Tuesday, October 07, 2008

Mudik Lebaran



MUDIK telah menjadi tradisi. Lebaran kali ini saya mudik lagi. Macet lagi. Selalu begitu tiap tahunnya. Bermobil bersama keluarga, berangkat Minggu (28/9/08) jam 09 pagi sampai di Gresik Senin hari berikutnya jam 11 malam. Lumayan capek!

”Kita ini kan orang sekolahan, tahu informasi, mengapa juga harus ikut sengsara bermacet-macet ria. Bekerja keras selama setahun di Jakarta, lalu hasilnya dihabiskan sesaat pada waktu lebaran,” seorang teman nyerocos, menasehati.

Pendapat yang tidak salah, tapi entah mengapa saya kok tidak kapok-kapok mengulangi kegiatan konyol (kata sebagian orang) yang terjadi setahun sekali itu. Konyol? Mungkin saja benar, tapi menurut sebagian yang lain, mudik lebaran adalah peristiwa yang sangat heroik. Pulang kampung adalah sebuah klangenan, meski untuk mencapainya penuh dengan perjuangan. Apakah Jakarta memang tidak menyediakan ruang untuk kebahagiaan sehingga kita harus mencarinya ke kampung halaman?

Tulisan Yudi Latif, ”Lebaran Paceklik Kebahagiaan” (Kompas, 30 September 200) agaknya patut disimak:

SEORANG sahabat memohon kepada pembantunya, ”Tolonglah, Lebaran ini tak mudik. Giliran saya pulang kampung. Nanti saya lipatkan gajimu.” Sang pembantu berkata, ”Maaf Tuan, saya tak mau.” Sang majikan merayu, ”Sudah dua puluh lima tahun saya tak pulang, sedangkan kamu setiap tahun.” ”Tapi, Tuan bisa berbahagia setiap hari, sedangkan kebahagiaan saya hanya setahun sekali.”

Inikah yang membuat antrean panjang pemudik bersepeda motor, bertaruh nyawa arungi hambatan, kemacetan, dan risiko kecelakaan? Apakah Ibu Kota sebagai ”ibu harapan” mengalami paceklik kebahagiaan?
Adalah William James yang menyatakan, kepedulian utama manusia dalam hidupnya adalah kebahagiaan. Bagaimana cara memperoleh, mempertahankan, dan memulihkan kebahagiaan merupakan motif tersembunyi dari tindakan kebanyakan orang. Juga dalam beragama. Kebahagiaan yang dirasakan orang dalam keyakinannya dijadikan bukti kebenarannya.

Pencapaian kebahagiaan tertinggi, ujar Viktor Frankl, bukan dalam keberhasilan, tetapi keberanian menghadapi kenyataan. Berbeda dari Freud yang menjangkarkan kebahagiaan pada kenikmatan-seksual dan Adler pada kehendak untuk berkuasa, Frankl percaya pada kehendak untuk menemukan makna (the will to meaning) sebagai sumber kebahagiaan tertinggi.

Namun, apa arti makna hidup jika sehari-hari senantiasa dirundung kemiskinan, kekalahan persaingan, pungutan liar, ketidakpastian hukum, tipu-daya partai politik yang hanya rajin mengibarkan bendera tanpa keterlibatan di akar rumput, dan pemimpin yang kepeduliannya sebatas menaikkan gaji dan harga tanpa sanggup memulihkan harapan.

Dalam kesulitan menemukan makna hidup ke depan, orang akan mencarinya dengan berpaling ke belakang. Kepulangan ke kampung halaman dengan segala klangenan-nya sambil merembeskan rezeki pada akar jati diri merupakan mekanisme katarsis demi mengisi kekosongan makna hidup.

Demikianlah, mudik lebaran merupakan peristiwa amat heroik. Kalah dalam hidup, berani menghadapi kenyataan. Tak seberapa rezeki terkumpul, gembira berbagi kepada sesama. Kegagalan negara menyediakan kerangka solidaritas fungsional bagi redistribusi kekayaan hingga ke pedesaan tertolong heroisme korban- korban pembangunan yang dengan solidaritas emosionalnya mampu membawa balik nutrisi ke akar.

Memulihkan kebaikan
Drama tidak berhenti di situ. Partai politik dan pemimpin pemerintahan yang mestinya menjadi wahana penguatan solidaritas fungsional lewat perundangan dan kebijakan negara yang berorientasi kesejahteraan dan pemerataan justru lebih berintervensi secara ad hoc dalam bentuk solidaritas emosional-karitatif. Partai dan pemimpin politik yang dalam kinerja institusionalnya lebih berpihak pada kepentingan korporatokrasi berlomba mengesankan populismenya secara aji mumpung seperti lewat tarawih keliling atau bantuan terbatas kepada pemudik.

Masih bagus jika usaha meraih dukungan dari para korban pembangunan masih senapas dengan semangat Idul Fitri. Semangat Idul Fitri adalah semangat persaudaraan universal, bahwa tiap anak manusia terlahir dalam ”kejadian asal yang suci”. Dalam kefitrahan manusia, Tuhan tidak pernah partisan—memihak seseorang atau golongan tertentu—tetapi kualitas keberserahan diri dan amal shaleh- nya.

Karena itu, atas nama semangat Idul Fitri, semoga partai politik tidak mengorbankan para korban dengan mengadunya di altar pemilu, atas nama ideologi komunalistik, demi kepentingan elitis. Sebaliknya, dengan semangat Idul Fitri, semoga kasih ketuhanan merembesi jiwa-jiwa suci, mengisi relung jiwa kepartaian yang memungkinkan suara kasih dan etik bergema dalam kehidupan politik.

Hanya dengan kemampuan memulihkan kebaikan cinta-kasih dan cinta-moralitas, kepadatan beribadah selama Ramadhan bisa menghadirkan kemenangan sejati. Nabi Muhammad bersabda, ”Maukah aku tunjukkan perbuatan yang lebih baik daripada puasa, shalat, dan sedekah? Kerjakan kebaikan dan prinsip-prinsip yang tinggi di tengah-tengah manusia.”

Surga di dunia
Para pemimpin dituntut untuk mawas diri. Dalam terang mawas diri, akan tampak, warga sulit mencari kebahagiaan karena tabiat para pemimpin yang melupakan (tak mensyukuri) kebahagiaan, karena rangkaian panjang keinginan yang tak pernah berakhir. Sa’di berkisah, ”Seorang raja yang rakus bertanya pada seseorang yang taat tentang jenis ibadah yang paling baik. Dia menjawab, ’Untuk Anda yang paling baik adalah tidur setengah hari sehingga tidak merugikan atau melukai rakyat meski untuk sesaat’.”

Adalah tugas para pemimpin untuk menciptakan surga di dunia dengan memulihkan kebahagiaan rakyatnya. Dunia dapat menjadi surga saat kita saling mencintai dan mengasihi, saling melayani, dan saling menjadi sarana bagi pertumbuhan batin dan keselamatan. Dunia juga bisa menjadi neraka jika kita hidup dalam rongrongan rasa sakit, pengkhianatan, kehilangan cinta, dan miskin perhatian.

Thich Nhat Hanh, dalam the Miracle of Mindfulness, mengisahkan seorang raja yang selalu ingin membuat keputusan yang benar mengajukan pertanyaan kepada biksu. ”Kapan waktu terbaik mengerjakan sesuatu? Siapa orang paling penting untuk bisa bekerja sama? Apakah perbuatan terpenting untuk dilakukan sepanjang waktu?” Biksu menjawab, ”Waktu terbaik adalah sekarang, orang terpenting adalah orang terdekat, dan perbuatan terpenting sepanjang waktu adalah memberi kebahagiaan bagi orang sekelilingmu.”

Dengan ”lebaran” (kepurnaan), semoga paceklik kebahagiaan berakhir. Dengan kembali fitri, semoga kita bisa suburkan kembali pohon kebahagiaan! (Yudi Latif Pengasuh Pesantren Ilmu Kemanusiaan dan Kenegaraan /PeKik-Indonesia)

(01 Oktober 2008)

No comments:

Post a Comment