from the flourishing book industry in Indonesia but new publishers can have a share of the profits too.

Publishers seem to have their niches. Galang Press, for example, publishes culture-related books, Mizan specializes in books about Islamic studies while Gagas Media (Moammar Emka is one of its owners) publishes pop novels and teen-let books. Religious (Islamic) books are now enjoying popularity. At Gramedia bookstores, for example, the best sellers include not only Ayat Ayat Cinta but a book by Habiburrahman El Shirazy, Dalam Mihrab Cinta, and Andrea Herata's Laskar Pelangi. While these are fiction books, non-fiction best sellers include Catatan Hati Seorang Istri (Asma Nadia), Quantum Ikhlas (Erbe Sentanu), La Tahzan (Dr Aidh Al-Qarni), La Tahzan for Girls (Najla Mahfuzh) and Menjadi Kekasih Allah (Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani).

This is found not only in Indonesia. Judo Suwidji, managing director of Periplus, a bookstore chain and importer of foreign books, said there is a big demand for Islamic books. "Perhaps, following the rumors on terror and bombings, people want to learn about the real Islam from the right source," he said.

Indeed, it is not just books on Islam that are enjoying popularity due to their enlightening subject matter. Other books such as Re-Code Your Change DNA (sic) by Rhenald Kasali, 18 Wisdom & Success (sic) by Andrie Wongso and Wireless Kung Fu by Jasakom E. Learning.

If you are observant then you may see books that you never would have imagined as best sellers. For example, recipe, gardening and cattle breeding books. Then there are also comic books. Indeed, manga dominates the book market today. A local comic book titled Lagak Jakarta by Benny and Mice also has attracted a lot of fans.

Indeed, time is a determining factor. There is certain timing that will make certain books sell well. Books about former Indonesian president Soeharto, for example, have been selling well following the demise of this former ruler of the New Order regime. Similarly, books about Barack Obama, a U.S. presidential candidate, are in great demand.

There are many reasons why a title can be a best seller or otherwise. The intrinsic factor of a book does not always make it a best seller and, similarly, the factors that make a book a best seller cannot always be detected clearly. In U.S.-published Writer's Guide 2000, one article on the U.S. book industry says that there is no exact way to know whether a manuscript will later become a best seller or not. In other words, the book industry relies on feeling.

However, although feeling is an important factor in the book industry, the article also says that something like a rational assumption is also needed to determine which manuscripts may become best sellers. In fact, whether or not a book becomes a best seller is determined not only by the strength of the manuscript but also by how it is packaged and, last but not least, by the marketing strategy adopted.

The Jakarta Post, June 26, 2008

Monday, June 23, 2008

Merancang Kantor yang Optimal

Memilih ruang perkantoran bukan sekadar menentukan lokasi dan gedung, tapi banyak aspek yang perlu diperhatikan yang menyangkut anggaran, kualitas bangunan yang diinginkan, desain interior, perabotan, dan lain-lain. Dalam dunia properti ada istilah yang disebut project management, bagian dari pekerjaan konsultan properti atau pun berdiri sendiri.

Konsultan properti yang menawarkan jasa integrated solution di bidang properti tidak hanya berdiri di sisi pengembang sebagai agen penjual saja, tapi juga melayani kepentingan pembeli sesuai dengan kebutuhan mereka. Salah satunya adalah project management, yang memberikan konsultasi kepada klien (tenant), bagaimana merancang sebuah kantor yang baik, dari mulai pemilihan lokasi, gedung, penentuan luas ruang yang optimal, keputusan membeli atau menyewa, desain interior dan peralatannya sesuai dengan jenis aktivitasnya (kantor bank tentu tidak sama dengan ruang studio TV, misalnya), dan lain-lain.

Dan yang tak kalah penting, selain berhubungan dengan pemilik atau pengelola gedung, project management ini pulalah yang menghubungkan klien dengan konsultan lain serta pemasok (kontraktor) untuk pengadaannya. Konsultan rekanan yang dimaksud sebutlah konsultan desain interior, MEP, structure, security system, teknologi informasi (TI), dan lain-lain. Sementara kontraktor yang dimaksud mungkin pemasok partisi, perabotan, penyedia karpet, mechanical engineering, dan lain-lain.

Kalau klien properti boleh dianalogikan sebagai keluarga mempelai yang ingin mengadakan hajatan perkawinan, maka project management adalah wedding organizer (WO)-nya. WO inilah, setelah mendapat masukan dari klien, yang menentukan tema pesta, venue-nya di mana, hidangannya apa, busana apa yang akan dikenakan pengantin model apa, bagaimana dengan pengiringnya, hiburannya, dan lain-lain. Dan untuk mewujudkan itu semua, WO bekerjasama dengan para pemasok; pemilik/pengelola gedung, perancang busana pengantin, artis pengisi acara, katering, pemasok bunga, pembuat kue, dan lain-lain.

Bisa saja empunya hajat merasa bisa membuat sendiri pesta pernikahannya, tapi dengan WO profesional yang spesialisasinya merancang dan menyelenggarakan resepsi perkawinan, acara pasti akan lebih lancar dan sukses sesuai dengan yang diharapkan.

Waktu, bujet, dan kualitas
Demikian pula dengan project management dalam properti, adalah pemegang peran penting yang tidak bisa diabaikan dalam pengadaan dan pendesainan kantor.

Perusahaan-perusahaan besar di negara-negara maju sudah jamak memakai jasa project management dalam pengadaan kantornya. Project management yang profesional biasanya memberikan solusi yang terbaik untuk kliennya. Mereka bekerja berdasarkan waktu, bujet, dan kualitas. Waktu berhubungan timing, kapan waktu yang tepat untuk pindah ke kantor baru, misalnya, serta berapa lama perkiraan waktu untuk menyelesaikan proyek yang baru tersebut. Bujet tentu berhubungan dengan anggaran yang tersedia. Sementara kualitas tentu disesuaikan dengan keinginan klien, serta yang tak kalah penting ketersediaan dana.

Lalu, kantor dengan jenis usaha apa saja yang membutuhkan jasa project management? Tidak ada batasan. Ibaratnya, bisa kantor kelurahan yang sederhana hingga kantor perusahaan TI yang lebih sophisticated, yang memerlukan desain khusus baik interior maupun peralatannya. Bahkan tidak hanya perkantoran, hotel dan resor juga tidak jarang memakai jasa project management ini untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan.

Luasnya kantor juga bukan jadi faktor utama dalam memanfaatkan jasa project management. Ruang perkantoran yang berukuran luas (mulai dari 1.000 m2 hingga 20.000 m2) mutlak membutuhkan jasa project management, tapi kantor yang cuma 100 m2 pun bukan berarti tidak bisa memakai jasa tersebut. Maklum, bisnis inti perusahan-perusahaan tersebut bukan di bidang properti apalagi di project management. Mereka memilih memakai jasa dari ahlinya, agar mereka bisa berkonsentrasi di pekerjaan utamanya, dan juga lebih efisien. (Dwitje Wangsadiputra - Senior Associate Partner, Design and Project Management, PT Property Advisory Indonesia)

Saturday, June 21, 2008

Magnet itu Bernama Mal

Mal kini sudah tidak bisa dipsiahkan dari kehidupan sehari-hari. Mayoritas orang kota memilih mal untuk mengisi waktu luang mereka, entah itu sekadar nongkrong, berbelanja, atau sekadar window shopping.

Berkunjunglah ke mal pada akhir pekan, niscaya akan banyak pengunjung. Mal bukan sekadar teat belanja tapi memang sebagai tempat wisata. Tidak jarang kita melihat, pasangan suami-istri dengan anak-anak mereka keluar-masuk setiap gerai di mal. Baby sitter dengan kereta dorong berjalan mengikuti majikannya.

Mal telah menjadi magnet yang menarik semua warga kota. Di tempat ini mereka bisa mendapatkan segalanya; barang belanjaan, makan dan minum, atau sekadar menghilangkan stres akibat tekanan hidup sehari-hari.

Mal tentu bukan sekadar tempat berbelanja, segala kegiatan bisa dilakukan di sini. Bertemu dan bersosialisasi sering terjadi di mal. Janji bertemu dengan kerabat, teman, atau rekan bisnis pun lebih asyik dilakukan di tempat ini. Mal agaknya sudah menjadi candu yang adiktif, yang membuat banyak orang merasa belum lengkap kalau belum mengunjunginya.

Mal menemukan puncak magnetnya pada pertengahan tahun, menjelang Idul Fitri, atau Natal dan Tahun Baru. Pada saat-saat itulah, gerai-gerai di mal memberikan diskon, hadiah, dan gimmick pemasaran lain yang membuat konsumen bisa mabuk belanja. Dengan label mid year sale, big sale, atau great sale, mal berlomba-lomba menjaring pembeli. Dengan berbagai iming-iming itu, nafsu konsumtif orang digelitik untuk membeli, entah dibutuhkan atau tidak.

Roda perekonomian berputar di mal. Para pengusaha mengatur cara dan strategi untuk memenuhi target penjualan produk mereka. Penjual mendapatkan uang, pembeli memperoleh barang, dan hidup pun bisa berjalan.

Banjir Diskon di Mana-mana!

Jakarta Great Sale? Ya, mengapa tidak? Mereka yang biasa belanja ke Singapura, Malaysia, Hongkong, boleh tengok mal-mal atau pusat perbelanjaan di Jakarta dan sekitarnya yang selama sebulan penuh, mulai Jumat, 27 Juni mendatang, mengikuti program yang bertema ”The Great Saletainment” itu.

Paramitha Rusady, salah seorang Duta Jakarta Great Sale (JGS) 2008, mengajak warga Indonesia agar tidak perlu berbelanja ke luar negeri, tetapi datanglah ke mal-mal peserta JGS. ”Mengapa harus buang-buang duit di luar negeri?” katanya.

Sebanyak 47 anggota Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DKI Jakarta ikut serta dalam JGS 2008. Termasuk di antaranya pusat perbelanjaan baru, seperti Senayan City, Grand Indonesia, dan Pacific Place.

Sejumlah anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia juga menyemarakkan JGS, seperti Matahari, Metro, Pasaraya Grande, Star, Centro, Debenhams, Sogo, Parisian, Seibu, Ramayana, Rimo, Alfamart, Golden Truly, Java, Bata, dan Golf House.

Meskipun belum semua hotel yang berperan serta dalam JGS, ada beberapa hotel yang memberikan potongan harga selama JGS berlangsung, yaitu Hotel Aryaduta Jakarta, Hotel Jayakarta, Hotel Sahid Jaya, Hotel Oasis Amir, Hotel Sofyan, Hotel Ambhara, Hotel Bumikara Bidakara, dan Hotel Patra Jasa.

General Manager Jaringan Hotel Ibis Indonesia Thierry Douet yang ditanya Kompas secara terpisah mengatakan, lima Hotel Ibis di Jakarta tidak memberi diskon langsung, tetapi melalui paket. Hotel Ibis Kemayoran dan Ibis Manggadua, misalnya, menawarkan paket menginap dengan tiket gratis masuk Ancol, Sea World, dan nonton atraksi Police Academy. Hotel Ibis Tamarin, Ibis Arcadia, dan Ibis Slipi menawarkan paket menginap dengan menyantap makanan dalam Festival Betawi.

Pengusaha spa di Jakarta juga tidak ketinggalan memberi potongan harga. Beberapa nama spa itu adalah Life Spa & Fitness, Arena, Odiseus, Taman Sari Royal Heritage Spa & Java Princess, Susan Walne Spa & Slimming Treatment, Balinese Spa, Giri Lola Spa Casablanca, dan Giri Loka Spa Hotel Harris Jakarta.

Banjir diskon dan hadiah
Matahari Department Store selama JGS 2008 ini memberikan diskon paket promo bervariasi, mulai dari ”beli satu dapat gratis satu”, ”beli produk seharga Rp 150.000 mendapat voucher belanja senilai Rp 50.000”, memperoleh diskon ganda, mendapat kupon belanja. ”Kami memberlakukan paket diskon khusus selama 27 Juni hingga 27 Juli di 30 gerai Matahari di Jakarta, Bekasi, Tangerang, dan Depok,” kata Direktur Merchandise Matahari Department Store Christian Kurnia.

Manajer Operasi Centro Juni Sukasmono mengungkapkan, dua gerai Centro di Plaza Semanggi dan Margo City Depok memberikan potongan harga sampai 50 persen untuk semua produk. ”Kami berharap JGS menjadi wisata belanja yang atraktif. Orang Indonesia tak perlu belanja di luar negeri karena produk yang dijual di sini berkualitas,” katanya.

Direktur PT Star Maju Sentosa Dewi Kartanegara (44) yang mengelola Star Department Store di Mal Kelapa Gading dan Summarecon Mal Serpong memberikan diskon sampai 50 persen untuk semua produk. ”Setiap Senin sampai Kamis, Star juga memberi hadiah, gift surprise kepada konsumen yang membeli barang senilai Rp 300.000,” kata Dewi.

Manajer Penjualan dan Promosi Parisian Department Store Agus Arismunandar mengatakan, gerai Parisian di Mal Taman Anggrek memberikan promosi Big One Sale hingga 70 persen. ”Kami memberikan hadiah kepada konsumen yang beruntung berupa satu unit TV LCD Sony 26 inci. Pemenang akan diundi,” katanya.

Manajer Promosi dan Iklan pusat perbelanjaan Grand Indonesia Ari Stefanus mengatakan, sebagai mal baru, Grand Indonesia memberi tempat bagi pedagang usaha kecil dan menengah atau UKM untuk menggelar dagangannya di lantai IV dan V di East Mall selama masa JGS. ”Kami tidak mengenakan biaya sewa, dan seluruh penjualan UKM dikembalikan kepada pedagang UKM. Grand Indonesia ingin berpartisipasi dengan cara berbeda. Ada UKM yang menggelar diskon, selain produk-produk yang sudah dikenal,” kata Ari.

Jakarta Great Sale 2008 akan dibuka secara resmi oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo di Pacific Place di kawasan Sudirman Central Business District atau SCBD pada Jumat, 27 Juni. Rencananya, JGS ditutup dalam acara di Pluit Junction pada Jumat 27 Juli mendatang.

JGS disemarakkan dengan acara-acara talk show dengan para perancang busana Indonesia, ahli kecantikan yang diprakarsai Mustika Ratu. JGS juga menggelar Pesta Kuliner Betawi yang diprakarsai Pluit Junction dan acara belanja bersama artis di mal-mal. Plaza Indonesia menggelar pameran ”The Potrait of Jakarta”, sedangkan Grand Indonesia ”Pameran UKM dan Parade Merah Putih”.

Perlu sinergi kuat
Jakarta Great Sale 2008 memang belum seperti Great Singapore Sale. Namun, jika sinergi 16 asosiasi yang mendukung JGS ditingkatkan, JGS bakal menjadi salah satu pesta diskon yang pasti ditunggu-tunggu. Apalagi jika di masa depan, JGS melibatkan kalangan perhotelan, penerbangan, restoran, dan usaha pariwisata lainnya. JGS akan menarik wisatawan Nusantara dan wisatawan mancanegara.

Selama ini sudah menjadi rahasia umum, banyak orang Indonesia berbelanja di Great Singapore Sale (GSS) dan Malaysia Mega Sale (MMS). Gencarnya iklan yang dipasang di sejumlah media massa Jakarta oleh Singapore Tourism Board dan Malaysia Tourism Board membuat banyak orang Indonesia ramai-ramai membuang devisa, berbelanja di luar negeri.

Pertanyaannya kemudian, mengapa orang Indonesia lebih suka berbelanja di luar negeri? Padahal kualitas pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta saat ini tidak kalah dengan di Singapura, Malaysia, dan negara lainnya. Jawabannya mudah. Jakarta Great Sale selama ini belum dikemas sedemikian rupa seperti halnya Singapura dan Malaysia. Kedua pemerintah negeri jiran itu sungguh-sungguh menggaet wisatawan mancanegara.

Akan tetapi, melalui JGS 2008, Jakarta mencoba menarik wisatawan Nusantara dan mancanegara. JGS dikemas dengan beragam acara hiburan. Ayo, kita nikmati pesta diskon di Jakarta! (Kompas, 21 Juni 2008)