Tuesday, June 17, 2008

Cinta dalam Sepasang Manolo Blahnik


Setelah menjadi serial televisi yang paling banyak diperbincangkan orang di Amerika serta di belahan dunia lain, ”Sex and the City” diangkat ke layar perak. Cerita empat perempuan ini jadi lebih menohok.

Begitulah sejatinya Sex and the City versi layar lebar. Semuanya menjadi lebih: lebih lebar, lebih glamor, lebih fokus, lebih dramatik, dan para pemerannya tentu saja lebih tua, menjadi es-te-we, matang, dan pas lucu-lucunya.

Bagi yang kurang begitu setia menonton serial HBO ini dulu, tak perlu cemas karena tidak mengenali karakter dasar empat perempuan liberated dari New York City itu, yakni Carrie Bradshaw (Sarah Jessica Parker), Samantha Jones (Kim Cattrall), Charlotte York (Kristin Davis), dan Miranda Hobbes (Cynthia Nixon). Detail karakter mereka di televisi dulu terungkap, atau malah bisa disebut mengalami redetailing. Carrie tetap karakter yang mampu keluar-masuk dalam diri dan persoalannya sendiri, Samantha tetap memburu- buru cowok, Charlotte tetap innocent dan bahagia, serta Miranda tetap agak psikosomatik dan sering nervous.

Mereka hidup dalam pencarian diri lewat lingkungan kota besar dan dunia konsumsi masa kini: sepatu mereka Manolo Blahnik dan ke atasnya gemebyar merek-merek lain dari Christian Lacroix, Carolina Herrera, Dior, sampai Vivienne Westwood. Sepintas dijelaskan di awal film, cewek-cewek usia 20-an datang ke New York untuk mengejar barang-barang bermerek. Kini, setelah 20 tahun berlalu, Carrie dan gengnya—semuanya kini umur 40-an—mengejar cinta.

Silakan kalau Anda tetap mau ngotot terlalu serius, di jagat yang oleh para penggagas postmodernis ditengarai merebaknya aspirasi terhadap segala hal remeh-temeh ini. Toh rasanya memang, lebih baik fanatik terhadap True Religion—merek jins terkenal dari Amerika itu—daripada fanatik terhadap agama dan jadi preman. Yang akan Anda saksikan dalam Sex and the City adalah dunia remeh-temeh yang dikemas menjadi tontonan segar selama lebih dari dua jam. Film ini salah satu box office di Amerika.

Sepatu itu
Cerita film ini hendak menjawab hal-hal yang mungkin dianggap masih menggantung ketika serial ini berakhir empat tahun lalu, 2004. Adakah Carrie akan menikah dengan pria yang disebut Mr Big itu? Adakah Charlotte bakal hamil dan punya anak kandung sendiri? Bisakah Miranda melanjutkan hubungannya dengan Steve, yang status sosialnya lebih rendah darinya? Lalu—ini dia—adakah Samantha bakal puas hanya dengan satu lelaki?

Drama dimulai ketika Carrie dan Big (Chris Noth) bersepakat untuk menikah. Opsi Carrie untuk kebebasan (buat apa menikah, begitu kira-kira) mulai tersingkirkan, dan dia menentukan menikah dengan Big. Pria itu telah memenuhi persyaratan: menyediakan apartemen bagus di Manhattan, dan merombak wardrobe alias lemari pakaian berikut tempat sepatu yang bisa menampung lusinan pasang sepatu mewah.

Rencana upacara pernikahan diisi sukacita memilih gaun-gaun bermerek untuk dikenakan nanti. Tak ketinggalan, persiapan pesta besar dengan ratusan undangan—yang diam-diam membuat Big ragu: yang penting pernikahan atau kemewahan gaya hidup ini? Sampai akhirnya, kesalahpahaman kecil menjadikan semua berantakan, upacara pernikahan yang telah di ujung rencana, gagal.

Cerita Carrie itu berpilin-pilin dengan cerita teman-temannya yang lain. Miranda terlibat perselisihan dengan pasangannya, Steve (David Eigenberg), sampai terus dalam kebimbangan, memaafkan atau tidak memaafkan. Charlotte terus dengan obsesinya, akankah punya anak kandung sendiri. Sedangkan Tante Samantha juga terus dengan obsesi tentang dunianya yang liberal, bebas, selalu menggugat kemapanan hubungan.

Dari konflik yang diisyaratkan itu, bisa ditebak, ke mana film akan berakhir. Sebagian isi film kemudian memang upaya berputar-putar untuk menuju penyelesaian konflik tersebut— khas tontonan opera sabun. Misalnya dengan bepergiannya empat sekawan itu ke Meksiko, kesibukan Carrie dengan kantor baru dan asisten yang tas bermereknya barang sewaan, tahun baru yang sepi bagi perempuan lajang, dan lain-lain.

Kegersangan batin Carrie karena kehilangan cinta akhirnya menemukan happy ending, ketika dia mendapati Big di apartemen yang sudah terjual, untuk mengambil sepatu yang masih tertinggal. Mereka bertemu dalam kerinduan yang memuncak.

Apa sih artinya sepasang sepatu berwarna biru, yang sampai menghuni otak dan teringat untuk mengambil, di antara urusan-urusan lain? Oh, besar sekali artinya seandainya Anda paham dunia perempuan, dan sepatu itu bermerek Manolo Blahnik. Gombal memang, tapi itulah dunia konsumsi masa kini. (Bre Redana)

Kompas, 15 Juni 2008

No comments:

Post a Comment