Tuesday, August 05, 2008

Berlaga tanpa Sejata


Berjuang tidak harus memanggul senjata. Apalagi, masa perang memang telah usai, meski ”perang dingin” dalam arti yang lebih luas, selalu menghantui kehidupan berkebangsaan kita. Bersamaan dengan peringatan Kemerdekaan RI, berikut cerita dari medan perang.


CERITA seputar wartawan, apalagi wartawan perang, memang menarik. Sudah banyak film yang mengangkat kehidupan mereka, di antaranya The Hunting Party, film produksi The Weinstein Company yang dibuat tahun 2007.


Film dengan bintang utama Richard Gere ini berkisah seputar dunia wartawan, yang berlatar negara Bosnia Herzegovina. Dengan sudut pandang yang unik, horor dan humor bercampur menjadi satu, ini memang merupakan film satir politik internasional. Tidak hanya dunia jurnalistik, film ini justru yang lebih banyak sindiran keras kepada lembaga-lembaga internasional seperti PBB, NATO dan CIA karena kegagalan mereka menangkap penjahat perang yang paling bertanggung jawab atas pembersihan etnis Muslim Bosnia.


Bertugas sebagai pewarta di tengah desingan peluru pertaruhannya adalah nyawa. Itu tidak hanya dialami Richard Gere dalam film tersebut, tapi cerita nyata juga dijalani Rien Kuntari, wartawan yang sering mendapat tugas untuk terjun ke negara-negara yang sedang bergolak, mulai dari Irak, Afganistan, Rwanda, Kamboja, hingga Timor-Timur.


Wartawan perang, itulah julukan yang sempat bahkan sampai kini melekat pada Rien, padahal perempuan Jawa itu mengaku benci dengan kekerasan termasuk peperangan. ”Inilah profesionalisme yang harus saya jalani,” ujarnya.


Mendapatkan berita yang eksklusif, apalagi dalam area konflik, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam memburu berita tidak jarang wartawan harus mempertaruhkan segalanya; nurani, kehormatan, hujatan, cercaan, kemungkinan gugatan, ancaman, bahkan nyawanya sendiri. Tapi semua dikalahkan demi idealisme dasar kewartawanan itu sendiri, bahwa masyarakat berhak mendapatkan segala informasi yang benar.


Pekerjaan yang dijalani Rien memang tidak dengan senjata, namun risikonya yang tak kalah seramnya dibandingkan tentara yang bertugas di garis depan medan perang. Risiko yang nyata sudah dialami, sekadar menyebut beberapa nama, oleh David Pearl (terbunuh setelah lama diculik di Afghanistan), Robert Capa (tewas di Vietnam), Ersa Siregar (wartawan RCTI, tewas di Aceh), Ernie Pyle (tewas di Okinawa 1945), atau Larry Burrows (tewas di Vietnam). Bahkan di Irak pasca pendudukan AS, konon 70 orang lebih jurnalis meninggal dunia (www.independent.co.uk).


Risiko kematian boleh menghantui, tapi profesi wartawan memberi kesempatan menjadi saksi sejarah perjalanan umat manusia. Itulah yang membuat para jurnalis terpanggil untuk selalu berada di garda depan dalam konflik kekerasan antar bangsa yang disebut perang.


Jauh sebelum Rien Kuntari, ada Raden Mas Panji Sosrokartono. Dialah wartawan perang asal Indonesia pertama yang meliput Perang Dunia Pertama di Eropa. Setelah menjadi menjadi koresponden – dan menjadi satu-satunya calon yang lulus tes - pada harian The New York Herald, ia ditugaskan di beberapa negara, Belgia, Jerman, Prancis, Swiss, dan Austria, selama kurun waktu empat tahun (1914 – 1918).


Ia berhasil menurunkan artikel tentang proses penyerahan Jerman kepada Prancis. Perundingan antara Stresman yang mewakili Jerman dan Foch yang mewakili Prancis itu berlangsung secara rahasia dalam sebuah gerbong kereta api di hutan Campienne, Prancis, dan dijaga sangat ketat.


Saat Perang Dunia I Mas Panji sempat dianugerahkan dengan pangkat Mayor dan diberikan senjata oleh sekutu namun ia tidak pernah menggunakannya, "Saya tidak akan menyerang orang, karena itu saya pun tak akan diserang. Jadi apa perlunya membawa senjata?"


Saksi sejarah
Di zaman yang berbeda, Hendro Subroto, boleh dibilang wartawan yang punya pengalaman paling lengkap di medan perang. Ia ikut operasi penangkapan Kahar Muzakkar, menyusup ke Serawak saat konfrontasi dengan Malaysia, meliput perang Kamboja, Vietnam, Perang Teluk, juga misi kemanusiaan PBB. Ia mengikuti sejarah Timor Timur, yang pengalamannya ia tuangkan dalam Saksi Mata Perjuangan Integrasi Timor Timur.


Untuk mendapatkan pass meliput perang ternyata tidak mudah. Hendro mengatakan bahwa dibandingkan meliput perang, mengurus izin untuk dapat menembus berbagai birokrasi hingga akhirnya sampai pada lokasi liputan justru lebih sulit. Pada Perang Teluk, misalnya, AS memberlakukan seleksi ketat terhadap wartawan yang akan meliput. Dari sekitar 1.300 pemohon, hanya 100 wartawan yang lolos, semuanya warga AS kecuali Hendro Subroto dan juru kamera Bambang Setyo Purnomo dari Indonesia (TVRI). ”Pemerintah AS tidak mau kecolongan, opini publik harus diamankan, jangan sampai kebijakan perang ditentang oleh warga AS sendiri,” ujar Hendro.


Tidak banyak wartawan yang mendapat keberuntungan seperti Hendro. Aalagi, Perang Teluk hanya berlangsung 100 jam. Banyak wartawan lain yang berbulan-bulan tertahan tak bisa masuk ke Irak karena masalah konsesi dan keketatan yang diberlakukan Pemerintah AS, dan tahu-tahu perang sudah berakhir.


Meliput Perang Teluk hanya salah episode pengalaman Hendro sepanjang kariernya menjadi wartawan selama 30 tahun, sejak masuk ke TVRI tahun 1964 sampai pensiun 1993, bahkan sesudah masa itu. Keberuntungan dan kesempatan, menurut Hendro, kebanyakan karena pengakuan individual. Setelah pensiun, ketika di Timor Timur dalam liputan untuk TV Australia, misalnya, ia diberi pinjaman helikopter oleh otoritas militer.


Timor Timur memang mendapat tempat khusus dalam hidup Hendro, karena ia mengikuti proses integrasi sejak awal. Tanggal 22 November 1975, di Fatularan, Timtim, Hendro tertembak. Serangan Fretilin begitu akurat, sehingga dari 100-an marinir yang dia ikuti, 22 orang di antaranya gugur. Dada kanan Hendro tertembus peluru, pipinya terserempet, dan ibu jari tangan kanannya remuk. Ia tak tewas karena masih dilindungi Tuhan, "Sama dengan pengalaman di tempat lain, saya tidak mati karena rasa optimis bahwa dengan menginjakkan kaki di wilayah peperangan, sang Pemberi Kehidupan pasti melindungi,” seperti yang diceritakan kepada Intisari.


Keyakinan seperti itulah yang membuat Hendro selalu rela menerima tugas jurnalistik ke medan perang. "Saya ingat ucapan seorang teman, wartawan Kamboja. Perang itu berwajah buruk, tapi kami datang ribuan mil untuk melihatnya," katanya. Ketika perang meletus, orang berlari menjauh. Namun, manusia semacam Hendro justru mendekati. Mengabadikan, mencatat, dan menceritakan kepada orang di wilayah lain tentang keadaan yang ditinggalkan.


Tentu, tidak sekadar bermodalkan keberanian semata. Pengalaman dan persiapan yang matang sangat dibutuhkan sebelum terjun ke kancah peperangan. Kalau perlu ada pelatihan ala militer, sehingga tidak menjadi gagap ketika menghadapi situasi tertentu, sebut saja kontak senjata.


Tapi yang jelas, keberadaan wartawan sangat dibutuhkan dalam sebuah perang. Tidak hanya urusan pemberitaan dan hak masyarakat akan info, tapi seperti pendapat mantan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS Jenderal Hugh Shelton, "Anda tidak akan memenangkan pertempuran bila CNN tidak menyatakan Anda menang." (Burhanuddin Abe)


ME, Agustus 2008

No comments:

Post a Comment