Saturday, June 21, 2008

Magnet itu Bernama Mal

Mal kini sudah tidak bisa dipsiahkan dari kehidupan sehari-hari. Mayoritas orang kota memilih mal untuk mengisi waktu luang mereka, entah itu sekadar nongkrong, berbelanja, atau sekadar window shopping.

Berkunjunglah ke mal pada akhir pekan, niscaya akan banyak pengunjung. Mal bukan sekadar teat belanja tapi memang sebagai tempat wisata. Tidak jarang kita melihat, pasangan suami-istri dengan anak-anak mereka keluar-masuk setiap gerai di mal. Baby sitter dengan kereta dorong berjalan mengikuti majikannya.

Mal telah menjadi magnet yang menarik semua warga kota. Di tempat ini mereka bisa mendapatkan segalanya; barang belanjaan, makan dan minum, atau sekadar menghilangkan stres akibat tekanan hidup sehari-hari.

Mal tentu bukan sekadar tempat berbelanja, segala kegiatan bisa dilakukan di sini. Bertemu dan bersosialisasi sering terjadi di mal. Janji bertemu dengan kerabat, teman, atau rekan bisnis pun lebih asyik dilakukan di tempat ini. Mal agaknya sudah menjadi candu yang adiktif, yang membuat banyak orang merasa belum lengkap kalau belum mengunjunginya.

Mal menemukan puncak magnetnya pada pertengahan tahun, menjelang Idul Fitri, atau Natal dan Tahun Baru. Pada saat-saat itulah, gerai-gerai di mal memberikan diskon, hadiah, dan gimmick pemasaran lain yang membuat konsumen bisa mabuk belanja. Dengan label mid year sale, big sale, atau great sale, mal berlomba-lomba menjaring pembeli. Dengan berbagai iming-iming itu, nafsu konsumtif orang digelitik untuk membeli, entah dibutuhkan atau tidak.

Roda perekonomian berputar di mal. Para pengusaha mengatur cara dan strategi untuk memenuhi target penjualan produk mereka. Penjual mendapatkan uang, pembeli memperoleh barang, dan hidup pun bisa berjalan.

No comments:

Post a Comment