Thursday, June 26, 2008

Perdapuran


Sepanjang Mei lalu Ben mengajak saya makan siang dari kedai ke kedai. Hampir saban hari! Saya tak ingat berapa kali ke bistro, food court, kafe, lapo, pujasera, restoran, rumah makan, atau warteg. Makin beragam saja kata untuk menamai tempat makan di Jakarta. Ben menyebut kegiatan dari hari ke hari itu: berpetualang kuliner.

Saya mengenangnya selaku pengisi tetap rubrik Kiat di majalah Tempo dulu. Kini Bondan Winarno dikenal sebagai bintang makan. Kehadirannya selalu ditunggu tetangga duduk saya di kantor lewat acara Wisata Kuliner.

Pria ini mengagetkan kami serumah ketika dulu muncul di TV dengan adegan yang memancing asam lambung. Menelan ulat-ulat hidup. Kini William Wongso dijuluki sebagai pakar kuliner.

Begitulah. Kata kuliner dalam tempo seringkas-ringkasnya meroyak dari Sabang hingga Merauke. Dari anak gaul di Menteng sampai si Butet di Parongil mengintimi kata ini berkat televisi. Ia belum terdaftar di Kamus Besar edisi terakhir (2001). Namun, Google sampai pukul 10 pagi dua hari lalu merekam pemakaian kuliner pada ranah bahasa Indonesia dalam 2.290.000 rongkol.

Ben mengartikan kuliner sebagai makan-makan. Supaya dianggap modern? Ah, dia tak tahu, culinary sudah tersua dalam literatur Inggris populer sebelum tahun 1791. Asalnya menurut Webster ialah kata Latin culinarius, yang berakar dari culina. Culina adalah ’dapur’. Culinarius: yang berhubungan dengan dapur, masak-memasak. Jadi, sudah purba kata ini. Umurnya berorde ribu tahun.

Kuliner yang adjektiva itu tak sekadar makan-makan. Ada kaitannya dengan persiapan di dapur sampai terhidang di meja perjamuan. William Wongso sudah benar dengan kata ini sebab proses dari mentah ke matang pun ia pertontonkan. Bondan akhir-akhir ini tembak langsung. Jarang sekarang dia masuk dapur. Dari meja, pelopor maknyus ini menuturkan hikayat santapannya kepada pemirsa.

Apa bentuk pribumi kuliner?

Saya tak mendapatkannya dari Budi Santosa. Justru dari Webster’s Online Dictionary. Di situ terdapat terjemahan mutakhir culinary dalam 28 bahasa. Sebagian besar bahasa Eropa. Hanya lima bahasa Asia. Salah satu bahasa Indonesia. Versi Indonesia culinary di situ: perdapuran.

Tak semua bahasa Eropa menyerap culina Latin untuk perdapuran. Albania, Belanda, Bulgaria, Denmark, Finlandia, Yunani, Hongaria, Romania, Rusia, dan Swedia punya kosakata pribumi. Yang memungut Latin hanya Inggris, Italia, Jerman, Perancis, Portugal, dan Spanyol.

Poerwadarminta, Badudu-Zain, maupun Kamus Besar tak mencantumkan perdapuran. Justru Alan M Stevens & A Ed Schmidgall-Tellings dan John M Echols & Hassan Shadily yang meringkus perdapuran sebagai padan culinary dalam kamus dwibahasa Indonesia-Inggris mereka. Bentukan perdapuran analog dengan persuratkabaran. Ben bertanya, berapa berkas di Google yang mengandung perdapuran untuk culinary? Baru 768 berkas memang. (Salomo Simanungkalit)

Kompas, 27 Juni 2008

No comments:

Post a Comment