Thursday, August 28, 2008

Malaysia Makin Seronok


MALAYSIA kini sedang gencar-gencarnya menggenjot industri pariwisatanya. Keindahan alam dan kebudayaannya dikemas menjadi paket-paket tur yang menarik. Negeri jiran itu boleh saja tidak memiliki Candi Borobudur, tapi dengan Menara Petronasnya di Kuala Lumpur, sebagai bangunan menara tertinggi di dunia (452 meter), kini juga menjadi salah satu “keajaiban dunia” cukup ampuh untuk menyedot para wisatawan yang datang dari berbagai pelosok Bumi.

Selain pembangunan kawasan-kawasan modern yang potensial menjadi tujuan wisata baru, sebutlah Genting yang dikenal sebagai pusat judi dan hiburan di Asia Tenggara. Pemerintahan Malaysia juga rajin membuat event-event yang diperkirakan bisa menarik wisatawan mancanegara. Sebutlah Malaysia Mega Sale Carnival, Festival Pentas dan Konser Musik Arab KL Samrah, Kompetisi Kembang Api Internasional Malaysia, Bulan Perayaan Hari Kemerdekaan Malaysia, Rainforest World Music Festival di Sarawak, dan lain-lain, yang diselenggarakan tahun ini.

Itulah gebrakan-gebrakan untuk menarik 22 juta wisatawan yang menjadi target Malaysia pada 2008. Angka tersebut, menurut Director International Promotion Division Tourism Malaysia, Azizan Noordin, bisa dicapai karena hingga Juni lalu saja tercatat 10.96 juta turis datang ke Malaysia. Atau naik 2,65% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara tahun lalu bertepatan dengan gaung Visit Malaysia Year 2007, angka 20 juta bisa dilewati dengan mulus.

Yang menarik, di hampir setiap gerak kepariwisataan Pemerintah Malaysia selalu menyertakan wartawan dari berbagai penjuru dunia, cara yang tergolong ampuh untuk mewartakan kegiatan tersebut ke seluruh pelosok dunia. Appetite Journey terlibat dalam salah satu kegiatan yang disebut sebagai Mega Familiarisation (Fam) Programme dengan acara utama Festival Flora Malaysia 2008, yang tahun ini dipusatkan di Johor Bahru, 26 Juli lalu. 

Johor Bahru, yang berdiri tahun 1855, terletak di selatan Semenanjung Malaysia. JB, demikian sering disingkat, merupakan salah satu pusat perindustrian, perdagangan, dan pariwisata terbesar di Malaysia. Pariwisata adalah penyumbang utama dalam perekonomian wilayah ini di mana 60% dari para wisatawan yang mengunjungi Malaysia setiap tahun masuk ke negara tersebut dari Singapura yang terhubung dengan JB lewat jalan darat yang bisa dicapai tak lebih dari satu jam. 

Festival Flora di JB merupakan parade tahunan, dalam rangka merayakan warisan kekayaan bunga yang di rangkai dalam sebuah pertunjukan yang menakjubkan, juga menampilkan kreativitas dari masing-masing pesertanya. Meski tidak sekolosal Parade Bunga di Pasadena, AS, inspirasi Festival Flora Malaysia memang dari event tahunan setiap tanggal 1 Januari tersebut. 

Yang jelas, keseriusan Pemerintah Malaysia menyelenggarakan karnaval bunga yang meriah patut diacungi jempol. Acara yang digarap secara profesional ini tidak hanya menjadi rekreasi tersendiri bagi penduduk setempat yang totalnya tak lebih dari 2 juta jiwa, tapi juga para turis asing. Sebanyak 158 partisipan yang terdiri atas wartawan, fotografer dan agen perjalanan dari 16 negara diundang secara khusus dalam acara ini.

Dalam acara yang berlangsung di Dataran Bandaraya ini, dibuka Raja Malaysia Yang Di-Pertuan Agong Tuanku Mizan Zainal Abidin didampingi Perdana Menteri Ahmad Badawi. Parade diikuti 17 mobil hias penuh warna, 15 di antaranya berasal dari negara bagian Malaysia, dan dua lainnya peserta internasional dari Cina dan Makau. Temanya adalah “Colours of Harmony”, merupakan simbol bangsa Malaysia yang multi ras hidup dalam damai dan harmonis. 

Parade diawali dengan tari-tarian yang dinamis. Para penari, pria dan wanita, bergerak lincah mengikuti alunan musik. Ada irama Melayu dengan ketukannya yang khas, juga irama Latin dengan perkusinya yang rancak. Dengan kostum bertema flora, lengkap rumbai-rumbai penghias kepala para penari, serta musik yang meriah tentu saja, mengingatkan pada pawai mardi grass di Rio de Janeiro.

Berikutnya adalah pawai mobil hias, yang masing-masing menampilkan visualisasi kreatif dari ciri khas masing-masing negara bagian. Sebagai pengiring parade mobil hias tujuh marching band sekolah terbaik diikuti penampil lainnya yang mendekati jumlah 1.000 orang. Peserta yang mengiringi mobil hias tersebut mengenakan kostum tiruan makhluk-makhluk alam dan bunga seperti burung, bunga matahari, lebah, dan kupu-kupu.

Mobil hias memulai perjalanan dari Dataran Bandaraya dan bergerak di sepanjang jalan Johor Bahru, menuju tujuan terakhir di kawasan pantai Danga Bay, tempat mobil tersebut dipamerkan selama tiga hari – untuk memperebutkan berbagai penghargaan. Acara yang berlangsung hampir tiga jam ini, sangat meriah. Pengunjung memenuhi jalan-jalan tempat parade tersebut dilaksanakan, tidak sedikit dari mereka yang berfoto ria untuk mengenang momen langka ini.

Kuala Lumpur dari Atas
Program Mega Fam, yang diselenggarakan Pemerintah Malaysia, dan disponsori perusahaan penerbangan nasional, dan hotel-hotel berbintang, tidak cuma menyaksikan Festival Flora. Rombongan wartawan dari Indonesia selama seminggu (24 – 30 Juli 2008) berkesempatan mengunjungi beberapa tempat wisata di Johor dan Kuala Lumpur. Sebutlah Museum Diraja Abu Bakar/Istana Besar, Desaru Agro Tourism, Wisata Kunang-Kunang (Johor), Dataran Merdeka, Menara Kembar Petronas, Aquaria Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC), Istana Raja Malaysia (Kuala Lumpur), Royal Selangor Pewter, kompleks kantor pemerintahan di Putrajaya, Putrajaya Cruise (Selangor), dan tidak lupa kawasan belanja paling bergengsi di KL, Bukit Bintang. 

Saya tidak ingin melewatkan sedikit pun untuk berkunjung ke tempat-tempat tersebut. Takjub menyaksikan kemajuan Malaysia, yang dulu cuma “anak bawang” dibandingkan Indonesia. Ada beberapa tempat wisata yang sebenarnya biasa-biasa, tapi mereka bisa mengemasnya menjadi sesuatu yang unik. Aquaria, misalnya, akuarium yang berlokasi di lantai bawah Kuala Lumpur Convention Centre, apa bedanya dengan Sea World Ancol Jakarta? Lalu, apa istimewanya agrowisata di Desaru, yang tak lebih lengkap daripada taman buah Mekarsari di Bogor, juga apa menariknnya menyaksikan kunang-kunang di sepanjang sungai di senja hari. Tapi, dengan kemasan yang menarik, paket-paket wisata tersebut, mampu menyedot wisatawan, baik domestik maupun asing dari negara-negara tetangga. 

Yang membuat saya kagum adalah, semua kawasan tertata dengan asri, modern, dan tentu saja aman – serta bebas dari gangguan pedagang asongan. Malaysia juga memiliki jalan raya yang mulus. Ruas jalannya rata-rata lebar dengan cat garis yang terang dan lampu lalu lintas yang terawat, nyaris sempurna. Kula Lumpur, dengan penduduk yang hanya 3 juta jiwa, bebas dari kemacetan, karena selain lalu-lintasnya tertib, di dalam kota tersedia angkutan kereta monorel yang dibangun di atas jalan raya sepanjang 11 km.

Ingin menyaksikan pemandangan kota Kuala Lumpur dari atas? Ada dua cara untuk melakukannya, yakni naik lift ke menara kembar Petronas, atau mencoba wahana yang satu ini, Eye on Malaysia, atau kincir raksasa yang berputar dengan ketinggian 60 meter.

Saat itu Menara Petronas yang memiliki 88 lantai ditutup untuk umum, lagi pula saya pernah naik ke atas beberapa waktu yang lalu. Alternatifnya apalagi kalau bukan naik kincir raksasa dengan 42 gondola yang pertama kali diresmikan oleh Perdana Menteri Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi itu. Lumayan, saya dapat menikmati pemandangan kota yang dibangun pada 1857 itu dari atas kincir raksasa yang berada di tengah kota, tepatnya di wilayah Danau Titiwangsa itu.

Royal Selangor dan Putrajaya
Dari sekian tujuan wisata, favorit saya adalah Royal Selangor Pewter dan Putrajaya. Royal Selangor adalah merek dagang kerajinan yang terbuat dari pewter (campuran dari timah, tembaga dan antimony), yang mempunyai nilai estetika tinggi. Inilah salah satu yang disebut-sebut sebagai ikon Malaysia, selain sepatu merek Vincci yang banyak diburu orang-orang Indonesia.

Pusat produksi Royal Selangor terletak di Setapak Jaya, Kuala Lumpur. Pabriknya yang bersih, tertata apik dan artistik, langsung menunjukkan kelasnya. Di pintu masuk sisi kanan terdapat Tankard terbesar di dunia (masuk dalam Guinness Book of Record). Berbagai hasil karya yang dipajang, baik dari timah hitam maupun timah putih, tampak mewarnai ruangan galeri.

Di sini juga terdapat museum yang memajang 75 buah karya, mulai dari kotak tembakau, lampu minyak, lentera China rumit dengan motif bunga lotus sampai peralatan pembuat pewter yang telah berusia satu abad.

Bagi para pemburu barang-barang seni, Royal Selangor Pewter adalah pilihan yang tepat. Di tempat ini, para wisatawan tak hanya dapat membeli barang-barang kerajinan khas Malaysia, tapi sekaligus dapat pengetahuan, asal usul timah, cara mengolahnya, serta menjadikannya produk seni. Di tempat ini juga tersedia toko cenderamata non pewter, yakni perhiasan berbahan emas.

Ada pun Putrajaya merupakan pusat Kerajaan Malaysia. Inilah “kota baru” yang dibangun di atas lahan 4.932 hektare, terletak di selatan Prang Besar, Selangor, pindahan dari Kuala Lumpur akhir 1980. Di sini terdapat 23 kantor kementrian yang terpusat pada satu wilayah. 

Tertata asri, Putrajaya merupakan kawasan dengan pemandangan yang sangat mempesona. Tidak hanya bangunan-bangunan modern dengan karakter Melayu, 38% lahan digunakan untuk kawasan hijau taman, danau dengan kedalaman 3-14 meter, lengkap dengan jembatan-jembatannya yang eksotik. Ada delapan jembatan dengan desain yang merefleksikan kebudayaan lokal, tapi ide dasarnya justru meniru jembatan-jembatan legendaris di dunia.

Untuk menikmati pesona alam Putrajaya, tersedia dua pilihan transportasi yang tersedia, yaitu naik perahu tradisional Malaysia atau dengan cuise modern. Dari tasik (danau) itulah kita bisa menyaksikan lebih dekat Masjid Putra, yang bangunan bundarnya terbuat dari granit berwarna merah muda, kompleks pemerintahan, beberapa bangunan pentadbiran kerajaan, taman-taman tropis, rumah mantan perdana menteri Malaysia, Mahathir Muhamad, dan tentu saja jembatan-jembatan eksotik. Sungguh seronok! (Burhanuddin Abe)

No comments:

Post a Comment