Thursday, August 28, 2008

Kekayaan Kuliner


Ketika berkunjung ke Malaysia atas undangan Malaysia Tourism Board beberapa waktu yang lalu saya tidak melewatkan untuk berwisata kuliner. Nasi lemak, roti canai, laksa, itulah beberapa nama makanan yang populer.

Di pusat perbelanjaan Suria KLCC (Kuala Lumpur City Center), letaknya di kaki menara kembar Petronas, saya mendapati banyak gerai makan, tak beda dengan foood court yang ada di mal-mal di Indonesia. Sementara di kawasan Chow Kit makanannya lebih ”aman”, terdapat sejumlah restoran Padang dan makanan ala Indonesia. Sebagian penduduk KL menyebut daerah ini sebagai kampung Indonesia.

Seekstrem apa pun, makanan Malaysia agaknya tidak jauh berbeda dengan Indonesia, terutama dari gagrak masakan Melayu yang sama-sama nasi sebagai makanan pokoknya.

Makanan Melayu memang sangat dominan, tapi dengan keranekagaman etnis dan ras, negeri ini memiliki beragam resep masakan yang khas. Secara garis besar masakan Malaysia terdiri atas tiga jenis: masakan Melayu, Cina dan India. Masing-masing punya ciri khas dan rasa istimewa. Selain itu, juga ada masakan pembauran budaya dari masyarakat Nyonya (keturunan) dan India Islam. Sedang menu-menu internasional, macam masakan Eropa dan Mediterania tersedia di restoran-restoran modern. Betapa beragamnya kuliner di Malaysia!

Tapi kalau dipikir-pikir kuliner Indonesia tidak kalah kayanya dengan negeri jiran tersebut, bahkan amat jauh lebih kaya. Bayangkan, ada ribuan pulau, ribuan etnis, ribuan gagrak makanan pula. Memang, kita hanya mengenal beberapa saja yang populer, karena tidak semua jenis makanan Nusantara sudah terekspos dengan baik. Kalau Anda rajin mengikuti Festival Jajanan Bango, misalnya, tentu akan terperanjat, betapa beragamnya makanan ”pinggiran” yang sudah menjadi menu sehari-hari orang Indonesia.

Untuk mencari yang lebih otentik memang kita harus rajin bertandang ke daerah-daerah langsung. Apalagi, menurut pakar kuliner William Wongso, banyak makanan Indonesia yang tidak bisa dikemas praktis sebagai makanan orang kota. Itu sebabnya kita harus acungi jempol ketika The Ritz-Carlton Jakarta menggelar festival makanan Indonesia = Samarinda + Bangka, bertepatan dengan hari jadi ke 63 RI, Agustus lalu.

Kalau makanan Jawa, Madura, Sunda, apalagi Padang yang restorannya ada berbagai tikungan jalan, pasti kita sudah mafhum. Tapi kalau Samarinda atau Bangka? Saya yakin hanya sebagian saja yang tahu, minimal pernah mendengar dan melihatnya, apalagi pernah merasakannya.

Beberapa makanan Samarinda memang mengingatkan gagrak makanan lain di Nusantara, tapi percayalah, tetap saja ada yang khas. Sebutlah nasi bakepor, patin bakar, udang goreng karang melenu, satai payau, pindang kepala patin, oseng genjer, atau soto acil aiunun – yang penciptanya memang bernama Acil Ainun, seorang ibu yang jago masak, khususnya masakan Samarinda.

Sementara yang dari Bangka, kalau tidak pernah bertandang ke pulau itu pasti akan asing dengan jenis makanan seperti ini; lempah kuning ikan tenggiri, ikan lempah nanas, kerang santan belimbing cumi lempah santan nanas, panthiaw neras kuah ikan dan lain-lain.

Ya, itu baru contoh dari dua daerah. Masih teramat banyak daerah di Indonesia yang belum kita kenal makanannya. Padahal, tidak sekadar makanan, inilah warisan budaya bangsa yang harus kita jaga. Kalau kali ini kita lengah lagi, tidak mustahil, akan dibudidayakan dan ”diakui” negara lain. Laksa, misalnya, yang populer di dunia bukan dari Indonesia tapi Singapura. Kita tidak ingin kecolongan lagi bukan? (Burhanuddin Abe)

No comments:

Post a Comment