Wednesday, September 24, 2008

Halalan Thayyiban


SEBUAH rumah makan ayam bakar terkenal mencantumkan kata “halalan thayyiban”. Apaan sih itu? Begitu tanya seorang teman. Memang, label tersebut agak berlebihan, yang artinya kurang lebih sama dengan “dijamin halal”. Bahkan untuk Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim mestinya tidak perlu mencantumkan label itu lagi, justru yang sebaliknya yang harus disebut, misalnya “mengandung babi”.

Sekadar pengetahuan, kata halal, berasal dari bahasa Arab, berarti boleh. Jadi, makanan halal ialah makanan yang diperbolehkan untuk dimakan menurut ketentuan syariat Islam. Segala sesuatu, baik tumbuh-tumbuhan, buah-buahan ataupun binatang pada dasarnya adalah hahal dimakan, kecuali apabila ada dalil Quran atau Hadits yang mengharamkannya.

Daging babi adalah makanan yang jelas-jelas disebut haram dalam Quran. Yang juga tidak boleh dimakan dalam Islam adalah darah, daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali sempat disembelih.

Sementara thayyiban atau thayyib berarti lezat, sehat, atau paling utama. Dalam konteks makanan berarti makanan yang tidak kotor atau rusak (kadaluarsa), atau bercampur makanan haram. Ada juga yang mengartikan sebagai makanan yang sehat, proporsional dan aman. So, makanan yang masuk kategori ”halalan thayyiban” dalam cerita di atas, silakan menyimpulkannya sendiri.

Sebelum artikel ini menjadi dakwah agama, saya hanya ingin mengatakan bahwa untuk komunitas tertentu (baca: muslim), rambu-rambu halal dan haram sangatlah penting dalam berburu makanan. Sama dengan penganut agama lain yang tidak diperbolehkan makan daging hewan alias vegetarian. Meski dalam perkembangan berikutnya gaya hidup vegetarian tidak selalu dikaitkan dengan agama tertentu, tapi pendekatannya lebih kepada kesehatan.

Sama dengan tren belakangan ini, makanan halal kini bukan lagi dominansi umat Islam tapi kalangan non muslim juga ternyata lebih cenderung memilih makanan berlabel halal. Setidaknya yang terjadi di Malawi, sebuah negara kecil di selatan Afrika berpenduduk 12 juta jiwa. Warga non muslim di wilayah itu lebih percaya dengan produk-produk makanan, khususnya daging potong, yang sudah mendapatkan sertifikasi halal dari badan nasional makanan halal di negeri itu. "Lebih aman makan produk-produk daging bersertifikat halal. Setidaknya Anda yakin bahwa mereka tidak asal comot hewan ternak yang sakit untuk dipotong," begitu salah satu alasan seorang warga Malawi penganut Protestan.

Kalau ditarik ke pergaulan sekuler, halal-haram kini tidak lagi menjadi persoalan agama semata. Saya ingat beberapa tahun yang lalu ketika diundang komisi pariwisata Australia, saya sempat menikmati “halal food” di sebuah restoran di Brisbane. Yang punya adalah pengusaha asal Malaysia beretnis Cina beragama Nasrani. “Saat ini banyak orang Indonesia dan Malaysia, khususnya yang beragama Islam, berkunjung ke Australia, tapi susah menemukan restoran yang menyajikan menu halal. Kami menangkap peluang tersebut,” ujar pengelola yang sekaligus pemilik restoran itu.

Target pasar, itulah kata kuncinya. Warung bakmi atau kwetiau di Kota, daerah pecinan Jakarta, ketika hendak meluaskan segmennya ke pasar yang lebih luas (baca: pasar muslim), harus rela tidak menggunakan daging babi dalam produknya, tapi menggantinya dengan ayam atau sapi. Pak Made Ngurah Bagiana, yang beragama Hindu pun, perlu mencantumkan setifikat halal untuk usaha burger kaki limanya (“Edam Burger”) yang mencapai 3.000 gerai di seluruh Indonesia. “Supaya produk saya bisa diterima siapa saja, lebih-lebih oleh mayoritas penduduk Indonesia yang muslim,” katanya. (
Burhanuddin Abe)

No comments:

Post a Comment