Thursday, August 28, 2008

80s Never Die



Bukan, kita2 bukan kumpulan manula usia 80-an. Belum setua itulah, cing. Walopun emang masa jaya kita2, saat2 bisa nglakuin apa aja nggak pake mikir panjang, udah lewat...


Blog ini didedikasikan untuk mengenang taon2 yang indah itu. Dekade 80-an! Biar aja orang pada bilang norak, jadul, najong, memble... yang penting kita2 tetep merasa kece dan juga hepi bisa bernostalgia. Oke, coy!


ITULAH pengantar blog lapanpuluhan.blogspot.com, salah satu blog yang mewadahi komunitas angkatan 1980-an. Anggota milisnya sampai saat ini, menurut Mohammad Baihaqi (35 tahun), yang membangun situs pertemanan itu sejak 2005, sudah 1.800 orang dari seluruh dunia.


Berawal dari kecintaannya terhadap masa 1980-an, pria 35 tahun ini membangun komunitas tersebut. Blog dan milis (lapanpuluhan@yahoogroups.com) menjadi ajang interaksi mereka mengenang berbagai penanda zaman 1980-an yang sempat mereka alami dulu. Mulai dari diskusi tentang musik, film, acara TV, gosip selebriti, makanan, mainan, hingga membahas tingkah para pejabat tinggi era itu. "Era 1980-an adalah masa saat hampir semuanya seragam karena belum banyak pilihan. TV cuma ada satu, film, musik, komik, sampai jenis permainan di sekolah, semua sama. Jadi, kami bisa sharing," kata Baihaqi kepada Kompas.


Ia menyebut acara TV di era itu adalah Si Unyil, Rumah Masa Depan, Losmen, dan acara musik Aneka Ria Safari atau Selekta Pop. Ada juga serial The Legend of Condor Heroes, tapi kalau nonton di video masih berformat Beta. Acara lain di TVRI yang juga menjadi andalan adalah film Warkop, dan penampilan Rhoma Irama.


Angkatan 1980-an juga pasti kenal lagu Di Dadaku Ada Kamu ciptaan Dodo Zakaria yang dinyanyikan dengan centil oleh Vina Panduwinata (yang sampai sekarang masih eksis dan konsernya beberapa waktu yang lalu tergolog sukses dengan audiens terbanyak tentu komunitas 1980-an). Atau Tak Ingin Sendiri dari Dian Piesesha serta Hati yang Luka yang dipopulerkan Betharia Sonata.


Sementara untuk kelas internasional, komunitas 1980-an juga akrab dengan penyanyi Michael Jackson yang dijuluki King of Pop. Selain itu ada Madonna, Bananarama, Michael Jackson, MC Hammer, Whitesnake, Blondie, Lionel Richie, Diana Ross, Bon Jovi, Wham!, Pink Floyd, Milli Vanilli, Paula Abdul, A-Ha, dan seterusnya.


Untuk kategori film ada The A-Team, Top Gun yang melejitkan nama Tom Cruise, dan Saturday Night Fever (walaupun rilis tahun 70-an) yang melambungkan nama John Travolta. Yang tidak kalah populernya saat itu adalah The Breakfast Club, St. Elmo’s Fire, Sixteen Candles, Dirty Dancing, Indiana Jones and Raiders of The Lost Ark, Risky Business, American Gigolo, When Harry met Sally, Friday the 13th, Nightmare on Elm Street, E.T., Rain Man, dan lain-lain.


Ya, setiap generasi punya zamannya sendiri. Bagi generasi 1980-an, waktu yang terentang antara tahun 1980 hingga 1989 adalah masa-masa yang tak terlupakan. "Itu adalah masa-masa indah yang memberi kesan mendalam dalam hidup saya," ujar Rian Sudiarto (46), pemimpin perusahaan sebuah penerbitan.


What’s hot in the 80’s?

Masa itu, menurut alumni Fisipol, Universitas Gajah Mada Yogyarkarta itu, adalah masa transisi dari era lama ke era modern. Permainan kasti dan gobak sodor masih ada, tetapi sudah mulai muncul game watch dan video game. Cireng di sekolah masih populer, tapi mulai kenal ayam goreng Kentucky dan American Hamburger. Era ini juga ditandai dengan munculnya diskotek-diskotek di Jakarta, sebutlah Ebony, Musro, Stardust, Earthquake, atau Fire. “Tren itu kemudian diikuti daerah-daerah. Kalau tidak ke disko diangal tidak gaul,” ujarnya.


Sebagai seseorang yang terlahir tahun 1960-an, dekade 1980-1990 menjadi masa di mana Rian merasakan dunia remaja tanggung dengan segala macam pernak-perniknya yang unik.


Era 1980-an dikenal dengan fashion-nya yang berlebihan, lebih tepatnya. The bigger the better, begitu mottonya. Orang yang hidup pada zaman itu ingat, bagaimana shoulder pads selalu menghiasi berbagai jenis busana pada tahun ini.


Awal 1980-an film Flashdance menjadi penanda zaman itu. Maka jangan heran segala pernak-pernik yang dipakai aktrisnya mengimbas ke kehidupan sehari-hari, terutama remaja putri. Begitu juga dengan Madonna yang menjadi salah satu satu ikon di masa itu. Pembawa lagu Material Girl itu membawa tren lace tops, stocking jala, celana pendek, bahkan model rambutnya. Selain rambut ala Madonna, gaya rambut ala Lady Diana yang bergaya romantic juga banyak pengikutnya. Kita tidak membahas mode, yang setiap periode tertentu, berulang kembali. Tapi siapa pun setuju bahwa mode dan gaya hidup tahun 1980-an memiliki karakter yang kuat.


Kejayaan Era 1980-an

Mengapa konser Vina Panduwinata beberapa waktu yang lalu dihadiri banyak penggemar (lama dan baru)? Afgan menyanyikan lagu lawas Biru, atau grup vokal anak muda Grogie menyanyikan kembali tembang jadul, Mungkinkah Terjadi? Sementara beberapa klab-klab malam di Jakarta pede memutar lagu-lagu "classic disco"?


Jawabannya tak lain, era 1980-an memang masih layak dikenang. Komoditinya yang berkaitan dengan memori itu pun bisa dijual. Konsumennya tak lain adalah generasi yang ingin mengenang tahun 1980-an, tapi juga generasi baru yang ingin tahu tentang generasi angkatan tersebut.


Selain hiburan dengan kemasan 1980-an, kebangkitan era ini dapat dilihat juga pada maraknya CD atau kaset keluaran beberapa label papan atas. Sony-BMG Indonesia, misalnya, sejak 2004 setiap tahun rajin merilis lagu-lagu 80-an. Sementara Universal Musik Indonesia meluncurkan album Best Movie Hits yang berisi lagu-lagu soundtrack era 1980-an, mulai dari Against All Odds (Take A Look At Me Now) yang dinyanyikan Phil Collins, hingga Flash Dance (What A Feeling) oleh Irene Karra.


Menjawab kebutuhan akan kenangan masa lalu, Metro TV juga meluncurkan acara Zona 80 (Masih Ada), Februari lalu. Acara yang ditayangkan setiap Minggu jam 22.05 WIB ini menampilkan sajian musik, berikut gaya hidup, tren, dan peristiwa di era tahun 80-an.


Program acara yang dipandu Joe P Project dan Windy Wulandari ini menampilkan lagu-lagu, musik dan para musisi tahun 80-an yang disajikan dalam bentuk penampilan band tahun 80-an ataupun penyanyi solo di era tersebut. Di antaranya 2D, Vina Panduwinata, Atiek CB, Rafika Duri, Ikang Fauzi, Trio Libels, Harvey Malaiholo, Indra Lesmana, 7 Bintang, Nicky Astria, Conny Constantia, dan lai-lain.


Yang menarik, program ini dikemas dengan setting 'jadul 80-an', termasuk juga kostum, gaya rambut, hingga dance 80-an. Dress code yang dikenakan para penonton yang hadir di studio pun ala 80-an, mulai dari potongan rambut, gaya berpakaian dan tarian di masa itu. “Tayangan ini diharapkan bisa memenuhi kerinduan para pemirsa akan masa-masa itu,” ujar PR & Publicity Manager Metro TV, ujar Henny Puspitasari.


Tidak hanya TV, stasiun-stasiun radio pun banyak yang mengangkat tema 1980-an. Radio Sonora, misalnya, mempunyai program yang berjudul Delapanpuluh, berisi lagu-lagu lama dan obrolan seputar era 1980-an, mulai dari membahas film Warkop hingga masalah mode. Dua stasiun radio yang masih dalam satu kelompok usaha, yakni Ramako dan KIS, mengkhususkan diri memutar lagu-lagu era 1980-an, baik lagu Indonesia maupun Barat. Jika Anda mendengarkan radio di tengah malam tidak terbilang jumlah stasiun radio yang rela memutar tembang-tembang lawas 1980-an.


Tidak hanya di Indonesia sebetulnya. Tren kembali ke 1980-an ini pun terlihat di seluruh dunia. Band-band yang sempat mewarnai era 1980-an dan sudah bubar, seperti The Police dan Genesis, berjaya kembali dengan serangkaian concert tour-nya. Hollywood pun memproduksi ulang film-film tahun 1980-an, dengan kemasan masa kini.


Pelaku industri hiburan menyadari bahwa kembalinya tren 1980-an itu karena ada pasar potensial. Orang-orang yang mengalami masa remaja pada era 1980-an saat ini telah hidup mapan. Mereka adalah para eksekutif muda yang rata-rata menduduki posisi pengambil keputusan operasional di sebuah perusahaan, yang nota bene adalah konsumen yang mempunyai daya beli tinggi. Tapi apa pun alasannya, semangat 1980-an memag tidak pernah mati! (Burhanuddin Abe)


ME, September 2008

No comments:

Post a Comment