Thursday, August 28, 2008

80s Never Die



Bukan, kita2 bukan kumpulan manula usia 80-an. Belum setua itulah, cing. Walopun emang masa jaya kita2, saat2 bisa nglakuin apa aja nggak pake mikir panjang, udah lewat...


Blog ini didedikasikan untuk mengenang taon2 yang indah itu. Dekade 80-an! Biar aja orang pada bilang norak, jadul, najong, memble... yang penting kita2 tetep merasa kece dan juga hepi bisa bernostalgia. Oke, coy!


ITULAH pengantar blog lapanpuluhan.blogspot.com, salah satu blog yang mewadahi komunitas angkatan 1980-an. Anggota milisnya sampai saat ini, menurut Mohammad Baihaqi (35 tahun), yang membangun situs pertemanan itu sejak 2005, sudah 1.800 orang dari seluruh dunia.


Berawal dari kecintaannya terhadap masa 1980-an, pria 35 tahun ini membangun komunitas tersebut. Blog dan milis (lapanpuluhan@yahoogroups.com) menjadi ajang interaksi mereka mengenang berbagai penanda zaman 1980-an yang sempat mereka alami dulu. Mulai dari diskusi tentang musik, film, acara TV, gosip selebriti, makanan, mainan, hingga membahas tingkah para pejabat tinggi era itu. "Era 1980-an adalah masa saat hampir semuanya seragam karena belum banyak pilihan. TV cuma ada satu, film, musik, komik, sampai jenis permainan di sekolah, semua sama. Jadi, kami bisa sharing," kata Baihaqi kepada Kompas.


Ia menyebut acara TV di era itu adalah Si Unyil, Rumah Masa Depan, Losmen, dan acara musik Aneka Ria Safari atau Selekta Pop. Ada juga serial The Legend of Condor Heroes, tapi kalau nonton di video masih berformat Beta. Acara lain di TVRI yang juga menjadi andalan adalah film Warkop, dan penampilan Rhoma Irama.


Angkatan 1980-an juga pasti kenal lagu Di Dadaku Ada Kamu ciptaan Dodo Zakaria yang dinyanyikan dengan centil oleh Vina Panduwinata (yang sampai sekarang masih eksis dan konsernya beberapa waktu yang lalu tergolog sukses dengan audiens terbanyak tentu komunitas 1980-an). Atau Tak Ingin Sendiri dari Dian Piesesha serta Hati yang Luka yang dipopulerkan Betharia Sonata.


Sementara untuk kelas internasional, komunitas 1980-an juga akrab dengan penyanyi Michael Jackson yang dijuluki King of Pop. Selain itu ada Madonna, Bananarama, Michael Jackson, MC Hammer, Whitesnake, Blondie, Lionel Richie, Diana Ross, Bon Jovi, Wham!, Pink Floyd, Milli Vanilli, Paula Abdul, A-Ha, dan seterusnya.


Untuk kategori film ada The A-Team, Top Gun yang melejitkan nama Tom Cruise, dan Saturday Night Fever (walaupun rilis tahun 70-an) yang melambungkan nama John Travolta. Yang tidak kalah populernya saat itu adalah The Breakfast Club, St. Elmo’s Fire, Sixteen Candles, Dirty Dancing, Indiana Jones and Raiders of The Lost Ark, Risky Business, American Gigolo, When Harry met Sally, Friday the 13th, Nightmare on Elm Street, E.T., Rain Man, dan lain-lain.


Ya, setiap generasi punya zamannya sendiri. Bagi generasi 1980-an, waktu yang terentang antara tahun 1980 hingga 1989 adalah masa-masa yang tak terlupakan. "Itu adalah masa-masa indah yang memberi kesan mendalam dalam hidup saya," ujar Rian Sudiarto (46), pemimpin perusahaan sebuah penerbitan.


What’s hot in the 80’s?

Masa itu, menurut alumni Fisipol, Universitas Gajah Mada Yogyarkarta itu, adalah masa transisi dari era lama ke era modern. Permainan kasti dan gobak sodor masih ada, tetapi sudah mulai muncul game watch dan video game. Cireng di sekolah masih populer, tapi mulai kenal ayam goreng Kentucky dan American Hamburger. Era ini juga ditandai dengan munculnya diskotek-diskotek di Jakarta, sebutlah Ebony, Musro, Stardust, Earthquake, atau Fire. “Tren itu kemudian diikuti daerah-daerah. Kalau tidak ke disko diangal tidak gaul,” ujarnya.


Sebagai seseorang yang terlahir tahun 1960-an, dekade 1980-1990 menjadi masa di mana Rian merasakan dunia remaja tanggung dengan segala macam pernak-perniknya yang unik.


Era 1980-an dikenal dengan fashion-nya yang berlebihan, lebih tepatnya. The bigger the better, begitu mottonya. Orang yang hidup pada zaman itu ingat, bagaimana shoulder pads selalu menghiasi berbagai jenis busana pada tahun ini.


Awal 1980-an film Flashdance menjadi penanda zaman itu. Maka jangan heran segala pernak-pernik yang dipakai aktrisnya mengimbas ke kehidupan sehari-hari, terutama remaja putri. Begitu juga dengan Madonna yang menjadi salah satu satu ikon di masa itu. Pembawa lagu Material Girl itu membawa tren lace tops, stocking jala, celana pendek, bahkan model rambutnya. Selain rambut ala Madonna, gaya rambut ala Lady Diana yang bergaya romantic juga banyak pengikutnya. Kita tidak membahas mode, yang setiap periode tertentu, berulang kembali. Tapi siapa pun setuju bahwa mode dan gaya hidup tahun 1980-an memiliki karakter yang kuat.


Kejayaan Era 1980-an

Mengapa konser Vina Panduwinata beberapa waktu yang lalu dihadiri banyak penggemar (lama dan baru)? Afgan menyanyikan lagu lawas Biru, atau grup vokal anak muda Grogie menyanyikan kembali tembang jadul, Mungkinkah Terjadi? Sementara beberapa klab-klab malam di Jakarta pede memutar lagu-lagu "classic disco"?


Jawabannya tak lain, era 1980-an memang masih layak dikenang. Komoditinya yang berkaitan dengan memori itu pun bisa dijual. Konsumennya tak lain adalah generasi yang ingin mengenang tahun 1980-an, tapi juga generasi baru yang ingin tahu tentang generasi angkatan tersebut.


Selain hiburan dengan kemasan 1980-an, kebangkitan era ini dapat dilihat juga pada maraknya CD atau kaset keluaran beberapa label papan atas. Sony-BMG Indonesia, misalnya, sejak 2004 setiap tahun rajin merilis lagu-lagu 80-an. Sementara Universal Musik Indonesia meluncurkan album Best Movie Hits yang berisi lagu-lagu soundtrack era 1980-an, mulai dari Against All Odds (Take A Look At Me Now) yang dinyanyikan Phil Collins, hingga Flash Dance (What A Feeling) oleh Irene Karra.


Menjawab kebutuhan akan kenangan masa lalu, Metro TV juga meluncurkan acara Zona 80 (Masih Ada), Februari lalu. Acara yang ditayangkan setiap Minggu jam 22.05 WIB ini menampilkan sajian musik, berikut gaya hidup, tren, dan peristiwa di era tahun 80-an.


Program acara yang dipandu Joe P Project dan Windy Wulandari ini menampilkan lagu-lagu, musik dan para musisi tahun 80-an yang disajikan dalam bentuk penampilan band tahun 80-an ataupun penyanyi solo di era tersebut. Di antaranya 2D, Vina Panduwinata, Atiek CB, Rafika Duri, Ikang Fauzi, Trio Libels, Harvey Malaiholo, Indra Lesmana, 7 Bintang, Nicky Astria, Conny Constantia, dan lai-lain.


Yang menarik, program ini dikemas dengan setting 'jadul 80-an', termasuk juga kostum, gaya rambut, hingga dance 80-an. Dress code yang dikenakan para penonton yang hadir di studio pun ala 80-an, mulai dari potongan rambut, gaya berpakaian dan tarian di masa itu. “Tayangan ini diharapkan bisa memenuhi kerinduan para pemirsa akan masa-masa itu,” ujar PR & Publicity Manager Metro TV, ujar Henny Puspitasari.


Tidak hanya TV, stasiun-stasiun radio pun banyak yang mengangkat tema 1980-an. Radio Sonora, misalnya, mempunyai program yang berjudul Delapanpuluh, berisi lagu-lagu lama dan obrolan seputar era 1980-an, mulai dari membahas film Warkop hingga masalah mode. Dua stasiun radio yang masih dalam satu kelompok usaha, yakni Ramako dan KIS, mengkhususkan diri memutar lagu-lagu era 1980-an, baik lagu Indonesia maupun Barat. Jika Anda mendengarkan radio di tengah malam tidak terbilang jumlah stasiun radio yang rela memutar tembang-tembang lawas 1980-an.


Tidak hanya di Indonesia sebetulnya. Tren kembali ke 1980-an ini pun terlihat di seluruh dunia. Band-band yang sempat mewarnai era 1980-an dan sudah bubar, seperti The Police dan Genesis, berjaya kembali dengan serangkaian concert tour-nya. Hollywood pun memproduksi ulang film-film tahun 1980-an, dengan kemasan masa kini.


Pelaku industri hiburan menyadari bahwa kembalinya tren 1980-an itu karena ada pasar potensial. Orang-orang yang mengalami masa remaja pada era 1980-an saat ini telah hidup mapan. Mereka adalah para eksekutif muda yang rata-rata menduduki posisi pengambil keputusan operasional di sebuah perusahaan, yang nota bene adalah konsumen yang mempunyai daya beli tinggi. Tapi apa pun alasannya, semangat 1980-an memag tidak pernah mati! (Burhanuddin Abe)


ME, September 2008

Malaysia Makin Seronok


MALAYSIA kini sedang gencar-gencarnya menggenjot industri pariwisatanya. Keindahan alam dan kebudayaannya dikemas menjadi paket-paket tur yang menarik. Negeri jiran itu boleh saja tidak memiliki Candi Borobudur, tapi dengan Menara Petronasnya di Kuala Lumpur, sebagai bangunan menara tertinggi di dunia (452 meter), kini juga menjadi salah satu “keajaiban dunia” cukup ampuh untuk menyedot para wisatawan yang datang dari berbagai pelosok Bumi.

Selain pembangunan kawasan-kawasan modern yang potensial menjadi tujuan wisata baru, sebutlah Genting yang dikenal sebagai pusat judi dan hiburan di Asia Tenggara. Pemerintahan Malaysia juga rajin membuat event-event yang diperkirakan bisa menarik wisatawan mancanegara. Sebutlah Malaysia Mega Sale Carnival, Festival Pentas dan Konser Musik Arab KL Samrah, Kompetisi Kembang Api Internasional Malaysia, Bulan Perayaan Hari Kemerdekaan Malaysia, Rainforest World Music Festival di Sarawak, dan lain-lain, yang diselenggarakan tahun ini.

Itulah gebrakan-gebrakan untuk menarik 22 juta wisatawan yang menjadi target Malaysia pada 2008. Angka tersebut, menurut Director International Promotion Division Tourism Malaysia, Azizan Noordin, bisa dicapai karena hingga Juni lalu saja tercatat 10.96 juta turis datang ke Malaysia. Atau naik 2,65% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara tahun lalu bertepatan dengan gaung Visit Malaysia Year 2007, angka 20 juta bisa dilewati dengan mulus.

Yang menarik, di hampir setiap gerak kepariwisataan Pemerintah Malaysia selalu menyertakan wartawan dari berbagai penjuru dunia, cara yang tergolong ampuh untuk mewartakan kegiatan tersebut ke seluruh pelosok dunia. Appetite Journey terlibat dalam salah satu kegiatan yang disebut sebagai Mega Familiarisation (Fam) Programme dengan acara utama Festival Flora Malaysia 2008, yang tahun ini dipusatkan di Johor Bahru, 26 Juli lalu. 

Johor Bahru, yang berdiri tahun 1855, terletak di selatan Semenanjung Malaysia. JB, demikian sering disingkat, merupakan salah satu pusat perindustrian, perdagangan, dan pariwisata terbesar di Malaysia. Pariwisata adalah penyumbang utama dalam perekonomian wilayah ini di mana 60% dari para wisatawan yang mengunjungi Malaysia setiap tahun masuk ke negara tersebut dari Singapura yang terhubung dengan JB lewat jalan darat yang bisa dicapai tak lebih dari satu jam. 

Festival Flora di JB merupakan parade tahunan, dalam rangka merayakan warisan kekayaan bunga yang di rangkai dalam sebuah pertunjukan yang menakjubkan, juga menampilkan kreativitas dari masing-masing pesertanya. Meski tidak sekolosal Parade Bunga di Pasadena, AS, inspirasi Festival Flora Malaysia memang dari event tahunan setiap tanggal 1 Januari tersebut. 

Yang jelas, keseriusan Pemerintah Malaysia menyelenggarakan karnaval bunga yang meriah patut diacungi jempol. Acara yang digarap secara profesional ini tidak hanya menjadi rekreasi tersendiri bagi penduduk setempat yang totalnya tak lebih dari 2 juta jiwa, tapi juga para turis asing. Sebanyak 158 partisipan yang terdiri atas wartawan, fotografer dan agen perjalanan dari 16 negara diundang secara khusus dalam acara ini.

Dalam acara yang berlangsung di Dataran Bandaraya ini, dibuka Raja Malaysia Yang Di-Pertuan Agong Tuanku Mizan Zainal Abidin didampingi Perdana Menteri Ahmad Badawi. Parade diikuti 17 mobil hias penuh warna, 15 di antaranya berasal dari negara bagian Malaysia, dan dua lainnya peserta internasional dari Cina dan Makau. Temanya adalah “Colours of Harmony”, merupakan simbol bangsa Malaysia yang multi ras hidup dalam damai dan harmonis. 

Parade diawali dengan tari-tarian yang dinamis. Para penari, pria dan wanita, bergerak lincah mengikuti alunan musik. Ada irama Melayu dengan ketukannya yang khas, juga irama Latin dengan perkusinya yang rancak. Dengan kostum bertema flora, lengkap rumbai-rumbai penghias kepala para penari, serta musik yang meriah tentu saja, mengingatkan pada pawai mardi grass di Rio de Janeiro.

Berikutnya adalah pawai mobil hias, yang masing-masing menampilkan visualisasi kreatif dari ciri khas masing-masing negara bagian. Sebagai pengiring parade mobil hias tujuh marching band sekolah terbaik diikuti penampil lainnya yang mendekati jumlah 1.000 orang. Peserta yang mengiringi mobil hias tersebut mengenakan kostum tiruan makhluk-makhluk alam dan bunga seperti burung, bunga matahari, lebah, dan kupu-kupu.

Mobil hias memulai perjalanan dari Dataran Bandaraya dan bergerak di sepanjang jalan Johor Bahru, menuju tujuan terakhir di kawasan pantai Danga Bay, tempat mobil tersebut dipamerkan selama tiga hari – untuk memperebutkan berbagai penghargaan. Acara yang berlangsung hampir tiga jam ini, sangat meriah. Pengunjung memenuhi jalan-jalan tempat parade tersebut dilaksanakan, tidak sedikit dari mereka yang berfoto ria untuk mengenang momen langka ini.

Kuala Lumpur dari Atas
Program Mega Fam, yang diselenggarakan Pemerintah Malaysia, dan disponsori perusahaan penerbangan nasional, dan hotel-hotel berbintang, tidak cuma menyaksikan Festival Flora. Rombongan wartawan dari Indonesia selama seminggu (24 – 30 Juli 2008) berkesempatan mengunjungi beberapa tempat wisata di Johor dan Kuala Lumpur. Sebutlah Museum Diraja Abu Bakar/Istana Besar, Desaru Agro Tourism, Wisata Kunang-Kunang (Johor), Dataran Merdeka, Menara Kembar Petronas, Aquaria Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC), Istana Raja Malaysia (Kuala Lumpur), Royal Selangor Pewter, kompleks kantor pemerintahan di Putrajaya, Putrajaya Cruise (Selangor), dan tidak lupa kawasan belanja paling bergengsi di KL, Bukit Bintang. 

Saya tidak ingin melewatkan sedikit pun untuk berkunjung ke tempat-tempat tersebut. Takjub menyaksikan kemajuan Malaysia, yang dulu cuma “anak bawang” dibandingkan Indonesia. Ada beberapa tempat wisata yang sebenarnya biasa-biasa, tapi mereka bisa mengemasnya menjadi sesuatu yang unik. Aquaria, misalnya, akuarium yang berlokasi di lantai bawah Kuala Lumpur Convention Centre, apa bedanya dengan Sea World Ancol Jakarta? Lalu, apa istimewanya agrowisata di Desaru, yang tak lebih lengkap daripada taman buah Mekarsari di Bogor, juga apa menariknnya menyaksikan kunang-kunang di sepanjang sungai di senja hari. Tapi, dengan kemasan yang menarik, paket-paket wisata tersebut, mampu menyedot wisatawan, baik domestik maupun asing dari negara-negara tetangga. 

Yang membuat saya kagum adalah, semua kawasan tertata dengan asri, modern, dan tentu saja aman – serta bebas dari gangguan pedagang asongan. Malaysia juga memiliki jalan raya yang mulus. Ruas jalannya rata-rata lebar dengan cat garis yang terang dan lampu lalu lintas yang terawat, nyaris sempurna. Kula Lumpur, dengan penduduk yang hanya 3 juta jiwa, bebas dari kemacetan, karena selain lalu-lintasnya tertib, di dalam kota tersedia angkutan kereta monorel yang dibangun di atas jalan raya sepanjang 11 km.

Ingin menyaksikan pemandangan kota Kuala Lumpur dari atas? Ada dua cara untuk melakukannya, yakni naik lift ke menara kembar Petronas, atau mencoba wahana yang satu ini, Eye on Malaysia, atau kincir raksasa yang berputar dengan ketinggian 60 meter.

Saat itu Menara Petronas yang memiliki 88 lantai ditutup untuk umum, lagi pula saya pernah naik ke atas beberapa waktu yang lalu. Alternatifnya apalagi kalau bukan naik kincir raksasa dengan 42 gondola yang pertama kali diresmikan oleh Perdana Menteri Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi itu. Lumayan, saya dapat menikmati pemandangan kota yang dibangun pada 1857 itu dari atas kincir raksasa yang berada di tengah kota, tepatnya di wilayah Danau Titiwangsa itu.

Royal Selangor dan Putrajaya
Dari sekian tujuan wisata, favorit saya adalah Royal Selangor Pewter dan Putrajaya. Royal Selangor adalah merek dagang kerajinan yang terbuat dari pewter (campuran dari timah, tembaga dan antimony), yang mempunyai nilai estetika tinggi. Inilah salah satu yang disebut-sebut sebagai ikon Malaysia, selain sepatu merek Vincci yang banyak diburu orang-orang Indonesia.

Pusat produksi Royal Selangor terletak di Setapak Jaya, Kuala Lumpur. Pabriknya yang bersih, tertata apik dan artistik, langsung menunjukkan kelasnya. Di pintu masuk sisi kanan terdapat Tankard terbesar di dunia (masuk dalam Guinness Book of Record). Berbagai hasil karya yang dipajang, baik dari timah hitam maupun timah putih, tampak mewarnai ruangan galeri.

Di sini juga terdapat museum yang memajang 75 buah karya, mulai dari kotak tembakau, lampu minyak, lentera China rumit dengan motif bunga lotus sampai peralatan pembuat pewter yang telah berusia satu abad.

Bagi para pemburu barang-barang seni, Royal Selangor Pewter adalah pilihan yang tepat. Di tempat ini, para wisatawan tak hanya dapat membeli barang-barang kerajinan khas Malaysia, tapi sekaligus dapat pengetahuan, asal usul timah, cara mengolahnya, serta menjadikannya produk seni. Di tempat ini juga tersedia toko cenderamata non pewter, yakni perhiasan berbahan emas.

Ada pun Putrajaya merupakan pusat Kerajaan Malaysia. Inilah “kota baru” yang dibangun di atas lahan 4.932 hektare, terletak di selatan Prang Besar, Selangor, pindahan dari Kuala Lumpur akhir 1980. Di sini terdapat 23 kantor kementrian yang terpusat pada satu wilayah. 

Tertata asri, Putrajaya merupakan kawasan dengan pemandangan yang sangat mempesona. Tidak hanya bangunan-bangunan modern dengan karakter Melayu, 38% lahan digunakan untuk kawasan hijau taman, danau dengan kedalaman 3-14 meter, lengkap dengan jembatan-jembatannya yang eksotik. Ada delapan jembatan dengan desain yang merefleksikan kebudayaan lokal, tapi ide dasarnya justru meniru jembatan-jembatan legendaris di dunia.

Untuk menikmati pesona alam Putrajaya, tersedia dua pilihan transportasi yang tersedia, yaitu naik perahu tradisional Malaysia atau dengan cuise modern. Dari tasik (danau) itulah kita bisa menyaksikan lebih dekat Masjid Putra, yang bangunan bundarnya terbuat dari granit berwarna merah muda, kompleks pemerintahan, beberapa bangunan pentadbiran kerajaan, taman-taman tropis, rumah mantan perdana menteri Malaysia, Mahathir Muhamad, dan tentu saja jembatan-jembatan eksotik. Sungguh seronok! (Burhanuddin Abe)

Alam Pedesaan dalam Tradisi Bali


JIKA Anda merindukan suasana pedesaan, tidak ada salahnya mampir ke Novus Bali Villa. Resort & Spa yang berlokasi di Kerobokan, Kuta, Bali ini menjadi pilihan favorit pada pelancong yang datang dari bebagai penjuru dunia.

Meski berada di sebuah desa yang asri dan jauh dari keramaian, lokasi vila ini sangat strategis, hanya 15 menit perjalanan menuju Pantai Kuta, Jalan Legian atau Seminyak. Dekat dengan Pantai Canggu dan hanya 25 menit dari bandara interasional Ngurah Rai.

Novus (dulu bernama Canggu Puri Merta) baru saja dibuka – sementara hanya tersedia 9 kamar, menawarkan vila yang mewah, dengan landskap yang indah, didesain dengan gaya Bali yang eksotik oleh Made Wijaya. Masing-masing vila dilengkapi dengan kolam renang pribadi, taman yang asri bergaya Bali tentu saja. It’s a truly serene and stunning sanctuary!

Sebetulnya tidak melulu Bali, karena beberapa bangunan didesain dengan gaya Jawa. Ruang penerimaan tamu, misalnya, berarsitektur joglo, khas Jawa Tengah. Gaya Jawa juga berulang di restorannya yang dominan dengan pilar-pilar serta meja-kursi yang terbuat dari kayu jati.

Fasilitas standar sudah pasti tersedia, seperti business centre, laundry, area parkir, BBQ, spa dan pijat, restoran dengan servis 24 jam, safe deposit box, pelayanan internet dan tentu saja kolam renang. Mau pilih 1, 2 atau 3 kamar tidur, semua vila dirancang sangat eksklusif dengan kamar mandi semi terbuka, teras dengan taman pribadi, dan lain-lain.

Novus benar-benar dirancang untuk Anda yang ingin menikmati kemewahan hidup, bersantai sambil mendengarkan nyanyian burung atau suara sungai yang mengalir di sela-sela pepohonan bambu. The villa – where the comforts of fine living seamlessly blend in with nature and tradition.

Novus Bali Villa
Resort & Spa
Jl. Penggubungan, Banjar Silayukti
Kerobokan - Kuta, Bali
Telp. : +62-361 411 388
Fax : +62-361 412 762
Site : www.novushotels.com

Kekayaan Kuliner


Ketika berkunjung ke Malaysia atas undangan Malaysia Tourism Board beberapa waktu yang lalu saya tidak melewatkan untuk berwisata kuliner. Nasi lemak, roti canai, laksa, itulah beberapa nama makanan yang populer.

Di pusat perbelanjaan Suria KLCC (Kuala Lumpur City Center), letaknya di kaki menara kembar Petronas, saya mendapati banyak gerai makan, tak beda dengan foood court yang ada di mal-mal di Indonesia. Sementara di kawasan Chow Kit makanannya lebih ”aman”, terdapat sejumlah restoran Padang dan makanan ala Indonesia. Sebagian penduduk KL menyebut daerah ini sebagai kampung Indonesia.

Seekstrem apa pun, makanan Malaysia agaknya tidak jauh berbeda dengan Indonesia, terutama dari gagrak masakan Melayu yang sama-sama nasi sebagai makanan pokoknya.

Makanan Melayu memang sangat dominan, tapi dengan keranekagaman etnis dan ras, negeri ini memiliki beragam resep masakan yang khas. Secara garis besar masakan Malaysia terdiri atas tiga jenis: masakan Melayu, Cina dan India. Masing-masing punya ciri khas dan rasa istimewa. Selain itu, juga ada masakan pembauran budaya dari masyarakat Nyonya (keturunan) dan India Islam. Sedang menu-menu internasional, macam masakan Eropa dan Mediterania tersedia di restoran-restoran modern. Betapa beragamnya kuliner di Malaysia!

Tapi kalau dipikir-pikir kuliner Indonesia tidak kalah kayanya dengan negeri jiran tersebut, bahkan amat jauh lebih kaya. Bayangkan, ada ribuan pulau, ribuan etnis, ribuan gagrak makanan pula. Memang, kita hanya mengenal beberapa saja yang populer, karena tidak semua jenis makanan Nusantara sudah terekspos dengan baik. Kalau Anda rajin mengikuti Festival Jajanan Bango, misalnya, tentu akan terperanjat, betapa beragamnya makanan ”pinggiran” yang sudah menjadi menu sehari-hari orang Indonesia.

Untuk mencari yang lebih otentik memang kita harus rajin bertandang ke daerah-daerah langsung. Apalagi, menurut pakar kuliner William Wongso, banyak makanan Indonesia yang tidak bisa dikemas praktis sebagai makanan orang kota. Itu sebabnya kita harus acungi jempol ketika The Ritz-Carlton Jakarta menggelar festival makanan Indonesia = Samarinda + Bangka, bertepatan dengan hari jadi ke 63 RI, Agustus lalu.

Kalau makanan Jawa, Madura, Sunda, apalagi Padang yang restorannya ada berbagai tikungan jalan, pasti kita sudah mafhum. Tapi kalau Samarinda atau Bangka? Saya yakin hanya sebagian saja yang tahu, minimal pernah mendengar dan melihatnya, apalagi pernah merasakannya.

Beberapa makanan Samarinda memang mengingatkan gagrak makanan lain di Nusantara, tapi percayalah, tetap saja ada yang khas. Sebutlah nasi bakepor, patin bakar, udang goreng karang melenu, satai payau, pindang kepala patin, oseng genjer, atau soto acil aiunun – yang penciptanya memang bernama Acil Ainun, seorang ibu yang jago masak, khususnya masakan Samarinda.

Sementara yang dari Bangka, kalau tidak pernah bertandang ke pulau itu pasti akan asing dengan jenis makanan seperti ini; lempah kuning ikan tenggiri, ikan lempah nanas, kerang santan belimbing cumi lempah santan nanas, panthiaw neras kuah ikan dan lain-lain.

Ya, itu baru contoh dari dua daerah. Masih teramat banyak daerah di Indonesia yang belum kita kenal makanannya. Padahal, tidak sekadar makanan, inilah warisan budaya bangsa yang harus kita jaga. Kalau kali ini kita lengah lagi, tidak mustahil, akan dibudidayakan dan ”diakui” negara lain. Laksa, misalnya, yang populer di dunia bukan dari Indonesia tapi Singapura. Kita tidak ingin kecolongan lagi bukan? (Burhanuddin Abe)

A world of flavours

Sheraton Bandung membuka restoran baru yang diberi nama Feast, 22 Agustus lalu. Resto baru – yang dulu bernama Tuscany -- ini menyajikan menu Asia dan internasional, dengan menampilkan live cooking yang unik setiap hari.

Dengan konsep baru, baik dari segi tempat, jenis dan variasi makanan serta pelayanan, Feast selalu mengusung tema-tema yang menarik, misalnya Jumat menyajikan Seafood Buffet sedangkan Sabtu ada “Prime Rib night”, yang selain iga, ada barbequed lamb chop, beef sirloin, dan lain-lain. Tersedia pula Bar Martini yang menyajikan berbagai cocktail dan wine. Untuk anak-anak ada sudut khusus yang menyajikan makanan yang menjadi favorit anak-anak.

Memasuki bulan Ramadhan ini Feast menyediakan menu-menu puasa, ayam bumbu, rujak, aneka pepes, sop buntut, dan tentu menu tajil dari kolak, es campur. Sementara khusus Idul Fitri, tersedia makan siang dan makan malam khas Lebaran, seperti opor ayam dan ketupat, sambal goreng ati dan masih banyak lagi.

Feast
Sheraton Hotel & Towers
Jl. Ir. Juanda No 390
Bandung 40135
T: 62-22 250 0303
F: 62-22 250 0301
www.sheraton.com/bandung

Monday, August 25, 2008

Luxury car market will never die


The streets of Jakarta are never void of luxury cars. These cars are characterized by their attractive shape, reliable technology and the maximum comfort that they offer. Indeed, the luxury car market in Indonesia will never die. At the Indonesia International Motor Show (IIMS) 2008 at the Jakarta Convention Center (JCC) in July, luxury cars like BMW, Jaguar, Bentley, Rolls Royce, Daimler, Subaru, Mercedes-Benz, Volkswagen (VW), VW Caravelle and Audi attracted lots of attention.

Mercedes-Benz displayed convertibles of the SL350 series and was successful in sales. These two-door convertibles are of the roadster M-Benz SL class, have a 3,498 cc engine and sell for Rp 2 billion. This high price did not put off buyers, though. The German carmaker sold 42 these luxury cars at the show. Of this number, 27 were of the C Class and 13 were C 280 AVGs.

According to deputy director of marketing of PT MI, Yuniadi Hartono, up to July this year, Mercedes-Benz cars controlled the premium automobile market with a 68.3 market share. "In the first semester of this year, total sales stood at 1.494 units. We have a sales target of 2,400 units for this year," he said.

While carmakers of medium class and below vehicles are busy preparing energy-efficient technology to overcome fuel price increases, premium cars, which usually have 3,000 cc and above engines and therefore are not fuel efficient, continue to survive in their market. Mercedes is just one example. German cars VW and VW Caravelle are also favorites among luxury car buffs. Although prices are high -- a VW Tiguan, for example, costs Rp 675 million on the road -- they sell quite well. "There is quite a strong demand for Tiguan in Indonesia but, unfortunately, stocks are not enough to meet the demand. Only 80 units are allocated for Indonesia," said Andrew Nasuri, CEO of PT Garuda Mataram Motor (GMM).

In the class of luxury cars, European automobiles seem to remain the favorites. European cars have a number of superior aspects such as product quality and technology. Consider, for example, cars using alternative fuel such as hybrid, fuel-cell and electric cars. European carmakers, on average, offer the superiority of technology in their products, particularly with respect to passenger safety.

That's why, Volvo, for example, despite its smaller "population" compared to Mercedes and BMW, has its die-hard fans. These fans can enjoy the facilities that Volvo provides, such as The Volvo Center, which monitors the development of this particular make and organizes integrated discussions through a membership system, and the 3S (showroom, service and spare parts).

Meanwhile, viewed from the producer's side, these facilities look promising as the producer can promote the superior elements of Volvo and expand its franchise network. These facilities also symbolize the exclusiveness of Volvo users. While Volvo is associated with being an "official's car", Ford represents dynamic and, of course, exclusive executives. This year, PT Ford Motor Indonesia launched the New Ford Focus of 1.8 Comfort type, which sells for Rp 211.5 million. This sedan measures 4.448 m x 1.840 m x 1.454 m and has 16-valve Dureatec HE, IL4, DOHC engine capable of producing 130 HP/6,000 rpm with a torque of 16.8 kg/4,000 rpm. This five-seater has a five-speed manual transmission.

Another top product is the Ford Verve, which has four doors and is kinetically designed. Director of executive design of Ford, Martin Smith, said the Ford Verve was the result of a study that Ford conducted to explore how far a kinetic design could be applied in a small car. This car has four 18-inch wheels of the 12-axle rim model, an element that adds to the gracefulness of the car. A line is found on the side of the car's body and on the upper side and lower side to reinforce the robust impression of a Verve.

Although European cars have various superior qualities, it does not mean that they lag behind. The Toyota Camry, for example, has become a car to reckoned with in the premium car market. Not only is the Toyota brand famous the world over but this particular variant has helped make this car a favorite. The features it offers are of the premium class that are only found in a big luxury sedan. Other top features that can be found in this sedan are the MID (Multi Information Display), Cruise Control, an audio button on the steering wheel and keyless entry.

There are two choices of engines for this sedan: 2400 cc with a power of 167 dk or 3,500 cc with a power of 277 dk using dual vvt-i technology. So when the sedan is driven, the power and torque produced is in balance with the weight of the car. The car is nice to drive thanks also to its stability and excellent balance.

Although luxury cars are omnipresent on the streets, the CEO of PT Garuda Mataram Motor, Susilo Darmawan, believes that the premium car market in Indonesia still has room for growth. Although the local economy is not too good, the sales of premium cars worth over Rp 500 million per unit are not declining. Growth reached 12 to 20 percent this second semester. There will always be people who like large-engine cars that provide not only driving comfort but, more importantly, prestige. This means that no matter what condition the country is in, the premium car market will never die. (Burhanuddin Abe

The Jakarta Post, August 26, 2008

Thursday, August 21, 2008

Consolidation recommended for banking world


THE LOCAL banking sector is still the main booster for economic growth, with banks undeniably being the major players in the national finance system. Asset-wise, for example, banks hold more than 80 percent of the nation's entire financial assets, such as insurance, funding, pension funds, securities and loans.

Due to the position of banks, many often question their function, both from the positive and negative aspects. It is great that the banks have surpassed their targets, and in a relatively short time at that. Their assets, third party funds and lending have all increased since the 1997 economic crisis, while interest rates since then have decreased substantially. In the meantime, loans have soared significantly to Rp 150 trillion as shown by 2007 data.

However, interest rates are now causing serious concern after increasing in the second quarter of 2008, following Bank Indonesia raising its rate 25 basis point to 8.5 percent. Of course, this poses risks because it will slow down the flow of credit from banks to customers.

Businesses suffered when the BI rate went up to 11 percent in October 2005. At the time, interest rates on loans also hovered at 18 percent. What made things worse was the increase in fuel prices by as much as 126 percent. Banks found it risky to extend loans and instead put their money in Bank Indonesia promissory notes (SBIs), which were a relatively safer choice. And now it is a question of whether the past will repeat itself.

One thing is obvious: the domestic macro economic condition has once again been shaken by world oil prices. In May, the government had no choice but to jack up fuel prices by 28.7 percent in May. The result was immediate inflation, which hit 10.38 percent, an increase of 5.47 percent from last year.

Again banks have been put in a difficult position when it comes to extending loans. At the same time, the BI rate has skyrocketed and affected banks' interest rates. Businesspeople, who face costly goods and reduced public purchasing power, wish interest rates could be more competitive. However, hopes for a single digit interest rate have faded.

Based on InfoBank Research Department data as per March, foreign banks offer the lowest rates, namely 10.05 percent on working capital loans and 10.72 percent on investment loans. Regional development banks, meanwhile, offer 15.02 percent and 14.32 percent respectively. State banks offer the lowest rates on private loans while foreign banks offer the highest at 36.14 percent.

In April 2008, bank loans saw an increase of 29 percent from last year according to BI, totaling Rp 1.103 trillion. However, nonperforming loans per April 2008 stood at 4.39 percent. It is indeed a trial time for banks as the increase in the BI rate sees them putting the brakes on issuing loans or at least practicing more caution. For the government and BI as the goalkeepers, the critical macro economic situation indeed poses a dilemma. What's more, oil prices will continue to increase at least until the end of the year.

Should oil prices reach US$200 per barrel, inflation will be unavoidable. Some people are predicting that inflation will reach 12 percent by the end of the year and the BI rate will possibly be between 9 and 9.5 percent. Economy observer A. Tony Prasentiantono said that if inflation reaches 11 or 12 percent by the end of 2008, banks will feel the worse pressure, including from nonperforming loans for the next period.

Undoubtedly, all this indicate that Indonesian banks are lagging behind their Asian counterparts. Unfortunately, their fate is similar to that of the national soccer team. Although the soccer competition schedule is full, the Indonesian players are beaten left, right and center by other Asian players, said Tony making a comparison.

Another sad fact about the banks here is revealed by a survey conducted by The Asian Banker magazine on the ranking of banks in Asia, which was issued in September 2007. Out of 300 major banks in Asia, with assets totaling $17.8 trillion, Indonesia could only place eight banks whose assets totaled a mere $110 billion, or just 0.6 percent.

Today, the largest bank in Asia is Mitsubishi UFJ Financial Group, with assets totaling $1.5 trillion, followed by Mizuho Financial Group with $1.2 trillion. Bank Mandiri, Indonesia's largest bank, is the 105th largest, Bank Central Asia (BCA) the 142th, Bank Negara Indonesia (BNI) the 150th, Bank Rakyat Indonesia (BRI) the 159th, Bank Danamon 228th, Bank Internasional Indonesia (BII) 271st, Bank Niaga 283rd, while Bank Panin is the 298th.

The survey concludes that consolidation would be the best solution for Asian banks. Consolidation is common in the overseas banking world. Banks here are following the trend, but with fewer fruitful results. In fact, even BI, as the highest banking authority, wants the banks to become more solid through consolidation, mergers and acquisitions as stated in the Indonesian Banking Architecture (API).

Since 1998, the Bank for International Settlement (BIS) has stressed the importance of global financial architecture for a more stable financial situation in the world. The financial crisis that also affected banks in Southeast Asia 11 years ago has spooked the Indonesian government and BI as the lender of last resort, as well as foreign creditors. It is understandable why BIS is paying special attention to Indonesia's financial situation.

API, which is an inseparable part of the bank restructuring program adopted after the IMF period, is Indonesia's total banking framework that provides form and direction for the next five to 10 years. We can only hope that the program can be executed well so that our domestic banks do not fall into dire problems. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, August 21, 2008

Wednesday, August 13, 2008

Improving supply chain to win competition


IN the 1980s and 1990s, the global industry under went drastic changes and a number of old-generation companies went bust or faced strong growth challenges. Rapid progress in technology, globalization, liberalized trade and stiffer business competition prompted business circles to continue introducing innovations so as to remain leaders in their business areas.

Applying effective supply chain management (SCM) is one of the ways toward this goal. Studies have shown that without the application of effective SCM, the business world, or even a nation, would lose its competitive edge in this increasingly globalized world.

A company usually has various departments such as for production, human resources, engineering and so forth. After a company makes a new product, looks for a market and obtains orders from customers, what matters most, however, is how to meet the orders themselves. "SCM enables a company to control the supply chain efficiently," said Nugroho Suryo, associate dean of Prasetya Mulya Business School, at a seminar here.

Basically, SCM is the coordination of materials, information and financial flow among participating companies. SCM can include all types of basic commodity activities through to the sales of end products. This is the concept or mechanism to boost total productivity of a company in a supply chain through optimizing time, location and material quantity flow.

The ITC Report has shown that at a number of rubber and food processing companies in Pakistan, India, Indonesia and Bangladesh the cost of raw materials takes up to 80 percent of the cost of the goods. This means the profit margin on these products is very small. Certainly, it would be difficult to sell more as it would involve a lot of expenses for promotion, etc. while increasing prices would be equally difficult. So, what is left is to apply efficient SCM.

At present, major changes are taking place in the business world, brought about by rapid progress in technology, globalization and liberalized trade and stiffer business competition. This means that costs must be lower while goods must be of high quality and in ready supply, and the response time must be quicker. With Europe edging toward a unified economy, furniture from Spain, for example, must compete at home not only with similar domestic products but also with similar products from other European countries.

Japan's kanban (just in time) concept of manufacturing, which was devised by Toyota, is the earliest SCM concept. Then in the 1990s, U.S. companies began to apply an SCM system that combined the kanban concept and genetic algorithm, the theory of constraint and the Internet.

SCM has now developed following demands of the era. Basically, a good supply chain concept must be inter-departmental. SCM must be good in all links of the chain so the competition between networks will be sharper. The Internet allows purchases to be made through the virtual world, a practice commonly known as e-procurement. This means tenders will be transparent, several inks in the chain of trade are cut and prices will become more competitive.

Group purchasing is an interesting phenomenon in the business world. Producers may compete, marketers may try to win buyers but when it comes to purchasing they may cooperate. In Nepal, for example, Coca Cola and Pepsi Cola are transported by the same trucks after an agreement was made for their product to be transported together so that delivery costs would be reduced.

What is of no less importance is that SCM measures need not be taken individually but can be outsourced to more competent and capable companies. The conditions for mass customization and supply chain outsourcing are, among other things, a flexible manufacturing system, Internet technology, online payments, bar-code technology, third-party logistics and liberalized trade.

This is the belief of Handi Susanto, who owns an outlet selling Yamaha music instruments. His company, which was set up in 1989, has never had its own warehouse. "I use the services of a professional warehousing company, which is certainly more capable in arranging storage and the flow of goods," he said.

His company, Handi said, certainly could not do everything itself and so outsourcing made sense. "With outsourcing, we can save 20 to 30 percent on our costs. However, outsourcing is not just a matter of efficiency alone. When you outsource a job to a professional outsourcer, you stand a chance to augment your revenue," said Handi, who also organizes music lessons for children and teenagers.

When you talk about outsourcing logistics delivery, it is here that courier and cargo companies play an important role. They help their clients improve the effectiveness of SCM so that they are better able to focus on their core business and eventually increase their profitability.

Realizing this, the RPX Group, for example, always improves the professionalism and capability of its personnel and develops technology that expedites it operational system in running its activities. The same is also true of DHL and other major companies in the courier, cargo, logistics and warehousing businesses. They develop transportation management, physical distribution, logistics and SCM itself.

When you leave behind the power of the brand, many products may be said to differ little. IBM, Dell, Hewlett Packard, Fujitsu and Toshiba computers, for example, all use Intel processors. However, they are different from one another in terms of services, their after-sales service and how they apply their SCM, a factor that will affect their retail prices. No one denies that SCM is a concept that can be relied upon to overcome productivity problems in a company and improve the competitiveness of the company in the business world. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, August 14, 2008

Monday, August 11, 2008

Industrial estates revamping to face competition


THE GROWING competition in the manufacturing industry worldwide has prompted producers to revamp themselves. The government views this momentum as an opportunity to develop industrial estates that have previously been neglected.

These two factors serve as the basis for the drawing up of a draft government regulation on industrial estates. This regulation, which is expected to be passed into law later this year, will require all manufacturers to move to industrial estates within the next 10 or 15 years.

However, as PT Jababeka president director SD Dharmono puts it, the government must offer incentives to support this regulation. "There must be special incentives for investors so that they can live in comfort like in their own countries," he said. Various schemes, he added, could be developed, such as making all industrial estates free trade zones.

It is true that establishing a factory in an industrial estate costs less than setting up an independent factory. With the latter, there are many problems to solve, such as the construction of roads, power generation, water resources, waste disposal and housing for workers. In an industrial estate, all these facilities are available so the company can focus solely on production.

In Jababeka Industrial Estate, for example, a reliable water supply is available at a quantity of 100,000 tons per day. There are power generating plants operated by PT Cikarang Listrindo (400 megawatts) and PT Bekasi Power (130 megawatts). Facilities are obviously important as they are needed to sustain a factory. Take for example power supply, which is becoming an increasingly important issue. The domestic energy crisis has forced the government to introduce rotating blackouts in various areas, which affects the private sector and industry alike.

However, a new ministerial decree contains a stipulation that PLN will guarantee there will be no blackouts in major industrial estates. During a blackout, scores of industrial estates would otherwise surely be in trouble. Besides Tangerang, Bekasi also has quite a lot of industrial estates such as Jababeka, East Jakarta Industrial Park, MM2100, Delta Silicon Industrial Park, Hyundai Industrial Park, Bekasi International Industrial Estate and several smaller industrial estates.

There are large-scale industrial estates in almost every province, such as Jakarta, West Java (Bekasi, Karawang, Purwakarta), Central Java (Semarang, Cilacap), Yogyakarta (Piyungan), East Java (Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Pasuruan, Probolingo), North Sumatra (Medan), West Sumatra (Padang), Lampung, Riau (Batam Island, Bintan Island), South Sulawesi (Makassar) and East Kalimantan (Bontang).

Not all industrial estates have their own power plants even though power supply is very important. That's why PT Kawasan Industri Medan (KIM), for example, has invited PT Synergy Power to supply power to this estate, where manufacturers have been forced to reduce production due to the three-year electricity crisis there. "As a result of power shortages, many companies in this industrial estate, the largest in North Sumatra, have stopped their activities," said president director of PT KIM, Gandhi Tambunan.

According to Tambunan, the crisis can be averted in the estate now that PT KIM has teamed up with PT Synergy Power, which is owned by the central government (60 percent), the North Sumatra provincial administration (30 percent) and Medan municipality administration (10 percent).

With Indonesia's energy crisis, a number of industrial estates have decided to build their own power plants to meet their needs. PT Jababeka Infrastruktur (Jababeka Group), through its subsidiary PT Bekasi Power, will build a power plant with a capacity of 130 MW. This power plant will be built in anticipation of the increasing demand for electricity, particularly among industrial circles in Cikarang and Cibitung.

Initial investment for the construction of Bekasi Power is Rp 1 trillion and involves the country's top experts, who will be assisted by experts from the U.S. and Japan. The power plant will use technologies from General Electric (U.S.) and Shin-Mippon (Japan) with capacities of 42MW and 50 MW respectively.

Problems in industrial estates is not limited to electricity. Infrastructure support in an industrial estate, Dharmono said, is yet to be adequate even though the government has built more roads. In this respect, he went on, the government is wary of making decisions, particularly regarding land clearance. "The funds are available, there are investors to invest but the government is afraid of making a decision," he said.

He cited as an example road construction in Cikarang. Land clearance for the construction, he said, is yet to be completed. Public Works Minister Djoko Kirmanto once accused speculators of causing difficulties for land clearance. Meanwhile, the National Land Agency looks critically at the fact that investors are yet to be ready to finance such infrastructure. Industrial estates in Indonesia have a big problem that, unless solved immediately, will not only slow down industrial growth domestically but also make this country lose its competitive edge vis-a-vis other countries. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, August 12, 2008

Tuesday, August 05, 2008

Berlaga tanpa Sejata


Berjuang tidak harus memanggul senjata. Apalagi, masa perang memang telah usai, meski ”perang dingin” dalam arti yang lebih luas, selalu menghantui kehidupan berkebangsaan kita. Bersamaan dengan peringatan Kemerdekaan RI, berikut cerita dari medan perang.


CERITA seputar wartawan, apalagi wartawan perang, memang menarik. Sudah banyak film yang mengangkat kehidupan mereka, di antaranya The Hunting Party, film produksi The Weinstein Company yang dibuat tahun 2007.


Film dengan bintang utama Richard Gere ini berkisah seputar dunia wartawan, yang berlatar negara Bosnia Herzegovina. Dengan sudut pandang yang unik, horor dan humor bercampur menjadi satu, ini memang merupakan film satir politik internasional. Tidak hanya dunia jurnalistik, film ini justru yang lebih banyak sindiran keras kepada lembaga-lembaga internasional seperti PBB, NATO dan CIA karena kegagalan mereka menangkap penjahat perang yang paling bertanggung jawab atas pembersihan etnis Muslim Bosnia.


Bertugas sebagai pewarta di tengah desingan peluru pertaruhannya adalah nyawa. Itu tidak hanya dialami Richard Gere dalam film tersebut, tapi cerita nyata juga dijalani Rien Kuntari, wartawan yang sering mendapat tugas untuk terjun ke negara-negara yang sedang bergolak, mulai dari Irak, Afganistan, Rwanda, Kamboja, hingga Timor-Timur.


Wartawan perang, itulah julukan yang sempat bahkan sampai kini melekat pada Rien, padahal perempuan Jawa itu mengaku benci dengan kekerasan termasuk peperangan. ”Inilah profesionalisme yang harus saya jalani,” ujarnya.


Mendapatkan berita yang eksklusif, apalagi dalam area konflik, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam memburu berita tidak jarang wartawan harus mempertaruhkan segalanya; nurani, kehormatan, hujatan, cercaan, kemungkinan gugatan, ancaman, bahkan nyawanya sendiri. Tapi semua dikalahkan demi idealisme dasar kewartawanan itu sendiri, bahwa masyarakat berhak mendapatkan segala informasi yang benar.


Pekerjaan yang dijalani Rien memang tidak dengan senjata, namun risikonya yang tak kalah seramnya dibandingkan tentara yang bertugas di garis depan medan perang. Risiko yang nyata sudah dialami, sekadar menyebut beberapa nama, oleh David Pearl (terbunuh setelah lama diculik di Afghanistan), Robert Capa (tewas di Vietnam), Ersa Siregar (wartawan RCTI, tewas di Aceh), Ernie Pyle (tewas di Okinawa 1945), atau Larry Burrows (tewas di Vietnam). Bahkan di Irak pasca pendudukan AS, konon 70 orang lebih jurnalis meninggal dunia (www.independent.co.uk).


Risiko kematian boleh menghantui, tapi profesi wartawan memberi kesempatan menjadi saksi sejarah perjalanan umat manusia. Itulah yang membuat para jurnalis terpanggil untuk selalu berada di garda depan dalam konflik kekerasan antar bangsa yang disebut perang.


Jauh sebelum Rien Kuntari, ada Raden Mas Panji Sosrokartono. Dialah wartawan perang asal Indonesia pertama yang meliput Perang Dunia Pertama di Eropa. Setelah menjadi menjadi koresponden – dan menjadi satu-satunya calon yang lulus tes - pada harian The New York Herald, ia ditugaskan di beberapa negara, Belgia, Jerman, Prancis, Swiss, dan Austria, selama kurun waktu empat tahun (1914 – 1918).


Ia berhasil menurunkan artikel tentang proses penyerahan Jerman kepada Prancis. Perundingan antara Stresman yang mewakili Jerman dan Foch yang mewakili Prancis itu berlangsung secara rahasia dalam sebuah gerbong kereta api di hutan Campienne, Prancis, dan dijaga sangat ketat.


Saat Perang Dunia I Mas Panji sempat dianugerahkan dengan pangkat Mayor dan diberikan senjata oleh sekutu namun ia tidak pernah menggunakannya, "Saya tidak akan menyerang orang, karena itu saya pun tak akan diserang. Jadi apa perlunya membawa senjata?"


Saksi sejarah
Di zaman yang berbeda, Hendro Subroto, boleh dibilang wartawan yang punya pengalaman paling lengkap di medan perang. Ia ikut operasi penangkapan Kahar Muzakkar, menyusup ke Serawak saat konfrontasi dengan Malaysia, meliput perang Kamboja, Vietnam, Perang Teluk, juga misi kemanusiaan PBB. Ia mengikuti sejarah Timor Timur, yang pengalamannya ia tuangkan dalam Saksi Mata Perjuangan Integrasi Timor Timur.


Untuk mendapatkan pass meliput perang ternyata tidak mudah. Hendro mengatakan bahwa dibandingkan meliput perang, mengurus izin untuk dapat menembus berbagai birokrasi hingga akhirnya sampai pada lokasi liputan justru lebih sulit. Pada Perang Teluk, misalnya, AS memberlakukan seleksi ketat terhadap wartawan yang akan meliput. Dari sekitar 1.300 pemohon, hanya 100 wartawan yang lolos, semuanya warga AS kecuali Hendro Subroto dan juru kamera Bambang Setyo Purnomo dari Indonesia (TVRI). ”Pemerintah AS tidak mau kecolongan, opini publik harus diamankan, jangan sampai kebijakan perang ditentang oleh warga AS sendiri,” ujar Hendro.


Tidak banyak wartawan yang mendapat keberuntungan seperti Hendro. Aalagi, Perang Teluk hanya berlangsung 100 jam. Banyak wartawan lain yang berbulan-bulan tertahan tak bisa masuk ke Irak karena masalah konsesi dan keketatan yang diberlakukan Pemerintah AS, dan tahu-tahu perang sudah berakhir.


Meliput Perang Teluk hanya salah episode pengalaman Hendro sepanjang kariernya menjadi wartawan selama 30 tahun, sejak masuk ke TVRI tahun 1964 sampai pensiun 1993, bahkan sesudah masa itu. Keberuntungan dan kesempatan, menurut Hendro, kebanyakan karena pengakuan individual. Setelah pensiun, ketika di Timor Timur dalam liputan untuk TV Australia, misalnya, ia diberi pinjaman helikopter oleh otoritas militer.


Timor Timur memang mendapat tempat khusus dalam hidup Hendro, karena ia mengikuti proses integrasi sejak awal. Tanggal 22 November 1975, di Fatularan, Timtim, Hendro tertembak. Serangan Fretilin begitu akurat, sehingga dari 100-an marinir yang dia ikuti, 22 orang di antaranya gugur. Dada kanan Hendro tertembus peluru, pipinya terserempet, dan ibu jari tangan kanannya remuk. Ia tak tewas karena masih dilindungi Tuhan, "Sama dengan pengalaman di tempat lain, saya tidak mati karena rasa optimis bahwa dengan menginjakkan kaki di wilayah peperangan, sang Pemberi Kehidupan pasti melindungi,” seperti yang diceritakan kepada Intisari.


Keyakinan seperti itulah yang membuat Hendro selalu rela menerima tugas jurnalistik ke medan perang. "Saya ingat ucapan seorang teman, wartawan Kamboja. Perang itu berwajah buruk, tapi kami datang ribuan mil untuk melihatnya," katanya. Ketika perang meletus, orang berlari menjauh. Namun, manusia semacam Hendro justru mendekati. Mengabadikan, mencatat, dan menceritakan kepada orang di wilayah lain tentang keadaan yang ditinggalkan.


Tentu, tidak sekadar bermodalkan keberanian semata. Pengalaman dan persiapan yang matang sangat dibutuhkan sebelum terjun ke kancah peperangan. Kalau perlu ada pelatihan ala militer, sehingga tidak menjadi gagap ketika menghadapi situasi tertentu, sebut saja kontak senjata.


Tapi yang jelas, keberadaan wartawan sangat dibutuhkan dalam sebuah perang. Tidak hanya urusan pemberitaan dan hak masyarakat akan info, tapi seperti pendapat mantan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS Jenderal Hugh Shelton, "Anda tidak akan memenangkan pertempuran bila CNN tidak menyatakan Anda menang." (Burhanuddin Abe)


ME, Agustus 2008

V-Spa


Spa, siapa yang tidak kenal dengan istilah ini. Spa, kendati tidak semua orang tahu kepanjangannya “saulus per aqua” atau “kesehatan dari air”, kini menjadi ikon gaya hidup modern. Para eksekutif muda masa sekarang tidak segan-segan memanfaatkan leisure time di luar rumah dengan mengunjungi mal, music lounge, klub, salon, dan tentu saja spa.

Spa secara tradisional menunjuk sebuah tempat di mana air yang diyakini memiliki sifat menyehatkan -- biasanya adalah sebuah pemandian air panas atau mineral. Tapi spa modern terletak di sebuah resor atau hotel mewah, yang menawarkan pemandian air panas, dingin, steam, sauna serta fasilitas pijat – yang bisa diperluas bisa menjadi pijat refleksi, manicure & pedicure, scrubbing, dan seterusnya. Semuanya mengacu kepada perawatan tubuh dan pemanjaan diri.

Tapi, percaya atau tidak, spa pada perkembangannya – terutama di Indonesia, lebih merujuk gaya hidup kalangan tertentu (baca; kelas atas). Pusat-pusat perawatan tertentu pun ada yang sengaja menggunakan kata “spa” untuk menaikkan positioning-nya, mulai dari perawaan gigi, kaki, hingga rambut. Spa yang usianya telah ribuan tahun pengertiannya kini bukan hanya terapi untuk memelihara tubuh saja, tapi ada hair spa, foot spa, bahkan v-spa. Yang disebut terakhir ini adalah spa khusus untuk vagina. Aha!

Seorang master bioenergi, Worro Harry Soeharman, mengatakan bahwa terapi ini sebenarnya sudah dikenal di Indonesia sejak dulu. Di zaman Majapahit bangsa Indonesia pra kemerdeakaan sudah mengenalnya. Hanya saja, perawatan untuk bagian intim wanita ini ditutup-tutupi karena dirasa tidak sopan bila digembar-gemborkan. “Padahal, terapi ini selayaknya menjadi gaya hidup, seperti halnya perawatan bagian tubuh yang lain,” ujarnya kepada Kompas.

Dalam v-spa ada teknik pengasapan atau penguapan, teknik pijat akupresur yang diterapkan pada seluruh tubuh, terutama vagina. Ada pula meditasi gerak atau semacam kegel khusus untuk vagina.

Kita tidak membahas detil bagaimana terapi ini dilakukan. Tapi yang jelas, semua bisa terjadi di dunia ini. Hal yang dulu tidak pernah dipikirkan orang kini menjadi sebuah bisnis yang menguntungkan. Di Jakarta para pengusaha sedang mengembangkan spa vagina, di New York ada sebuah spa khusus untuk memperkuat dan mempercantik area alat kelamin wanita. Apa pula ini?

Untuk pengujian ginekologikal, spa yang bernama Phit mengenakan tarif US$150. Dalam uji ini, seperti yang diberitakan New York Times, klien disuruh mengerutkan otot kelaminnya di seputar jari dokter untuk menentukan apakah otot itu lemah, sedang atau kuat. Jika bermasalah si pasien bisa mengambil paket perawatan lanjutan, misalnya latihan menggunakan mesin elektrostimulasi – mesin untuk melatih otot kelamin atau semacam senam kegel.

Begitulah, spa ternyata bisa diterapkan kepada berbagai perawatan – yang umumnya berkaitan dengan gaya hidup dan mempunyai gengsi tinggi. Sama dengan bengkel mobil, untuk menaikkan gengsinya, ada mengubah istilahnya menjadi “salon mobil”. Maka, jangan heran, untuk menaikkan kelasnya beberapa panti pijat di kawasan Kota Jakarta, misalnya, berganti pula menjadi spa. Istilahnya saja yang berubah, tapi yang ditawarkan tetap saja sama; pijat plus. (Abe)