Tuesday, June 03, 2008

Produk Lokal, Peluang Global


MEMBANGUN industri kosmetika tradisional yang bergengsi di Tanah Air bukan perkara mudah. Apalagi, ada sebagian masyarakat yang masih memandang rendah produk kosmetika lokal yang dianggap kurang bermutu dan tidak setara dengan produk impor. Tapi justru kendala itu yang menguatkan niat Martha Tilaar ketika membangun Martha Tilaar Group (MTG), kelompok usaha yang bisnis intinya adalah industri kosmetika yang memanfaatkan kekayaan alam Indonesia.

Dengan berbekal tekad itulah Martha Tilaar memulai usaha di bidang kecantikan 35 tahun yang lalu. “Memperkenalkan kosmetika yang bernuansa ketimuran dan alami kepada khalayak umum tentu tidak seperti membalik tangan, apalagi merek-merek asing yang berasal dari Barat begitu kuatnya menancap di benak para perempuan Indonesia. Bahkan kalau mau jujur, saya sendiri termasuk salah satu pemakai fanatik produk kosmetika Barat waktu itu,” ujar perempuan kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, 4 September 1937 itu 

Awal tahun 1970-an Martha mendirikan salon pertamanya yang boleh dibilang sangat sederhana. Dua tahun setelah bekerja ia memutuskan untuk berkunjung ke pusat-pusat kecantikan Eropa. Tidak dinyana, ketika kita mengagung-agungkan kosmetika modern, orang Eropa justru ingin kembali ke alam, back to nature! “Itulah yang makin mendorong saya untuk berpaling ke Timur, menggali kekayaan budaya nenek moyang untuk mempercantik perempuan Indonesia,”tuturnya.

Beruntung Martha dibesarkan di lingkungan keluarga pecinta seni budaya Indonesia, termasuk pula kebiasaan menggunakan kosmetika dan jamu tradisional. Ia juga belajar kepada orang-orang yang memang pakar dalam bidang tersebut, mulai dari putri-putri asal Keraton Surakarta dan Yogyakarta, hingga orang-orang yang peduli dengan masalah keperempuanan lainnya. Di Martha Griya Salon, salon kedua yang ia dirikan pada tahun 1972 ia memperkenalkan perawatan tradisional. 

Bersama BRA Mooryati Soedibyo ia bahkan nekad mendirikan industri kosmetika tradisional “Mustika Ratu” pada tahun 1975. Namun sayang sekali kerja sama ini hanya bertahan dua tahun. Setelah berpisah dengan sahabatnya tersebut, tepatnya tahun 1977, Martha harus memulai dari nol lagi dengan mendirikan “Sari Ayu Martha Tilaar”. Memang, semuanya tidak berjalan mulus. Dalam dunia yang makin menyatu, serbuan produk-produk asing, kosmetika-kosmetika global dengan modal kuat, memang tidak bisa dihindari. Persaingan sengit pun tak terelakkan. Tapi bukankah dengan harga yang lebih murah ketimbang produk asing merupakan peluang yang baik bagi kosmetika tradisional untuk berkompetisi dengan mereka?

Begitulah, Martha optimistis, selalu ada peluang yang bisa dimanfaatkan jika ada niat terjun ke dunia usaha dan bertekad menjadi wirausahawan yang baik. Terbukti kemudian cita-cita ini bisa tergapai. Produk yang unik, yang berakar dari sumber daya alam Indonesia, itulah modal bagi Martha untuk terjun ke industri kosmetika dan membangun MTG. Sari Ayu, Biokos, Belia, Roses, Pesona, Caring Colours, Professional Artist Cosmetics (PAC), Mirabella, Aromatic Dewi Sri Spa, Jamu Garden, adalah sebagian merek yang berhasil ia kembangkan dan bahkan sudah terkenal sampai ke mancanegara. 

Tidak terasa 35 tahun sudah perusahaan yang bercikal bakal dari salon kecil ini berdiri, dan bahkan telah menggurita. MTG kini telah membawahi 11 anak perusahaan dan mempekerjakan sekitar 6.000 karyawan. Martha sendiri sebagai pendiri tidak menyangka perusahaan yang pada awalnya beroperasi di garasi rumah ini akhirnya membesar dan mendapat pengakuan internasional. The Star Group, organisasi yang berpusat di Los Angeles, bahkan memberikan penganugerahan kepada Martha Tilaar – bersama 50 perempuan pengusaha lainnya dari 30 negara – sebagai Distinguised Leading Women Enterpreneurs of the World di Monaco.

Produk-produk yang dihasilkan MTG juga meraih banyak penghargaan. The Peak, misalnya, memuji resep kosmetik tradisional Sari Ayu karena dianggap manjur dan berkhasiat, sementara penghargaan lain sehubungan dengan kualitas produk juga didapatkan MTG dari beberapa lembaga internasional, di antaranya Asia Award for Quality dari OFFICE di Spanyol, International Trophy for Quality di Madrid, dan American Award for Quality di Texas, AS.

Anugerah dan berbagai penghargaan tersebut jelas membanggakan tapi sekaligus menjadi sebuah beban. Martha Tilaar tentu tidak hanya membawa nama pribadi, juga nama perusahaan, tapi nama Indonesia yang diakui dunia internasional sebagai negara yang peduli dengan potensi sumber daya alamnya. Ini merupakan kebanggan tersendiri karena produk-produk kosmetika global kini tidak hanya lahir dari New York, Paris, London, atau Jepang, tapi juga Indonesia. Tapi perjalanan memang belum berakhir, banyak cita-cita dan impian Founder & Chairwoman MTG yang masih terpendam, salah satunya adalah menjadikan perusahaan yang dimpimpinnya sebagai perusahaan kelas dunia yang bisa disejajarkan dengan merek-merek internasional lainnya.

(Prolog, dari Buku “35 Tahun Martha Tilaar Group, Dari Garasi ke Manca Negara”, oleh Burhanuddin Abe).

No comments:

Post a Comment