Wednesday, October 15, 2008

Beeing Single


Dulu ada kesan, menjadi lajang – apalagi ketika usia berkepala tiga atau bahkan empat, karena tidak laku kawin. Tapi kini, status lajang, dengan berbagai alasan, justru menjadi pilihan hidup. Hidup sendiri bukan berarti tidak bisa berprestasi, bukan?

Idul Fitri adalah saat paling indah untuk berkumpul bersama keluarga. Tapi bagi Indah, 33 tahun, malah sebaliknya. Justru saat berkumpul itulah ada pertanyaan basi selalu tertujukan kepadanya, “Mana undangannya?” Atau pertanyaan dengan kalimat yang lebih lugas, “Kapan menikah?” 

Bukan karena malas membalasnya, tapi jawaban Indah toh tidak beranjak dari sebuah basa-basi, “Belum ketemu jodoh!” 

Apa boleh buat, pertemuan yang seharusnya menyenangkan, menjadi membosankan. Topiknya tidak beranjak dari soal menikah dan perjodohan. Padahal, bagi Indah, profesional di bidang periklanan itu, menikah menjadi tujuan utama. Selama belum ketemu the right man, kenapa juga harus dipaksakan. “Lagi pula, persoalan hidup tidak cuma menikah atau tidak. Bahagia atau tidak bukan diukur dari statusnya,” ujarnya. 

Pendapat Indah memang tidak salah. Yang salah adalah ia hidup di Indonesia, di alam Timur yang masih menganggap bahwa setiap orang – terutama wanita, ketika usia cukup, harus menikah. Itu sebabnya di KTP Indonesia, kolom status biasanya diisi dengan “kawin” atau “belum menikah” – yang masih diharapkan kelak akan menikah. Tidak dikenal kata “tidak menikah”. 

Dengan kata lain, hidup melajang di Indonesia masih dianggap tabu. Kalau tidak mana mungkin ada iklan rokok yang tagline-nya “Kapan kawin? Kapan-kapan”. Seakan melengkapi iklan satire tersebut, Agus Ringgo, bintang iklan tersebut yang tampangnya lucu hanya menjawab, “Mei!” Tapi ada terusannya, “Maybe not, maybe yes!” 

Itu pula yang terjadi pada Boyke Johan. Tapi bukan lantaran takut putus cinta dan dikecewakan pasangan kalau di usia 36 tahun, ia masih terlihat menikmati kesendiriannya. Kesibukan dan aktivitasnya yang padat menjadi fokus utama Boyke sebelum akhirnya kelak serius mengarahkan hatinya ke jenjang pernikahan. “Saya orangnya perfeksionis, termasuk untuk urusan jodoh. Dari awal kalau ada hal-hal yang memang terlalu jauh dari prinsip saya, buat apa diteruskan? Nantinya malah bisa jadi masalah,” ujarnya santai.

Di tengah relasi dan pertemannya ia tetap mencari wanita yang bisa menjadi tambatan hidupnya kelak tapi tanpa target waktu. “Untuk umur segini, yang saya pikirkan adalah mencari untuk yang pertama dan yang terakhir. Harus yang benar-benar serius,” tambah pria yang pernah berpacaran sepuluh kali ini. 

Pernyataan yang klise memang. Tapi Boyke tidak sendiri, tidak sedikit jomblo berkualitas, selain fisiknya yang oke, pekerjaannya yang mapan, serta uangnya yang berlimpah, tapi seret jodoh. "Ada sebagian eksekutif lajang tidak memiliki waktu untuk berpikir ke arah mencari pasangan, apalagi mereka yang tinggal di kota besar. Waktu mereka dihabiskan untuk bekerja," Farina Arsita, psikolog keluarga dari RS Dr. Oen Surakarta memberi analisis, seperti dikutip Bisnis Indonesia.

Faktanya memang para lajang eksekutif ini kebanyakan tidak punya banyak waktu untuk mencari pasangan hidup karena sibuknya bekerja. Selain itu, sebagian eksekutif lajang ini mengaku takut salah pilih pasangan. Kurang serasi, tidak satu visi, hingga tidak cocok secara kepribadian, menjadi alasan utama para lajang untuk selalu menunda mencari pasangan. "Akhirnya banyak di antara mereka memutuskan tidak menikah hingga mereka tidak sadar usia sudah tidak lagi muda," ujar Arsita lagi.

Novelis kondang Ayu Utami yang masih melajang di usia 40 mempunyai pandangan yang menarik terhadap status lajang. Menjadi lajang, katanya, bukan waktu tunggu ke pernikahan. Itu masalah pilihan, bukan suatu hierarki. ”Saya juga baru menyadari bahwa banyak orang lajang bukan karena nggak laku, tapi karena memang belum mau,” katanya.

”Menikah adalah satu hal, dan menjadi lajang adalah hal yang lainnya,“ tambah penulis novel Saman, Larung, dan Bilangan Fu itu. 

Asset or Liability?
Sementara di Indonesia orang masih mengganggap sebelah mata, tapi tidak demikan dengan yang terjadi di negara maju. Tidak perlu jauh-jauh, di Singapura, misalnya, generasi mudanya enggan menikah atau berkeluarga, sampai-sampai pemerintahnya membuat program “kapal cinta” supaya muda-mudinya ketemu jodoh.

Memang banyak alasan yang mendasari mereka hingga enggan menikah. Alasan yang paling utama adalah alasan finansial, dan persaingan hidup yang semakin ketat. Seseorang, terutama perempuan, begitu memutuskan menikah, maka peluang untuk melanjutkan kariernya rada tersendat-sendat. Pilihannya adalah mengejar karier atau mengurus keluarga. Kalau di Negeri Barat ada istilah mempunyai anak itu, dalam istilah neaca keuangan, bukan asset tapi liability alias beban.

Tidak heran memang kalau di Inggris, misalnya, gaya hidup melajang saat ini tengah menjadi tren. Menurut sensus terakhir, terdapat 14,2 juta orang lajang (berusia 16-64 tahun) di Inggris. Ketika ditanya ”Apa yang membuat hidup mereka lebih baik?”, sepertiga orang tersebut menjawab ”banyaknya uang”, dan bukan ”teman hidup”. Mereka melihat, masa bujangan adalah masa yang tepat untuk menjalankan hobi, kesempatan untuk memerhatikan diri sendiri, kesempatan untuk bersikap spontan, serta memiliki lebih banyak teman dekat. Kalau demikian halnya, mengapa juga harus menikah? 

Memang, kesuksesan tidak selalu identik dengan kebahagiaan. Paling tidak, menurut kajian terbaru Departemen Keluarga Berencana dan Pelayanan Masyarakat dan Pribumi Australia, seperti dikutip harian Inggris, Daily Telegraph (12 Agustus 2008), kelompok lajang mapan justru merasa tidak bahagia. Mereka berada di peringkat teratas kelompok yang paling tidak bahagia, mengalahkan kelompok penduduk miskin yang hidup tersisih dan tak berduit.

Kajian itu melibatkan 6.000 responden yang ditanya soal pekerjaan, status hubungan, keuangan, keadaan kesehatan, dan perlakuan yang berisiko. Kelompok bujang yang terlibat rata-rata berusia 33 tahun, pekerjaan tetap, berpendapatan rata-rata melebihi ukuran sederhana, dan puas dengan pekerjaan mereka.

Tapi yang menarik, kelompok lajang pula yang mewakii kelompok paling bahagia – tapi lajang tak berduit alias ”miskin”, diikuti pasangan suami-isteri yang bekerja dan berkecukupan uang. Jadi, tingkat kebahagiaan tidak berhubungan langsung dengan status lajang atau tidak, tapi ada hal-hal lain di luar itu yang ikut memengaruhi. (Burhanuddin Abe)

ME, Oktober 2008

No comments:

Post a Comment